Selasa, 13 November 2012

Cerpen ~ Cinta terakhirku


MY Sun.. Cinta Terakhirku

“Melihat sinarmu aku bahagia..
Walau aku terlalu terpuruk disisimu ..
Hanya mampu memandangmu..
Aku senang karena kau telah buat gelapku menjadi terang..
Laksana matahari terangi dunia ini..
Aku sangat mengagumimu..”
                Aku membaca puisi singkat ini sudah lebih dari 15 kali dalam tugas sekolah, dari smp hingga sma, aku tak ingin membaca puisi lain, aku ingin dia dapat memahami mengapa aku seperti ini.
                Hari ini, lagi-lagi aku harus membaca puisi di depan kelas, dihadapan teman-teman sekelasku yang sudah memandangiku dengan tatapan beragam saat aku mulai berdiri dari bangkuku di pojok kelas. Aku sudah sangat biasa dengan hal ini, aku memandangnya sekali lagi, menghela nafas, lalu membaca puisi singkat yang sangat berharga bagiku.
                Saat selesai membacanya teriakan itu kembali terdengar sangat keras, aku malu, tapi ini untuk dia yang terlihat terdiam dan tak memperhatikanku.
“eh! Yang bener aja lo, dari smp apes banget gue sekelas sama lo, dan harus dengerin puisi ini yang ke 18 kalinya, nggak ada yang lain apa.” Kata Reno, anak ini bukan anak yang jahat, tapi dia hanya tak bisa menahan perasaannya, perasaan apapun, aku tahu dia, jadi aku masih bisa memahaminya.
“hargai dia Reno!” kata Ibu Farah, guru bahasa indonesiaku.
“makasih bu Farah..” kataku dengan sangat tidak nyaman mengatakan ini ke sepuluh kalinya.
“Winda, mungkin semua yang ada di kelas ini, atau yang pernah sekelas dengan kamu, dan mendengar kamu membaca puisi itu untuk yang kesekian kali, mereka mempunyai tanda Tanya besar dalam hatinya tentang kamu, dan hanya Reno yang mengungkapkannya, mereka sama dengan Ibu.”
“maaf bu, saya tidak punya puisi lain , se.. selain ini.”
“jangan bohong sama Ibu, jawab jujur win.. puisi ini kamu buat untuk siapa? Mungkin saat semua mendengarnya, mereka akan mengerti perasaan kamu.”
“saya nggak bisa bu.. saya nggak mungkin lakuin ini.”
“percaya sama Ibu, Ibu yang tanggung akibatnya, saya tidak bisa membiarkan kamu yang terlihat sangat memendam perasaan itu, katakan saja winda..”
“temen-temen.. aku minta maaf.. karena aku udah buat kalian muak, kalian harus mengerti.. aku hanya ingin dia tahu.. 6 tahun aku memendamnya, dan nggak ada yang bisa aku lakuin.. maafin winda..”
“yang sabar winda.. lebih baik lo bilang aja sekarang ke orang yang lo suka, kami bakal ngertiin lo kok win, yak an temen-temen..” kata Jessi leader kelas kita.
“iya win.. ngomong aja..” kata Reno di susul temen-temen yang lain, aku tersenyum, ternyata mereka peduli denganku.
“Maha..” kataku sembari memandangnya, memandang Maha yang langsung terkejut dan menatapku.
“gue?” Maha terlihat bingung dan sangat tak menyangka ternyata puisi yang aku baca itu untuknya, Maha tak menyangka kalau dia cahaya bagiku.
“maafin aku Maha..”
“ngapain minta maaf..? makasih .. puisi lo bagus..” Maha memberikan Ibu Jarinya untuk puisiku, aku tak percaya ini terjadi.
“baik.. selanjutnya dilanjutkan di luar pelajaran ini.. Ibu harap perasaan kamu bisa lebih baik.. silahkan duduk ..” Kata Ibu Farah.

                Saat Istirahat aku dan Gea teman sebangkuku diam di tempat paling atas gedung sekolah ini, aku paling suka kesana bersama Gea, tempat yang sejuk walau di siang hari kota Jakarta. Saat kami sedang asyik bercanda, tiba-tiba Maha datang, Gea meninggalkan kami berdua disana.
“mm.. Winda.. boleh baca puisinya nggak? Sekali.. aja..”
“kamu suka puisinya?
“iya dong, kalo nggak suka, kenapa gue musti minta lo bacainnya buat gue..”
“bukannya lo nggak pernah dengerin gue waktu gue baca puisi itu.”
“siapa bilang? Sok tahu lo.. bahkan gue hafal.. mau gue bacain buat lo..”
                Lalu Maha membacakannya untukku, lebih baik dari yang ku kira.. bahkan lebih baik puisi ini jika Maha yang membacanya ketimbang aku. Maha menatapku.
“Winda.. kenapa lo baru bilang ini sekarang? Gue merasa bersalah tau nggak lo…”
“maafin aku Maha..”
“gue yang minta maaf win.. karna buat lo jadi kaya’ gini.. sekarang lo tenang aja win.. gue udah ada disisi lo J ayo senyum my rainbow..” Maha megang tangan aku, ini benar-benar seperti yang aku inginkan, rasanya pertama kali sedekat ini sama Maha, seperti ada di dunia ajaib, ketemu banyak bunga warna-warni yang bisa bernyanyi, lalu bertemu dengan peri cinta yang membawa aku ke bulan, melihat jelas sang mentari bersama Maha.. my Sun. J
“izinin gue deket sama lo winda, karena gue merasa bahagia ada seseorang yang tulus suka sama gue, ini akan buat gue nggak bisa tidur karena mikirin lo, gue nggak nyangka, gue merasa sangat istimewa, makasih winda..” Maha menggenggam erat kedua tanganku, aku tersenyum padanya.

***

                Kini semua sangat berbeda, hari-hariku sangat menyenangkan, tak seperti dulu. Maha selalu menjemputku sekolah, menemaniku makan saat istirahat, bahkan dia meminta bertukar tempat duduk dengan Gea, dia ingin satu bangku denganku, dia belajar bersama denganku, memandangku, tersenyum denganku, menggenggam tanganku, menjaga dan membelaku saat ada yang berbuat jahat padaku, dia benar-benar prince charming,my Sun, my Hero, my Dear.. ya.. kami sudah pacaran 2 bulan setelah hari itu aku mengatakannya pada Maha, aku bahagia, dan ini berkat Ibu Farah. J

***

                Suatu hari aku bertemu dengan Maha, Maha mengajakku bersepeda bersama, dan piknik di bawah pohon  besar yang sejuk di siang hari yang terik ini.
“my Dear winda.. tetap di hati gue selamanya, jangan pernah pergi, tetep tersenyum dan jangan pernah nangis, gue nggak akan rela satu tetes air mata lo jatuh, gue nggak mau.. lo tau nggak? Mama suka kita pacaran, mama bilang lo mirip dia..”
“oh ya? Aku seneng banget dengernya Maha..”
Maha berada di pangkuanku, menutup matanya dan tersenyum. Dia terlihat tampan, polos, dan membuat aku terpesona.
“Maha.. kamu ciptaan Tuhan terbaik bagi aku .. aku berterimakasih banget sama Tuhan karena udah kasih ciptaan terbaiknya untuk aku, aku nggak mau jauh dari kamu, aku nggak sanggup, aku akan berusaha jadi apa yang kamu mau, buat kamu tersenyum, aku sayang kamu Mahaku.” Kataku sambil memandang langit yang sangat cerah siang itu. Maha tak menjawab, dia tetap tersenyum dan memejamkan matanya. Akupun terdiam, memandangnya.. dan mendengarkan musik indah yang Maha pilih untuk piknik ini, siang yang indah, aku sangat bahagia.
                Lima belas menit berlalu, Maha tetap pada posisi seperti itu, aku pikir dia ketiduran, dia tetap tersenyum dalam lelapnya. Aku bersyukur karena dapat selalu ada disisinya, cinta pertamaku.
                Aku menggenggam tangannya, tapi ini tak seperti biasanya, aku tahu Maha orang yang sensitive saat dia tidur, aku menggenggam tangannya sudah hamper tiga menit lamanya, dan dia tidak terbangun, aku panik, apa dia pingsan?
“Sayang.. bangun dong udah jam berapa ini, kita kan mau nonton, ada film yang kita tunggu-tunggu Maha.. “ aku memegang pipinya. Dan dia masih tetap tersenyum sama seperti tadi, tak berubah sedikitpun.
“Maha..” aku kembali memanggilnya, tapi dia tak menanggapiku sama sekali.
                Aku bingung, apa yang harus aku lakukan, perasaanku tidak enak.. aku memanggil-manggil namanya, menggerakkan tubuhnya berharap dia bangun saat itu, tiba-tiba langit berubah gelap seakan mau turun hujan. Aku menangis memegang Maha.
“ Maha.. please jangan bercanda.. langit udah gelap.. bangun Maha..” kataku yang kemudian terdiam melihat tangan Maha lemas. Aku berteriak sekencang-kencangnya, meneriakkan nama Maha, yang kemudian di susul hujan membasahi kami berdua, aku tak bias berbuat apa-apa. Aku memeluk Maha.

                Hujan masih sangat deras, Maha tetap berada di pangkuanku, aku memeluknya dengan erat. Menutupi badannya dengan jaketku. Aku mencium keningnya, dia sudah sangat lemas, jantungnya tak lagi berdetak, aku tak tahu apa yang di sembunyikan Maha, aku tak tahu dia sakit apa hingga harus meninggalkan aku secepat ini, saat aku masih sangat bahagia bisa berada di sampingnya. Aku benar-benar tidak bisa mempercayainya.
***
                Akhirnya Reno dan Gea datang, setelah tak berapa lama aku menelponnya.
“Win.. ada apa..?” kata Gea sembari menatap dan memegang lenganku.
“Maha! Kenapa lo? Bangun Maha!” Kata Reno yang juga terihat panic berusaha membangunkan Maha.
“Maha..” kataku dengan sangat sedih dan tak bias menahan air mataku jatuh terlalu banyak.
“Maha kenapa Winda????!” kata Reno.
“Maha udah pergi Reno..”
“maksud lo??! Maha udah meninggal?” Reno sangat panik., aku mengangguk. Dan Reno terlihat sangat menyesal atas kepergian Maha, begitu juga Gea. Gea memelukku, berusaha menenangkan aku disitu, Reno menatap wajah Maha yang masih terlihat tersenyum walau dia sudah pergi meninggalkan tubuhnya. Kami menangis bersama dalam suasana duka mendalam di bawah gerimis sore itu, hari dimana aku tak akan pernah bisa melupakannya seumur hidupku.
***
                Sebulan berlalu, aku masih merasa Maha ada di dekatku, aku merasa dia tak akan pernah sepenuhnya pergi dari sisiku, aku yakin dia tetap berada di dekatku. Tersenyum di atas sana, Yang terbaik yang pernah ada, aku tahu dia berada di tempat yang baik di sisi Tuhan.
                Aku tak ingin larut dalam kesedihanku, Maha tak pernah suka aku bersedih, Mengenang kenangan singkat kita dengan bahagia, hatiku sangat damai bila mengingat senyumannya. Hari itu seperti dia telah mengetahui apa yang akan terjadi, dia meninggal dalam pangkuanku dengan senyuman.
                “My Sun.. tetap bahagia walau raga kita tak lagi bersama, walau ruang dan waktu telah memisahkan kita, percaya.. rencana lain telah di siapkan Tuhan untuk kita, aku bahagia pernah ada di hatimu, aku bahagia bisa menyayangimu, aku bahagia telah membuatmu tahu perasaanku selama ini, aku sangat bahagia Maha, karena hingga akhir hayatmu kamu masih berada di sisiku, di dekapanku. Aku sangat mencintaimu, aku tak akan menggantikanmu dengan siapapun selamanya .. aku berjanji Maha, kamu cinta pertama dan terakhir di hidupku, sampai bertemu denganmu lagi di surga nanti my Dear.. I love u so much”

Created By : Mutiara Dini
Genre : Romance
July 2012

Thanks For Reading~

1 komentar: