Selasa, 13 November 2012

Love Story ~ Part 2


LOVE STORY : OYYI

                Di salah satu sekolah menengah atas swasta di Jakarta, ada seorang remaja, anak dari pemilik yayasan SMA itu yang bernama Oyyi Dinardhi Atmadja, seorang laki-laki yang sangat sombong, dan sifatnya dapat berubah kapanpun juga, kadang dia bisa menjadi seorang yang menyebalkan, kadang juga dia menjadi seorang yang baik hati.

                Oyyi hanya berteman dengan satu orang saja selama hidupnya, karena dia tak bisa menempatkan dirinya sebagai seorang teman yang baik, dia terlalu sok, dan banyak juga anak-anak lain yang  minder berteman dengannya. Satu sahabat setia Oyyi adalah Dea, hanya Dea yang mampu mengerti sifat Oyyi yang sesungguhnya, hanya Dea yang setia berteman dengan Oyyi selama belasan tahun.

                Selain teman, sebenarnya Oyyi juga hanya pernah sekali berpacaran dengan seorang gadis cantik yang masih menjadi kekasihnya hingga sekarang. Dia adalah Mikka, seorang artis, pemain film, sinetron, dan beberapa kali membintangi iklan. Mikka gadis yang sangat sibuk, sangat jarang bertemu dengan Oyyi. Keluarga Oyyi, tak suka Oyyi berpacaran dengan Mikka, tapi Oyyi tetap saja tak pernah bisa memutuskan hubungannya dengan Mikka, karena dia hanya menunggu Mikka yang memutuskannya terlebih dahulu.

                Suatu pagi di koridor sekolah, Oyyi sudah mulai tebar pesona bersama Dea, berharap ada seseorang yang mau berteman dengannya selain Dea. Oyyi selalu dapatkan apa yang dia mau dari omanya yang sangat menyayanginya. Oyyi juga selalu berpenampilan menarik di sekolah, semua barang-barang yang ia gunakan dari ujung kaki hingga kepala adalah barang-barang dengan merk terkenal, itu juga yang membuat sebagian orang, merasa tak pantas berteman dengan Oyyi.
“De.. lo lihat Jam gue.. ini baru semalem di bawain oma dari amerika, keren kan? Belum ada nih di Indonesia..” kata Oyyi dengan sangat bangga.
“iya yyi bagus banget.. pasti mahal yah?” Tanya Dea yang terkesan dengan jam baru Oyyi.
“oh ya jelas dong De.., mana pernah sih gue pakai barang murah..”kata Oyyi yang kemudian memandang Dea.
“ kenapa lo liatin terus De..? lo suka sama jam gue? Kalau lo mau.. , Dua hari lagi juga gue udah bosen, ambil aja kalau lo mau..” kata Oyyi sambil tersenyum pada sahabatnya itu.
“iya.. soalnya ini pasti pantes banget kalau di pakai abang gue yyi.. kasian dia kaga’ punya jam..” jawab Dea, teringat oleh abangnya yang sedang sakit hari itu.
“ok.. lo tenang aja.., gue masih punya banyak.. kalau lo mau.. kasih aja semua ke abang lo.. lo lelang lagi juga boleh.. haha..”
“makasih ya yyi..., btw.. sampai kapan kita tebar pesona gini yyi?”
“sampai gue punya temen dong De.., gue bukan bermaksud gantiin lo De.. Cuma kan pengen juga punya temen sama-sama cowok.. biar lebih asik gitu di ajak curhat.. kan nggak semua hal bisa lo denger dari gue, kita beda jenis..haha”
“gue rasa mereka takut temenan sama lo yyi..”
“kenapa?? Apa yang salah sama gue? Gue keren ,iya. Baik hati, lemah lembut.. iya. Tajir, iya. Mobil gue keren, iya. Gue ngangenin and ngegemesin, iya. Cool and cute abis. Iya. Gue cakepnya minta ampun, iya. Apa yang bikin mereka takut coba???? Heran gue.. pada jongkok semua I-Qnya.” Kata Oyyi dengan gaya sombongnya.
“justru itu semua yang ngebuat mereka jadi takut.. takut nggak bisa nyamain gaya hidup lo.. gue aja nih kadang-kadang masih suka minder, gue udah kaya’ permen karet bekas yang nempel sama sepatu mahal, kan malu…”
“yaelah De.. lo santai aja.. toh juga lo nggak bakal keliatan, ketutup sama pesona gue, semua orang bakal liatin gue lah.. bukannya lo.. nggak usah kegeeran deh..” jawab Oyyi dengan santai, dan membuat Dea sontak menoleh kearah Oyyi, heran dengan jawaban Oyyi yang tak memikirkan perasaannya, tapi Dea sudah sangat kebal dengan hal seperti itu.
“kenapa?” Tanya Oyyi, yang melihat Dea sedang memandangnya.
“nggak ah lupain.., ada yang lebih ganteng dari lo, baru tau rasa lo…” kata Dea.
“mana ada yang berani lebih ganteng dari gue.. itu cari masalah namanya sama gue, gue DO juga dari sekolah ini. Disini tuh yang boleh ganteng Cuma gue De.. sekolah punya gue, gue yang harus jadi pangerannya disini, bukan siapapun..”
“ya..ya..ya.. lo emang top banget dah.. cowok terganteng di sekolah ini.. jelas…. Anaknya pak ardhi atmadja..” kata Dea berusaha memuji Oyyi, Oyyi paling suka di puji.
“nggak usah segitunya De.. kebiasaan deh lo.. nggak bisa memendam perasaan kagum lo itu ke gue.”
Dueng!!! Oyyi memang terlalu percaya diri.

***
               
Siangnya saat kelas sedang ribut karena jam kosong. Oyyi hanya berdua dengan Dea, dia mencoba mendekati teman-teman laki-laki, tapi mereka selalu saja menghindar. Oyyi hanya ingin punya teman, dan selalu saja dihindari, Oyyi bagaikan virus yang di jauhi banyak orang.
“pada sok semua sama gue. Heran gue De.. gue udah kaya’ virus aja ya.., mereka itu pada iri kali ya sama gue??!!!” kata Oyyi kesal.
“iri??” Tanya Dea heran.
“iya.. cewek mereka kan pada mau jadian sama gue, tiap hari cewek-cewek tuh pada ngeliat-liatin gue, makanya cowok-cowok itu jealous sama gue. Huhh.. norak tau nggak.”
“iya yyi, kamseupay! Udah nggak usah cari perhatian mereka lagi, mereka itu Cuma belum tahu sifat asli lo.” Kata Dea menenangkan Oyyi.
“lo baik banget De.. best friend forever.., lo satu-satunya orang yang gue sayang di sunia ini. Orang yang selalu ada buat gue, elo Dea.. my best friend..” kata Oyyi memandang kagum sahabatnya itu.
                Kelas tiba-tiba menjadi hening saat seorang remaja laki-laki yang sangat tampan memasuki ruang kelas itu. Hanya Oyyi yang berisik bersama Dea.
“wahhhh.. wahhhh.. ngajakin berantem ini bule kamseupay De.” Kata Oyyi mengepalkan telapak tangannya.
“makanya yyi, jangan berasa paling ganteng di dunia, sekarang aja ada yang lebih cute daripada lo..”
“Dea… kok lo malah belain dia sih??”
Anak baru itu memperkenalkan dirinya.
“nama gue Galih, pindahan dari Bali.” Galih memperkenalkan dirinya di depan kelas, dan kemudian di persilahkan duduk di belakang Oyyi, dan ini tambah membuat Oyyi kelabakan, merasa tersaingi oleh Galih, si anak baru.
“heh! Nyari masalah lo sama gue??” kata Oyyi dengan ekspresi muka sangat menyebalkan.
“nggak.” Jawab Galih dengan sangat santai.
“sok cool banget sih lo. Nggak level tau nggak, bau mulut lo.” Kata Oyyi yang sangat emosi.
“berisik banget sih jadi cowok.” Kata Galih yang langsung memandang dingin Oyyi.
“De.. lo lihat dia!!” kata Oyyi pada Dea. Dan Dea memandangi Galih dengan tatapan terpesona. Oyyi yang melihatnya menjadi semakin kesal.
“ih. Dea! Bukan gitu juga ngelihatnya!” Oyyi sangat kesal.
“heuff.. dia pacar lo?” Tanya Galih pada Dea.
“bukan.. dia sahabat gue..” jawab Dea.
“ohh.. kok lo betah sih?” lanjut Galih dengan sangat cool.
“hehhhh!!! Maksud lo apa ngomong gitu?” kata Oyyi memandang Galih dengan tajam, seperti sudah mengibarkan bendera perang di antara mereka berdua.
“lo nggak tau siapa gue??????” lanjut Oyyi.
“lo Oyyi kan..? terus apa masalahnya buat gue?” jawab Galih.
“ihhhh… ya lo takut dong sama gue.. gimana sih?? Gue ini anak pemilik sekolah ini.” Kata Oyyi yang merasa bahwa jabatan ayahnya itu dapat membuat Galih bisa lebih menghormatinya. Tapi ternyata Galih sama sekali tak menghiraukan Oyyi.

                Hingga istirahat, Oyyi tetap tidak tenang berada di depan Galih, dia sangat berisik di kelas, dan membuat guru yang ada di ruangan itu terpaksa melaporkan Oyyi pada kepala sekolah dan juga ayahnya. Alhasil.. Oyyi di hukum oleh ayahnya, Oyyi dilarang membawa Tristan mobil kesayangan Oyyi saat bepergian kemanapun. Oyyi marah-marah setiap hari, emosinya memang sulit untuk di kendalikan, dia merengek pada omanya agar Tristan kembali, tapi tetap tidak bisa, karena semua sudah ada di tangan ayahnya. Tak ada yang bisa berbuat apapun, selain menunggu kebaikan hati ayah Oyyi. Oyyi selalu di antar sopirnya ke sekolah, dia tak bisa lagi menjemput Dea setiap pagi, dan itu membuatnya sedih. Siangnya saat istirahat Oyyi mentraktir Dea di kantin sekolah.
“gue kesel!!!!” kata Oyyi.
“sabar dong yyi..” Dea lagi-lagi berusaha menenangkan Oyyi.
“ini tuh gara-gara si Galih.”
“Galih? Kok bisa?” Dea memandang Oyyi.
“ya iya.. gara-gara dia gue di aduin sama pak abdul ke bokap gue.” Kata Oyyi yang kemudian memandang balik Dea.
“yang berisik kan elo Yyi, ya wajar dong lo di aduin..”
“yang bikin gue berisik siapa? Temanya siapa? Siapa murid barunya? Siapa yang berani-beraninya lebih cakep daripada gue? Si Galih kan?”
“makanya Oyyi.. lo jadi cowok cool dikit kenapa.. jangan kelabakan kalau ada orang yang lebih ganteng dari lo.. itu takdir namanya, lo udah harus bersyukur.. muka lo itu udah di atas rata-rata.. jangan peduliin Galih.” Kata Dea sambil memegang bahu Oyyi.
“lo nggak suka kan sama dia?” Tanya Oyyi pada Dea.
“suka.. semua juga bakalan suka sama Galih Yyi.”
“tuh kan….”  Oyyi menghela nafasnya, dan menyandarkan tubuhnya di kursi.
“kenapa Yyi?”
“lo pasti pengen banget..banget.. banget… ya De jadian sama dia?”
“terus..?”
“kenapa terus?”kata Oyyi.
“lalu kenapa?” kata Dea, heran dengan tingkah laku sahabatnya itu.
“nanti lo bakal sibuk sama dia.. terus gue sama siapa? Gue nggak suka lo punya pacar, pokoknya lo itu harus selalu ada buat gue De, lo inget aja dulu waktu lo punya pacar. Lo lupa kan sama gue? Gue kesepian Dea kalau lo jauhin gue..” kata Oyyi, memandang Dea dengan tatapan takut kehilangan. Dea menunjukkan jari kelingkingnya.
“mana jari kelingking lo??” Tanya Dea, karena melihat Oyyi membiarkan jari kelingkingnya.
“ngapain? Mau janji? Udah.. nggak perlu pakai jari kelingking.. kasian lo..”
“kasian??????” kata Dea tak mengerti maksud Oyyi.
“iya.. kalau jari lo di tempelin ke jari gue.. nggak enak dilihatnya, jari gue kinclong putih mulus gini, nempel sama jari lo yang kaya’ jahe itu, ntar ada yang lihat kan nggak enak, kasian elonya nanti di ejekin. Haha..” kata Oyyi sesuka hatinya.
“ngebetein banget sih..”
“haha.. yaudah Dea.. gue percaya lo kok.. jangan sampai lo cuekin gue ya sampai kapanpun, gue Cuma punya lo.. sahabat terbaik gue..” kata Oyyi sambil tersenyum sangat manis.
“iya Oyyi.. :) lo juga. Eh, ada Aliya tuh.” Kata Dea, yang melihat dari kejauhan Aliya seperti akan menghampiri Oyyi seperti biasa.
“pergi yuk De..” Oyyi berdiri dari kursinya.
“jangan.. kasian juga ih si Aliya lo hindarin terus..” kata Dea. Dan Oyyipun kembali duduk. Ternyata memang Aliya menghampiri Oyyi. Aliya ini gadis yang sangat tergila-gila pada Oyyi sejak lama. Dia tak pernah putus asa walau Oyyi selalu menghindarinya.
“hwaaa.. my Oyyi, my prince ..akhirnya lo mau ketemu sama gue.” Kata Aliya.
“ada apa sih lo?” kata Oyyi yang sangat sebal melihat muka Aliya.
“mm.. Dea cewek udik, bisa pergi dulu nggak?” kata Aliya pada Dea.
“mulut lo dijaga ya cewek lebay, ok gue pergi, nggak usah pakai nyolot.” Kata Dea sangat kesal.
“disini aja De, ngapain sih pergi segala, masa’ lo biarin gue berdua sama monster ini?” Oyyi menarik tangan Dea.
“udah nggak apa-apa, dia vegetarian, nggak bakal makan lo Yyi. Dadah.. nanti hubungin gue aja, kalau ada apa-apa.”
“yaudah deh..” jawab Oyyi. Dan Dea pergi meninggalkan Oyyi dan Aliya.
“huhhh.. akhirnya cewek itu pergi juga, gue nggak suka deh liat lo dari dulu sama dia terus..”
“gue heran sama lo, nggak ada capeknya nguber-nguber gue, nggak tenang hidup gue Al jadinya.”
“abisnya lo cute and cakep banget sih..”
“memang, kalau itu udah nggak perlu di jelasin berulang kali, gue emang cakepnya nggak ada yang nandingin. Tapi.. Cuma lo satu-satunya cewek dari banyak cewek yang kurang ajar sama gue.”
“kok kurang ajar sih bunny bunny ku..”
“karena setiap sama lo, hidup gue jadi susah tau nggak. Lo cari idola baru aja deh Al. sebenernya apa sih yang lo cari dari gue? Lo mau gue cium lo? Peluk lo? Jalan sama lo? Sayang sama lo? Gitu iya? Daripada buang waktu sama gue, kan mending lo cari cowok yang bener-bener suka sama lo. Ya.. emang beda sih kalau sama gue ya.. jelas beda banget berasanya di banding cowok-cowok lain yang bau keringat itu. Tapi.. sayangnya cewek gue yang super sibuk itu jauh lebih pantes sama gue, daripada lo. Bahkan.. lo liat cewek itu.” Kata Oyyi yang kemudian menunjuk salah seorang gadis yang sedang makan di kantin.
“cewek si muka menyedihkan itu aja jauh lebih cocok sama gue daripada lo Al.” lanjut Oyyi.
“ieuhhh.. cewek miskin muka kampungan itu?”
“iya. Gue serius.. jadi lo jangan deh carmuk lagi ke gue. Nggak level sama gue.” Kata Oyyi yang berusaha membuat Aliya ilfeel padanya, karena Oyyi tak mau melihat Aliya terus menghabiskan waktu untuk Dia, Oyyi tak ingin Aliya kecewa.
“kalau gue nggak mau gimana Yyi? Gue tahu.. lo ngomong gitu Cuma biar gue menjauh kan sama lo..?”
“ini cewek emang bener-bener susah ya.. , nggak usah keGeeRan Al.. siapa lo.. mikirin lo dalam hidup gue tuh nggak pernah ada dalam list. Tahu nggak. Dan satu lagi buat lo.. gue ini lebih tua dari lo ya.. meskipun Cuma beda berapa bulan, gue nggak suka denger lo panggil nama gue seenak mulut tebal lo itu. Panggil gue kak Oyyi .. kakak Oyyi yang keren banget. Ok?” kata Oyyi yang kemudian meninggalkan Aliya yang bengong melihat tingkah Oyyi seperti itu.

***

                Hari berlalu terlalu cepat, sebelum sempat Oyyi menemukan satu saja teman laki-laki agar keinginannya terwujud. Oyyi tak pernah di beri kesempatan akan hal ini, semua terlalu egois pada Oyyi, dan Oyyi sendiri juga tak pernah mengerti cara memperlakukan seseorang dengan baik, dia selalu melakukan sesuatu sesuka yang dia inginkan, selalu salah menanggapi sesuatu, selalu bertingkah berlebihan, seorang yang sangat moody dan bisa berubah kapanpun sesuai suasana hatinya, seorang pendendam bahkan pada seorang gadis sekalipun, dia sudah banyak mengoleksi pendapat negative dari seseorang yang pernah bertemu dengannya, bahkan saat berpapasan sekalipun. Hingga semua orang pun heran pada Dea, mengapa dia bisa bersahabat dengan Oyyi hingga sejauh ini, orang tua Dea juga kadang khawatir jika Dea terlalu sering bertemu dengan Oyyi, menurut keluarga Dea, Oyyi itu seseorang yang memang akan sangat sulit mencari teman, karena selalu memberikan kesan pertama kurang menyenangkan pada setiap orang. Namun, kini keluarga Dea, sudah sangat terbiasa pada Oyyi, dan mulai merasakan sifat asli Oyyi yang sesungguhnya. Oyyi adalah orang yang istimewa jika seseorang dapat melihat hatinya lebih cepat seperti Dea. Dan tak semua orang bisa seperti Dea, bahkan cenderung butuh proses yang lama untuk menemukan sifat asli Oyyi, hingga terlanjur menjauh karena memang akan sulit mengenal Oyyi dari luarnya saja.

***

                Suatu hari, Dea mencari-cari Oyyi ke segala penjuru sekolah. Tapi sangat sulit, entah kemana Oyyi pergi saat itu. Oyyi bukan seseorang yang mudah bolos sekolah, bahkan saat sakitpun dia akan tetap berangkat sekolah.

                Dea memang jarang bertemu Oyyi akhir-akhir ini, karena tugas sekolah yang sempat membuat Oyyi marah hebat pada guru pelajaran yang memisahkan dirinya dan Dea untuk tugas kelompok yang baru akan berakhir selama sebulan. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia dipisahkan dengan Dea, lalu dengan siapa dia? Dia tak punya teman satupun, dan memang akan terasa sulit baginya.

                Dea lebih sering menghabiskan harinya dengan Galih. Dea di tunjuk satu kelompok dengan Galih, saat Dea dan Galih berkumpul, untuk mengerjakan tugas, Oyyi hanya diam memandangi Dea dari tempatnya. Oyyi kini berkumpul dengan murid lain yang sama sekali tak akrab dengan Oyyi. Oyyi yang sangat moody kini berubah menjadi Oyyi yang pendiam, kasar, dan sangat tidak menyenangkan.

                Saat itu, Oyyi datang dengan terpaksa ke rumah salah satu teman kelompoknya yang bernama Karina untuk mengerjakan tugas kelompok. Karina bukan orang yang menjauhi Oyyi, tapi Oyyi memang tak sembarangan memilih teman perempuan, karena baginya, tak perlu lagi teman perempuan di hidupnya, dia sudah mempunyai Dea dan Mikka, yang ia butuhkan hanya teman laki-laki.

                Kesan Oyyi saat masuk rumah Karina, memandangi seisi rumah, dan melihat-lihat foto-foto yang ada disana, lalu mengucapkan kalimat singkat untuk Karina, dan juga membuka obrolan mereka.
“Foto lo yang ini cantik.” Kata Oyyi sambil menunjuk salah satu foto Karina, muka Karina langsung memerah, Karina tak menyangka kalau seorang Oyyi saat itu memuji dirinya.
“makasih Yyi..” jawab Karina malu-malu.
“lo pasti seneng ya gue bilang kaya’ gitu..? haha” Oyyi membuat Karina bingung.
“muka lo merah tuh.. haha.. lo emang cantik kok.. tapi kata-kata gue jangan di masukin ke hati, cewek gue jauh lebih cantik.” Lanjut Oyyi.
“menurut lo itu lucu???” kata Devan yang tak suka Oyyi mempermainkan perasaan Karina.
“enggak, biasa aja.” Jawab Oyyi santai.. dan mulai duduk di sofa ruang tamu Karina bahkan sebelum Karina mempersilahkan untuk duduk.
“bisa nggak sih nggak usah terlalu sombong jadi orang, enek tau nggak lihat muka lo!” lanjut Devan, menatap Oyyi sinis.
“udah Van.. nggak apa-apa guenya.” Karina berusaha meredam emosi Devan, yang daridulu memang sangat tak menyukai Oyyi.
“bilang aja lo sirik sama gue, haha.. lagian ini kerja kelompok kenapa nggak mulai-mulai sih, gue tuh sibuk, bisa nggak kalian kerja cepet, heran ya.. udah sekolah di tempat gue.. tetep aja nggak maju-maju jalan pemikirannya.” Kata Oyyi santai sambil mengeluarkan beberapa buku pelajaran dari dalam tasnya.
                Semua mata memandangi Oyyi sinis, seperti siap menancapkan pedang ke dada Oyyi. Oyyi yang baru sadar sedang di pandangi teman sekelompoknya, langsung memandang balik mereka.
“kalian kenapa? Hah? Ada yang salah? Atau kalian mau Tanya.. ini tas keren belinya dimana? Gitu? Kalau iya, ini belinya di Indonesia aja kok.. di Bali.” Oyyi memang selalu berkata sesuka hatinya.
“Yyi, gue mau bilang sesuatu, yang udah lama pengen gue ungkapin ke elo.” Kata Devan menatap Oyyi tajam.
“gue masih normal Van. Makin nggak jelas nih acara kerja kelompok.” Kata Oyyi.
“lo itu aneh, lo idiot.” Kata Devan, yang tentunya membuat Oyyi sangat marah, dia seketika melempar buku yang di pegangnya ke arah Devan.
“eh jaga mulut lo ya.. lo yang idiot, lo autis, ga pantes sekolah di sekolah gue!” Oyyi sangat emosi, tak biasanya Oyyi sampai seperti ini, mungkin karena pikirannya yang memang sedang kacau.
“haha.. terus kenapa? Lo mau gue keluar dari sekolah lo? Gue bisa cari sekolah lain Yyi. Nggak usah terlalu banggain status social lo ! satu lagi ya.. nama lo tuh aneh, gue baru denger ada manusia yang punya nama Oyyi.” Kata Devan.
“nama gue unik bukan aneh, nama lo tuh pasaran! Kampungan tau nggak lo!” jawab Oyyi sangat kesal.
“ahhh.. udahlah, percuma ngobrol sama manusia kaya’ dia, yuk guys belajar, sumpah deh.. nggak level banget bertemen sama lo.” Kata Devan sambil meletakkan di atas meja buku Oyyi yang tadi dilempar ke arahnya.
“emang nggak level, level lo lebih rendah. Udah ah bosen, gue balik Karin.” Kata Oyyi , yang kemudian memasukkan lagi buku-bukunya dan mulai melangkah keluar dari rumah Karina, semua memandang dingin ke arah Oyyi, tapi Oyyi tak bergeming. Dia sangat santai melangkah keluar dan mulai masuk ke mobilnya, dimana sopirnya memang menunggu Oyyi di dalam mobil, Oyyi belum mendapatkan kembali Tristan mobil miliknya dari ayahnya, jadi dia terpaksa selalu di antar sopir kemanapun dia pergi.

                Oyyi marah-marah di dalam mobil, dia teriak kesal sepanjang jalan, sopir Oyyi yang bernama pak Bambang pun bingung harus melakukan apa, dia tahu sekali sifat Oyyi seperti apa, dan tak akan mudah mendekatinya saat dia sedang marah seperti ini, pak Bambang pun juga ikut terkena omelan Oyyi yang seharusnya nggak di tujukan untuk pak Bambang, Oyyi ingin pak Bambang tak membawanya pulang terlebih dahulu. Dia pergi ke rumah Omanya, dan merengek seperti balita agar omanya bisa membelikan mobil baru untuknya saat itu juga.
“oma… please..” kata Oyyi memohon-mohon pada Omanya. Oma Oyyi sudah menolaknya daritadi tapi Oyyi tak pantang menyerah.
“Oyyi my Prince.. oma bisa kasih untuk kamu saat ini juga, tapi oma nggak mau oma ikut di omelin sama papih kamu..” kata Oma Oyyi dengan sabar menanggapi cucu kesayangannya itu.
“yaelah oma.. masa’ oma takut sama papih, oma itu ibunya papih, oma berwibawa dikit kenapa oma, harga diri dong oma, masa’ oma mau sih di kalah-kalahin sama papih, ih oma ih..” kata Oyyi mulai berdiri karena daritadi bersujud di depan omanya, sekarang Oyyi mondar-mandir di depan Omanya dan membuat Oma Oyyi menjadi pusing.
“Oma contoh dong mamih sama papih Oyyi, semena-mena kan sama Oyyi, padahal Oyyi ini anak tunggal loh oma, kalau Oyyi sampai kenapa-kenapa.. gimana generasi keluarga atmadja ini oma, siapa penerus kita kalau bukan Oyyi yang cakep ini.. siapa lagi oma????” Oyyi terus meyakinkan Omanya yang sudah menghabiskan segelas air putih miliknya.
“Oma jangan manjain papih terus dong.. papih gini di turutin.. gitu di turutin.. kalau Oyyi stress Oyyi bisa bunuh diri Oma.. masa’ mobil aja nggak boleh Oyyi bawa.. nggak asik tau Oma bareng pak Bambang terus, mukanya aja udah nggak asik, Oyyi pengen bawa mobil Oyyi lagi, tapi si Gatot Kaca itu anak kesayangan oma itu, seenaknya aja tahan-tahan mobil Oyyi, nggak keren Oma.. penerus Atmadja Group sekeren Oyyi kemana-mana masih di anter sopir, Tua pula sopirnya, ih.” Kata-kata Oyyi membuat Omanya semakin tak tahan.
“Oyyi cucu Oma tersayang.. penerus atmadja group yang paling tampan se Indonesia.., gini aja deh.. kalau Oma belikan kamu mobil baru sekarang.. lalu Tristanmu bagaimana? Bukannya itu mobil kesayangan kamu? Apa kamu akan lupain Tristan gitu aja? Kamu mau papih kamu jual Tristan nantinya?” Oma Oyyi berusaha membuat Oyyi mengerti.
“ya jangan dong Oma.. enak aja.. itu Tristan kan mobil terkeren di sekolah Oyyi.”
“yasudah.. jadi sekarang oma Cuma memberikan kelonggaran pada kamu sebelum papih kamu kembaliin Tristan ke kamu lagi. Kamu boleh bawa mobil Oma, tanpa pak bambang.”
“oma.. mobil itu tuh standart banget.. Oyyi maunya yang wah.. biar waktu Oyyi bawa tuh semua mata tertuju pada Oyyi.”
“yasudah kalau nggak mau.. hanya itu yang bisa membuat kamu bisa aman dari papih kamu, karena oma akan bantu ngomong sama papih kamu.”
“ya..yaudah deh.. Oyyi terima mobil standart dari oma, akan Oyyi balikin lagi kalau Tristan udah ada di tangan Oyyi, makasih Oma.. semoga umurmu panjang.. love you oma..”
“iya Oyyi.. hati-hati di jalan.. jangan sampai membuat kulitmu itu terluka.”
“siap my beloved grandma.. the best grandmother in the world..” kata Oyyi, mengedipkan matanya pada Omanya yang selalu tersenyum pada Oyyi.

                Setelah dapat membawa mobil Omanya, Oyyi langsung pergi berkeliling Jakarta di malam yang penuh dengan bintang di langit. Oyyi berusaha menghilangkan ke jenuhannya hari ini, dia sangat merindukan Dea, tapi Dea tak menghubunginya sama sekali, Oyyi tak pernah tahu kalau sebenarnya Dea juga sering mencarinya di sekolah.

                Terlintas di benak Oyyi untuk menghampiri Mikka kekasihnya, sudah beberapa bulan ini Oyyi membuang pikirannya tentang Mikka, karena Mikkapun juga tak pernah memikirkan Oyyi, padahal status mereka masih berpacaran.

                Malam itu Oyyi menghubungi Mikka, Mikka menerima telp. Dari Oyyi, dan memberitahukan alamat shootingnya saat itu. Oyyi segera bergegas menuju lokasi shooting. Sesampainya disana, Mikka telah melihat Oyyi tiba, tapi tak segera menghampiri Oyyi, Oyyi mencoba bersabar dan menunggu Mikka sangat lama. Hingga akhirnya Oyyi merasa ini sangat keterlaluan dan tanpa basa-basi dia meninggalkan lokasi shooting Mikka, melajukan mobil Omanya dengan sangat kencang, bersyukurlah dia karena bisa selamat sampai rumahnya.

                Dari rumah Oyyi, terlihat sangat sepi. Setiap hari suasana memang terasa begitu sepi bagi Oyyi. Kedua orang tua Oyyi jarang berada di rumah, mungkin hanya satu kali dalam seminggu, itupun mereka belum tentu bertemu dengan Oyyi. Hanya ada Bi Rami dan Pak bambang, juga beberapa pembantu lain yang bagi Oyyi sangat membosankan hanya bertemu mereka tiap hari.

                Oyyi melangkah santai masuk ke rumahnya, hentakan kaki Oyyi terdengar jelas karena terlalu sepinya rumah itu, Oyyi berteriak-teriak memanggil para pembantunya untuk berkumpul di ruang tamu. Tak sampai semenit, Bi rami muncul dengan tergopoh-gopoh, Bi Rami tak ingin majikannya itu mengamuk lagi.
“mana yang lain? Apa suara Oyyi kurang keras?” kata Oyyi yang kemudian merebahkan badannya ke sofa ruang tamu miliknya.
“nggak den Oyyi, mungkin sebentar lagi sampai disini, nggak mudah sampai dengan cepat berlari di rumah sebesar ini den.” Kata Bi Rami.
“terus? Kenapa bi Rami bisa? Bi Rami hebat gitu?” kata Oyyi menatap bi Rami.
“nggak den, nggak ada yang lebih hebat dari den Oyyi..” kata bi Rami.

                Bi Rami ini, pembantu keluarga Oyyi dari Oyyi kecil hingga sebesar ini, bi Rami tahu betul bagaimana sifat Oyyi. Bi Rami juga salah satu orang yang menyayangi Oyyi, bahkan bi Rami selalu lebih peka pada Oyyi ketimbang orangtua Oyyi sendiri, bi Rami tahu saat Oyyi sudah mulai tak enak badan, bi Rami tahu saat Oyyi merasa sedih, bi Rami tahu jam makan Oyyi, dan bi Rami juga tahu sebenarnya Oyyi merasa sangat kesepian dalam hidupnya.

                Akhirnya pembantu yang lain datang dengan tergopoh-gopoh juga, sama seperti bi Rami. Melihat semua sudah berkumpul, Oyyi memulai kata-katanya.
“bi Nur.. kenapa terlambat?” Tanya Oyyi pda salah satu pembantunya.
“maaf den.. saya tadi sedang membersihkan gazebo di pinggir kolam renang.” Jawab bi Nur yang masih ngos-ngosan mengatur nafasnya.
“ohh.. terus pak bambang , jangan bilang kalau pak bambang lagi asyik denger musik kesukaan bapak sambil lap mobil????” tanya Oyyi pada pak Bambang yang suka mendengarkan music dangdut kesukaannya setiap saat.
“hehe..” pak Bambang tertawa kecil.
“cengengesan.., dan bi eno juga yang lain.. apa kamar Oyyi sudah di rapikan?”
“sudah den.. semua sudah beres..” jawab bi Eno dan pembantu lainnya.
“kalian tahu nggak Oyyi ngapain ngumpulin kalian gini?” Tanya Oyyi sambil memandang satu persatu pembantunya itu.
“nggak den..” jawab semua pembantu Oyyi serempak.
“Oyyi lagi bête sekarang . jadi udah tahu kan apa yang harus kalian lakuin????” Tanya Oyyi pada semua pembantunya.

                Oyyi memang seseorang yang aneh, dia akan merasa tenang kembali saat melihat banyak lilin mengapung di kolam renangnya. Oyyi orang yang sangat menyukai lilin, bahkan dia punya ruangan tersendiri untuk lilin-lilinnya, ribuan lilin yang selalu ada di Special Candle room, sebutan Oyyi untuk ruangan lilinnya itu, Oyyi selalu mengecek lilin-lilinnya setiap saat, ada beberapa lilin yang tak ingin ia gunakan, hanya sebagai koleksi karena baginya lilin yang cantik terlalu indah untuk di lelehkan.

                Dan malam itu, Oyyi merasa saat itu puncak dari kekesalannya, dia merasa sendirian, tak ada satu orangpun yang bisa membuatnya tertawa bahagia, tertawa yang sesungguhnya, dia sangat kesal pada hari itu, dan dia sangat membutuhkan lilinnya agar dia tak lebih jauh merasa bahwa dunia ini gelap baginya, dia butuh lilin untuk menerangkan malam itu, menerangkan hatinya, lilin memang suatu yang sederhana bagi setiap orang, tapi bagi Oyyi itu berbeda.

                Semua pembantu Oyyi dengan cekatan mempersiapkan semua untuk Oyyi, ini sudah seperti ritual bagi Oyyi, dia bisa melakukan ini 10 kali dalam sebulan, Oyyi seorang yang mudah kesal,marah, dan bosan. Dan ia sudah melakukannya sejak kecil, hingga semua pembantu Oyyi sudah sangat terbiasa akan hal ini.

                Akhirnya semua selesai, selesai dengan cepat, dan Oyyi mulai tersenyum, sebenarnya Oyyi orang yang sangat tampan ketika ia tersenyum. Oyyi juga bukan orang yang enggan mengucapkan kata terimakasih. Dia selalu mengucapkan terimakasih pada para pembantunya dan tak jarang membelikan hadiah pada pembantunya karena telah bekerja keras demi dia.
“makasih semua.. kalianlah yang selalu bisa membuat Oyyi tersemyum lagi dengan seperti ini, andai kalian seumuran sama Oyyi, mungkin Oyyi akan bermain bersama kalian, tapi kalian itu terlalu tua, Oyyi nggak mungkin bersama kalian, akan terasa aneh.” Kata Oyyi pada semua pembantunya, walau tidak dengan memandang mereka, Oyyi tetap memandangi lilin-lilinnya yang menghiasi kolam renang.
“sama-sama den.. kami senang kalau den Oyyi bisa tersenyum.” Kata bi Rami.
“iya den, orang den Oyyi itu ganteng sekali kalau sedang tersenyum.” Kata bi Nur dengan logat medoknya, dan juga membuat Oyyi langsung menoleh ke bi Nur.
“beneran? Ahhh.. bi Nur kaya’ nggak tahu Oyyi aja, Oyyi itu cowok yang udah terlanjur cakep dari dalam perut mamih, mau Oyyi gimana juga, Oyyi bakal tetep cakep.. ya kan?” kata Oyyi yang memang sangat suka akan pujian.
“sip den..” kata semua pembantu serempak.
“oh ya.. seperti biasa.. sebelum kalian pergi.. Oyyi mau Tanya., Oyyi cakep nggak??” Tanya Oyyi.
“terlalu cakep den..” jawab mereka serempak.
“Oyyi keren nggak??” Tanya Oyyi lagi.
“nggak ada yang nandingin den..” mereka kembali kompak saat menjawab.
“ada nggak yang lebih dari pada Oyyi???”
“lebih jelek baru ada den..” mereka kembali menjawab secara bersamaan dan membuat Oyyi tertawa.
“hahaha.. ok bagus, kalian boleh pergi.” Kata Oyyi yang masih tertawa melihat kekompakan pembantu-pembantu setianya itu.

                Oyyi terus menatap lilin-lilinnya itu, entah apa yang terasa istimewa dari lilin-lilin menyala kebanggaannya, tapi memang Oyyi dapat tersenyum tulus karena ini, senyumnya mengembang, matanya berbinar untuk beberapa saat malam itu, tapi entah apa yang membuatnya kembali murung, tatapannya kosong sejenak. Terlihat jelas kalau Oyyi berusaha membuang fikiran yang mengganggunya itu, dia memukuli kepalanya sendiri dengan tangannya, memejamkan matanya, lalu membukanya kembali perlahan. Oyyi berdoa agar dapat kasih sayang besar oleh orang lain, bukan caci maki.

                Oyyi yang lama termenung mulai mengambil salah satu dari 4 foto yang ia letakkan di sampingnya. Oyyi menatap foto itu dalam. Foto Mikka yang pertama kali diambilnya.
“hey .. kenapa lo liatin gue terus??? Haha.., Mikka.. mikka, gue nggak tahu kenapa gue harus sayang sama lo dulu, lo memang cantik, pinter.. tapi lo salah satu orang yang nggak harusnya biarin gue kesepian. Kita udah jadian 2 tahun yang lalu.. tapi ketemu sama lo itu bisa gue itung manual tau nggak. Sok sibuk banget sih lo jadi cewek. Lama-lama rasa sayang gue ke lo itu ilang. Gue siap lo putusin kapanpun lo mau. Jujur sekarang lo itu nggak berarti buat hidup gue, tapi nggak tahu kenapa lo itu selalu masuk dalam list orang-orang yang gue pikirin. Ya.. lo cinta pertama gue. “ Oyyi berbicara pada foto Mikka, dan menghela nafasnya dalam-dalam.
“mulai sekarang gue akan berusaha untuk membuang jauh pikiran tentang lo.. mikka.” Lanjut Oyyi yang kemudian meletakkan foto Mikka.

                Kini ia mulai melihat kembali foto-foto disampingnya, dan memilih foto teman sekelasnya, foto yang diambil seminggu yang lalu oleh wali kelas mereka, dan Oyyi juga mendapatkan foto itu seperti murid lain.
“huahh.. kenapa Galih itu jauh lebih cakep daripada gue di foto ini..” kata Oyyi kesal dan mengambil koleksi stiker bergambar muka cartoon monkey di sakunya, Oyyi selalu membawa stiker-stiker itu disakunya, ia akan menempelkan stiker monkey itu pada setiap sesuatu yang ia kurang sukai, bahkan ia pernah menempelkan stiker monkeynya pada kacamata guru olahraganya, menurut dia kaca mata itu sangat kampungan dan membuatnya pusing saat melihat guru itu mengenakannya. Tapi Oyyi akan mengganti kaca mata guru itu dengan yang baru dan jauh lebih keren keesokan harinya. Kali ini, Oyyi menempelkan stiker monkeynya pada muka galih di foto itu.
“nah.. ini sedikit ngebuat gue lebih lega, sekarang muka gue yang paling cakep.hehe” Oyyi tersenyum memandang foto itu dan tertawa kecil melihat muka galih yang ia tutupi stikernya.
“huhh.. gue bingung.. kenapa orang-orang ini masuk dalam list pertama, orang-orang yang gue pikirin setiap saat. Kalian tahu nggak sih? Di lubuk hati gue yang paling dalam.. gue tuh pengen.. lo semua baik sama gue. Lo tersenyum sama gue.. gue juga pengen kita ngobrol bareng, gue pengen kalian akrab sama gue, tapi kalian nggak pernah mau berbagi kebahagiaan kalian sama gue. “ Oyyi menghela nafasnya dan menatap sekejap lilin-lilinnya.
“kalian nggak mau terima baik-buruknya gue, bahkan untuk sekedar tahu gue seperti apa, kalian nggak akan sudi. Padahal gue nggak seburuk yang kalian bayangin, gue bisa seribu kali lebih baik, kalau kalian juga baik sama gue. Atau.. kalian minder temenan sama gue? Kalian takut bokap gue yang kaya’ gatot kaca itu marahin kalian kalau kalian berteman sama gue? Kalian salah.. gue bukan orang yang lihat seseorang dari kasta, penampilan, dan tingkat i-q yang kalian miliki, gue bisa berteman dengan siapapun yang bisa menerima sifat gue yang gue akui mungkin menyebalkan bagi kalian. Dan untuk urusan gatot kaca, papih itu juga bukan sosok ayah yang ngatur gue buat harus bertemen sama orang kaya, papih hanya bakal marah banget kalau gue jadi urakan karena kalian.” Kata Oyyi yang kemudian meletakkan foto teman-temanna lagi di sampingnya.

                Kini Oyyi memilih foto ayah dan ibunya, mencium foto itu dan meletakkan foto kedua orangtuanya itu di dadanya, kemudian ia mulai berbicara pada foto itu.
“mamih… Oyyi sayang sama mamih, meskipun mamih Cuma bisa ketemu Oyyi satu kali dalam sebulan, Oyyi tetep sayang sama mamih, andai Oyyi bisa marah sama mamih, Oyyi bakal marah habis-habisan karena mamih nggak pernah ada buat Oyyi, bahkan saat Oyyi masih bayi sekalipun, mamih malah nitipin Oyyi di bi Rami. Huahhhh.. paling nyebelin kalau inget dulu waktu SD , ada undangan untuk wali murid, papih sama mamih nggak bisa dateng, eh.. bi rami yang wakilin, kan malu mih.. masa’ Oyyi yang cakep banget gini, di wakilin sama bi Rami.., kalau Oyyi bisa ungkapinnya ke mamih, Oyyi Cuma mau bilang.. kalau Oyyi kesepian, Oyyi pengen kita makan di meja makan sama-sama setiap malam, pengen nonton film sama-sama, pergi piknik sama-sama, mamih pernah ngerti nggak sih perasaan Oyyi, Oyyi iri sama anak-anak lain, saat Oyyi belajar jalan.. mamih nggak ada, saat Oyyi mulai belajar menulis dan membaca.. mamih nggak ada, saat Oyyi ulang tahun.. 18 kali hingga sekarang.. mamih Cuma hadir di ulang tahun Oyyi yang ke 10, saat Oyyi sakit, bukan mamih yang ngerawat Oyyi. Oyyi sedih banget.. sempet Oyyi berpikir apa Oyyi ini bukan anak mamih..????” mata Oyyi mulai memerah, airmatanya siap mengalir, tapi Oyyi menahannya dan mulai melanjutkan obrolannya sendiri.
“ahh.. gue terlalu sering mengeluh.. semoga gue ini memang anak mamih.” Lanjut Oyyi, kemudian menghapus air matanya.
“untuk orang yang satu ini, gue nggak perlu nangis. Ya.. papih.. si gatot kaca ini, orang yang paling sering buat gue sengsara. Hey pria tua berkumis, untung Oyyi nggak mirip sama papih. Paling sebel liat papih melotot, melebarkan mata papih di depan muka Oyyi, please papih, andai papih bukan orangtua Oyyi, Oyyi pasti udah nempelin stiker monkey Oyyi ke kumis papih. Sampai kapan papih mau nyukur abis tuh kumis? Apa papih kira papih udah cukup macho dengan kumis papih itu?? Itu sangat tidak modern, dan Cuma bagi Oyyi kumis papih itu hanya akan meninggalkan sisa susu saat papih selesai meminumnya, bukannya itu sangat memalukan papih???” kata Oyyi yang mendeskripsikan tentang papihnya, Oyyi tidak akrab dengan papihnya, malah mereka selalu saja bertengkar saat bertemu. Sifat mereka bertabrakan, dan tak ada yang ingin merelakan satu dari mereka menjadi pemenang, benar-benar tak kompak.
“heran.. ngapain juga mamih bisa suka sama papih, mungkin mamih itu seorang gadis yang matrealistis kaya’ aliya, kalau nggak.. apa yang bisa di banggakan dari papih. Terus, yang paling bikin Oyyi bête, papih tuh kenapa sih harus kasih nama Oyyi tuh O..Y..Y..I..,kaya’ nggak ada nama lain aja pih, Oyyi kan jadi di ejekin, kata orang-orang tuh nama Oyyi aneh. huhhh.. nggak ada habisnya ngomongin keburukan papih, Oyyi mungkin anak durhaka yang siap di kutuk sama Tuhan. Tapi Tuhan juga pasti tahu, bahwa Oyyi begini karena apa, karena papih juga yang nggak pernah ngebimbing Oyyi jadi anak yang sopan. Makasih banyak papih. Semoga umurmu panjang. Dan sehat selalu.” Lanjut Oyyi, yang kemudian segera menaruh kembali foto kedua orangtuanya dan mulai mengambil foto terakhirnya.
“Dea… lo jangan tinggalin gue kaya’ yang lain, lo itu satu-satunya orang yang bisa mengerti gue, orang yang terima gue apa adanya, satu-satunya orang special yang akan ngebuat gue rela kehilangan nyawa gue asal lo selamat.. lo memang nggak sempurna, lo memang nggak cantik, lo bau, lo nggak punya kulit yang halus, rambut lo terlalu lepek, dan lo punya style yang buruk. Tapi gue sayang lo Dea, lo sahabat terbaik gue. Lo gue tempatkan jauh di atas orangtua gue. Tapi kenapa lo bisa tinggalin gue sekarang, kenapa lo nggak muncul lagi beberapa hari ini, lo terlalu sibuk sama Galih. Lo itu sekarang satu lingkup dengan  orang yang udah gue kasih stempel monkey gue. Harusnya lo tahu kalau gue nggak suka akan hal ini. Really miss you my best friend.. please comeback.. “ kata Oyyi dengan sangat tulus.

                Oyyi sangat merindukan Dea, dia sama sekali tak berbicara dengan Dea beberapa hari ini. Merekapun tak sebangku lagi karena tugas kelompok itu, Dea kini sebangku dengan Galih, Dea berada di belahan kelas sebelah kiri, dan Oyyi berada di belahan kelas sebelah kanan. Oyyi selalu berusaha melihat Dea, tapi Dea terlalu sibuk mengerjakan tugas kelompok yang memang sangat banyak dan rumit. Oyyi tak pernah mau lagi bergabung dengan teman kelompoknya, Oyyi merasa di kucilkan dan tak berniat untuk mengerjakan tugas itu bersama Devan dan yang lain, Oyyi mengerjakan sendiri sebisanya.

***

                Siang itu, saat Oyyi berada di kantin, menghabiskan banyak makanan tanpa ia sadari, Oyyi sedang tak ingin di ganggu, Oyyi sangat cuek, pikirannya kacau sehingga dia dapat menghabiskan banyak makanan dalam sekejap.

                Kali ini, Oyyi tak lagi memikirkan imagenya. Semua orang memandangnya, dan ia tak peduli. Dia tetap bertingkah laku sesuai keinginannya. Saat itu, Mikka datang ke sekolah Oyyi. Sangat tidak tepat, karena Oyyi tak ingin di ganggu oleh siapapun. Mikka menyapa Oyyi berulang kali, tapi secara sengaja, Oyyi tak menjawab sapaan Mikka. Hingga, Mikka mengatakan sesuatu yang membuat Oyyi berhenti mengunyah makanannya, dan menelannya seketika. Lalu Oyyi meminum segelas airputih miliknya dengan cepat dan menoleh kea rah Mikka. Menatap tajam mata Mikka, dan terpaksa Mikka harus mengucapkan lagi.
“rasanya gue nggak cocok buat lo Yyi, kita putus.” Kata Mikka pelan.
                Oyyi terdiam sejenak, meminum kembali airputihnya , mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan. Ini hal yang di tunggu Oyyi sekian lama, tapi entah mengapa, Oyyi berpikir ini bukan saat yang tepat. Oyyi memikirkan apa yang harus ia pilih sekarang, tetap bersama Mikka, mempertahankannya atau melepaskannya saat ini juga. Dan Oyyi terlihat sudah menemukan jawaban yang tepat.
“yaudah.” Jawaban Oyyi sangat singkat, tanpa ekspresi dan tanpa menatap Mikka, sedikit membuat Mikka kecewa, namun Mikka juga mengerti bagaimana Oyyi sebenarnya.
“lo sama sekali nggak keberatan Yyi?” Tanya Mikka lirih.
“apanya yang perlu di beratin, gue emang nggak cocok sama lo Mikka, lo cari aja cowok sesama artis, yang bisa jaga lo tiap saat, gue nggak berguna buat lo, gue nggak bisa jaga lo, bisa apa gue? Udah lo pulang sekarang, gue lagi butuh waktu sendiri, hati-hati di jalan, semoga lo bahagia selalu, makin sukses, dan semoga umurmu panjang.” Kata Oyyi dengan sangat dingin, Oyyi menatap Mikka sebentar, membelai rambut Mikka, lalu pergi meninggalkan Mikka sendiri.
                Mikka masih menatap Oyyi, Oyyi tetap berjalan tanpa menoleh ke arah Mikka lagi. Oyyi sempat berhenti, Mikka melihatnya, tapi Oyyi berhenti hanya untuk melepas simcard ponselnya dan membuangnya di tong sampah kantin, kemudian melanjutkan langkahnya. Oyyi semakin jauh, Mikka tak dapat melihatnya lagi. Mikka sadar.. kini ia tak lagi ada di hati Oyyi, Mikka terlalu sering membuat Oyyi kecewa.

                Oyyi tetap berjalan menyusuri seluruh koridor sekolah dengan pikirannya yang kacau, semua sudah benar-benar meninggalkannya. Oyyi berusaha menyimpan kekesalannya sebisa mungkin, namun ada saja murid lain yang masih suka menjahili Oyyi, Oyyi adalah seorang yang pendendam, iapun tak membiarkan orang itu tertawa setelah mengerjainya. Saat seorang murid laki-laki melempar kertas ke kepala Oyyi, Oyyi diam.. menatap tajam murid itu, murid itu terus tertawa, seakan puas telah melemparkan kertas yang telah ia remas sebelumnya ke kepala Oyyi. Tapi, tanpa di sangka, Oyyi yang hanya diam, berbalik arah, mengambil tong sampah kecil berisi sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri, lantas Oyyi membuang sampah-sampah itu ke kepala murid yang menjahilinya. Setelah itu Oyyi santai berjalan lagi tanpa peduli semua orang membicarakannya.

                Dan saat murid laki-laki selalu menghinanya, murid perempuan justru sangat mengagumi Oyyi, setiap Oyyi melewati teras-teras kelas, murid perempuan berebut untuk dapat melihat Oyyi. Dan tak sedikit yang menyapa Oyyi.
“Oyyi… lo cakep banget sih…” sapa seorang siswi pada Oyyi. Oyyi seketika menghentikan langkahnya, semua siswi histeris, karena Oyyi mau berhenti demi satu siswi yang menyapanya itu.
“hey, apa lo nggak bisa sopan, lo berumur 1 tahun di bawah gue, dan bisa-bisanya lo panggil gue tanpa kakak, ahh.. gue nggak abis pikir.” Kata Oyyi pada gadis itu, membuat gadis itu terdiam dan menyesal. Oyyi kembali melanjutkan langkahnya, namun tiga langkah Oyyi melangkah, Oyyi kembali lagi kehadapan gadis itu, itu membuat gadis itu kembali tersenyum, gadis itu berpikir bahwa mungkin Oyyi akan meminta maaf padanya, itu membuat semua gadis yang ada disana semakin penasaran.
“siapa nama lo?” Tanya Oyyi pada gadis itu, dan membuat siswi lainnya histeris.
“Anggun kak Oyyi.” Jawab gadis itu, matanya berbinar, dia bahagia berhasil berbicara pada laki-laki yang ia sukai.
“ok anggun, rok lo terlalu pendek, gue nggak suka lihatnya. Sebentar.” Kata Oyyi, yang kemudian mengambil stiker monkeynya dan menempelkannya di rok gadis itu. Muka gadis itu berubah seketika, dia sangat tahu tentang stiker monkey Oyyi, dan kini ia sadar kalau ia tak di sukai oleh Oyyi.
“akan lebih kelihatan cantik kalau lo manjanginnya beberapa cm lagi. Semoga umurmu panjang.” Kata Oyyi, yang langsung melangkah pergi meninggalkan gadis itu yang masih tak percaya dirinya mendapat stiker kebencian Oyyi.
                Oyyi selalu mendoakan seseorang agar umur mereka panjang, dia sering menutup kalimatnya dengan kata-kata itu. Menurut Oyyi itu lebih baik daripada harus berkata bye, dadahh, dll. Oyyi kembali melanjutkan langkahnya, saat akan masuk perpustakaan, Oyyi di hadang seorang gadis culun, yang sangat mengagumi Oyyi sama seperti Aliya, gadis itu bernama Ammi. Oyyi sangat mengenali gadis ini, karena gadis ini, selalu mengikuti Oyyi, gadis ini tinggal bersebelahan dengan Oyyi, dia bukan gadis dari keluarga kaya, dia sangat sederhana dan Oyyi paling mengingat gadis ini, karena gadis ini sulit menutup mulutnya. Hingga saat ini, Oyyi harus berhadapan langsung dengan gadis itu, Oyyi sedikit takut pada gadis ini, karena baginya mukanya sangat menyeramkan, mulutnya terbuka , seakan-akan hendak memakan Oyyi. Biasanya, Oyyi selalu kabur, lari bersama Dea menjauhi Ammi sebisa mungkin, Oyyi dan Dea memberi julukan pada Ammi, yaitu monsmmi. Kali ini, karena pikiran Oyyi yang sedang kacau, ia tak ingin berlari lagi. Dia memilih diam dan menanggapi Ammi.
“ada apa? Minta tanda tangan gue???” Tanya Oyyi pada Ammi yang menghalanginya untuk masuk.
“ini buat kamu..” jawab Ammi polos, sembari memberikan amplop merah jambunya pada Oyyi.
“apaan ini? Lo kasih gue surat? Yaelah norak banget sih. Ngomong langsung aja kali.” Kata Oyyi, dan membuat Ammi menunduk.
“ok.. nanti gue baca.” Oyyi tak tega melihat Ammi yang kecewa.
“makasih kakak ganteng..” kata Ammi yang bahagia Oyyi mau membaca suratnya.
“bagus. Tanpa gue suruh lo udah panggil gue kakak. Ohya monsmmi, gue boleh nggak komentar tentang penampilan lo!” kata Oyyi memandang Ammi dengan sangat tak nyaman.
“boleh kak..”
“lo punya tinggi badan yang bagus, lo punya kulit putih, dan rambut hitam yang indah. Tapi please.. bisa nggak lo tutup mulut lo itu, lo ngebuat semua gigi lo jadi kering di dalamnya, gue sama Dea sempet heran, kenapa lo bisa-bisanya ngebuka mulut lo terus menerus.. apa lo nggak takut ada hewan masuk ke mulut lo? Apa itu penyakit? Atau memang kebiasaan turun temurun? Atau lo sendiri nggak tau caranya bernafas pakai hidung? Itu ngebuat gue takut. Belajar buat nutup mulut lo.. mingkem kalau pembokad gue bilang. Makasih udah mau denger, semoga lo cepet di sadarkan oleh Tuhan, dan semoga umur lo panjang. Kalau lo mau berteman sama gue, lo harus ngerti dulu cara bernafas pakai hidung bukan pakai mulut.” Kata Oyyi yang tentunya membuat Ammi sedih. Oyyi memang selalu menyakiti perasaan orang lain.
***
                Hingga suatu hari, Dea berhasil menemui Oyyi di ruang kerja ayahnya di sekolah. Dea juga sangat merindukan Oyyi. Mereka berpelukan, Oyyi sangat bahagia dan juga mengomeli Dea. Dea juga mengatakan bahwa ia merindukan Oyyi.
                Semua terasa menyenangkan sebelum akhirnya Dea mengatakan sesuatu yang membuat Oyyi marah pada Dea. Dea mengatakan kalau dia sudah berpacaran dengan Galih. Oyyi sangat terkejut mendengar pernyataan Dea. Oyyi berfikir kalau Dea telah mengkhianatinya. Oyyi sangat kesal dan langsung meninggalkan sekolah saat itu juga. Oyyi tak bisa kendalikan emosinya, dia mengendarai mobil omanya dengan kencang, dan membuat ia mengalami kecelakaan hebat, beruntunglah Oyyi tak sampai kehilangan nyawanya. Namun Oyyi harus koma untuk beberapa minggu.

                Oma Oyyi menagis sejadi-jadinya di rumah sakit, Oma Oyyi takut kalau Oyyi sampai tak terselamatkan. Dea, Galih, Aliya, Ammi dan teman-teman Oyyi di sekolah banyak yang menjenguk Oyyi di rumah sakit. Namun Oyyi tak kunjung terbangun dari komanya.

                Ayah Oyyi, berusaha mengumpulkan teman-teman Oyyi untuk bersama-sama mendoakan Oyyi, memohon agar dapat memaafkan semua kesalahan Oyyi, ayah Oyyi tahu kalau anaknya sering membuat oranglain merasa kecewa akan omongannya. Kini Oyyi terbaring di rumah sakit, entah kapan ia akan terbangun, entah kapan oma Oyyi berhenti menangis, entah sampai kapan juga teman-teman Oyyi selalu setia menunggu Oyyi agar bangun dari komanya.

                Saat Oyyi masih belum juga terbangun dari komanya, Dea sangat sedih, dan merasa kalau ini salahnya. Dia mengumpulkan semua murid untuk berkumpul di aula sekolah. Dea menceritakan bagaimana Oyyi sesungguhnya. Dan tak disangka, semua murid mau mendengarkan Dea berbicara tentang Oyyi. Dea memberi tahu alasannya mengapa hingga saat ini tetap menjadi sahabat Oyyi, Dea juga memberitahu kalau Oyyi bukan seorang yang jahat. Dan semua ini bukan salah Oyyi, Oyyi hanya ingin punya teman, Oyyi hanya ingin bisa sama seperti yang lain, Oyyi bukan bermaksud menyakiti hati semua orang dengan kata-katanya. Oyyi hanya tak bisa menyimpannya untuk tidak di ungkapkan. Dea meminta semua murid disana untuk tersenyum pada Oyyi saat Oyyi sadar nanti, kalian coba untuk memahami Oyyi, karena butuh waktu lama untuk tahu Oyyi yang sebenarnya.
***
                Akhirnya Oyyi terbangun dari komanya, semua bahagia terutama oma Oyyi. Dea langsung memeluk Oyyi sambil menangis terharu, menangis bahagia karena Tuhan masih berbaik hati mengizinkan Dea untuk tetap memiliki sahabat seperti Oyyi. Oyyi pun tersenyum bahagia.

                Dan ada kejadian yang membuat semua orang yang menjenguk Oyyi tertawa kecuali Ammi. Sebelum Oyyi berpelukan dengan Dea, saat ia pertama kali membuka matanya, pertama kali orang yang ia lihat adalah Ammi, layaknya orang yang sudah sehat, Oyyi langsung terkejut dan berteriak.
“hwaaa.. siapa orang itu? Ya Tuhan.. gue nggak nyangka ketemu pencabut nyawa yang seseram itu, tolong gue..” Oyyi menutupi mukanya dengan selimut. Semua heran melihat tingkah Oyyi yang tak seperti seseorang baru terbangun dari komanya, namun semua akhirnya tertawa.
“Oyyi.. itu teman kamu..” kata Oma Oyyi  membelai rambut cucunya itu.
“oma.. kenapa oma ngebiarin monsmmi itu masuk ke ruangan ini..” kata Oyyi yang masih belum mau membuka selimutnya.
“hehe.. Yyi.. ini gue Dea.. buka selimut lo.. lo liat siapa aja yang dateng kesini buat jenguk lo..” Dea berusaha membuat Oyyi membuka selimutnya, Dea ingin Oyyi bisa melihat semua orang-orang yang dulu membencinya kini ada di hadapannya. Dan perlahan Oyyi membuka selimutnya. Oyyi tersenyum, saat dia tahu teman-temannya datang, dan tersenyum dengannya. Teman-teman Oyyi menunjukkan mini banner bertuliskan “MARI BERTEMAN OYYI”.
“Makasih ya.. aku bahagia. Ternyata kalian peduli sama gue. Kenapa gue nggak kecelakaan dari dulu aja ya. Kenapa Tuhan baru aturnya sekarang. Sungguh menyebalkan.” Kata Oyyi, kemudian Dea memeluknya, meminta maaf pada Oyyi. Dan Oyyipun kini sadar, Dea tak akan pernah pergi darinya walau sudah mempunyi Galih sebagai kekasihnya.
***
                Semakin hari, Oyyi semakin membaik, ia sudah mulai bersekolah lagi. Kini semua sudah berbeda, semua tersenyum pada Oyyi, Oyyi sangat bahagia dan kini ia sudah tahu rasanya mendapat senyum dari banyak orang, bagi Oyyi ini sangat menyenangkan, Oyyi sudah memiliki teman laki-laki seperti yang ia inginkan. Kini ia bisa menerima Galih sebagai temannya, membiarkan Galih menjadi kekasih Dea.

                Tapi, Oyyi belu bisa membuang sifatnya yang selalu berkata sesuka hatinya. Beruntungnya Oyyi, kini semua sudah mengerti bagaimana Oyyi yang sebenarnya. Aliya masih tetap mengejar-ngejar Oyyi, tetap mengganggu ketenangan Oyyi. Ammi masih dengan mulut terbukanya dan masih membuat Oyyi berlari saat bertemu dengan Ammi. Namun kini jauh lebih baik. Tristan sudah kembali pada Oyyi.

                Beberapa bulan lagi Oyyi akan siap masuk universitas, entah apa yang terjadi suatu saat nanti, apa Oyyi tak akan mempunyai teman lagi. Oyyi berharap semua temannya sekarang dapat satu universitas dengannya lagi. Oyyi terlalu sulit mencari teman, dan sesungguhnya ia tak ingin berpisah dengan semua teman SMAnya yang kini selalu tersenyum pada Oyyi.

Created By Mutiara Dini
May 2012
The Love Story Part II


Thank you for reading ^^

1 komentar: