Rabu, 06 Maret 2013

I Love You Noona! END




Tittle : I Love You Noona! END
Author : Mutiara Dini / Yura Kwon / araraa
Genre : Love
Cast : BTOB’s Ilhoon, T-ARA’s JiYeon, BEAST’s JunHyung, B.A.P’s Daehyun, Lee Hi(Lee Hayi).
Other Cast: Exo’s Kai, Cha Yoori.
Disclaimer : Semua Cast punya emaknya, dan FF ini asli buatan aku. NO Bash! NO Plagiat!
Note : Maaf aku nggak bisa buat FF yang terlalu banyak bahasa Koreanya. Dan typo betebaran. :D

-          Happy Reading           -

*Author POV
“Jangan lakukan itu pada kekasihku!” kata JiYeon lalu membantu ilhoon untuk bisa lepas dari pelukan Hayi. Ilhoon sangat terkejut tapi juga sangat senang. Daehyun seketika menjatuhkan ubi dari tangannya. Daehyun berusaha tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ilhoon segera merangkul JiYeon.
“Kau dengar Hayi! Jangan dekati aku lagi. Aku dan JiYeon sudah resmi berpacaran.” Kata ilhoon bangga.
“Kau!” Hayi menunjuk JiYeon kesal. Lalu menjambak rambut JiYeon. Daehyun segera berlari dan mendorong Hayi hingga Hayi terjatuh.
“Kau pikir kau siapa bisa mengasari JiYeon seperti itu??!” kata Daehyun.
“JiYeon kau baik-baik saja?” ilhoon mengelus kepala JiYeon lalu memeluknya. Daehyun merasa benar-benar hancur, tapi dia berusaha menahannya.
“Aku akan balas perlakuan kalian padaku!!!!!!!!!!” kata Hayi kasar lalu segera masuk ke mobilnya.
“JiYeon.. kau dan ilhoon…” Daehyun menatap JiYeon dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
“T..” JiYeon belum sempat menjelaskan tapi Ilhoon memotong kata-kata JiYeon.
“Ne.. kita sudah berpacaran. Haha.. aku senang sekali. Akhirnya kau menjadi kekasihku JiYeon..^^” ilhoon memeluk JiYeon dari belakang.
“Kau ini apa-apaan???!!!! Lepaskan aku! Tadi itu hanya pura-pura.” Kata JiYeon, tapi Ilhoon tetap saja menganggap itu benar terjadi. Dia menganggap JiYeon adalah kekasihnya mulai sekarang.
“Ah kau ini tidak usah sungkan pada Daehyun.. kau tidak apa-apa kan Daehyun kalau aku dan JiYeon memang benar sudah berpacaran?” Tanya Ilhoon pada Daehyun.
“Ya.. aku hanya sahabat.. aku akan dukung apapun yang JiYeon suka.” Jawab Daehyun masih menunduk menyembunyikan raut kesedihannya.
“Tapi..” kata JiYeon terpotong lagi.
“Ya, baiklah kalau begitu.. saksi sudah mengatakan setuju.. dan apalagi? Ayo kita pergi kencan..” Ilhoon menarik tangan JiYeon untuk segera pergi kencan dengannya. JiYeon tidak mau.. tapi ilhoon memegang kuat tangan JiYeon. Daehyun hanya memandang sedih ke arah JiYeon dan Ilhoon yang mulai menjauh. Kini Daehyun sendiri, tatapannya kosong kearah ubi-ubinya itu. Daehyun meneteskan beberapa tetes airmatanya dan masih tak percaya dengan perasaannya.

umjigil su eobseo eodum sogeseo
neukkil suga eobseo nunmuri heulleo
neoran gieog soge gadhyeo isseo No~
jebal naui soneul jabajwo kkae eonal su itge
Please don’t go

(B.A.P – Coma)

*Yoori POV
                Hari ini hari libur, aku akan mengajak kekasihku untuk pergi jalan-kalan ke Jinan. Aku membawa mobilku, dan JunHyung Oppa yang mengemudikannya. JunHyung Oppa sering menolak, tapi kali ini dia harus mau membawa mobil bersamaku, karena sangat tidak mungkin aku dan JunHyung oppa pergi ke Jinan menggunakan sepeda.
                Aku sudah siap dengan kaos coupleku dengan JunHyung oppa, juga celana pendek warna pink pastel. JunHyung oppa juga memakai kaos couple yang sama, dan celana jeans warna hitam. Ah.. namjaku ini tampan sekali. Aku memeluknya manja. Dia mencium keningku. Aku tidak bisa membayangkan hidupku kalau tanpa JunHyung oppa. Aku sangat menyayanginya.
“Oppa.. kau sudah makan tadi?” Tanyaku, kita masih dalam perjalanan.
“Sudah..” Jawabnya santai, aku tahu dia berbohong.
“Mmm.. tapi aku lapar.. kau juga harus makan lagi ne Oppa.. ayo kita ke tempat biasa..” ajakku. Dan dia mengangguk dan tersenyum. Setelah itu JunHyung oppa mengemudikan mobilku menuju ke sebuah restaurant sebelum kita berangkat ke Jinan.
                Beberapa menit kemudian, aku dan kekasihku sampai di Restaurant itu, aku meilih tempat di ujung, tempat favoriteku bersama JunHyung oppa. Tapi.. pandanganku terarah pada Namja bertopi rajut warna hitam yang duduk tidak jauh dari tempatku dan JunHyung oppa. Astaga.. itu Jung Ilhoon. Dia tadi izin pada eomma untuk pergi ke rumah JongIn untuk mengerjakan tugas. Anak itu memang suka sekali berbohong pada eomma. Dan itu.. itu JiYeon, aduhh bagaimana ini. aku melihat JunHyung oppa, dan ternyata dia juga melihat kearah JiYeon dan Ilhoon.
“Anak itu..” gumam JunHyung oppa. Aku takut dia akan memarahi JiYeon lagi.
“Yoori-ya, panggil adikmu itu kesini.”
“Kau mau apa?”
“Hanya sedikit bertanya. Panggil saja sekarang.” Nada bicara JunHyung oppa mulai terdengar seperti sedang kesal.
“Jung ilhoon!” Panggilku. Tapi sepertinya anak ini pura-pura tidak mendengarku. Terlihat dari tangannya yang berusaha memegang JiYeon agar JiYeon tidak kesini dan pura-pura tidak mendengar. Huahh.. awas kau ilhoon.
“Dia tidak mendengarku.” Kataku, dan JunHyung oppa sendiri yang akhirnya menghampiri JiYeon. Aku mengikutinya.
*ilhoon POV
                Aku mendengar Yoori Noona memanggilku. Kenapa orang itu bisa ada disini juga? Menyebalkan sekali. Benar-benar mengganggu saja. Jadi aku putuskan untuk pura-pura tidak mendengarnya.
“Yoori eonni memanggilmu.. aigoo.. dia bersama Oppa.. bagaimana ini.. aku harus kesana untuk minta maaf.” Kata JiYeon sudah mulai berdiri, tapi aku memegang tangannya dan menyuruhnya untuk duduk kembali.
“Sudah diam saja.. aku takut JunHyung hyung memarahimu. Pura-pura tidak mendengar.” Kataku yang sebenarnya juga gugup. Dan berusaha tidak melihat ke arah mereka.
“JiYeon-ah..” itu suara JunHyung hyung. Ah dia menghampiri kita. :’(
“Oppa.. kau pergi kencan dengan eonni.. duduklah disini bersama kita.” Kata JiYeon, aku melotot pada JiYeon. Yang benar saja kita berempat satu meja.. aku tidak suka seperti ini.
“Apa Jung Daehyun berjualan disini??” Tanya JunHyung hyung. Aku tahu dia sedang menyindir.
“Hyung.. aku yang mengajak JiYeon kesini. Tadi kita menemani Daehyun. Tapi aku pikir itu sangat membosankan dan disana sangat dingin. Lagipula kita tidak ada gunanya juga berada disana. Daehyun bisa menjualnya sendiri.” Aku berusaha menjelaskan.
“Kasihan sekali Daehyun..” kata JunHyung hyung melirik JiYeon. Apa-apaan ini..?
“Oppa.. jeongmal mianhaeyo..” JiYeon menunduk.
“Akhir-akhir kau sering membohongiku..” kata JunHyung hyung pelan. Aku jadi merasa bersalah. JiYeon hanya menunduk.
“Apa dia kekasihmu?”
“Mmm..” JiYeon terlihat kebingungan menjawab. Harusnya ia katakan dengan tegas ‘Ya’. Kita kan sudah berpacaran.
“Aku kekasihnya..” kataku semangat.
“ilhoon…” JiYeon menatapku tajam.
“Akhiri sekarang juga.” Kata JunHyung hyung cepat. Ini benar-benar seakan menamparku. Yoori Noona memegang lenganku.
“Waeyo hyung?”
“Aku tidak merestui hubungan kalian. Ayo JiYeon ikut Oppa!” JunHyung hyung menarik tangan JiYeon. Aku benar-benar kesal dengan laki-laki itu. Kenapa dia sangat tidak menyukaiku. Aku ingin mengejarnya, tapi Yoori Noona menghalangiku.
*Author POV
“Lepaskan aku Noona! Aku mencintainya!” teriak ilhoon sedikit membentak Yoori.
“ilhoon.. JunHyung bisa memukulmu.. kau jangan mengejarnya.” Kata Yoori berusaha mencegah ilhoon, tapi ilhoon tetap memaksa dan mengejar JunHyung juga JiYeon.
“Tunggu!” ilhoon membuat langkah JunHyung terhenti.
“JiYeon, kembali padaku sekarang.” Kata Ilhoon menatap tajam JunHyung yang mulai berbalik dan menatap ilhoon. Ilhoon tidak peduli, dia merasa ini tidak adil baginya. Mengapa JunHyung selalu baik pada Daehyun sementara tidak dengannya. Ilhoon kecewa dengan perlakuan JunHyung. JunHyung hanya diam dan memegangi tangan dongsaengnya itu.
“Kalau kau tidak menyayangiku juga.. kau boleh pergi sekarang dan jangan pernah menyesal dengan pilihanmu!” ilhoon sangat percaya diri. Karena dia yakin kalau JiYeon sebenarnya juga menyayanginya. JunHyung kini mendekati ilhoon. Yoori menutup mukanya. Yoori sadar kekasihnya itu sangat temperamental.
“Kau akan memukulku??! Lakukan saja! Kau memang sangat tidak menyukaiku kan?” ilhoon membuat JunHyung benar-benar kesal, JunHyung memberikan satu pukulan keras di pipi ilhoon hingga ilhoon terjatuh. Di susul dengan dua pukulan lagi yang membuat darah mengalir di ujung bibir ilhoon.
“Oppa.. berhenti.. jangan lakukan itu pada adikku..” Yoori memegangi tangan kekasihnya.
“Noona! Kau lihat! Dia memukulku. Apa ini kekasihmu yang selalu kau ceritakan padaku? Dia kekasihmu? Aku melihatnya tidak sebaik yang selalu kau ceritakan padaku dan eomma!” ilhoon mencoba berdiri. Tapi JunHyung memukulnya lagi.
“Oppa! Hentikan!” JiYeon berteriak.
“Kenapa Oppa selalu memukul seseorang yang membuat oppa kesal??? Jangan lakukan itu pada Ilhoon! Ilhoon tidak salah Oppa…” JiYeon mendekati ilhoon.
“Kau lebih membelanya??! Dia berani berteriak di depanku! Aku sudah berusaha baik padanya! Tapi dia selalu membuat adikku membangkang! Dia selalu membuat adikku terus berbohong padaku!” JunHyung sangat emosi.
“Oppa.. kendalikan emosimu.. tenangkan dirimu.. mereka tidak bermaksud melawanmu.. ilhoon sangat mencintai JiYeon..” Yoori menenangkan JunHyung. JunHyung memegang tangan Yoori dan mengajaknya untuk masuk ke mobil. JunHyung takut kalau dia tetap ada disana, selanjutnya dia akan memukul adiknya sendiri. Maka dari itu JunHyung memutuskan untuk pergi saja tanpa berkata apapun lagi.
“Ilhoon-ah.. gwenchanayo?” Tanya JiYeon menatap ilhoon khawatir.
“Kau masih bertanya? Tentu saja ini sakit.. Hanya kakakmu yang berani memukulku.. auhh..” Ilhoon memegangi rahangnya yang sangat sakit terkena pukulan JunHyung.
“Aku minta maaf.. lagipula kau seharusnya tidak perlu melawannya.”
“Hey! Apa aku akan diam saja saat dia menyuruhku untuk memutuskan hubunganku denganmu??!”
“Memangnya apa hubungan kita? Kita belum berpacaran.”
“Omo omo. Kau jangan menyakiti hatiku JiYeon. Kita sudah berpacaran. Aku tidak mau tahu. Kau yang bilang sendiri tadi. Aku anggap itu kenyataan.” Ilhoon tetap bertindak sesuka hatinya.
“Ilhoon-ah kau membuatku bingung…. Aku takut kau hanya mengerjaiku..” JiYeon menunduk.
“Chagiya..” Ilhoon memeluk JiYeon.
“Aku menyayangimu.. aku tidak berpura-pura. Apa kau tidak lihat ini? Kau tak bisa ikut merasakan apa yang aku rasakan? Rahangku rasanya seperti patah, hidungku juga berdarah.. Apa mungkin aku rela seperti ini hanya untuk berpura-pura?” Lanjut Ilhoon yang terlihat serius. Raut wajahnya tak seperti biasanya, dia terlihat lebih tenang dan dewasa. JiYeon tetap diam di pelukan ilhoon.
“Ayo ikut aku sekarang. Disini dingin.. kau bisa flu.” Ilhoon kini mengajak JiYeon untuk pergi ke lapangan basket indoor yang ada di sekolahnya. Suasana sekolah sepi.. hanya ada beberapa murid yang memang sengaja ke sekolah seperti ilhoon dan JiYeon. Di ruang basket itu hanya ada Ilhoon dan JiYeon. Sangat hening.. langkah kakipun menjadi bergema.
“Untuk apa kita kesini? Kau menyuruhku untuk berolah raga?” Tanya JiYeon seraya mengerutkan dahinya.
“Haha.. aniya.. aku tahu kau tidak suka olahraga.. duduklah sekarang.” Kini mereka ada di tengah-tengah lapangan basket. Mereka duduk berhadapan.
“Seharusnya kau obati dulu lukamu..” kata JiYeon memegang pipi ilhoon. Saat JiYeon akan menjauhkan tangannya, ilhoon menahan tangan JiYeon agar tetap memegang pipinya.
“Akan cepat sembuh kalau seperti ini.” Ilhoon tersenyum manis pada JiYeon. JiYeon membalas senyuman ilhoon. JiYeon masih bingung dan masih belum yakin apakah sekarang dirinya dan ilhoon sudah menjadi sepasang kekasih.
“Kau masih kedinginan?” Tanya ilhoon.
“Sudah tidak terlalu dingin.. ruangan ini cukup hangat.” Jawab JiYeon.
“Pakai saja syal dan topiku ini..” ilhoon memakaikannya pada JiYeon.
“Ilhoon-ah.. sebenarnya apa yang kau lihat dariku? Aku ini sangat kampungan.. aku miskin.. aku selalu memarahimu.. dan aku juga mempunyai kakak yang sudah 2 kali memukulimu.. , tapi kau tetap tersenyum dan tidak membenciku..”
“Aku tahu.. kau itu memang kampungan sekali.. kau itu sangat menyebalkan.. kau jarang tersenyum.. dan kau punya kakak yang sangat menyeramkan. Aku tahu semua itu.. tidak perlu kau jelaskan lagi.. tapi… aku benar-benar tidak bisa untuk tidak memikirkanmu. Kau selalu membuatku cemas. Aku selalu merindukanmu.. aku menyayangimu Park JiYeon..” Ilhoon membelai rambut JiYeon.
“Aku menjadi semakin bingung.. apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku belum yakin untuk menjadi kekasihmu ilhoon-ah..” JiYeon menutup mukanya. Ilhoon tiba-tiba memeluk JiYeon dari belakang.
“Sekarang rasakan yang ada di jantungmu.. apa kau berdebar? Apa kau nyaman saat aku memelukmu?”
“Ilhoon..” JiYeon memegang dadanya. Dia merasa begitu gugup, tapi dia tidak ingin ilhoon melepaskan pelukannya. Dia merasakan hal yang berbeda. JiYeon mulai jatuh cinta pada ilhoon.
“Ne Noona.. kau sudah tahu.. kau bisa merasakannya? Apa kau juga mencintaiku? Ayo berdiri dan tatap mataku.” Ilhoon mulai berdiri dan membantu JiYeon untuk berdiri juga. Ilhoon memegang lengan JiYeon.
“Aku bersungguh-sungguh Noona.. demi Tuhan aku bersungguh-sungguh.. saranghaeyo..” kata ilhoon dan seketika JiYeon memeluk erat ilhoon. Ilhoon sangat bahagia, dia mencium kepala JiYeon seraya membelai lembut rambut JiYeon.
“Akhirnya kau bisa mengerti perasaanku JiYeon.” Mereka masih berpelukan di ruangan yang sangat hening itu. Ilhoon benar-benar bahagia sampai melupakan rasa sakit di rahangnya karena kini mereka sudah resmi berpacaran.
***
                D Jinan.. Yoori dan JunHyung berjalan-jalan di sebuah taman yang sangat indah. Yoori dan Junhyung akan datang ke Jinan setiap kali mereka mempunyai waktu luang. Jinan adalah tempat dimana mereka dipertemukan lima tahun yang lalu, hingga satu tahun kemudian mereka berpacaran.Mereka tak akan melupakan tempat ini.
                Sekarang mereka duduk bersama, Junhyung merangkul Yoori. Yoori melihat JunHyung masih memikirkan sesuatu.
“Oppa.. ada yang ingin kau ceritakan?”
“Tidak..”
“Kau kesal pada adikku?” Tanya Yoori, tapi JunHyung tak bergeming.
“Oppa.. ilhoon bukan namja yang jahat.. dia tak akan membawa JiYeon ke arah yang tidak baik. Dia juga tak akan melukai JiYeon.. percayalah.. aku mengenal ilhoon sangat lama, dia memang terkadang tidak sopan.. tapi dia tidak bermaksud seperti itu, itulah karakternya.. dia hanya terlalu manja. Dia sering bertingkah sesuka hatinya. Bukan berarti dia jahat. Bahkan dia selalu melindungiku saat Appa memarahiku. Ilhoon juga selalu membantuku saat aku ingin pergi bersamamu. Dia selalu berusaha ikut menjelaskan pada eomma. Dia satu-satunya orang yang selalu mendukung hubunganku denganmu Oppa.”
“Benarkah?”
“Ne ..  Aku yakin sekarang dia sangat kecewa karena kau melarangnya mencintai JiYeon.”
“Lalu bagaimana dengan Daehyun.. anak itu juga mencintai JiYeon..”
“Ah.. aku baru tahu soal itu.. tapi yang jelas sekarang kau hanya cukup untuk tidak mudah emosi.. kalau kau menyayangi JiYeon.. perlakukanlah dia dengan baik agar dia juga tidak menjadi kesal pada kakaknya sendiri. JiYeon bisa kabur kalau kau seperti itu terus. Cobalah untuk mengerti JiYeon. Dan biarkan JiYeon yang memilih antara Daehyun atau Ilhoon.” Kata Yoori dan JunHyung mengangguk mengerti. Setelah itu mereka meneruskan jalan-jalan mereka hingga malam hari.
***
                Beberapa hari kemudian saat di sekolah, Daehyun makan siang di kantin sekolah bersama JiYeon. Dia masih sedih karena tahu kenyataan kalau memang JiYeon sudah menjadi kekasih ilhoon. Tapi Daehyun tidak mungkin marah karena hal ini. Dia sangat menyayangi JiYeon.
“JiYeon boleh aku jujur padamu..” Daehyun memulai pembicaraannya dengan JiYeon. JiYeon masih mengaduk-aduk minumannya.
“Ne, katakan saja.. tumben sekali kau minta izin terlebih dahulu.”
“JiYeon apa kau tidak pernah tahu bagaimana perasaanku padamu?” ini membuat JiYeon mulai tegang dan menatap Daehyun penasaran.
“Aku akan mengatakan ini.. tapi aku tidak berharap kau juga mempunyai perasaan yang sama.. aku tahu kau sangat menyayangi Ilhoon.. aku hanya ingin kau tahu. Aku tidak akan mengharap lebih... Aku selalu mendukung apapun pilihanmu..”
“Daehyun…” JiYeon mulai mengerti.
“Aku menyukaimu JiYeon.. mungkin aku terlalu penakut untuk mengatakannya lebih dulu dari Ilhoon.”
“Daehyun mianhaeyo..” JiYeon memegang tangan sahabatnya itu.
“Ne JiYeonie.. gwenchana.. tidak perlu minta maaf.. cukup untukku bisa selalu melihatmu bahagia.. aku dengar karena hal itu juga JunHyung hyung sudah baik padamu. Aku ikut senang..” Daehyun dan JiYeon tersenyum bersama. Beberapa detik kemudian.. terdengar suara berisik Ilhoon dan JongIn yang memasuki kantin dengan inline skate-nya yang membuat panic murid lain di kantin itu. Haha.. mereka berdua memang suka bermain inline skate di sekolah sesuka hati.
“Minggir Minggir!!!!” teriak ilhoon dan Jongin. Membuat murid lain kebingungan menghindar. Dan sial, JongIn menabrak Hayi sampai terjatuh. Daehyun dan JiYeon segera menghampiri mereka.
“JongIn!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Hayi berteriak kesal.
“Kan sudah aku bilang Minggir. Tapi kau tetap saja ada disitu. Jadi ini bukan salahku.” Jawab JongIn seraya melepaskan sepatu inline skate-nya, ilhoonpun juga melepaskan sepatu inline skate miliknya.
“Hahahahahaha…” Semuanya menertawakan Hayi.
“Sini aku bantu.” Kata ilhoon menawarkan tangannya pada Hayi.
“Ah.. My Prince.. gom…….” saat Hayi sudah setengah berdiri, Ilhoon melepaskan tangannya dari tangan Hayi, dan Hayi terjatuh lagi. Kasihan sekali Hayi.
“Ilhoon.. kau jahat sekali..” kata JiYeon sambil menahan ketawa.
“Apa kau??! Kau sangat bahagia bukan???? Huh!” Hayi melotot dengan matanya yang penuh kebencian pada JiYeon.
“Biarkan saja chagi.. dia pantas mendapatkan ini. Kaja kita pergi..” ilhoon merangkul JiYeon.
“Arrghhh! Kalian menyebalkan sekali….. dan kau JiYeon! Aku sangat membencimu! Lihat saja. Nanti kau juga pasti akan berpisah dengan Ilhoon tak lama lagi. Tidak usah terlalu senang!”
“Bye.. Hayi….” JongIn meledek Hayi.
“Pergi sana!” Hayi sangat kesal dan berusaha bangun sendiri tapi kesulitan.
“Hey!” Sapa Daehyun.
“Apa lagi?????????????”
“Bangunlah..” Daehyun mencoba membantu Hayi untuk berdiri.
“Tidak usah!”
“Tidak akan ada yang mau membantumu disini kecuali aku. sudah terima saja bantuanku.” Daehyun tetap membantu Hayi karena dia kasihan melihat Hayi yang kesulitan berdiri.
***
                Sepulang sekolah, Daehyun..JongIn.. JiYeon dan ilhoon pergi ke sebuah Sauna, ini saran Daehyun, dan semua setuju. Mereka duduk bersama di sebuah ruangan. Sauna adalah tempat favorite JiYeon dan Daehyun saat musim dingin.
“Ayo kita main batu kertas gunting.. siapa yang kalah.. dia yang mengambil telur rebus.” Ajak Daehyun.
“Ah malas sekali.. tidak usah main batu kertas gunting.. biar JongIn saja yang mengambil.” Jawab ilhoon.
“Kenapa selalu aku..??” JongIn cemberut.
“Yasudah biar aku saja yang mengambil..” JiYeon ingin berdiri, tapi ilhoon menyuruhnya untuk duduk kembali.
“Biar mereka berdua saja yang main batu kertas gunting.” Kata ilhoon malas-malasan sambil menyandar di dinding sauna itu. Akhirnya dengan pasarah Daehyun dan JongIn yang bermain batu kertas gunting untuk memutuskan. Dan Daehyun kalah.
“Hyung kalah.. hahaha…” JongIn sangat senang. Daehyun mau tidak mau yang harus mengambil telur rebusnya, walau sebenarnya dia juga sangat malas. JongIn pergi ke toilet dan kini Ilhoon dan JiYeon hanya berdua.
“Tolong pijat punggungku..” ilhoon sudah bersiap di depan JiYeon.
“Mwo?”
“Kau ini istriku… berbaktilah sedikit pada suamimu.” Ilhoon tetap pada posisinya. JiYeon memukul pelan punggung ilhoon.
“Kau ini istri yang tidak berbakti.. disuruh memijat malah memukul.. awas kau ya…” ilhoon menggelitik pinggang JiYeon. Dan mereka terjatuh. Mereka bertatapan.
“Saranghaeyo..” ilhoon mengatakannya sangat dekat dengan JiYeon.
“Saranghaeyo..” jawab JiYeon, jantungnya berdetak tak menentu. Ilhoon menatapnya dengan sangat istimewa. JiYeon hanya terdiam dan memejamkan matanya. Perlahan ilhoon menempelkan bibirnya pada bibir JiYeon. Mereka melakukan ciuman pertama mereka. Sangat mesra hingga Daehyun dan JongIn urung masuk ke ruangan itu. Daehyun memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
“Kau kenapa Hyung?” Tanya JongIn.
“Gwenchana..” Jawab Daehyun menutupinya. Daehyun berkata dalam hati,“aku tidak boleh seperti ini terus.. ayolah Jung Daehyun.. hapus perasaan ini..”
“Apa kalian sudah selesai??” teriak JongIn dari luar. Ilhoon segera mengakhiri ciumannya dengan JiYeon.
“Anak itu mengganggu saja!” gerutu ilhoon.
“Masuk saja!” lanjut Ilhoon berteriak. Lalu..
“I LOVE YOU Noona..” Ilhoon tersenyum pada JiYeon.
***
                Seminggu kemudian di makam orangtua JiYeon dan JunHyung. Mereka semua mengikuti JiYeon dan JunHyung untuk pergi mengunjungi makam. JunHyung sempat menangis mengingat kedua orangtuanya. JiYeon lebih tegar dan memeluk kakaknya itu.
“Oppa maafkan aku.. aku tahu kau sangat mencintai mereka.. aku juga Oppa..” kata JiYeon.
“Sudahlah JiYeon.. tidak usah minta maaf lagi.. aku kini sadar kalau ini semua bukan salahmu.” Jawab JunHyung yang masih menatap batu nisan eomma dan appanya.
“Aku sudah salah selama ini.. aku mungkin sudah membuat appa dan eomma kecewa padaku karena selalu menyakitimu.. mianhae JiYeon-ah..” Lanjut JunHyung kemudia memeluk adiknya.
“Maafkan aku juga Oppa.. aku menyayangimu..” JiYeon menangis haru karena sekarang kakaknya sudah bisa memperlakukannya dengan baik.
“Jangan lama-lama memeluknya.. dia kekasihku..” ilhoon membuat semua menoleh ke arahnya.
“Ilhoon…” kata Daehyun, Yoori, dan JongIn bersamaan.
“Aku hanya bercanda.. lanjutkan lagi..” ilhoon tersenyum nakal. ^___^V
“Kau!!!!”kata JunHyung.
“Hahahaha….” Mereka tertawa bersama dan berpelukan.
                Kini hidup JiYeon jauh lebih menyenangkan. Daehyun tetap sahabatnya.. dan ilhoon kekasihnya. Meskipun kadang Ilhoon dan Daehyun itu suka beradu mulut. Tapi itu justru sering membuat JiYeon tertawa. Hayi memutuskan untuk pindah sekolah. Sedangkan JongIn tetap menjadi sahabat setia Ilhoon. Daehyun mulai menyukai seorang gadis di sekolah itu. Dan sedang berusaha mendekatinya. Gadis itu bernama Kwon Yura. :DDDDDDDDD
                JunHyung memberanikan diri untuk mengunjungi rumah Ilhoon untuk menemui orangtua angkat Yoori yang juga orangtua Ilhoon. JunHyung berusaha menjelaskan soal hubungannya dengan Yoori. Hingga Beberapa bulan kemudian Yoori dan JunHyung menikah, keluarga Yoori tak mempermasalahkan soal status social. Tidak peduli JunHyung seperti apa yang penting JunHyung bisa menjadi namja baik yang bisa melindungi Yoori. Mereka semua bahagia.

-END-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar