Selasa, 13 November 2012

Cerpen ~ Senyumku Untuk Sahabatku


Senyumku untuk sahabatku.


Pagi yang indah saat mentari mulai menampakkan sinarnya, aku mulai membuka jendela kamarku, kurasakan betapa sejuknya udara pagi yang perlahan membuatku tersenyum bahagia. Rumahku memang yang paling tinggi di desa ini, hanya aku yang mempunyai rumah berlantai dua dimana aku bisa memantau tetanggaku beraktivitas di luar rumah hanya dengan berdiri di balcon kamar kesayanganku. Jadi, semua tampak indah dari kamarku.
           
            Pagi itu, seperti biasa aku bersiap berangkat ke sekolah, aku sudah rapi dengan seragam putih biru dan atribut smp lainnya. Aku melangkahkan kakiku lebih cepat, aku rasa kali ini aku akan terlambat sekolah, aku tak takut dengan omelan ibu guruku, yang aku takutkan bila sahabatku farist yang pasti akan melebarkan matanya yang sudah lebar dan yang pasti telah siap menghujaniku dengan omelan-omelan yang aku fikir dia itu tak beda jauh dengan nenek-nenek cerewet yang menyebalkan. Huh…

            Ah.. ternyata benar. Farist mengomeliku lagi.
“dewi! Apa aja sih yang kamu kerjain?? Lelet bener jadi jelema teh!”
“eleuh .. jangan gitu atuh farist kaya’ nggak kenal aku aja?”
“ya makanya atuh, karna terlalu sering kamu begini makanya akunya jadi kesel.”
“udah..udah.. keburu telat kitanya ..”
“uhh.. capek akunya di hukum mulu wi, untung kamu sahabat aku.”

            Dari sekolah, aku dan farist bias bernafas lega. Satpam sekolah tak ada di tempatnya, aku dan faristpun langsung lari menuju kelas. Keberuntungan kembali hadir pada kita yang biasanya selalu sial. Guru juga belum sampai ke kelas, teman-teman yang lain tak ada yang memperdulikan kami, hal ini sudah biasa bagi mereka, dewi dan farist adalah best couple untuk masalah terlambat sekolah. Haha..

            Farist itu sahabatku dari kecil, lumayan ganteng.. tapi nakalnya naudzubillah .. farist masuk dalam urutan pertama dalam daftar anak bandel di sekolah, dan aku urutan ke tiga, ini semua gara-gara Farist, remaja cowok sok keren ini, suka ngajarin yang nggak baik ke aku, tapi aku tetep aja bertemen sama dia, karna bagi aku .. dibalik kenakalannya itu dia satu-satunya orang yang bisa membuatku tersenyum saat aku bersedih, membuatku jadi kebal dari penyakit, mengajarkan aku banyak hal, hingga aku bisa menjadi anak yang multitalenta begini, bisa musik, bisa masak, bisa traveling, bisa renang, bisa seni, bisa nakal, bisa berisik, bisa jadi pelawak dadakan, bisa nyontek, bisa jail, bisa olahraga apa aja, masih banyak deh.. ya.. meskipun banyak buruknya, tapi tetep seperti kata Syahrini ‘Alhamdulillah ya’ punya sahabat kaya’ farist ‘sesuatu banget’.. haha

                                                            ***

Suatu hari, aku dan farist, pergi mancing di pemancingan dekat rumah farist. Masalah memancing, akulah jagonya. Farist jarang sekali mendapat ikan, makanya sampai saat ini dia masih penasaran ingin mengalahkanku untuk masalah memancing.
“pakai jimat apa sih kamu wi? Ajarin aku dong .. gentian .. aku kan sering ajarin kamu nyontek..”
“ihh.. teu usah bangga nyak .. Cuma ajarin nyontek mah semua bisa.. lagian ini udah keahlian aku dari kecil, udah diturunin dari eang kakung aku kata bapak mah ..hahaha”
“huh. Meuni pelit kamu wi, yasudah .. nanti juga aku bakal lebih jago dari kamu..”
“ayo.. sok.. kalau bisa!!”
“eh, ngomong-ngomong bapak kamu nggak marah lagi wi gara-gara aku sering main sama kamu?”
“aduh rist.. nggak usah dipikirin masalah itu mah, bapak aku udah capek ngomongin aku, lagian lebih enak juga main sama kamu, bisa ketawa terus.. hahaha.. sayang bangetlah aku sama kamu farist, sayang persahabatan selamanya..”
“teu bisa lebih???”
Aku terkejut mendengar kata-kata farist, lalu memandangnya dengan heran.
“hahahaha.. nggak usah serius gitu kali wi.. persahabatan kita kan kaya’ kepompong kalau kata sindentosca, jangan sampai hancur karna sesuatu’nya sahrini..”
“hahahaha.. bisa aja kamu rist, aku kira teh serius”
“haha.. sayang persahabatan selamanya”
“eh.. aku dapet ikan nih.. yeeeeeey..”
“sialan ini pancing, kenapa..kamu lagi yang dapet .. huhhh”

            Besoknya, Bapak aku marah lagi, karna nilai aku tak menunjukkan angka yang membuat bapakku tersenyum, bapakku sudah bingung menghukumku dengan apalagi, dulu.. motor kesayanganku sudah ditahan sampai akhirnya aku harus jalan kaki tiap hari, lalu tv-ku, laptopku, uang sakuku,dan sekarang tinggal ponselku, bapakku tak pernah mau menahannya, karna mungkin dia berfikir akan lebih susah menghubungiku nantinya, dan  satu kalimat yang membuatku harus membentak bapakku, dia berkata,”jangan berteman lagi dengan farist!!”
“NGGAK!! Nggak mau!!”
“terserah.. atau pindah ke jogja, ke kampung ibumu?”
“ihh bapak nyebelin oge nyak! Dewi sama farist itu udah lama bertemen, udah nggak bisa jauh lagi!!”
“ada syarat, farist harus ngajarin kamu yang baik-baik, pokoknya teh dalam sebulan ini anjeun kudu jadi orang baik.”
“aduh gusti.. kurang baik naon dewi bapak.. uang saku teu minta, motor teu minta, kabogoh teu punya, gangguin adik teu pernah, minta yang aneh-aneh teu pernah juga.. ihh bapak teh teu ngarti juga!!”
“males ngomong banyak sama anak belegug, fikirkan baik-baik omongan bapak, atau bapak yang ngomong ke orang tua farist!.

            Malamnya, aku termenung di balcon kamarku, kali ini aku tak bisa pergi cari jangkrik bersama farist, malam yang membosankan bagiku, tak ada lagi senyum untuk malam ini, aku memberikan pesan singkat untuk farist, dan farist tetap tersenyum dalam pesan itu. Aku tetap merasa sedih, ini hidupku, aku sudah besar, sebentar lagi aku tak akan memakai seragam putih biruku, tapi mengapa bapak tak pernah membiarkan aku melakukan hal yang aku suka, aku muak.

            Saat aku hendak masuk ke kamar karena udara terlalu dingin bagiku, terdengar suara ‘ssstttt!!’ berulang kali dan membuatku tak tahan untuk melihatnya, ternyata itu Farist.
“wi!”
“eh kamu??? Mau apa? Hati-hati dilihat bapak ..”
“bapak kamu lagi ada tamu wi .. aku naik ya..”
“gelo! Naik pake apa? Masa’ mau terbang??”
“sebentar aku cari tangga..”

20 menit kemudian…

“haha.. dapet kan aku..”
“yaudah cepet, hati-hati..”

            Akhirnya Farist bisa naik ke balcon rumahku, dari atas aku menceritakan semuanya tentang apa yang dikatakan Bapak tentang Farist, Farist terlihat sedih. Tapi, satu kalimat yang membuatku bahagia..”yasudah, aku nggak akan nakal lagi, aku akan jadi orang baik, dan buat kamu jadi orang baik, aku janji wi..”. Oh tuhan.. bahagianya bisa mempunyai sahabat seperti Farist. Lalu, kitapun belajar bersama, membahas pelajaran besok, meskipun kita lebih banyak tak mengerti, yang penting sudah berusaha agar persahabatan kita tak pernah hancur.

                                                                        ***

            Sebulan berlalu, kami tak pernah terlambat sekolah, farist tak lagi jadi murid ternakal, nilai kita juga naik meskipun juga tak bagus-bagus amat. Tak ada kejahilan lagi, tak ada keluar malam lagi, hal buruk yang biasa kami lakukan sudah tak pernah kami lakukan, tapi percayalah, senyum kami tak selepas dulu, mungkin ini awal yang sangat membosankan, tapi Farist selalu memberikanku semangat agar tetap tersenyum.

            Bapak juga sudah mengembalikan motor kesayanganku, mengembalikan laptop kesayangan yang diberikan tanteku dari Jakarta, mengembalikan Tv-ku, dan perkakasku lainnya yang sudah disita bapak beberapa bulan yang lalu.

            Faristpun bahagia melihatku tersenyum, kini aku telah jadi anak yang cukup baik, setidaknya, bapak tak lagi melarangku bermain di rumah Farist, hari-hari bahagia bersama Farist, tak ada lagi persahabatan sembunyi-sembunyi, kami jadi tahu kalau semua yang baik pasti akan memberi dampak positive bagi kita, tak sulit menjadi anak baik, kami masih bisa tersenyum. Kamipun juga sudah terbiasa dengan hal-hal baik ini.


                                                                           ***

            Hari itu, tangal 10 maret.. hari jadi persahabatan kita, kita selalu merayakannya tiap tahun, walau hanya dengan makan bersama di warung nasi bibi endang.
“udah lama banget kita sama-sama ya wi?”
“iya rist, kita kaya’ anak kembar aja, hidup kita harus selalu sama-sama, aku takut nanti kita bakal dipisahkan oleh keadaan.”
“maksud kamu?”
“sebentar lagi kita akan jauh lebih dewasa, kamu laki-laki, dan aku perempuan, ini persahabatan yang rumit, saat nanti kita sudah mulai mengenal cinta, dan punya pacar masing-masing, kita tak mungkin bisa seperti ini lagi, pacar kamu nggak akan ngebolehin kamu deket-deket sama aku, begitu juga pacar aku.”
“ya sudah teu usah pacaran.” Jawab Farist dengan sangat santai.
“ihh.. teu boleh bilang gitu. Nanti malah kejadian. Pamali .”
“ ya terus gimana? Aku kan nggak mau persahabatan kita hancur gara-gara cewek yang nggak penting.”
“ya.. semoga ajalah pacar kita nanti bisa mengerti.”
“aminn.. aku pasti cari pacar yang bisa mengerti kita, pacar yang bisa baik ke kamu juga..”
“best friend selamanya..”
“selamanya” lalu farist memelukku.

            Persahabatan kami abadi selamanya, kami berjanji, dewi dan farist akan selalu ada saat tanggal 10 maret apapun yang terjadi, tetap bersahabat dan menjadi orang baik.selamanya..




                                                                                                Original by: Mutiara Dini.
                                                                                                Date Created : 8 Oct 2011
                                                                                                Tema: persahabatan.

Thanks for Reading~~

1 komentar: