Selasa, 13 November 2012

FanFiction Gaje part 1


Tittle : Diary Oh Sehun [Sehun’s Trainee]
Cast : HunHan dan beberapa cast orang-orang nggak penting.
Author : Mutiara Dini a.k.a Baek Yura.
Warning : FanFic ini Gaje banget, Singkat banget..maklum.. alur cerita sesuka hati author, Just For Fun, asal buat, pakai bahasa yang kurang baku, maafkanlah.. keke~ , hanya fiktif belaka. Mungkin bakal ada lanjutannya.. (belum pasti).        


Hari ini aku ada audisi untuk menjadi trainee di salah satu perusahaan entertainment besar yang saking besarnya no.urutku sampai yang ke tujuh ratus delapan puluh tiga. Yang ada di benakku saat itu hanya, ‘Waww.. ngapain aja aku setelah ini?’.
                Masih dengan nomor antrian yang sebentar lagi bakal hancur karena aku remes-remes saking bosennya. Aku memandangi jam dinding dengan jarum paling kurus yang selalu berdetak, entah kenapa aku menjadi semakin merasa hari ini sangat lama, seperti satu tahun menjadi satu dalam satu hari.
                Bergeser sedikit demi sedikit perlahan laki-laki yang masuk ke ruangan itu sudah dengan nomor antrian tujuh ratus tujuh puluh sembilan. ‘Yeah!’ aku berseru dengan semangat dalam hati, Akhirnya empat lagi dan aku masuk setelah sekian lama hidup bersama di ruang antrian dengan sekumpulan manusia-manusia penuh harapan dan penuh bau dimana-mana.
                ‘Tujuh ratus delapan puluh tiga’ suara dari speaker terdengar menyebutkan nomor antrianku. Akhirnya sampai juga akhir penderitaanku selama seharian ini. Dengan merapikan sedikit kemeja yang baru aku beli kemarin malam.. khusus untuk audisi hari ini, aku melangkah mantap semantap-mantapnya, dan mulai memasuki ruang audisi dengan over confident yang aku miliki sejak kecil.
                ‘Apa yang akan kamu lakukan?’ Tanya seorang wanita yang prediksiku berumur 34 atau 35 tahun itu dengan muka garangnya.
                ‘Dance.’ Kataku percaya diri, tapi sepertinya juri-juri ini kurang begitu yakin dengan kemampuanku. Terlihat dari alis yang naik turun, mata kedap-kedip, dan jari telunjuk yang kurang kerjaan garuk-garuk jidat. Okey.. mungkin yang ada di benak mereka aku dengan badan kurus ceking langsing ini bisa menari apa?
For you all.. chekidot!.
                Aku mulai menari dengan sangat keren (bagiku). Keluarga dan teman-temanku bilang saat aku menari aku terlihat lebih keren, aku sepertinya sudah memiliki bakat ini. Entah mereka bercanda atau hanya menyenangkan hatiku saja, aku tidak peduli, karena saat menari sambil berkaca aku hanya melihat seseorang yang sangat keren sedang menari dengan sempurna.
                Setelah tarianku selesai, empat dari lima orang juri bertepuk tangan. Aku tahu mereka menyukai tarianku dan cara aku menari. Tapi satu orang lagi hanya diam tanpa ekspresi. ‘Kenapa orang ini?’ batinku. Apa dia sangat terpesona, atau bagaimana sangat tidak jelas.
                Dan sesuai dengan yang aku harapkan. Aku diterima menjadi trainee di perusahaan entertainment itu. Aku keluar ruang audisi dengan bangga. Dengan ekspresi kemenangan seperti sudah menuntaskan wajib militer. (loh?)
                ‘Apa kau di terima?’ Tanya seseorang padaku.
                ‘Tentu saja!’ kataku sedikit sengak, angkuh, menurunkan kacamataku dan melihat ke arah seseorang itu dengan tatapan menghina. Aku tidak peduli apa aku ini menyebalkan. Yang penting aku ganteng. Udah titik.
                Sesampainya di parkiran, aku mengambil kunci motor di saku celana warna hitamku, saking semangat kunci itu terjatuh dan ‘apes’ masuk ke dalam celah lubang gorong-gorong. ‘Oh My God.. rumahku jauh dan kejadian seperti ini harus terjadi. Wae???’ aku berteriak kesal dalam hati.
                Setelah mondar-mandir kebingungan nggak jelas, aku putuskan untuk duduk di atas motor karena kelelahan. Menarik nafas dalam-dalam lalu tentu saja aku hembuskan lagi juga perlahan. Aku menunduk pasrah, berharap keajaiban datang. Dan cringg!!! Keajaiban itu benar datang, otakku yang melemah kini segar bugar kembali dan aku bisa berfikir dengan jernih.
’Aku kan selalu bawa kunci cadangan di dalam tasku. Kenapa baru terpikirkan sekarang?’ Kataku sambil segera mengobrak-abrik isi tas untuk menemukan sebuah kunci motor berharga dengan gantungan boneka pororo pemberian keponakan.
Saat sudah menemukannya, dengan hati-hati aku mulai memasukkan kunci motor ke lubang di mana seharusnya dia berada, bukan di gorong-gorong lagi. Puji Tuhan aku terhindar dari bahaya gorong-gorong. Bersyukur karena selalu membawa kunci cadangan, dan sekarang aku segera menggeber skuter maticku yang menawan dengan gaya klasik jaman sekarang. Kyaa..
Setelah satu jam kena angin, kena debu, kena serangga.. akhirnya aku sampai juga di my home sweet home.
‘Aku pulang..’ sepertinya kata-kata ini wajib dikatakan saat masuk rumah, seperti nobita yang baru masuk rumahnya saat pulang sekolah.(Doraemon)
‘Apa kau di terima?’ Tanya ayahku, mengingatkan aku pada seseorang yang tadi di ruang antrian saat aku baru keluar ruang audisi.
‘Apa ayah tidak bisa menebaknya?’ kataku santai sambil segera merebahkan badanku di sofa ruang tamuku yang jebol-jebol karena ulah masa kecilku.
‘Ah ayah.. Sehun tentu saja di terima, dia kan sangat hebat dalam hal menari, juri pasti bisa menilainya.’ Ibu memang selalu menyenangkan hatiku, selalu bisa berfikir lebih cepat ketimbang ayah.
‘Lalu kapan kau mulai trainee? Dan kapan kau bisa menjadi seorang member dari sebuah boyband?’kata ayahku. ‘Ahhh.. orang ini terlalu banyak berharap’ batinku.
‘Aku trainee dua minggu lagi, dan tidak tau kapan akan menjadi seorang yang terkenal.’
‘Semoga kau tidak menghabiskan waktumu hanya di posisi trainee.’ Ayahku ini memang selalu menakut-nakutiku akan hal yang tidak mungkin.
***
Dua minggu kemudian.. ini hari pertama aku trainee, aku datang dan memarkirkan skuter matic warna biruku ini di antara mobil mobil mewah, di apit dua mobil keren, satu Ferrari, satu lagi bmw sport, kyaaa.. aku memandang haru skuterku yang malang ini, dia jadi terlihat sangat rendahan. ‘Sabarlah kawan..’ kataku dalam hati sambil mengelus sadel motor kesayanganku ini.
Aku mulai berlatih bersama manusia-manusia bertalenta, agak minder, tapi rasa minder itu selalu berhasil aku kalahkan dengan over confidentku yang sudah stadium akut. aku ngedance dengan percaya diri, berharap semua orang memandangku. Haha..
Saat istirahat, terlihat seorang laki-laki yang tidak kalah gantengnya dari aku seperti akan menghampiriku yang duduk termenung memainkan permainan seadanya di dalam ponsel bututku, sementara kanan kiriku sedang sibuk dengan tabletnya.
‘Hai..’ Sapa laki-laki itu dengan senyum ramahnya.
‘Hai..’ Karena dia ramah, akupun harus ramah padanya.
‘Mau pergi beli Bubble Tea bersamaku?’ katanya tanpa basa-basi. Aku terdiam sejenak. ‘Aku tidak bawa uang, astaga.. bagaimana ini?’ batinku, lalu aku melirik ke arah susu kedelai yang di bawakan eomma di dalam tasku, aku segera menyembunyikannya di balik badanku yang kurus karena malu. Lalu dengan modus alasan, aku berkata dengan tegas, ‘Mianhae, aku masih ingin bermain game.’ Seketika salah satu alis laki-laki ini naik, memandang ke arah ponselku. Mungkin yang ada di benaknya saat itu apa yang aku lakukan dengan ponsel keluaran tujuh tahun yang lalu dengan bunyi tilulitlulit nggak jelas ini. Ahh.. aku terlihat sangat bodoh, aku salah cari alasan.
‘Padahal aku mau mentraktir.. yasudah kalau begitu.’ Katanya sambil melangkah ringan meninggalkan aku yang terlihat bodoh. Tapi, aku tidak mau melewatkan kesempatan perak ini, aku meraih tangannya, dan.. ‘Baiklah aku ikut.’ Kataku nggak tahu malu. Whatever, yang penting aku ganteng. Dan dia tersenyum.
‘Kau trainee dari China?’ Tanyaku karena tanda Tanya yang dari tadi sudah jogging di atas kepala.
‘Benar. Dan kau dari Korea?’ jawabnya lalu bertanya pertanyaan bodoh, hey.. apa mukaku terlihat seperti seseorang dari afrika?, tentu saja aku orang korea.
‘Kenapa sangat pintar bahasa Korea?’
‘Aku mempelajarinya. by the way, siapa namamu?’ Tanyanya dengan senyum yang selalu mengembang.
‘Ehemmm hemmm..’ Aku memperbaiki kerah kemejaku, sepertinya lebih baik skip bagian ini, abaikan, karna ini tidak terlalu penting.
‘Namaku Oh Sehun.’ Bow..
‘Aku Xi Luhan. Senang bertemu denganmu.’ Bow..
‘Aku juga senang bertemu denganmu.’ Kataku dengan mata yang berbinar-binar, akhirnya aku punya teman.
***
Selama berbulan-bulan, aku bergaul dengan Luhan Hyung, dia sangat memahami kekurangan, ketambahan, kebagian, dan kekalianku (eh?). Tiap hari berlatih bersama, dia sangat baik walaupun sangat pemalas.
Traineeku berjalan lancar.. tanpa macet seperti jalanan kota Seoul, dan aku sudah menjadi Trainee suatu grup yang siap debut. Saat di parkiran, dengan khayalan yang berlebihan aku memandang motorku yang setia ini.
‘Hei kawan.. sebentar lagi kau akan jarang aku gunakan. Aku akan terkenal dan akan segera membeli sebuah mobil seperti di sebelahmu. Haha..’ kataku berbicara dengan skuter yang hanya diam seribu bahasa, lebih baik berbicara dengan rumput yang masih bisa bergoyang, dari pada dengan skuter ini yang tanpa ekspresi seperti aku yang sedang bad mood. (yaiyalah, motor ini benda mati.)
‘Dan kau ponsel butut.’ Kini aku beralih memandang ponselku.
‘Sebentar lagi aku akan melempar kau ke sungai Han. Kau selalu membuat malu aku. benar-benar tidak sabar untuk segera membuangmu. Huh!’ masih sedang berbicara dengan ponsel butut ini, tiba-tiba dia mengagetkan aku dengan bunyi melengkingnya, apa dia marah???? Ada telepon, tapi karena terkejut ponsel butut ini terlempar dan hampir masuk ke dalam gorong-gorong sial itu lagi. Tapi karena body ponsel ini yang sedikit lebar seperti Shindong Super Junior pada awal debut, ponsel ini selamat dari gorong-gorong maut yang sepertinya sangat sirik padaku karena selalu berusaha memakan semua barang-barang bututku.
‘Ah! Butut! Kau ini..! bukankah sudah sangat baik aku mau melempar kau ke sungai Han??? Kenapa lebih memilih bunuh diri terjun bebas ke gorong-gorong yang bau ini. Dasar rendahan.’ Gumamku kesal  dan segera mengambil ponselku yang masih berdering.
‘Ah.. dari Luhan Hyung.., ada apa ya? Yeoboseo..’ kataku segera mengangkat telp.nya. ‘Segera masuk, latihan akan segera dimulai!’ katanya dari seberang sana. ‘Ah iya, makasih Hyung!’ jawabku lalu segera berlari masuk meninggalkan skuterku yang mungkin sedang menagis sedih. Haha.. aku tidak peduli. Aku melanjutkan traineeku yang pasti akan berakhir bahagia. (semoga)


1 komentar: