Selasa, 13 November 2012

Love Story ~ Part 3


LOVE STORY ~ ANGGA – GINA – OYYI - DEWI

“Woy! Sini kalian.. gabung sama kita.. mojok aja kerjaannya.” Celetuk Bobby, mengajak Angga dan Gina untuk bergabung bersama Fizi, dan juga Rizal.
                Hari  ini, hari pertama mereka masuk kuliah setelah beberapa hari mereka menjalani ospek. Mereka diterima di Universitas yang sama. Angga mengikuti Gina dimanapun Gina masuk Universitas itu, begitu juga Bobby, Fizi, dan Rizal.
“Sini dong bos.. nggak asik makan nggak ada lo.. nggak  asik kita bayar sendiri-sendiri.. ya nggak? Ya nggak?” kata Fizi sambil menoleh kea rah teman-temannya.
“ah! Lo Zi!” kata Angga memukul kepala Fizi dengan buku yang ia pegang sejak tadi.
“udah kenyang gue guys, gue mau keliling-keliling dulu, pengen tahu suasana kampus.” Lanjut Angga.
“yahhhh Ga.. terus kita gimana Ga.. laper kita Ga..” kata Fizi.
“kita??? Lo aja kali!” kata Rizal.
“gue ikut lo Ga.” Kata Bobby yang mulai berdiri dari tempat duduk kantin kampus.
“wah lo awas lo Bob ya! Gue bales lo, kalau lo kelaparan juga suatu saat!” kata Fizi pada Bobby.
“ya lo makan aja Zi kalau laper .. repot banget.” Kata Angga yang heran dengan tingkah laku Fizi.
“Fizi kan udah jadi artis, Bassis terkenal.. masa’ makan aja harus nunggu di bayarin..” kata Gina yang ikut gregetan melihat tingkah laku Fizi.
“gini nih, paling gue takutin kalau Gina udah mulai ikutan ngomong. Mau jawab apa gue..” kata Fizi yang hubungannya sedikit canggung dengan Gina.
“udah ah yuk guys, cabut.. biarin aja si mr.Irit ini sekali-kali makan bayar sendiri.. maunya gratis.. mulu..” kata Rizal mengajak yang lain untuk segera keluar kantin.
“ok.. gini ya cara kalian bersahabat, sana lo pada pergi, gue bakal relain duit gue pagi ini.” Kata Fizi, yang kemudian di tinggalkan oleh teman-temannya untuk melihat suasana kampus.
                Saat melihat-lihat suasana kampus, mereka tetap sambil mengobrol. Tak sedikit mahasiswa dan mahasiswi menyapa Angga, Rizal, dan Bobby, karena mereka kini sudah menjadi artis terkenal. Tak heran jika banyak yang mengenali mereka.
“gue masih nggak nyangka kalau sekarang gue itu di kenal banyak orang. Ada rasa bangga di hati gue akan hal ini.” Kata Rizal dengan mata indahnya yang berbinar.
“bahasa sinetron tuh.. kalau gue sih udah sangat sadar.. gue seneng hal ini terjadi di hidup gue. Dan ini berkat lo Ga.” Kata Bobby menepuk bahu Angga.
“kok gue? Kita dong Bob.. kita udah berjuang keras demi semua ini.” Kata Angga yang masih tetap menggenggam tangan Gina.
“gue nggak munafik kaya’ si Fizi, kalau sebenarnya gue tahu.. yang bikin band kita di sukain orang ya karena lo.. lo punya tampang yang ngejual bangetlah.. lo bisa nyiptain lagu yang ok.. suara lo bagus.. dan penampilan lo keren.., kalau nggak ada lo, kita nggak berarti lagi Ga.” Kata Bobby menatap kagum sahabatnya itu.
“makasih Bob.. kalau nggak sama kalian, kalau nggak demi kalian, gue juga nggak akan mau jadi terkenal gini, gue nggak mau debut jadi penyanyi. Ini semua demi kalian.” Kata Angga tulus.
“cowok gue baik.. baik banget..” kata Gina, merangkul tangan Angga.
“ya iya dong beibb.” Kata Angga mengelus rambut Gina.
                Dan saat mereka masih asik mengobrol, tiba-tiba.. ‘GUBRAKK!!!’ , seorang laki-laki yang mempunyai tinggi badan kira-kira 175cm ini tak sengaja tertabrak oleh Bobby. Bobby sudah spontan mengucapkan kata maaf, namun laki-laki itu tetap saja mengomel.
“hati-hati dong!! i-pod gue jatuh jadinya!” kata laki-laki itu yang masih menunduk mengambil i-podnya yang terjatuh di lantai.
“pada punya mata nggak sihh…” lanjut laki-laki itu yang kemudian menoleh ke arah Bobby. Dan membuat Gina terkejut.
“Oyyi???” kata Gina spontan saat melihat wajah Oyyi.
“santai.. kaget gue! Segitu terkenalnya ya gue? Sampai shock gitu lo liat gue? Haha..” kata Oyyi pada Gina.
“lo kenal dia beibb?” Tanya Angga pada Gina.
“iya Ga.. dia Oyyi yang pernah gue ceritain.” Jawab Gina.
“oh.. ini yang namanya Oyyi.” Kata Rizal sinis.
“kenapa lo? Terpesona sama kegantengan gue?” celetuk Oyyi pada Rizal, dan membuat Rizal sedikit emosi.
“ternyata bener apa yang dibilang sepupu gue.” kata Rizal santai.
“siapa sepupu lo?? Hah? Apa yang dia bilang ke lo tentang gue? ayo bilang..” kata Oyyi yang juga mulai terpancing emosinya.
“udahlah Zal…” kata Bobby yang sudah mulai malas akan suasana seperti ini. Sementara Angga dan Gina hanya memandangi Rizal dan Oyyi.
“lo inget dengan seseorang yang lo katain nggak bisa nafas pake hidung?” kata Rizal memandang Oyyi.
“oh.. monsmmi. Ya ampun lo sepupunya si monsmmi itu? Hahahaha, kenapa lo bisa sebangga itu ngakuinnya ke gue? haha” jawab Oyyi dengan mukanya yang sangat menyebalkan.
“heran gue, kenapa dia bisa suka sama lo!” kata Rizal yang tak suka dengan sikap Oyyi.
“aduhh.. gue lagi nggak pengen bahas si monsmmi!” kata Oyyi yang kemudian mengalihkan pandangannya pada Gina, Oyyi mulai mengingat Gina.
“lo .. nona muka menyedihkan itu ya? Astaga.. sampai sekarang gue belum tahu nama lo siapa..” kata Oyyi pada Gina.
“gue Gina..” kata Gina memperkenalkan dirinya pada Oyyi, sampai sekarang Gina masih mempunyai rasa hutang budi yang sangat besar pada Oyyi.
“eh Gina, lo tahu nggak, kita jodoh.. gue pernah bilang dalam hati kalau kita bisa ketemu lagi.. berarti kita jodoh.. haha.. takdir ini namanya.” Kata Oyyi dengan sangat santai, Oyyi tak menganggap orang lain di sekitarnya.
“Gina cewek gue..” kata Angga secara tiba-tiba setelah mendengar kata-kata Oyyi.
“yang bilang lo bapaknya Gina siapa……?” kata Oyyi menanggapi kata-kata Angga dengan sangat tidak menyenangkan.
“nyolot banget sih lo! Kalau bukan karena Gina punya hutang budi sama lo! Udah gue tampar mulut lo itu!” kata Angga kesal.
“Ga.. udah yuk cabut.. jangan dimasukin hati kata-kata Oyyi. Oyyi gue pergi dulu, yuk Zal.. Bob..” kata Gina mengajak Angga, Bobby dan Rizal untuk menjauh dari Oyyi, karena Gina tak ingin semuanya menjadi kacau. Gina juga tak ingin Angga, Rizal, dan Bobby sampai semakin memiliki kesan yang tak baik. Karena Gina juga tak mungkin memusuhi Oyyi yang sudah sangat baik padanya semasa SMA.
                Mereka berempat melanjutkan tujuan mereka untuk melihat-lihat suasana kampus, mereka berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Namun, sepertinya masalah lagi-lagi datang, saat seorang gadis cantik secara tiba-tiba memeluk Angga dari belakang. Gina yang polos hanya terdiam dan sedih melihat kejadian itu. Gadis itu Dewi, mantan kekasih Angga.
“Angga.. gue kangen banget sama lo..” kata Dewi yang masih memeluk Angga dengan erat, Angga berusaha melepaskannya tapi Dewi tetap tak mau melepaskan pelukannya itu.
“lepasin gue! lo siapa ya? Gue lupa!” kata Angga dengan sangat dingin.
“Gin.. lo jangan salah paham sama Angga ya..” kata Rizal menenangkan hati Gina yang melihat kejadian ini tepat dihadapannya.
“Zal, bawa Gina pergi dulu. Gue harus selesaiin ini dulu.” Kata Angga pada Rizal.
“Gina.. maafin gue.. ini nggak seperti yang lo pikirin, nanti gue jelasin.” Kata Angga pada Gina, Angga tak ingin Gina semakin sedih bila tetap melihat semua ini. Angga tahu bagaimana Dewi, dan akan lebih baik kalau Gina menjauh dulu saat ini.
“Ga..” kata Gina yang sebenarnya tak ingin meninggalkan Angga.
“ayo Gina.., Ga! Gue tunggu di halaman belakang. Cepet selesaiin.” Kata Bobby. Lalu Rizal, Gina, dan Bobby berlalu meninggalkan Angga yang tak menyangka hal ini akan terjadi.
“Ga.. itu cewek lo ya?” kata Dewi pada Angga, kini Angga berhasil melepaskan pelukan Dewi.
“iya. Wi.. jangan deketin gue lagi ya. Gue udah lupa pernah ngejalin hubungan sama lo. Kejadian-kejadian dulu itu udah berusaha gue lupain, dan cewek tadi, cinta terakhir gue, sampai gue mati dia nggak akan terganti. Jadi berhenti buat cari-cari gue lagi.” Kata Angga menatap dingin gadis yang dulu pernah ia sayangi itu.
“Angga maafin gue dong.. gue tau.. dulu gue salah sama lo.. dulu gue Cuma incer materi lo.. tapi setelah gue putus sama lo.. gue bener-bener nggak bisa cari cowok yang sebaik lo Ga.., gue nyesel…” kata Dewi menatap Angga yang sangat dingin padanya. Dewi mulai meneteskan airmatanya. Dan Angga paling tak bisa membiarkan seorang gadis menangis di hadapannya.
“ikut gue. nggak enak di lihat orang disini. Udah nggak usah nangis. Ok gue maafin. Hapus airmata lo.” Kata Angga yang sedikit membungkukkan tubuhnya berusaha melihat wajah Dewi yang menunduk. Kemudian Angga menarik tangan Dewi dan mengajaknya berbicara di basement kampus di dalam mobil Angga. Angga sadar banyak yang memperhatikannya, dan ia tak ingin mendapat berita buruk akan hal ini. Maka dari itu, Angga mengajak Dewi berbicara di tempat yang kemungkinannya sangat kecil untuk di ketahui banyak orang.
Setibanya disana..
“berhenti nangis Wi..” kata Angga sembari memberikan tissue pada Dewi.
“lo kenapa sih Wi.. lo udah terlambat ngelakuin ini semua.. kalaupun gue maafin lo.. itupun juga nggak akan buat kita balik kaya’ dulu lagi, gue udah dapetin seseorang yang nggak akan mungkin digantiin oleh siapapun di hati gue.” kata Angga sangat tulus.
“please.. kasih kesempatan ke gue Ga.. gue nggak apa-apa jadi yang kedua.. asal gue juga dapet kasih sayang itu lagi dari lo kaya’ dulu….” Kata Dewi menggenggam erat tangan Angga. Angga sangat terkejut dengan pernyataan Dewi dan membuatnya menoleh seketika, menatap mata Dewi, dan Angga tahu dari mata Dewi bahwa kata-kata Dewi itu serius, bukan main-main.
“Angga .. Please.., gue bisa buktiin kalau gue itu bisa jauh lebih baik dari cewek lo yang sekarang.. gue akan buktiin ke lo Ga.. kalo lo mau kasih kesempatan ke gue.. gue janji Ga..” Lanjut Dewi yang lagi-lagi tak bisa menahan airmatanya, membuat Angga menjadi tak tega melihat Dewi seperti itu.
“Wi.. jangan buat gue sedih..” kata Angga menghapus air mata Dewi.
“Angga.. jujur.. gue masih sayang sama lo.. nggak mudah untuk gue buat lupain lo, setelah putus dari lo beberapa tahun yang lalu.” Dewi memeluk Angga, dan entah mengapa Angga tak bergeming.
                Untuk beberapa saat, Angga membiarkan tubuhnya didekap erat oleh Dewi. Angga merasa Dewi sangat sungguh-sungguh akan ucapannya. Angga juga tak mungkin melupakan Dewi, seseorang yang pernah ia sayangi dalam waktu yang tidak sebentar. Sekejap Angga merasa berada di beberapa tahun yang lalu, saat ia dan Dewi berpelukan seperti ini. Ya.. rasa itu kembali muncul.. namun tak mampu melawan rasa sayangnya pada Gina yang sangat besar. Angga melepaskan pelukan Dewi dengan sangat lembut.
“makasih ya Wi.., gue nggak akan mampu lupain lo..” kata Angga.. menghela nafasnya dalam-dalam.
“tapi gue nggak mau nyakitin hati cewek gue, dia terlalu baik untuk gue sakitin. Please.. ngertiin gue.. bukan maksud gue nyakitin lo.., gue yakin jodoh lo bukan gue. cepat atau lambat lo bakal bisa lupain gue. sekarang lo keluar dari mobil gue. gue pikir ini udah jelas.” Kata Angga yang menundukkan kepalanya pada kemudi mobil, Angga tak sanggup mengatakannya pada Dewi yang terlihat tulus.
“Angga lo jahat..”
“iya gue jahat..”
“Angga.. lihat gue.. jangan nunduk gitu.. segitu sebelnya lo sama gue..” kata Dewi, menggerakkan bahu Angga. Yang terpaksa membuat Angga menoleh ke arahnya, kini Dewi tahu, kalau Angga menangis karenanya.
“keluar sekarang Wi, atau gue yang keluar.” Kata Angga sembari berusaha menghapus sedikit airmatanya.
“Angga.. gue tahu lo masih sayang sama gue.., gue nggak akan menyerah sampai lo bisa jadi milik gue lagi. Gue nggak peduli seberapa lama lo ngehindarin gue, gue bakal tetep pada pendirian gue, gue akan kasih hati gue sepenuhnya buat lo, sampai lo terima gue lagi.” Kata Dewi menggenggam tangan Angga, kemudian meninggalkan Angga, dan sebelumnya juga meninggalkan kotak makanan berisi nasi dan lauk untuk Angga sarapan. Ini semakin membuat Angga bingung.
***
                Sementara Rizal dan Bobby rupanya salah mengajak Gina menghindar dari Angga dan Dewi, Rizal dan Bobby berpikir lewat basement akan lebih cepat sampai ke halaman belakang, namun itu membuat Gina melihat Angga dan Dewi berpelukan di dalam mobil. Gina yang sangat kecewa seketika berlari keluar basement. Rizal dan Bobby berusaha mengejarnya namun ada saja halangan yang membuat Rizal dan Bobby tak dapat melanjutkan untuk mengejar Gina lebih jauh lagi.
                Gina terus berlari, airmatanya mulai berlinang tak sanggup melihat semua itu. Gina tak sanggup lagi berpikir positif. Dia terus berlari, dan..
“aduh!” Suara dari seorang laki-laki yang Gina pasti sudah mengenalnya, seseorang yang selalu hadir dalam hidup Gina secara tiba-tiba. Ya.. dia Oyyi.
“lo lagi..” kata Oyyi sembari berusaha berdiri dan menawarkan tangannya untuk membantu Gina berdiri, Gina menabrak Oyyi yang memang menghalangi jalan.
“maaf..” kata Gina menunduk dan segera ingin menjauh dari Oyyi, tapi Oyyi menahannya. Saat Gina kea rah kiri, Oyyipun menghalanginya, saat Gina ke kanan, Oyyi pun menghalangi Gina lagi. Hingga akhirnya, Gina menyerah.
“jangan pergi dulu sebelum gue tahu kenapa lo bisa nangis.” Kata Oyyi.
“bukan urusan lo..” kata Gina yang masih dalam keadaan sedih, dan baginya bukan waktu yang tepat untuk mengobrol.
“hey nona muka menyedihkan, udah cerita aja.. atau..” kata Oyyi yang kemudian terhenti , Oyyi melihat-lihat situasi di sekitarnya. Terlalu banyak orang disitu.
“ikut gue..” Oyyi menarik paksa tangan Gina, bisa di katakana sangat kasar. Namun Gina hanya diam tak melawan. Oyyi mengajak Gina ke ballroom kampus mereka. Ballroom kampus ini tak pernah terkunci kecuali kampus sudah tutup, jadi Oyyi bisa masuk dengan Gina.
“Gina.. lo boleh cerita sama gue.. tentang masalah lo, kalau gue bisa, gue akan bantu, lo beruntung.. sekarang gue bisa lebih mengerti ketimbang dulu. Gue udah buang waktu berharga gue demi lo.. jadi lo wajib cerita sama gue. ayo..” kata Oyyi, sok kenal pada Gina.
“ayo Gin.. anggap aja gue udah kenal lo dari bayi.. mulai ceritanya..” lanjut Oyyi.
Gina menangis, membuat Oyyi panik.
“heh.. jangan nangis dong.., aduh.. masalah lo berat banget ya?” kata Oyyi polos.
“haruskah gue kaya’ gini lagi..” kata Gina.
“nangis gitu maksud lo?”
“iya.. nangis lagi gara-gara cinta.”
“jadi lo nangis karena itu.. pasti cowok lo nyakitin lo ya? Atau karena tadi ketemu gue, terus lo jadi suka sama gue, terus cowok lo marahin lo, gitu ya? Aduh.. maaf ya Gin, gue selalu aja.. ngebuat pasangan-pasangan itu berantem gara-gara ceweknya suka sama gue.. huhh.. resiko cowok ganteng begini ya.. maaf ya Gin.. gue nggak bermaksud.” Kata Oyyi dengan sangat percaya diri.
“GR lo..” Gina menatap Oyyi heran.
“GR gimana Gin? Itu sih yang biasanya terjadi sama cewek-cewek lain, emang lo nggak suka sama gue Gin? Nggak mungkin dong.. secara gue ini tipe-tipe cowok idaman para gadis gitu. Ya nggak?”
“iya gue suka.. tapi suka lo bukan dalam arti lebih. Lo baik.” Kata Gina mulai tersenyum.
“ya pokoknya lo harus suka sama gue. lo itu jodoh gue, udah gue tetapin dari tadi pagi.” Celetuk Oyyi sesuka hatinya.
“hah?” Gina sangat terkejut mendengar kata-kata Oyyi.
“kenapa? Kaget seorang Oyyi yang sempurna ini ngomong itu ke lo nona menyedihkan?” Oyyi mulai menatap Gina secara special.
“udah ih nggak usah becanda.” Gina mendorong lengan Oyyi, dan Oyyi langsung terjatuh dari tempat duduknya.
“astaga Gina.. lo anaknya Hulk ya? Atau anaknya superman? Sekali sentuh, gue sampai jumpalitan gini. Gila ini cewek.” Kata Oyyi yang masih mencoba berdiri. Gina tak membantunya berdiri malah tertawa terbahak-bahak melihat Oyyi yang mudah sekali terjatuh.
“hahahaha.. kok lo lemah banget sih?” kata Gina.
“lo yang terlalu kuat anaknya hulk! Wah.. bener-bener ini cewek, bukannya bantuin gue berdiri malah ketawa. Kalau nggak gue suka aja sama lo. Udah gue tempelin stiker gue ke jidat lo yang berminyak itu!” kata Oyyi kesal.
“udah gede ih. Berdiri sendiri.. tapi maaf ya Yyi, gue nggak bermaksud.. gue kira lo kuat..” kata Gina yang berusaha menahan tawanya.
“enak aja lo.. gue kuat.. itu tadi.. gue.. gue..” kata Oyyi terbata-bata.
“gue cuma akting! Iya.. Cuma akting. Biar lo seneng aja gitu. Berhasil kan? Lo ketawa kan?” kata Oyyi berusaha membela dirinya yang tak ingin terlihat sangat lemah di depan Gina.
“iya deh.. lo kuat Oyyi.. hehe.. berhasil kok, gue terhibur, makasih ya Yyi..” kata Gina tersenyum pada Oyyi sangat manis, hingga Oyyi mengalihkan pandangannya.
“sama-sama. Ohya, sebenernya gue nggak suka lo panggil Oyyi, harusnya tuh kak Oyyi, gue kan lebih tua dari lo, gue tahu tanggal lahir lo, lo 2 bulan di bawah gue, dan nggak seharusnya lo panggil gue hanya dengan nama, tapi nggak apalah, buat lo boleh-boleh aja. Suka-suka lo lah pokoknya..” Oyyi mengacak-acak rambut Gina.
“bisa aja lo Yyi.., kalau menurut gue.. lo itu limited edition.. lo makhluk Tuhan teraneh yang pernah gue lihat.. tapi makasih ya Yyi.. lo selalu muncul saat gue butuh pertolongan seseorang.” Kata Gina.
“aneh.. enak aja lo! Gue ini cakep. Berhenti bilang gue aneh. Gue nggak suka. Masalah tolong menolong, lo santai aja, gue anak orang kaya, jangan peduliin dan jangan inget-inget lagi masalah waktu SMA itu. Gue nggak suka di ungkit-ungkit lagi. Dan karena gue selalu ada buat lo, jadi lo boleh anggap gue malaikat lo. Lo hubungin gue kapan aja, gue akan segera datang sesegera mungkin. Ok Hulk’s children?” kata Oyyi mengedipkan matanya.
“makasih Oyyi, kak Oyyi ganteng. Haha..” kata Gina yang kembali tersenyum pada Oyyi.
“emang gue ganteng..” kata Oyyi santai.
“btw, lo nggak takut Angga gue datang terus gebukin lo disini? Angga jago berantem loh Yyi..”
“nggak, karena gue percaya lo nggak akan biarin Angga buat gebukin gue, lo kan sayang sama gue.” kata Oyyi spontan, dan membuat Jantung Gina berdetak dengan cepat. Namun Gina berusaha tak menanggapinya dan mengalihkan pembicaraannya dengan Oyyi. Gina benar-benar tak mengerti dengan sifat Oyyi, kata-katanya selalu secara tiba-tiba.
“mm.. Dea mana? Dulu lo selalu sama dia waktu SMA..” kata Gina mengalihkan pembicaraannya.
“Dea mah sibuk sama pacarnya tuh si Galih, lo tau kan si Galih?”
“anak baru itu?”
“iya.., gue sekarang nggak mau ngelarang dia buat deket sama siapapun, gue pikir, gue jahat banget batesin ruang dia buat bergaul sama orang lain. Jadi mulai sekarang, gue rasa, gue bisa main sendiri tanpa Dea, tapi dia tetep bestfriend gue, selamanya.., gue rela mati demi dia Gin..” kata Oyyi mendeskripsikan bagaimana ia dengan Dea sekarang. Kini Gina tahu, bahwa Oyyi seseorang yang sangat baik pada sesuatu hal yang ia sayangi.
“mm.. karena sekarang lo udah ada dalam hidup gue, dan lo bukan orang yang masuk dalam daftar orang-orang menyebalkan, jadi lo sekarang harus selalu ada di hari-hari gue meskipun Cuma beberapa detik. Itu wajib, nggak boleh nggak, kalau nggak gue stress, entar ngamuk-ngamuk bahaya Gin.” Kata Oyyi, Oyyi selalu terlihat lebih cute saat ia panik,cemberut,kesal, dan sombong.
“ok.. lo temen gue sekarang. Malaikat gue, orang yang akan buat gue tersenyum saat gue sedih. Makasih Oyyi.” Kata Gina memandang kagum Oyyi.
                Keheningan Ballroom membuat mereka semakin terasa dekat, Oyyi sangat pandai membuat lelucon dan akhirnya selalu bisa mengembangkan senyum Gina. Oyyi merasa Gina orang yang baik, dan mulai detik itu Oyyi ingin menjaga Gina, walau dirinya sendiri tak yakin kalau tubuhnya yang kurus itu mampu menjaga Gina dengan baik. Gina bukan seorang gadis yang cantik, bahkan sangat sederhana, tapi karena janji yang pernah Oyyi ucapkan saat SMA dulu, Oyyi mulai mempercayai takdir itu, dan Oyyi rasa Gina seorang gadis yang menyenangkan dan istimewa baginya.
                Sangat Gina dan Oyyi masih dalam obrolan mereka, tiba-tiba tiga laki-laki yang sangat Gina kenal itu masuk Ballroom dan menemui Gina dan Oyyi berdua. Mereka Fizi, Rizal, dan Bobby.
“Gina, cepet keluar dari sini..” kata Bobby pada Gina.
“ayo Gin.. buat apa lo disini?” kata Rizal sambil menatap mata Oyyi.
“apa lo??!!!” kata Oyyi yang tak terima dipandang sinis oleh Rizal.
“gue tahu masalah lo Gin sama Angga, tapi semua nggak seperti yang lo bayangin. Gue yakin Angga bukan orang yang seperti itu, percaya sama gue.” kata Fizi yang terlihat lebih cool dari biasanya, Fizi tak ingin Angga dan Gina berpisah gara-gara hal ini, Fizi tak ingin perjuangan Angga dulu sia-sia begitu saja.
“lo jangan deketin Gina!!” kata Bobby. Sambil menunjukkan telunjuknya di depan wajah Oyyi.
“siapa lo? Berani-beraninya nunjuk-nunjuk gue! suka-suka gue dong.” kata Oyyi menghempaskan tangan Bobby yang menunjuk wajahnya.
“udah Yyi.. gue pergi dulu ya.. makasih udah buat gue senyum lagi.” Gina tersenyum pada Oyyi, menatap Oyyi lalu pergi meninggalkannya bersama Fizi,Rizal, dan Bobby.
                Fizi, Bobby, dan Gina pergi meninggalkan Oyyi. Namun mereka sudah tak ada waktu untuk berkumpul lagi, karena jam kuliah mereka tiba. Merekapun harus melaksanakan tugasnya sebagai seorang mahasiswa dan mahasiswi seperti biasanya mengikuti mata kuliah masing-masing.
                Saat di kelas, Angga dan Gina tak terlihat akrab. Mereka hanya diam, Angga menyapa Gina beberapa kali, dan Gina hanya tersenyum. Angga merasa ada yang berbeda dari Gina. Angga belum mengetahui kalau Gina sempat melihatnya berpelukan dengan Dewi. Karena, sahabat-sahabatnya belum sempat memberitahukan hal itu pada Angga. Angga menjadi semakin murung. Berkali-kali Angga memberikan selembar kertas bertuliskan “Maafin gue beibb..”, namun Gina hanya memandangnya sebentar lalu meletakkan dengan rapi di mejanya, lalu kembali memperhatikan dosen di depannya.
                Saat mata kuliah berakhir, Angga segera berlutut di depan Gina sambil meminta maaf, Angga tak pernah memikirkan harga dirinya di depan Gina. Gina mencoba menyuruh Angga untuk bangun tapi Angga merasa Gina belum kembali seperti semula. Angga tetap bersujud memohon Gina agar memaafkannya, mahasiswa dan mahasiswi yang lain memandangi Angga dan Gina. Rizal hanya menggaruk-garuk kepalanya, Fizi tak ingin melihat Angga seperti itu, dia berusaha menarik lengan Angga menyuruhnya berdiri, namun itu hanya membuat Fizi dibentak oleh Angga. Sementara Bobby, hanya terdiam memandangi sahabatnya yang terus memohon pada Gina.
                Hingga akhirnya, Gina tak tahan melihat sikap Angga. Tanpa berkata apapun dia pergi meninggalkan Angga yang masih bersujud di depannya. Kali ini, Angga tak mengejar Gina. Angga berdiri dan memandangi sahabat-sahabatnya satu persatu.
“Gina kenapa sih? Kalian ngomong apa sama dia?” kata Angga.
“gue nggak ikutan.. gue lagi makan tadi..” jawab Fizi yang memang sedang tak bersama Gina saat kejadian itu, meskipun ia tahu masalahnya, tapi Fizi membiarkan yang lain untuk bercerita pada Angga.
“siapa aja yang mau cerita. Cepet cerita ke gue!” kata Angga sedikit membentak sahabat-sahabatnya karena pikirannya yang mulai kacau.
“mm.. gini Ga.. sebenernya kita nggak ada bilang apapun sama Gina.” Kata Bobby.
“ya terus kenapa Gina bisa segitunya sama gue??” Tanya Angga.
“tadi kita lewat basement.” Kata Rizal.
“apa?? Terus jangan bilang Gina lihat gue sama Dewi di mobil?” Tanya Angga sangat terkejut dan mulai khawatir.
“iya..” kata Rizal.
“shittt!!!!!!!!!!!!!” Angga terlihat sangat kesal.
“Gina lihat kalian pelukan, cewek mana yang nggak shock.” Kata Rizal menatap sahabatnya itu.
“tapi semuanya tuh nggak seperti yang kalian bayangin saat ini ke gue..” kata Angga yang tak ingin semua salah paham padanya.
“lagian lo itu kenapa musti sama Dewi sih Ga???? Eling Ga eling.. Dewi itu pernah nyakitin lo! Apapun alasan lo, Bisa-bisanya sampai pelukan di tempat sepi pula! Panteslah kalau Gina sedih liatnya. ” Kata Fizi membela Gina.
“andaikan gue tahu lo ada di basement, gue nggak akan ajak Gina lewat situ.” Ujar Bobby yang terlihat menyesal.
“semua udah terjadi, dan ini emang salah gue. mau gimana lagi, gue harus terus minta maaf sama Gina. Gue tadi Cuma nggak bisa biarin Dewi nangis di depan gue. bagaimanapun juga dia pernah ada di hati gue. gue juga nggak mau nyakitin dia, saat dia berusaha baik sama gue.” kata Angga yang terlihat pasrah.
“ya terus Gina lo apain Ga??? Lo berjuang mati-matian buat dapetin dia, dan sekarang lo masih bisa-bisa mikirin perasaan orang lain dan biarin Gina terluka kaya’ gitu. Sebejat-bejatnya gue, kalau gue jadi lo, gue akan jauhin Dewi sebisa gue.” kata Fizi yang kemudian mengetuk bahu Angga dengan telunjuknya.
“gue nggak akan balik sama Dewi Zi, gue Cuma nggak bisa lihat dia nangis di depan gue.. gitu aja..” kata Angga.
“gue ngerti perasaan lo Ga.., lo hanya harus punya pilihan.” Rizal memeluk sahabatnya yang terlihat bingung akan hal ini.
“munafik lo Ga. Pikirin semuanya baik-baik atau lo akan kehilangan Gina nggak lama lagi.” Kata Fizi yang sudah mengetahui kalau Oyyi mulai mendekati Gina, lalu Fizi pergi meninggalkan ketiga sahabatnya itu.
***
                Seminggu kemudian, semua masih tetap sama. Gina memang tak marah pada Angga, namun sikapnya yang menjadi lebih dingin pada Angga, berbeda dengan Gina sebelum kejadian di basement itu.
                Selain itu, Dewi juga masih sering menemui Angga, bahkan tak sungkan menemui Angga saat Angga bersama Gina. Angga menjadi bingung akan hal ini. Saat Angga mulai membentak Dewi, Dewi terlihat murung dan sangat sedih. Angga kembali tak tega dan meminta maaf pada Dewi. Pada saat seperti ini, Gina hanya bisa berlari menghampiri Oyyi, dan dengan senang hati Oyyi menghibur Gina yang pasti akan tersenyum kembali saat bersama Oyyi. Tingkah lucu Oyyi, bisa membuat Gina melupakan semua masalahnya.
                Angga memang terlihat tak mempunyai pendirian, namun Angga juga tak bisa memendam perasaannya, ia tak bisa menggantikan Gina, namun ia juga tak bisa membiarkan Dewi yang selalu menangis karenanya, Dewipun juga tak berakting akan hal ini, Dewi benar-benar menginginkan Angga kembali padanya, kembali menyayanginya walau harus terbagi dengan Gina.
                Dan.. Dewi juga selalu menatap sinis Gina, Gina yang seorang gadis polos, hanya bisa terdiam membiarkan Dewi melukai perasaannya sesuka hatinya. Angga yang melihat hal itu terjadi pada Gina, hanya terus berusaha menjelaskan pada Gina, memeluk Gina, Angga tak ingin Gina meninggalkannya.
***
                Suatu hari, tanpa di duga-duga.. Oyyi dan Dea bertamu di kontrakan Gina, Gina terkejut dan langsung mempersilahkan Oyyi dan Dea masuk ke dalam rumah kontrakannya itu.
“astaga Gina.. ini rumah lo..?” kata Oyyi sambil memandangi ruang tamu Gina.
“gue ngontrak Yyi..” kata Gina.
“De, rumah lo yang kecil itu ternyata masih ada yang lebih kecil.” Kata Oyyi yang selalu sesuka hatinya.
“hussstt! Oyyi, bisa nggak sih, jangan asal ngomong!” kata Dea.
“nggak apa-apa Dea.. gue udah mulai terbiasa sama Oyyi yang seperti itu.” Gina tersenyum polos pada Dea.
“ngomong-ngomong.., kalian mau minum apa?” Tanya Gina.
“gue air putih aja Gin..” jawab Dea.
“gue orange juice, tapi jangan terlalu manis, terus di pinggir-pinggir gelasnya itu ada gulanya.” Kata Oyyi santai.
“heh! Lo kira di restaurant!Oyyi please deh..” celetuk Dea sembari menjitak kepala Oyyi.
“tapi gue lagi pengen minum itu De, gimana dong? biasanya juga gue minum itu di rumah gue.” kata Oyyi.
“udah Gin, airputih aja ya..” kata Dea.
“Oyyi makhluk teraneh di dunia.. jangan dengerin dia.” Lanjut Dea, Oyyi hanya cemberut mendengar itu.
                Setelah itu mereka mengobrol, Dea menceritakan bagaimana Oyyi sekarang bisa menyukai Gina, bagaimana takdir yang Dea juga menyadarinya, bagaimana seorang Oyyi yang waktu SMA sama sekali tak ada hubungannya dengan Gina bisa mengucapkan janji itu dalam hatinya. Dea juga ingin Gina menjadi seorang yang baik pada Oyyi, karena dirinya kini sudah terlalu sibuk dengan kegiatannya menjadi anggota PMI bersama kekasihnya ‘Galih’. Dea berkata pada Gina, Oyyi laki-laki yang baik, laki-laki yang sangat special bila bisa mengenalnya lebih dekat. Dea juga tahu tentang hubungan Gina dan Angga, Dea bukan bermaksud memisahkan mereka, tapi Dea hanya ingin menitipkan Oyyi beberapa waktu pada Gina, Oyyi seorang yang sangat butuh perlindungan bagi Dea, setiap orang pasti akan segera memukulnya bila bertemu dengan Oyyi. Oyyi yang mendengar kata-kata Dea hanya mengomel, tapi Dea dan Gina tak mendengarkan Oyyi. Oyyi melarang Dea melanjutkan kata-katanya yang menurut Oyyi omong kosong. Gina menatap Oyyi lama, Gina merasa dia memang harus menjadi teman Oyyi yang baik, Oyyi orang yang baik, dan bisa menghiburnya tiap saat.
                Sementara itu, Angga juga makin sibuk akan kegiatan manggungnya. Ditambah, Dewi selalu mengikuti Angga kemanapun Angga pergi manggung, member perhatian lebih pada Angga. Gina juga tak pernah bisa seperti itu karena dia tak bisa meninggalkan Ibunya sendiri. Hingga suatu hari, Oyyi mengajak Gina ke ballroom lagi, dalam suasana sepi, Oyyi memberikan sebuah majalah edisi terbaru untuk Gina. Gina yang penasaran dengan maksud Oyyi segera melihat majalah tersebut. Wajahnya merubah murung saat melihat cover majalah itu adalah foto Angga dan Dewi, ada seorang yang secara sengaja mengambil gambar saat Angga dan Dewi berdua di backstage, dan menyebarkan gossip kalau mereka sedang berpacaran.
“ini salah gue.. gue nggak bisa selalu ada di sisi Angga.” Kata Gina lirih.
“gue tahu lo sedih Gin.., gue bisa balas dendam dengan baik, lo mau gue bantu? Gue bisa buat berita kaya’ gitu sama lo.” Kata Oyyi.
“gue nggak suka balas dendam Yyi, biarin semua berjalan seperti ini, biarin Dewi selalu berusaha ambil Angga gue.” Gina mulai menangis, dan Oyyi secara spontan segera memeluk Gina, menenangkan Gina yang terlihat sangat kecewa. Membiarkan Gina menangis di dadanya. Membelai rambut Gina hingga Gina merasa kembali tenang.
“meskipun gue juga pengen lo bisa sama gue.. tapi gue juga nggak bisa biarin ini Gin, Dewi semena-mena sama lo, dan Angga membiarkan Dewi seperti itu sama lo. Gue paham bener perasaan lo sekarang Gin.., sekarang lo bilang sama gue, apa yang gue bisa bantu buat lo, gue sadar.. gue bukan orang hebat yang bisa ngalahin Angga, tapi gue akan berusaha bantu sebisa gue..” kata Oyyi sungguh-sungguh, kini Oyyi ada dalam sifat aslinya, Gina yang mendengar kata-kata Oyyi bisa melihat sisi lain pribadi Oyyi yang lebih tenang, entah mengapa Gina merasa nyaman berada di dekapan Oyyi, mendengarkan detak jantung Oyyi, merasakan kebaikan Oyyi yang sesungguhnya. Gina merasa beruntung mendapatkan perhatian itu dari Oyyi.
“Gina.. sebenernya gue lagi kurang enak badan sekarang.. mata gue kabur.. gue kesel nggak bisa dengan jelas mandang wajah lo.. ini semua karena kecelakaan itu beberapa bulan yang lalu. Lo tahu kan..?”
“iya Yyi, terus gimana? Apa kita ke dokter aja sekarang..? ayo Yyi…” kata Gina.
“nggak usah Gin.. ntar juga baik sendiri.., emang kadang-kadang.. mata gue suka kabur beberapa saat, kepala belakang gue sakit Gin..” kata Oyyi menahan rasa sakit di bagian belakang kepalanya.
“yaudah ke dokter yuk Oyyi.. please..” kata Gina memegang bahu Oyyi, namun Oyyi hanya terdiam, menyandarkan tubuhnya ke kursi dan memejamkan matanya, ya.. ia tertidur. Gina sangat bingung dan segera menghubungi Dea. Dea memberitahukan bahwa Oyyi akan kembali seperti semula setelah ia tidur, dia bisa seperti itu setiap saat. Kondisinya tak menentu setelah kecelakaannya waktu itu. Dea menyuruh Gina untuk membiarkannya saja, karena semua akan kembali seperti semula, Dea meminta Gina untuk tenang.
                Gina tetap menunggui Oyyi sampai Oyyi terbangun. Karena kebetulan sudah tak ada mata kuliah lagi baginya. Gina memandang Oyyi yang sedang tertidur, Oyyi sangat tampan saat ia tertidur. Gina memberikan jaketnya untuk menutupi tubuh Oyyi. Ginapun ikut bersandar di samping Oyyi hingga Ginapun tertidur juga. Saat Oyyi bangun, Oyyi melihat jaket Gina menutupi tubuhnya, Oyyi menoleh ke sampingnya dan melihat Gina sedang tertidur lelap. Oyyipun tak membangunkan Gina. Oyyi menghubungi pak Bambang untuk segera menemuinya membawa lilin-lilin kesayangannya ke ballroom kampusnya.
                Saat pak bambang datang, dengan sigap, Oyyi dan pak bambang menata dan menyalakan lilin-lilin itu sebelum Gina terbangun. Kemudian pak bambang segera bersembunyi untuk melakukan tugas selanjutnya dari tuanmudanya itu.
                Saat Gina terbangun, lampu masih menyala.. Gina yang masih dalam kondisi baru bangun tidur, tak menyadari ada banyak lilin di sekelilingnya, dia memanggil nama Oyyi yang sudah tak berada disisinya. Dan ketika Gina mulai berpikir kalau ia sudah ditinggalkan oleh Oyyi, dan mulai melangkah untuk pergi. Klap! Lampu Ballroom padam, dan TARAAAA….!!!! Lilin-lilin itu mulai menampakkan pesonanya, membuat Gina sangat terharu dan bahagia, matanya bersinar karena sinar-sinar cantik dari lilin-lilin Oyyi yang menyala, dan juga lilin-lilin yang mengelilinginya membentuk hati. Gina sampai tak percaya apa ini nyata atau apakah ia masih bermimpi. Ini surprise terindah yang pernah ia dapatkan selama hidupnya, bahkan Anggapun tak pernah member kejutan yang bisa membuatnya Speechless.
“Oyyi..” Gina secara spontan menyebutkan nama Oyyi dengan lirih.
“Gina.. lo suka?” kata Oyyi secara tiba-tiba dari belakang Gina. Oyyi membawa satu tangkai bunga, yang sebenarnya bunga itu diambil dari salah satu vas bunga di Ballroom itu. :D
“Oyyi.. gue suka banget..” kata Gina yang masih memandang kagum lilin-lilin indah yang menghiasi ballroom.
“gue relain nih beberapa lilin-lilin gue berkurang demi lo.., tapi lo harus janji besok temenin gue belanja lilin-lilin lagi, gue nggak mau special candle room gue sampai kosong. Ok hulk’s children??” kata Gina sambil menyerahkan bunganya pada Gina.
“iya Yyi, gue janji.. lo kok sampai punya ide kaya’ gini sih Yyi? Bahkan Angga belum pernah lakuin ini buat gue..” kata Gina. Yang kemudian Oyyi mendekatkan tubuhnya juga mendekatkan wajahnya ke wajah Gina. Sangat dekat, hingga Gina merasa sangat gugup.
“karena gue sayang lo bego’! lo jodoh gue, nggak mau tau!” kata Oyyi memandang Gina dengan tatapan specialnya. Lalu mencium kening Gina. Dan kemudian memeluk erat Gina.
“gue nggak peduli lo punya Angga, tapi lo punya gue juga. Gue nggak mau tau! Pokoknya lo punya gue. mau gue di gebukin sama cowok lo yang sok cakep itu! Gue nggak peduli! Mau ini resmi atau nggak. Yang penting bagi gue lo itu Ginanya gue! bukan Ginanya Angga, lo ngerti kan?! Kalau nggak ngerti lo harus ngerti, gue lagi maksa lo sekarang, jadi lo wajib untuk mengerti.  Gue lagi memaksakan kehendak gue. jadi jangan pernah jauhin gue, karena gue akan selalu di deket lo, jaga lo sebisa mungkin.” Kata Oyyi yang selalu bertingkah sesuai keinginannya. Ginapun hanya bisa tersenyum melihat tingkah Oyyi, tidak percaya hal ini terjadi, tapi dia sedang tak ingin memikirkan Angga yang sama sekali tak membelanya, kini pikirannya hanya tertuju pada Oyyi.
***
                Lima bulan berlalu,tak ada yang berubah sama sekali. Dan kali ini, Secara bersamaan.. Angga, Gina, Oyyi,dan Dewi ada di tempat yang sama. Begitu juga Fizi,Bobby,Rizal,Dea, dan Galih. Mereka semua berada di dalam ballroom untuk acara kampus, yang mengharuskan seluruh mahasiswa dan mahasiswi berkumpul di ruang lapang yang penuh kenangan bagi Oyyi dan Gina itu.
                Awalnya, dalam meja makan bundar yang lumayan besar itu hanya ada Angga,Gina,Fizi,Rizal,dan Bobby. Lalu setelah beberapa saat Oyyi,Dea,Galih dan Dewi datang menghampiri Angga dkk dengan tak sengaja secara bersamaan. Saat ini, mereka semua duduk bersama. Oyyi segera duduk disamping Gina, Gina berada di antara dua laki-laki yang sangat penting baginya. Dan Dewipun segera meghampiri Rizal, meminta Rizal untuk bertukar tempat duduk dengannya, meski Rizal tak mau, lagi-lagi Angga membela Dewi dan membolehkan Dewi duduk di sebelahnya.
                Mereka sangat kaku kecuali Oyyi yang memang selalu berisik. Fizi,Rizal,Bobby,Dea dan Galih seperti menonton Drama Asia bertemakan percintaan rumit, mereka semua memandang ke arah Gina,Angga,Oyyi dan Dewi. Ini benar-benar membuat Fizi tak habis pikir, kenapa kisah cinta sahabatnya menjadi sangat rumit seperti saat ini.
“Gina I love you..” kata Oyyi dan membuat semua melotot ke arahnya tak terkecuali Gina.
“wah!” Fizi langsung berdiri dari tempat duduknya seperti akan menghampiri Oyyi.
“Zi! Jangan buat ribut!” kata Rizal menarik tangan Fizi, menyuruhnya duduk kembali.
“emosi gue!” kata Fizi membetulkan jasnya. Hari ini semua berpakaian formal.
“bisa nggak lo hargain gue? gue cowoknya Gina!” kata Angga sedikit membentak Oyyi.
“hellowww Angga! Kemana aja lo! Bukannya lo yang selama juga nggak menghargai Gina. Masa’ lo bisa sama Dewi, terus gue nggak bisa sama Gina. Ini karmapala namanya.” Kata Oyyi yang memang berkata sesuai kenyataan.
“Yyi! Jaga mulut lo!” kata Dea, mencoba menenangkan sahabatnya.
“iya Yyi, lo kenapa sih?” Galih juga mulai ikut berbicara.
“diem lo bule! My Dea.. kali ini, hanya gue sama Gina yang tahu..” kata Oyyi.
“Angga udah.. biarin Gina sama Oyyi.” Kata Dewi memegang lengan Angga.
“dia cewek gue Wi. Lo harus ngerti perasaan gue.” kata Angga menatap Dewi, dan melepaskan tangan Dewi dari langannya dengan lembut.
“Ah! Gue pergi. Suasana macam apa kaya’ gini! Dan buat lo Ga! Gue udah ingetin berkali-kali, gue muak ngeliat lo kaya’ gitu! Kalau lo merasa sahabat gue, harusnya lo dengerin apa kata gue!.” kata Fizi, yang kemudian meninggalkan meja makannya lalu bergabung dengan meja makan yang lain.
“gue sedih harus seperti ini..” Gina mengatakannya sangat pelan dan hanya Oyyi yang beruntung dapat mendengarnya.
“jangan sedih Gina..” kata Oyyi memegang bahu Gina.
“lepasin tangan lo!” kata Angga kasar pada Oyyi.
“kenapa? Lo nggak suka? Lo nggak terima kalau ternyata gue yang jauh lebih perhatian ke Gina, bukan lo. Iya? Ambil aja tuh si Dewi. Lepasin Gina buat gue, gue jauh lebih pantes sama Gina. Bukan lo!” kata Oyyi yang membuat Angga terlihat sangat kesal.
“jangan maruk.. semua mau lo milikin!” lanjut Oyyi, yang membuat Angga menghampirinya memberi satu pukulan di pipi Oyyi, berulang kali dan membuat Oyyi terjatuh. Semua mata kini tertuju pada Angga dan Oyyi.
                Rizal dan Bobby berusaha melerai Angga. Dea dan Galih juga. Lalu Gina datang dan memeluk Oyyi yang sama sekali tak melawan saat Angga memukulinya. Angga yang melihat hal itu langsung terdiam. Dewi langsung meraih tangan Angga yang menjadi lemas melihat Gina yang ia sayang kini terlihat lebih menyayangi Oyyi daripada dia sendiri. Dewi menarik Angga menjauh. Sementara Oyyi, masih terlihat menahan rasa sakitnya.
“Yyi, kali ini gue minta maaf sama lo atas nama Angga.” Kata Rizal pada Oyyi.
“ok,nggak apa-apa.” Jawab Oyyi lirih.
“Oyyi ini salah gue..” Gina menangis melihat Oyyi yang terluka.
“kan udah gue bilang, gue nggak apa-apa kalaupun gue harus digebukin sama Angga. Toh ujung-ujungnya lo emang nggak biarin gue terus digebukin Angga kan? Hehe..” kata Oyyi, mencoba tertawa walau dia sendiri masih tak kuat untuk bangun.
“ayo ke dokter Yyi..” kata Dea.
“iya.. nanti sakit di kepala bagian belakang lo kambuh lagi.” Kata Galih mengkhawatirkan Oyyi.
“ini udah sakit bego’!” kata Oyyi pada Galih.
“yaudah cepetan yuk..” kata Gina yang mulai membantu Oyyi untuk berdiri.
“yaudah daritadi kek! Aduhh.. sakit Dea.. bantu gue dong.. kasihan Gina sendirian angkat gue, sahabat apaan sih lo!” kata Oyyi.
“kurus ini badan lo Yyi, haha..” kata Dea meledek Oyyi.
“awas lo De! telp.nin oma sekarang.. tapi jangan bilang gue digebukin Angga, bilang aja gue digebukin preman atau siapa gitu.. atau bilang aja Galih yang gebukin gue, biar Galih dihajar pakai tongkat ajaib oma.. haha..” kata Oyyi yang dalam keadaan sakit masih sempat-sempatnya untuk bercanda.
                Sementara di tempat lain, Angga dan Dewi sedang bersama, Dewi berusaha menenangkan hati Angga. Angga memutuskan untuk ke pinggir danau yang tenang.
“Angga.. Angga.. nggak seharusnya lo pukulin Oyyi kaya’ tadi.” Kata Dewi pada Angga sambil menyerahkan salah satu minuman soda di tangannya pada Angga. Angga hanya tersenyum dan menerimanya.
“udah cukup Ga.. yang harus lo tahu.. lo sekarang udah pilih gue..” ucap Dewi.
“iya.. karena gue terlalu baik sama lo, dan semua jadi berantakan kaya’ gini. Rasanya gue udah sulit bernafas.” Kata Angga dengan tenang.
“andaikan gue bisa marah sama lo.” Lanjut Angga.
“Angga.. jawab jujur.. apa lo masih sayang sama gue? apa perasaan itu masih ada di hati lo untuk gue.. jawab jujur Ga..” Tanya Dewi.
                Angga menatap mata Dewi dalam.. mencoba mengetahui apa yang ada di hatinya kini untuk Dewi. Lalu Angga menunduk di pembatas danau, mencoba merasakan apa yang sudah terjadi pada dirinya, dia merasa dia telah berubah, ingin sekali Angga mencoba bertahan, namun takdir tak akan pernah bisa ia lawan. Ia tak ingin ada di kisah cintanya yang seperti ini, ini sangat rumit. Angga tahu semua akan membencinya, tapi baginya tak akan ada yang mengerti jika mereka semua tak pernah merasakan apa yang kini Angga rasakan. Cinta memang terlalu rumit baginya, namun semua telah mengikatnya hingga ia tak mungkin bisa mencoba untuk pergi dari semua ini. Hanya satu pilihan sulit yang akan di hadapi Angga. Gina… atau… Dewi…
“Angga jawab..” Tanya Dewi sembari merangkul Angga yang masih dalam keadaan menunduk.
“iya Wi.. gue masih sayang sama lo..” kata Angga, masih menunduk tapi terdengar dari suara Angga, bahwa Angga mulai menangis.
“lo tiba-tiba hadir lagi di hidup gue, kalau gue bisa milih, gue nggak mau dipertemukan sama lo lagi, kalau akhirnya.. perhatian lo ke gue itu bikin rasa yang selama ini berusaha gue bunuh itu hidup kembali..” lanjut Angga. Dewipun mendekap hangat tubuh Angga, dia kini sudah tahu bahwa Angga masih menyayanginya.
“gue jahat sama Gina.. gue jahat.. gue nggak pantes dan nggak seharusnya ngelakuin ini sama dia, gue sayang dia.. tapi gue juga sayang sama lo Wi.., gue nggak mau ini terjadi, tapi gue juga nggak bisa nolak perasaan ini, ini tiba-tiba.. gue bisa gila karena hal ini.” Angga kembali melanjutkan omongannya, dan kini Angga berbalik dan memeluk Dewi erat.
“maafin gue juga Wi, gue minta maaf sama lo, karena sampai kapanpun gue nggak akan pernah kasih sayang seutuhnya sama lo. Karena nama Gina di hati gue itu udah kekunci, sampai kapanpun, apapun yang terjadi suatu saat nanti, Gina selalu ada di hati gue.” kata Angga mencium kening Dewi.
“hati gue.. raga gue.. semua milik lo sampai kapanpun Ga, gue mungkin berdosa berusaha ambil lo dari Gina, tapi gue juga nggak bisa hidup lebih lama kalau hanya mikirin lo tiap waktu tanpa berani lakuin ini. Gue sayang lo Ga, kesalahan terbesar dalam hidup gue adalah ngebiarin seorang sesempurna lo pergi dari gue, andai waktu bisa balik ke masa itu, gue mohon sama Tuhan agar kita nggak pernah pisah, agar lo nggak pernah ketemu sama Gina, agar hati lo jadi milik gue selamanya.. seutuhnya..” Dewi kembali menangis di pelukan Angga.
“gue juga akan lebih milih kaya’ gitu Wi.. tapi gue nggak pernah menyesali semuanya. Gina terlalu sempurna untuk cowok kaya’ gue. Gina terlalu polos untuk cowok sejahat gue. gue Cuma pengen Gina bahagia, andaikan Gina butuh nyawa gue, gue akan kasih nyawa gue ke dia..” kata Angga.
“gue jealous sama Gina..” kata Dewi, dan Angga membalasnya dengan senyuman.
                Sedangkan di rumah sakit Oyyi masih terbaring, lukanya tak terlalu parah, namun cidera kepala belakang yang masih belum sembuh sempurna itu kembali membuatnya kesakitan. Keluarga Oyyi datang ke rumah sakit dan oma Oyyi terkejut melihat cucu kesayangannya mendapat luka lebam di wajahnya.
“astaga cucu oma…” kata oma Oyyi dengan nada keras.
“ssstttt… oma malu.. Oyyi udah gede..” kata Oyyi sembari meletakkan jari telunjuk ke ujung bibirnya.
“siapa yang berani seperti ini sama cucu oma, ayo bilang..” kata oma Oyyi.
“udah bu malu, Oyyi udah gede, biarkan dia menyelesaikannya dengan caranya sebagai seorang laki-laki sejati.” Kata Papih Oyyi.
“papih…? Ngapain papih kesini? Oyyi kan nggak nyuruh papih kesini.” Celetuk Oyyi.
“De, lo gimana sih? Gue kan Cuma suruh telp. Oma..” tanya Oyyi.
“gue Cuma telp. Oma lo Yyi.. bener deh.. sumpah..” jawab Dea.
“heh anak nggak tahu di untung. Udah bagus-bagus papih kesini.” Pak Ardhi melotot pada Oyyi.
“oma.. lihat papih tuh oma.. oma suruh papih cukur kumisnya dong.. pusing Oyyi lihatnya, apalagi sambil melotot gitu. Serem banget ..” Kata Oyyi mengadu pada omanya. Namun tiba-tiba papih Oyyi Bpk. Ardhi melihat ke arah Gina dan menyapa Gina.
“kamu teman baru Oyyi?” Tanya pak Ardhi.
“iya om..” jawab Gina yang terlihat segan pada pak Ardhi.
“dia dulu satu sekolah juga sama kita om..” kata Galih.
“dia ceweknya Oyyi. Udah ih papih ngapain sih sok imut tanya-tanya ke cewek Oyyi.” Kata Oyyi, Oyyi memang seorang anak yang sangat tidak sopan pada ayahnya sendiri.
“apa???” semua langsung berseru seperti itu kecuali Gina.
“kebiasaan deh pada lebay. Stay cool…” ujar Oyyi santai dengan gaya sombongnya yang tetap ada walau ia sedang sakit sekalipun.
“kapan jadiannya Yyi?” Tanya Dea.
“serius cucu oma sudah punya pacar? Dan bukan artis seperti yang dulu kan gadis ini?” Oma Oyyipun ikut antusias menanyakan hal ini pada cucu kesayangannya.
“serius Oyyi????” Tanya pak Ardhi tak mau kalah.
“iya Yyi, jangan boong lo..” Tanya Galih yang juga ikut terkejut mendengar pernyataan Oyyi.
“gue serius, gue itu jodoh Gina, udah jadian dari waktu Tuhan udah mulai kasih nyawa sama kita, udah di tulis di akhirat sana. Ya nggak Gin?” Oyyi mengedipkan matanya pada Gina mencoba merayu Gina agar berkata ‘iya’.
“masalah jodoh Tuhan yang atur.. tapi kita nggak jadian kok.. belum..” jawab Gina yang pipinya mulai memerah karena malu harus menjawab seperti itu di hadapan ayah Oyyi dan Oma Oyyi.
“ih Gina bilang belum.. berarti bisa dong besok-besok… haha.. tau deh gue jawabannya.. “ kata Oyyi percaya diri.
“Gina.. hati-hati pacaran sama Oyyi, dia ini manjanya minta ampun, suka ngerengek kaya’ balita sama omanya. Apa kamu yakin jadiin dia pacar kamu..” kata pak Ardhi secara tiba-tiba dan membuat Oyyi kesal.
“ahhh! Nggak usah dengerin papih Gin, papih ini memang satu-satunya makhluk Tuhan yang paling nggak seneng Oyyi bahagia, ikut nimbrung terus di urusan Oyyi, huahh.., papih nggak pulang pih? Mamih udah nungguin tuh.. papih pulang aja ya.. hati-hati di jalan.. semoga umur papih panjang.” Kata Oyyi sesuka hatinya.
“kamu lihat sendiri Gin.. begini kelakuan dia.., yaudah papih pulang dulu Yyi, kamu nanti udah boleh pulang kan?”
“udah .. sakit gini doang..” jawab Oyyi.
“hati-hati di jalan om..” kata Gina.
“ok calon menantu om.” Kata Pak Ardhi dengan sangat ramah pada Gina, Pak Ardhi memang bukan seorang yang membeda-bedakan seseorang, bukan melihat seseorang dari kastanya.
“ciehhh.. ciehhh.. ciehhh…” kata Dea meledek Gina dengan muka jahilnya.
“calon menantu nih..” kata Galih.
“dan calon cucu oma juga..” kata Oma Oyyi tersenyum pada Gina.
“calon istri gue.. calon nyonya dinardhi atmadja.. calon pendamping penerus kerajaan bisnis besar Indonesia.. Atmadja Group.. yang agung.. Oyyi dinardhi atmadja.. hahahahaha” kata Oyyi dengan bangga, namun Gina hanya terdiam, Gina sadar.. bukankah ia masih berpacaran dengan Angga, keluarga Oyyi sangat ramah dan baik pada Gina, hingga Gina juga merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka, namun kebahagiaan ini juga tak mungkin membuatnya lupa.. masih ada Angga di hatinya.
***
                Keesokan harinya saat di kampus, Angga berjalan sendiri menyusuri koridor kampus. Dia terlihat sangat tampan pagi itu. Mengenakan celana hitam, kaos sapphire blue, dan kemeja biru tua pekat yang sangat fashionable. Angga melangkah santai seolah tak ada masalah dalam dirinya.
                Kemudian tak berapa lama, ia berpapasan dengan Oyyi yang juga terlihat sangat fashionable pagi itu. Bertatap mukalah dua laki-laki tampan ini, hanya sekejap dan saling cuek, sekedar melirik untuk beberapa detik. Oyyi masih dengan plester luka di dekat bibirnya. Angga sudah melewati Oyyi sekitar dua langkah lalu berbalik lagi dan menarik bahu Oyyi.
“tunggu, gue mau ngomong sama lo.” Kata Angga.
“yaudah ngomong aja.”
“ikut gue ke atas gedung.” Angga mengajak Oyyi naik ke bagian paling atas gedung kampus mereka untuk membicarakan sesuatu yang terlihat penting. Kali ini Oyyi tak menunjukkan sifat kekanakannya, ia menunjukkan sifat aslinya pada Angga. Dan merekapun sampai. Mereka berdiri bersampingan, sama-sama memandang ke arah jauh dan sesekali memandang langit.
“Oyyi.. lo serius suka sama Gina?” Tanya Angga memulai pembicaraannya.
“serius.” Jawab Oyyi santai.
“gue akan selalu jaga Gina sebisa gue..” lanjut Oyyi. Membuat Angga segera memandangnya.
“bisa apa lo? Hah?” Tanya Angga sembari tertawa kecil mendengar kata-kata Oyyi.
“gue emang nggak bisa berantem kaya’ lo, gue punya cara lain buat jaga Gina, buat jaga senyum Gina, buat jaga hatinya. Berhenti ngeremehin gue.” kata Oyyi yang kemudian juga menatap Angga dengan tersenyum dingin.
“lo bisa janji ke gue untuk nggak akan nyakitin dia?” Tanya Angga membuat Oyyi sangat terkejut dan menatap Angga tajam.
“kenapa lo??? Apa lo nggak takut kehilangan Gina?” Oyyi bertanya balik pada Angga.
“kaya’nya Gina lebih bahagia sama lo, senyum tulusnya lebih sering terlihat waktu dia sama lo, bukan sama gue.” jawab Angga.
“sejujurnya gue nggak bisa lepasin Gina, andai lo tahu gimana gue bisa akhirnya jadian sama Gina, andai lo tahu seberapa besar pengorbanan gue, seberapa lama gue nunggu, dan seberapa banyak gue mengkhayal tentang Gina tiap saat.” Lanjut Angga.
“terus? Kenapa lo dengan gampangnya buat Gina nangis? Apa lo bosen sama dia?”
“sama sekali enggak.”
“lalu? Kenapa lo gampang banget deket sama cewek lain, sementara lo masih punya Gina?” Tanya Oyyi yang juga mulai penasaran dengan jawaban Angga.
“sama Dewi?” Tanya Angga.
“siapa lagi coba?”
“Dewi bukan Cuma cewek yang sekedar numpang lewat di kehidupan gue. bukan seorang cewek yang ngebuat gue nggak punya cukup alasan untuk bisa kaya’ sekarang. Dewi cinta pertama gue, orang yang pertama kali ngebuat gue tahu apa itu cinta, Dewi emang bukan pacar pertama gue, tapi dia cewek pertama yang berhasil buat gue jatuh cinta, dan juga cewek pertama yang ngebuat gue nangis karena ngadepin kenyataan harus putus sama dia waktu itu. Gue harus terima kenyataan kalau dia hanya suka materi gue. gue shock berat, dan saat seperti itu Gina hadir buat sembuhin luka gue, Gina hadir dengan sifat apa adanya dia, dengan sifatnya yang nggak pernah di buat-buat, dengan senyumnya yang perlahan buat gue tahu, kalau gue sayang sama dia, dia berhasil gantiin Dewi di hati gue.” kata Angga yang mencoba untuk terus menahan airmatanya yang siap mengalir.
“harusnya lo jangan biarin gue kenal sama Gina. Sekarang udah terlambat.” Oyyi menarik nafasnya dalam-dalam.
“Gina memang seorang yang special.. semua cowok yang kenal dia, dan tulus sayang sama dia, mungkin akan sama kaya’ kita, takut kehilangan dia.” Kata Angga.
“terus.. lo sama Dewi gimana? Apa kalian balikan sekarang? Lo jujur aja sama gue..” Tanya Oyyi.
“nggak tahulah Yyi, jujur gue bingung.. mungkin bener apa kata lo kemarin tentang gue.. gue maruk.. gue mau tetep bersama keduanya. Gue nggak bisa tinggalin Gina, dan gue juga nggak bisa jauhin Dewi. Gue cowok yang jahat kan? Ini rumit.”
“lo hanya harus pilih salah satu.”
“gue nggak bisa. Lo nggak tahu rasanya ada di antara dua hati yang nggak akan pernah bisa gue pilih salah satunya.”
“tapi lo nggak bisa milikin keduanya.”
“makanya.. sekarang gue ajak lo kesini, buat omongin ini, gue udah pikirin ini semalam penuh.”
“terus intinya?”
“saat gue pilih Dewi, Gina masih punya lo buat topang kesedihannya nanti, tapi saat gue pilih Gina, Dewi nggak punya siapa-siapa di sisinya, dia juga nggak bisa hidup tanpa gue. jadi gue tanya sama lo.. dengan berat gue lepasin Gina, tapi apa lo yakin buat sama dia selamanya, buat jaga dia, buat selalu hibur dia, jangan pernah biarin dia terluka, jangan pernah buat dia nangis, jangan pernah buat dia kecewa. Dan jangan pernah tinggalin dia sampai kapanpun. Turuti apa kemauannya selama lo mampu.. apa lo bisa?” kata Angga dengan memejamkan matanya, sangat terlihat jelas kalau dia sebenarnya tak ingin mengatakan semua itu, dan memaksakan dirinya untuk tetap mengatakannya walau hatinya perih.
“gue bisa.. dan gue janji.. lo bisa pegang omongan gue..demi Tuhan gue akan lakuin semua itu demi Gina, demi Cinta gue, dan.. demi lo yang udah relain Gina untuk gue..” Oyyi tersenyum dan menepuk bahu Angga.
“gue tahu lo orang yang sebenernya bisa di percaya. Semoga Gina bahagia sama lo, tapi yang harus lo mengerti, sampai kapanpun Gina ada di hati gue meskipun gue nggak bisa penuhin hati gue sendiri untuk jaga dia hingga akhir waktu. Gue akan berusaha bilang semua ini sama Gina nanti malem..” kata Angga.
Angga mulai tak bisa mengatur nafasnya. Hatinya sangat sakit, dan tak bisa lama lagi menahan airmatanya. Angga segera meninggalkan Oyyi dan mulai berbicara tentang ini pada sahabat-sahabatnya. Fizi,Bobby, dan Rizal sangat shock mendengar kata-kata Angga, terutama Fizi. Mereka semua tak mengerti apa yang di pikirkan Angga saat ini. Mereka juga tak mengerti apa yang telah di lakukan Dewi hingga membuat Angga menjadi seperti ini. Mereka sangat tak mengerti siapa yang sebenarnya ada di hati Angga, siapa yang bisa membuat Angga nyaman.
“lo yakin sama pilihan lo Ga?” Tanya Rizal yang masih tak percaya akan keputusan Angga.
“gue harus milih dan ini pilihan gue.” jawab Angga.
“lo bakal dibenci Ga sama Gina, gue nggak yakin lo bakal bisa ngomong lagi sama Gina setelah lo ngomong itu ke dia.” Kata Bobby menatap sahabat baiknya itu.
“Gina nggak kaya’ gitu.” Angga mulai menunduk, kedua telapak tangannya menopang dahi Angga, Angga sendiri tak yakin dengan kata-katanya.
“lo nyakitin dia Ga, lo sadar nggak sih??!” kata Fizi yang memang sangat tak suka akan tindakan Agga kali ini.
“gue sadar Zi, sangat sadar kalau gue jahat banget sama Gina, terus gue bisa apa kalau gue juga sayang sama Dewi.” Kata Angga. Suasana menjadi sangat tak nyaman, karena semua menjadi menyalahkan Angga akan hal ini.
“playboy lo!” kata Fizi menunjuk Angga, Angga tak melawan Fizi kali ini.
“kalau lo bakal kaya’ gini sama Gina.. nggak usah repot-repot kejar Gina waktu itu. Nggak usah buat dia melayang akan kebaikan lo, terus lo jatuhin dia tiba-tiba karena cinta lama lo yang gue nggak bisa ngerti.” Fizi memperlihatkan ekspresi kekecewaannya pada sahabatnya itu.
“Fizi bener Ga.., lo bakal buat Gina bener-bener sakit, tepatin janji lo layaknya laki-laki sejati.” Kata Bobby menepuk bahu Angga yang terlihat sangat bingung. Merangkul sahabatnya itu.
“Gina udah punya Oyyi, dan Dewi nggak punya siapa-siapa.. gue harus jaga dia..” kata Angga dengan tegas.
“Cinta pertama emang sulit untuk di lupain.” Kata Rizal tiba-tiba.
“Dewi juga kaya’nya sekarang sungguh-sungguh sama lo Ga, Dewi juga selalu perhatian sama lo.. selalu ada buat lo, temenin lo kapanpun juga, dan dia juga sepertinya nggak main-main akan perasaannya, gue tahu Dewi akan lakuin apapun juga buat lo, gue tahu gimana Dewi perlakuin lo sekarang, jauhhh.. lebih perhatian daripada Gina. Mungkin itu yang ngebuat lo berubah.. itu yang ngebuat rasa sayang lo ke dia yang udah lama hilang, muncul lagi.. itu juga yang ngebuat lo jadi takut Dewi yang baik itu terluka karena lo dan nggak ada satupun orang yang peduli dia saat terluka karena lo. Gue bisa paham betul perasaan lo sekarang Ga. Meskipun gue tahu ini menyakitkan bagi Gina, tapi gue ngerti kenapa lo milih Dewi daripada Gina, gue tahu lo lakuin ini karena lo sadar masih ada Oyyi yang siap nopang kesedihan Gina. Gue akan selalu ada buat dukung apapun keputusan lo, gue tahu sahabat terbaik gue ini, nggak pernah mengambil keputusan yang salah, selalu pikirin bagaimana kedepannya, lakuin yang menurut lo terbaik. Gue percaya lo bisa.” Lanjut Rizal dan membuat Angga tersenyum karena masih ada yang mengerti perasaannya.
“Zi.. lo bisa ngerti gue juga kan? Terserah lo mau katain gue playboy atau apapun, gue maruk, kalau bisa.. gue pengen dua cewek itu tetep sama gue, tapi itu nggak mungkin, dan emang gue harus pilih Dewi untuk gue jaga. Gue sayang dia.” Kata Angga menatap Fizi yang terlihat tak suka akan keputusan Angga daritadi. Fizi kemudian menatap Angga, Fizi menyadari bahwa yang menjalani hidup adalah Angga, Seorang Angga yang dewasa pasti tahu betul mana yang terbaik kedepannya, Fizi yang memang selalu peduli akan Angga sebenarnya tak ingin pengorbanan Angga semasa SMA itu menjadi sia-sia. Namun inilah takdir, dan rencana Tuhan yang memang tak akan pernah ada yang tahu, mungkin memang Gina bukan di takdirkan untuk Angga, Angga hanya ditakdirkan menjaga Gina untuk beberapa waktu sebelum Oyyi muncul di hidup Gina. Fizi mulai mengerti itu dan ia tersenyum menghampiri sahabatnya dan memeluk Angga.
“maafin gue karena udah raguin keputusan lo Ga.” Kata Fizi.
“gue tahu lo lakuin itu karena takut gue salah ambil keputusan, gue sangat hargain kepedulian lo sama gue Zi.” Kata Angga.
***
                Malam harinya, dengan jantung yang sudah berdetak tak menentu, Angga datang menemui Gina, mengajak Gina untuk pergi makan malam di Restaurant favorite Angga. Gina terlihat tak seperti biasanya, Gina masih kecewa akan perlakuan Angga ke Oyyi saat acara kampus saat itu. Setibanya disana..
“lo mau makan apa Gin?” Tanya Angga sembari menatap Gina, dia sangat sedih kalau mungkin ini terakhir kalinya Gina mau berbicara padanya.
“kaya’ biasanya aja Ga..” jawab Gina datar. Dan kemudian Angga segera memesan makanan dan minuman untuk mereka makan malam.
“apa lo lakuin ini sama semua cewek??” Tanya Gina secara tiba-tiba. Membuat Angga terkejut, Angga tak menjawab Gina, dan hanya menunduk.
“gue nggak tahu apa gue dulu salah terima lo untuk jadi cowok gue. jujur gue kecewa sama lo.” Lanjut Gina, membuat Angga merasa dadanya sangat sesak, Angga tak bisa berkata apapun saat itu, Angga hanya berusaha menahan perasaan sedihnya yang luar biasa.
“gue percaya lo lebih dari siapapun, lo orang terbaik yang selalu berusaha buat gue seneng, meskipun lo jauh sama gue, lo cowok terbaik yang pernah ada di hati gue, meskipun sekarang gue harus terima kenyataan nyakitin kalau lo nggak lagi yang terbaik.” Gina mengatakannya dengan sangat tulus dan membuat Angga semakin sedih mendengar kata-kata Gina. Gina menangis.
“Gina.. please jangan nangis..” kata Angga yang tak berani menatap mata Gina, dia merasa sangat pengecut, tapi dia juga tak bisa membiarkan Gina menangis.
“apa lo masih peduli sama gue?”
Angga berdiri dari kursinya dan menghampiri Gina, Angga yang tadi duduk berhadapan dengan Gina, kini duduk disamping Gina. Angga memeluk Gina dan berusaha meminta maaf pada Gina.
“Gina.. maafin gue.. tapi gue juga nggak bisa jauhin Dewi.. gue tahu lo terluka karena gue.. gue tahu gue salah.. gue nggak bisa tepatin janji gue sama lo.. maafin gue Gin..” Anggapun tak bisa lagi menahan airmatanya, ia tak peduli semua mata memandang ke arahnya,apalagi Angga seorang public figure yang menjadi pusat perhatian orang, Angga sedang tak ingin memikirkan posisinya itu.
“lo harus pilih Ga.. gue atau Dewi..” Gina menatap Angga, mereka saling bertatapan, dan dengan pilihannya tadi Angga mulai mengatakannya dengan berat pada Gina. Angga menangis karena tak percaya harus mengatakan hal ini pada Gina.
“maafin gue Gina..gue harus selalu ada di sisi Dewi. Maafin gue..” Angga menunduk.
“lo boleh pukul gue Gin.. lo boleh benci gue.. gue emang jahat sama lo.. sejujurnya gue nggak mau jauh sama lo Gina..” lanjut Angga.
                Sementara Gina masih menangis dan tak percaya Angga mengatakan hal itu padanya. Namun Gina bukan seorang yang mudah marah pada seseorang. Dia memandang Angga, dia berkata dalam hati betapa sebenarnya dia kurang sempurna dimata Angga, dimana ternyata ia tak cukup baik untuk Angga.
“lo orang yang sengaja di kirim Tuhan untuk jaga gue meskipun Cuma sebentar.. makasih Angga. Gue tahu.. gue nggak lebih baik dari Dewi, nanti pulang kemudiin mobil lo dengan baik, jangan ngebut, jaga Dewi sebaik lo jaga gue.. maaf gue ternyata belum bisa jadi seorang yang baik sama lo selama ini, jaga kesehatan, karena mungkin gue juga akan sulit ketemu Fizi, Rizal dan Bobby, salam sama mereka.. semoga band kalian makin sukses, dan jangan jadi orang yang sombong. Ini berat, tapi gue akan coba. Gue balik dulu Ga..” kata Gina yang sudah tak kuat akan kesedihannya bila terus berada di hadapan Angga.
Angga tak bisa menjawab kata-kata Gina, hatinya hancur saat itu, dia sedih karena sudah membiarkan Gina pergi begitu saja. Angga hanya mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Oyyi, memastikan Oyyi sudah ada di luar restaurant untuk menjemput Gina. Angga sudah menyuruh Oyyi segera menunggu Gina daritadi di luar Restaurant. Karena Angga sudah tahu kalau dia tak mungkin bisa mengantar Gina pulang setelah ini.
Dan memang benar, Oyyi sudah siap dengan Tristannya di depan Reastaurant itu, Oyyi yang melihat Gina menangis segera menghampirinya. Meraih tangan Gina dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Oyyi mengajak Gina keliling Jakarta malam itu, berusaha membuatnya tersenyum kembali. Mereka mengobrol di dalam mobil Oyyi.
“kok lo tahu gue ada di restaurant itu?” Tanya Gina pada Oyyi.
“Angga yang telp. gue, dia nggak mau lo kenapa-kenapa di jalan.” Jawab Oyyi.
“gue harus lupain dia..” kata Gina dengan ekspresi muka yang sangat berat mengatakan hal itu.
“gue tahu perasaan lo Gin, Angga udah omongin ini sama gue tadi pagi. Karena dia udah nggak bisa jaga lo lagi, jadi dia minta gue buat jaga lo.” Kata Oyyi berusaha menatap Gina walau ia sedang dalam keadaan mengemudikan mobilnya.
“kenapa Angga lebih milih Dewi.., gue sedih tahu Oyyi.. gue sedih…” kata Gina yang mulai menangis lagi.
“aduhh aduhh aduhh.. Jangan nangis dong Gin.. ini jalan Tol, dan gue nggak mungkin asal berhenti buat bisa nenangin lo, lo tahan dulu ya.. tunggu sampai kita di tempat yang tepat. Please..”kata Oyyi bingung. Karena masih melajukan mobilnya dengan kencang.
“nggak bisa Oyyi, gue nggak lagi Ackting..” kata Gina.
“huhhh.. ok..ok.. gue cari tempat yang enak buat kita ngobrol, gue nggak akan biarin lo tanggung beban lo sendiri, tunggu ya.. sedikit lagi.” Kata Oyyi.
 Oyyi memang tak ingin menepikan mobilnya di bahu jalan Tol, karena baginya itu berbahaya, dia tak ingin kecelakaan kembali menimpanya, dia enggan mengambil resiko, dan memilih tempat yang lebih aman untuk bisa mengobrol dengan Gina, sebelumnya dia harus segera keluar Tol tersebut. Dan Oyyi memilih untuk mengajak Gina ke sebuah taman bermain yang selalu ia kunjungi saat masih kecil, tempat itu sepi di malam hari. Gina duduk di ayunan yang ada di taman bermain itu, sayang sekali dua ayunan di taman itu tak bersebelahan, jadi Oyyi tak bisa ikut duduk di ayunan. Oyyi lebih memilih duduk di depan Gina, menumpukan lututnya di tanah. Oyyi menggenggam tangan Gina.
“ayo.. cerita.. keluarin semua kekesalan lo malam ini, lo boleh teriak disini. Kalau lo mau.”
“gue Cuma masih nggak percaya kalau ini kenyataan.. kenyataan kalau memang Angga nggak milih gue.” kata Gina menatap Oyyi yang duduk lebih rendah di depannya.
“my Gina, cewek yang selalu bersedih… sekarang lo sama gue, dan jangan pernah sedih lagi, lo harus selalu tersenyum, karena gue nggak akan biarin lo buat keluarin satu tetes air mata keluar dari mata lo.. ya.. kecuali kalau dalam keadaan darurat, misalnya mata lo kena debu, kena asap, atau kalau lo abis menguap.. okelah nggak apa-apa airmata lo keluar.. hehe” kata Oyyi.
“beneran?”
“ihh.. Gina nanya beneran.. haha.. berarti mau dong ya sama Oyyi terus.. mau dong..” Tanya Oyyi dengan muka kocaknya.
“gue lagi sedih Oyyi.. jangan ngelucu dong.. lo nggak kasihan sama gue..?” kata Gina yang memang selalu saja dengan mudah untuk tersenyum lagi jika berada di sisi Oyyi.
“kan biar lo seneng, gimana sih..? udah jangan sedih-sedih lagi, kan udah gue bilang, kita ini jodoh, Tuhan udah atur semua seperti ini, dan mulai sekarang harus bisa relain Angga untuk Dewi, Angga bisa lepasin lo, karena dia tahu kalau gue yang kuat ini mampu ngejagain lo. Mungkin ini berat bagi lo Gin, tapi akan terasa sangat mudah saat lo udah sama gue.. keep smile mrs.dinardhi. saranghae, aishiteru, I love you, je t’aime, ich liebe dich, aku cinta padamu.. sangat cinta padamu..” kata Oyyi kemudian mencium tangan Gina. Gina mulai tersenyum.
“makasih Oyyi, lo emang selalu buat gue senyum lagi.. lo janji nggak akan pernah berubah?” Tanya Gina khawatir kalau nantinya Oyyi akan meninggalkannya suatu saat nanti.
“nggak dong, emang gue Angga, gue ini meskipun ganteng.. bisa dengan gampang cari cewek.. tapi gue tuh kalau cinta sama orang ya Cuma satu.. gue nggak akan duain orang yang gue sayang.., gue juga nggak akan pernah berubah kalau orang itu juga nggak berubah sama gue. gue ini suka balas dendam orangnya.. haha..” kata Oyyi.
“gue jadi takut sama lo..”
“eh istri gue, nggak boleh takut sama suami sendiri, karena suami yang baik, nggak akan jahat sama istrinya, lo tenang aja… gue emang suka balas dendam sama orang lain, tapi nggak sama lo. Dan gue yakin lo nggak bakalan nyakitin gue, ya kan? Tos dulu dong!” kata Oyyi , mengajak Gina High Five. Dan Gina membalas High Five Oyyi.
“jadi kita udah jadian kan nih Gin? Udah dong ya..” Tanya Oyyi.
“belum.. siapa yang bilang udah jadian?” jawab Gina.
“ya.. pokoknya bagi gue udah..” Oyyi memaksakan kehendaknya.
“Oyyi.. selalu aja maksain kehendak lo.”
“ya tapi lo suka kan.., jangan bohongin perasaan lo sendiri gitu ih Gin.” Oyyi menunjukkan senyum khasnya.
“gue baru aja putus sama Angga..”
“lalu?” kini Oyyi berdiri dan berjalan ke arah belakang tubuh Gina, Oyyi mengayunkan Gina yang sedang duduk di ayunan itu.
“ya nggak bisa secepet itu.” Jawab Gina. Kemudian Oyyi memberhentikan ayunannya, perlahan Oyyi mendekatkan kepalanya ke atas bahu kiri Gina, kepala mereka berdekatan sekarang, dan itu membuat Gina sangat gugup.
“hahaha.. tuh kan.. lo itu suka sama gue, gue bisa denger detak jantung lo, nervous banget sih baru gue deketin kepala aja.. belum juga gue cium.. haha.. Gina..Gina.., udah nggak usah gengsi bilang suka sama gue.., nggak usah gengsi bilang kalau gue bisa alihin hati lo ke gue dengan cepet.” Kata Oyyi yang kembali duduk di depan Gina.
“nggak sopan. Udah ah balik yuk udah malem..” kata Gina berusaha mengalihkan pembicaraan Oyyi yang lama-lama pasti akan membuat Gina tak tahan untuk mengatakan bahwa Gina juga menyukai Oyyi.
“ok..ok.. susah emang, cewek yang harga dirinya tinggi kaya’ lo.. suka nutup-nutupin perasaan sendiri, gue akan buat lo ngakuinnya nggak lama lagi. I love you!” kata Angga lalu menarik tangan Gina untuk masuk ke mobilnya, Oyyi segera mengantarkan Gina pulang ke kontrakannya. Malam yang indah bagi Oyyi, karena dia sudah merasa bahwa sudah memiliki Gina seutuhnya, Oyyi tersenyum bahagia, sikapnya membuat orangtuanya yang kebetulan sedang berada di rumah menjadi heran. Oyyi sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada seorang gadis biasa yang mampu menakhlukan hatinya.
                Sedangkan Angga, setelah kejadian di Restaurant, saat pulang.. dia memilih pergi ke rumah Dewi. Dewi hanya tinggal dengan seorang kakak perempuannya di rumah yang sangat sederhana, Dewi juga bukan seseorang yang berasal dari keluarga kaya. Dewi hanya mungkin satu tingkat di atas Gina. Namun bedanya, Dewi sudah tak mempunyai orangtua lagi, kedua orangtuanya sudah meninggal saat Dewi SMP. Dewi juga sama seperti Gina, menjalani pendidikan dengan beasiswanya.
                Dewi segera mempersilahkan Angga masuk ke rumahnya. Dewi benar-benar memperhatikan Angga, Angga datang dalam keadaan demam, suhu badannya tinggi, tapi Angga tak ingin ke rumah sakit. Dewi dengan sikap lembutnya merawat Angga, mengompres dahi Angga, membuat minuman hangat untuk Angga hingga membuatkan bubur untuk Angga.
                Kini Angga tidur di pangkuan Dewi, Dewi membelai lembut rambut Angga. Dewi memang benar-benar menyesal akan tindakannya dulu, Dewi tak ingin melepaskan Angga untuk yang kedua kalinya. Saat itu, dengan lemah.. Angga mencoba berbicara pada Dewi.
“sekarang gue milik lo..” kata Angga dengan lemah dan matanya masih terpejam              .
“lo putusin Gina demi gue?” Tanya Dewi dengan matanya yang berbinar.
“iya.. demi lo.. gue pilih lo Wi.. jangan pernah kecewain gue lagi.” Angga mulai membuka matanya, memandang mata Dewi yang terlihat bahagia.
“jangan manfaatin gue lagi, kalau lo emang butuh uang, lo bilang aja terus terang, lo juga tetep seperti ini, sayang gue dengan tulus.. gue udah korbanin Gina demi lo.. karena gue mau lo yang terakhir..” lanjut Angga.
“iya Angga.., gue nggak akan ulangin kesalahan gue yang dulu, gue takut.. gue nggak bisa jalaninnya tanpa lo.. lo juga yang terakhir di hidup gue.. makasih ya Angga.. malam ini gue seneng banget, gue bisa milikin lo lagi.” Kata Dewi tersenyum sangat manis.
“sama-sama sayang.., malam ini gue nggak mungkin bisa pulang.. gue nggak mungkin bawa mobil dalam keadaan seperti ini, izinin gue nginep sini ya Wi.. izinin gue tidur di pangkuan lo.. malam ini aja.. gue lagi butuh ketenangan. Pikiran gue masih kacau.” Kata Angga.
“iya Ga.. sekarang  lo tidur ya.. semoga besok lo udah baikan.. mimpi indah sayang.. makasih udah milih keputusan ini, gue nggak akan buat lo menyesal..” kata Dewi tersenyum, dan Anggapun juga tersenyum pada Dewi, kemudian memejamkan matanya, Angga tertidur di pangkuan Dewi. Namun saat tengah malam Angga terbangun, ia kasihan melihat Dewi yang rela tidur dalam posisi duduk hanya demi dia, Angga menggendong Dewi dan memindahkannya ke kamar tidur Dewi, memberi selimut pada Dewi lalu mencium kening Dewi. Angga kembali ke ruang tamu dan melanjutkan tidurnya di sofa ruang tamu Dewi.
                Angga kini sudah menjadi kekasih Dewi, Angga juga sangat menyayangi Dewi, walau sampai kapanpun tetap ada ruang di hatinya untuk Gina. Angga yang romantis.. selalu mampu membuat Dewi tersanjung. Dewi cinta terakhir Angga, dan akan selalu Angga jaga, Angga tak membiarkan Dewi sampai terluka.
                Gina dan Oyyi masih belum mengikrarkan hubungan mereka menjadi sepasang kekasih, walau Gina sudah mulai melupakan rasa sakitnya karena tawa Oyyi, namun Gina belum mau mengakuinya pada Oyyi. Dan sore ini, saat jam mata kuliah berakhir, Oyyi menunggu Gina di ballroom kampus, tempat dimana Oyyi dan Gina bersama, Oyyi akan menyatakan perasaannya pada Gina.
                Gina sangat gugup melangkahkan kakinya menuju Ballroom, Gina memang sudah mempunyai feeling kalau Oyyi akan menyatakan perasaannya lagi pada Gina. Perlahan Gina membuka pintu ballroom yang besar itu. Dan.. TARRAAAA!!! Lagi-lagi Gina mendapat kejutan istimewa dari Oyyi. Ratusan balon berbentuk hati berwarna-warni itu menyambut Gina. Gina benar-benar terkejut dan sangat bahagia mendapatkan kejutan ini, dan kejutan belum berakhir, tiga banner besar juga secara tiba-tiba muncul di depan Gina,banner pertama  bertuliskan “please.. terima gue..” , yang kedua “I love yo!!” , dan yang ketiga “OYYI GINA SELAMANYA”. Gina menutup mulutnya.. tak percaya ini terjadi padanya, dia benar-benar terharu, Oyyi selalu membuatnya seperti ini, membuatnya kagum akan tindakannya untuk Gina.
                Sementara itu, Oyyi yang mengenakan jeans,sepatu cats, kaos v neck warna cream, dan modern blazer warna hitam sudah ada di tengah-tengah ballroom merentangkan kedua tangannya memberi isyarat pada Gina, untuk segera menghampirinya saat itu. Gina yang melihat Oyyipun segera berlari menghampiri Oyyi dan memeluk Oyyi, Oyyipun juga memeluk Gina dengan erat.
“makasih Oyyi.. ini tuh bagus banget.. lo selalu bisa buat gue speechless tau nggak.” Kata Gina.
“siapa dulu dong.. cowok lo.., gue di terima kan?” kata Oyyi memegang bahu Gina dengan kedua tangannya.
“Iya..” jawab Gina. Dan membuat Oyyi jingkrak-jingkrak karena saking bahagianya. Setelah itu Oyyi mendekati Gina kembali.
“dapet cium dong gue..” kata Oyyi sambil menunjukkan pipinya ke dekat wajah Gina. Namun Gina membiarkan pipi Oyyi.
“yahh..” kata Oyyi kecewa, namun kemudian Oyyi mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Gina.. sangat dekat.. Gina menutup matanya, dan perlahan Oyyi mendekatkan bibirnya pada bibir Gina, ya.. mereka berciuman untuk pertama kalinya di suasana ballroom yang dipenuhi balon hati warna-warni, Oyyi mengungkapkan cinta kasihnya pada kesan ciuman pertama mereka dengan baik. Melakukannya karena kasih sayangnya untuk Gina. Suasana yang tak akan terlupakan di hidup mereka. Saat mereka berciuman Oyyi masih sempat-sempatnya menyematkan cincin di jari manis Gina, cincin yang sangat indah bertuliskan namanya dan nama Gina. Hingga ciuman pertamanya itu berakhir, dan Oyyi segera memeluk Gina.
“Jangan pernah coba untuk jauhin gue! karena gue nggak akan pernah mau! Lo denger itu.. be the last for me my dear.. sayang banget sama lo Gina..” kata Oyyi dengan tulus.
“iya Oyyi.. I will be the last for you.. gue juga sayang banget sama lo.. Oyyi dan Gina untuk selamanya.. makasih cincinnya Oyyi, ini bagus banget..” kata Gina sembari melihat cincin yang baru saja ia dapatkan dari Oyyi. Oyyi tersenyum sangat manis untuk Gina.
“sama-sama istriku.. gue juga punya nih.. pakaiin ke jari gue dong Gin.. jadi kan berasa tunangan gitu..” kata Oyyi mengeluarkan cincin pasangan yang satu lagi dari sakunya dan menyuruh Gina menyematkan cincin itu di jari manisnya. Kini mereka berdua mempunyai cincin sepasang, pengikat cinta mereka.
                Kini Oyyi dan Gina sudah menjadi sepasang kekasih, mereka sangat kompak dalam segala hal, sering mengenakan pakaian couple saat berangkat kuliah, dan itu membuat iri banyak mahasiswa dan mahasiswi yang lain. Sampai-sampai dalam acara prom night, Oyyi dan Gina terpilih sebagain King and Queennya, best couple di kampus mereka, Oyyi juga berhasil merubah sifat Gina untuk lebih terbuka.
                Angga yang mengetahui akan hal ini juga tersenyum bahagia, mengetahui kalau Oyyi bisa menepati janjinya, Oyyi mampu membuat Gina mejadi seorang yang periang saat ini. Ia dan Dewi juga menjalani hubungan dengan baik, sangat baik, dan tak akan terpisahkan. Band Angga semakin sukses dan di gemari masyarakat Indonesia. Galih dan Dea masih sibuk akan kegiatan PMInya.
                Puncak kisah Gina ,Oyyi ,Angga dan Dewi yang berakhir bahagia, menemukan cinta sejati mereka walau sempat sulit untuk menggapainya. Takdir memang dapat lakukan apapun juga kapanpun juga.. sesuatu yang tak mungkin terjadi bisa terjadi karena Takdir. Seseorang yang kita kenal selama puluhan tahun juga tak menjajikan kita untuk sealu bersama sesuai keinginan kita. Hanya tetap berusaha dan jangan berusaha melawan takdir, karena Tuhan akan merencanakan sesuatu yang lebih baik lagi.

OYYI       GINA      -       ANGGA      DEWI.


THE LOVESTORY Part III
Created By : MUTIARA DINI
Mei 2012
Follow my twitter @araraa99

**THANK YOU FOR READING**

1 komentar: