Rabu, 06 Maret 2013

I Love You Noona! Part 1




Tittle : I Love You Noona! Part 1
Author : Mutiara Dini / Yura Kwon / araraa
Genre : Love
Cast : BTOB’s Ilhoon, T-ARA’s JiYeon, BEAST’s JunHyung, B.A.P’s Daehyun, Lee Hi(Lee Hayi).
Other Cast: Exo’s Kai, Cha Yoori.
Disclaimer : Semua Cast punya emaknya, dan FF ini asli buatan aku. NO Bash! NO Plagiat!
Note : Maaf aku nggak bisa buat FF yang terlalu banyak bahasa Koreanya. Dan typo betebaran. :D

-          Happy Reading -

*Author POV
“Auhh..” JiYeon mengeluh kesakitan seraya memegangi pergelangan kakinya.
“Aigoo.. apalagi ini? Ayo cepat bangun.” Ilhoon mengulurkan tangannya untuk membantu JiYeon. Ilhoon tidak sengaja menabrak JiYeon karena Ilhoon sedang terburu-buru mengejar Hayi kekasihnya yang sedang marah pada ilhoon. JiYeon juga sepertinya sedang banyak pikiran sampai melamun dan tak melihat Ilhoon yang sedang berlari terburu-buru.
“Apa kau tidak punya mata?” Tanya JiYeon.
“Ini mataku, ada dua, dan sangat sehat.” Jawab Ilhoon menunjuk matanya.
“Sudahlah jangan banyak bicara. Aku sedang buru-buru.” Lanjut ilhoon lalu memegang tangan JiYeon, berusaha membantu JiYeon berdiri, tapi JiYeon malah menghempaskan tangan ilhoon.
“Mwo? Baiklah kalau begitu. Berdiri saja sendiri!. Aku tidak punya banyak waktu hanya untuk mengurusmu. Lainkali jangan melamun sambil berjalan.” Ilhoon segera menjauh dan melanjutkan langkahnya yang tertunda untuk segera menyusul Hayi. Kaki JiYeon terkilir dia berusaha berdiri sendiri walau dengan kesakitan.
***
                Besoknya di sekolah, dengan masih menahan sakit akibat terkilir kemarin, JiYeon berjalan sendiri menuju Ruang Loker. Di Sekolah JiYeon terdapat ruangan yang sangat luas khusus untuk semua loker milik semua murid sekolah dimana JiYeon bersekolah.
“JiYeon-Ah!” Panggil seorang namja bernama Daehyun itu. JiYeon menoleh cepat kearah Daehyun. Daehyun adalah sahabat JiYeon.
“Kenapa kakimu?” Tanya Daehyun saat sudah ada tepat dihadapan JiYeon. Dia melihat JiYeon memegangi kakinya.
“Oppamu memukulimu lagi?” Lanjut Daehyun asal menebak. Karena memang sering sekali kakak JiYeon yang bernama JunHyung itu memukuli JiYeon. JiYeon hanya tinggal berdua dengan kakaknya sejak berumur 12 tahun.
“ani.. oppa sudah berubah belakangan ini. Dia tidak lagi mengasariku tapi malah bersikap dingin dan sama sekali tidak berbicara denganku kalau tidak sangat penting.” Jawab JiYeon.
“Duduklah..” Daehyun menuntun JiYeon untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruang loker itu.
“Aku benar-benar tidak mengerti mengapa JunHyung hyung bisa seperti itu pada adiknya sendiri. Padahal yang dia miliki sekarang kan hanya kau JiYeon. Satu-satunya orang yang harus ia lindungi harusnya kau.” Kata Daehyun terlihat kesal.
“Aku rasa dia hanya sangat terbebani setelah orangtua kita meninggal. Dulu dia tidak sangat emosional seperti sekarang.” Kata JiYeon.
“Yasudah.. bersabarlah.. semoga JunHyung hyung bisa berubah suatu saat.” Kata Daehyun tersenyum.
“Gomawo Daehyunie..” kata JiYeon yang juga tersenyum menatap sahabatnya itu.
“Kakimu… apa sangat sakit? Kau masih bisa berjalan dengan baik?” Tanya Daehyun.
“Ini hanya terkilir.. kemarin aku tidak senga…….” Kata-kata JiYeon terhenti.
“Eh! Kau! Kau sekolah disini juga? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Ilhoon tiba-tiba saat melihat JiYeon.
“Daehyun-ah, ayo kita pergi.” Kata JiYeon datar setelah melihat ternyata namja dihadapannya itu Ilhoon, seorang yang menabraknya kemarin hingga jatuh dan kakinya terkilir.
“Tunggu!” Ilhoon menarik tangan JiYeon.
“Kau marah padaku??” Tanya Ilhoon.
“Ada urusan apa kau dengan JiYeon?? Lepaskan tanganmu!” Daehyun melepaskan tangan Ilhoon dari tangan JiYeon.
“Aku tidak sengaja menabrak yeojamu ini kemarin. Dan ini juga bukan sepenuhnya salahku. Tapi kenapa sampai seperti itu menatapku? Itu berlebihan.” Kata Ilhoon yang juga masih mengira kalau JiYeon adalah kekasih Daehyun.
“Jadi kau yang membuat kaki JiYeon terkilir???? Kurang ajar sekali kau!” Daehyun mendorong Ilhoon.
“Sudah aku bilang aku tidak sengaja!” Ilhoon membalas Daehyun dengan mendorong Daehyun keras.
“Berhenti!” teriak JiYeon saat melihat Ilhoon dan Daehyun mulai bertengkar dan akan saling memukul hanya karena kaki JiYeon yang terkilir.
“Kalian ini seperti anak kecil saja. Kakiku baik-baik saja.” Lanjut JiYeon.
“Namjachingumu ini yang memulai!” kata Ilhoon mendengus kesal.
“Aku tidak suka ada seseorang yang menyakitimu JiYeon.” Kata Daehyun seraya membetulkan dasinya.
“Aku baik-baik saja Jung Daehyun. Jangan buat keributan, kau membuat kepalaku semakin pusing. Dan untuk kau, Aku sedang tidak ingin bicara denganmu. Aku tidak kenal siapa kau. Dan aku tidak ingin mengenalmu. Jadi pergi sekarang juga dari hadapanku.” JiYeon menatap tajam Jung Ilhoon.
“Huah! Aku tidak percaya ada seorang gadis yang berani berbicara seperti itu padaku. Baiklah! Aku tidak akan berusaha peduli lagi dengan kaki sialmu itu. Dan aku juga tidak ingin mengenalmu. Aku berharap tak akan bertemu denganmu lagi walau di sekolah ini sekalipun!” Ilhoon terlihat sangat kesal mendengar kata-kata JiYeon.
“Dan Kau!” Lanjut Ilhoon lalu melihat tanda pengenal Daehyun.
“Dan Kau Jung Daehyun! Aigoo .. marga kita sama. Ah! Tidak peduli! Kalau kau tidak ingin yeojachingumu terluka. Kenapa kau tidak menggandeng tangannya kemanapun dia pergi?? Kenapa membiarkan yeojamu ini melamun sambil berjalan?? Menyedihkan!” kata Ilhoon dengan tatapan menghina pada Daehyun lalu segera pergi. Daehyun ingin mengejar Ilhoon, tapi JiYeon menghalangi Daehyun.
***
                Suatu hari saat jam olahraga, seperti biasa.. JiYeon terlihat lemas dan sangat malas-malasan. JiYeon tidak menyukai mata pelajaran ini.
“Ayolah Jiyeon.. semangat!” kata Daehyun.
“Aku malas. Aku tidak tahu kenapa harus ada pelajaran olahraga? Aku sudah terlalu lelah untuk olahraga.” JiYeon mengeluh.
“Kalau kau tidak berolahraga kau akan cepat sakit. Selain itu kau akan mempunyai nilai kosong. Kalau JunHyung Hyung tahu kau akan dibunuh. Dia sudah bekerja keras untuk biaya sekolahmu. Jangan kecewakan dia atau kau akan dipukuli lagi. Lakukan saja walaupun kau tak suka!” Daehyun terus mengomel dan menyemangati JiYeon tapi ternyata JiYeon sudah berjalan ke barisan meninggalkan Daehyun.
“Selalu seperti ini. Huh!” Daehyun mendengus kesal.
                Hari ini adalah saatnya olahraga basket. Setiap murid mendapatkan bola satu persatu. Bergantian memasukkan bola mereka ke ring, semua sudah sangat baik kecuali JiYeon.
“Hey Noona! Ah ternyata kau lebih tua dariku! Apa yang kau lakukan disitu? Menari ayam? Aku memperhatikan kau daritadi dan tak sekalipun bolamu masuk ke ring? Kau ini benar-benar lamban!” kata ilhoon disisi lapangan basket. JiYeon melihat sebentar kearah ilhoon. Dia berkata dalam hati,”ah anak itu lagi.” Lalu kembali berusaha melempar-lempar bolanya dengan setengah hati.
“Kau pura-pura tak mendengarku??! Kau jadi bahan omongan disini noona.. apa kau tak malu??” ilhoon kembali berteriak. Daehyun sedang melakukan penilaian, sehingga tidak bisa memarahi ilhoon. Walau sebenarnya Daehyun mendengar kata-kata ilhoon. Tiba-tiba JiYeon menghampiri ilhoon. JiYeon melempar bolanya ke kepala ilhoon.
“Hey! Kenapa kau ini??! Auhh kepala emasku..” ilhoon mengelus kepalanya yang terkena bola JiYeon.
“Hahaha..” teman ilhoon yang bernama JongIn hanya tertawa melihat temannya kesakitan.
“Diam kau!” ilhoon mendorong lengan JongIn keras hingga JongIn hampir terjatuh.
“Kau terlalu berisik!” kata JiYeon.
“Memangnya kenapa kalau aku melakukan tarian ayam? Kenapa kalau aku tidak bisa memasukkan bola itu ke ring? Memangnya kenapa kalau aku jadi bahan tertawaan? Memangnya kenapa kalau aku lemah???! Kau terlalu banyak bicara! Aku tak mengenal siapa kau!” Lanjut JiYeon lalu segera berbalik dan akan menjauhi ilhoon. Tapi..
“Karena kalau kau seperti itu…. Kau membuatku selalu memperhatikanmu daritadi. Bisakah kau menjadi yeoja normal. Bisakah kau bermain basket dengan baik seperti yang lain agar pandanganku tidak terarah padamu terus! Aku tidak tahan. Semua orang membicarakanmu disini.” Kata ilhoon membuat langkah JiYeon terhenti. Namun JiYeon tak bergeming.
“Park JiYeon-ssi.. Mianhaeyo..” ilhoon mulai berdiri dari duduknya.
“Dia lebih tua darimu.” Kata JongIn.
“Dia tidak terlihat lebih tua dariku. Lebih baik kau diam!” ilhoon menatap teman sekelasnya itu. Kini JiYeon mulai berbalik ke arah ilhoon lagi.
“Darimana kau tahu namaku?” Tanya JiYeon.
“Kau menggunakan tanda pengenal noona.” Jawab ilhoon seraya menunjuk tanda pengenal JiYeon. Seketika JiYeon berkata dalam hati,”aigoo.. babo jiyeon-ah!”
*Ilhoon POV
                Aku melihat mukanya menjadi gugup, mungkin karena malu. Haha.. JiYeon Noona.. aku tidak suka memanggilnya seperti itu. JiYeonie.. akhir-akhir ini takdir membawaku untuk selalu bertemu dengan Yeoja yang lebih tua satu tahun dariku ini.
“Jung ilhoon!” saat masih memperhatikan muka JiYeon, suara Yeoja itu terdengar lagi. Selalu muncul tiba-tiba dua hari belakangan ini. Ah sial! Sekarang ada JiYeon dan dia harus muncul. Aku ingin lari saja.
“Kau kemana saja..?” Tanya Hayi. Ya, dia mantan kekasihku. Sudah kurang lebih satu minggu ini kita berpisah. Dia yang memutuskanku, tapi akhir-akhir ini dia yang kembali mengejarku dan berusaha kembali menjalin hubungan denganku. Huahhh.. dia memang tak akan betah melewatkan namja tampan sepertiku, dia pasti sangat rindu dan sangat berharap aku akan mengatakan padanya kalau aku masih mencintainya. Hah! Tentu tidak lagi sekarang. Andai kau tahu Lee Hayi! Yeoja yang selalu murung bernama park JiYeon ini sudah mengalihkan duniaku. Aku menatap JiYeon yang akan pergi. Dia menatapku lebih dulu. Tatapan apa itu. Apa dia cemburu pada Hayi?
“Aku sudah putus dengan Hayi. Dia yang selalu berusaha mendekatiku.” Kataku seketika seraya menarik tangan JiYeon.
“Lepaskan tanganku! Aku tidak peduli siapa dia! Untuk apa menjelaskannya padaku? Lakukan saja apa yang kau mau.” Kata JiYeon lalu mulai menjauh. Astaga.. apa aku terlalu percaya diri. Kenapa aku berkata seperti itu.huhhh…
“Siapa dia?” Tanya Hayi.
“Yeoja yang aku suka.” Jawabku singkat masih menatap JiYeon yang lagi-lagi berusaha memasukkan bolanya ke ring walau selalu gagal.
“Oppa..” suara manja itu lagi. Aku menatapnya yang terlihat sedih.
“Hayi-ya.. hubungan kita sudah berakhir.” Aku memegang pundaknya.
“Bukankah kau yang memutuskan hubungan kita dulu? Aku sudah tidak mencintaimu lagi sekarang. Tidak usah seperti itu..kau akan mendapatkan namja lagi yang jauh lebih baik daripada aku. Kau hanya membuang waktu berhargamu dengan terus mendekatiku, karena aku sudah mencintai yeoja itu.. dia akan menjadi kekasihku nanti. Aku tidak ingin kau semakin sakit hati. Semua tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi.” Aku melepaskan tanganku dari pundaknya. Mengacak pelan rambut Hayi lalu aku segera berlari mendekati JiYeon.
“Kenapa tidak bergabung bersama mereka?” Tanyaku. Kini aku mencoba sedikit lebih lembut.
“Aku dilarang bergabung dengan mereka sebelum aku berhasil memasukkan bola ini ke ring.” Jawab JiYeon ketus. Sepertinya dia sangat kesal. Aku menatap di kejauhan namja bernama Jung Daehyun itu terus melihat kearahku dan JiYeon. Haha.. kemarin aku barutahu kalau namja itu ternyata bukan kekasih JiYeon, dia hanya sahabatnya. Jadi sebaiknya aku tidak usah memperdulikannya.
“JiYeon-ssi.. mau aku ajari?”  aku meraih bola basketnya dan mengedipkan mataku padanya.
“Tidak usah!” dengan kasar dia meraih lagi bolanya yang ada ditanganku.
“Sudahlah jangan keras kepala.. akan sangat mudah jika kau berlatih denganku. Aku ini pemain basket yang selalu menyumbangkan piala di sekolah ini. Kau jangan pura-pura tidak tahu.” Kataku kembali meraih bolanya. Kini aku berada di belakangnya. Memegangi tangannya agar memegang bola basket itu dengan baik. Berusaha mengarahkan kepalanya agar matanya fokus ke ring. Dan perlahan menyuruhnya untuk melempar bola itu ke ring dengan mantap. Ya! Dia berhasil. Dia meloncat kegirangan dan memelukku. Dengan senang hati tentunya aku membalas pelukannya. Haha.. ini pelukan pertama dari JiYeon. Jantungku berdebar tapi aku sangat bahagia. Aku melihatnya tersenyum. Dia sangat cantik.. jauh lebih cantik dari hari-hari biasanya yang selalu terlihat murung.
“Ayo coba sekali lagi tanpa aku.” Kataku. Dan dia segera melakukannya sekali lagi dan berhasil.
“Sangat mudah bukan? Aku bukan orang jahat. Jadi tersenyumlah terus padaku seperti ini.” Aku melihatnya tersenyum sekali lagi. Dan aku segera menjauh membiarkan JiYeon bergabung dengan teman-temannya yang lain. Aku menghampiri JongIn dan segera mengajaknya untuk ke kantin karena aku sangat lapar. Haha..

***

*JunHyung POV
“Yoori-ya, apa kau tak apa-apa mempunyai namjachingu sepertiku?” Tanyaku pada Cha Yoori kekasihku. Aku menatap sepeda bututku dan pakaianku. Aku rasa semua yang menempel pada diriku tidak sebanding harganya bila dibandingkan dengan sepatu yang Yoori kenakan. Dia terlahir di keluarga kaya. Sedangkan aku yang sekarang…..
“Aku mencintaimu oppa..jangan berkata seperti itu terus.. aku tidak peduli kau seperti apa.. aku tulus menyayangimu.” Kata Yoori selalu sangat baik.
“Gomawo Yoori-ya.. kau selalu baik dan selalu mengerti keadaanku.. tapi bisakah kau jangan menggunakan pakaian seperti itu lagi? Ini tidak sebanding saat kau berada diatas sepeda bututku.”
“Wae Oppa? Ini sudah sangat biasa.. tapi… aku akan berpakaian lebih biasa lagi seperti yang kau pinta.” Yoori tersenyum.
“Apa kabar JiYeon? Kau sudah tidak pernah memukulinya kan? Kasihan dia.. dia hanya tidak bisa seperti aturan yang kau berikan.. dia masih muda.. jangan biarkan dia menjadi seperti seumuranmu. Kalau kau marah, kalau kau merasa begitu banyak beban karena JiYeon.. jangan lampiaskan amarahmu padanya.. lampiaskan saja padaku.” Dia kembali membicarakan adik perempuanku itu. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu kenapa saat aku melihatnya aku begitu emosi dan ingin memarahinya. Dialah yang membuat orangtua kita meninggal.
*Flashback
Saat itu acara perpisahan sekolah JiYeon. JiYeon anak yang sangat manja. Aku memang kurang suka padanya sejak ia kecil. Semua keinginannya harus di turuti. Dia pintar sekali mengancam. Hingga saat itu dia merengek dan mengancam akan terjun dari atas gedung sekolahnya kalau orangtua kita tidak datang. Aku ingat jelas kata-katanya saat itu karena aku ada di sampingnya saat dia menelpon appa dan eomma.
“Appa.. Aku mau kalian datang sekarang.. ini hari yang sangat penting bagiku.”
“...”
“Kalau tiga puluh menit lagi kalian tidak datang aku akan terjun dari atas gedung ini.” JiYeon menutup telponnya.
“JiYeon-ah! Appa dan Eomma sedang sibuk!” Aku membentaknya.
“Tapi apa terlalu sibukkah sampai mengabaikanku?” Jawabnya dengan suara kecilnya yang manja itu.
“Baiklah! Kalau sampai terjadi apa-apa pada Appa dan Eomma. Aku tak akan pernah bersikap baik padamu lagi!!!!!” aku tak akan melupakan kata-kata ini. Dan memang benar. 25 menit kemudian JiYeon menerima telpon dari kantor polisi kalau Appa dan Eomma kecelakaan. Dan aku harus kehilangan mereka untuk selamanya. Hatiku seperti tersambar petir mendengar hal itu. Ingin sekali aku menjauh pergi dari JiYeon saat itu juga.
*Flasback OFF
*Still JunHyung POV
“Kau baik-baik saja?” Yoori membuyarkan lamunanku tentang JiYeon.
“Ah ne, aku baik-baik saja..” jawabku tersenyum pada kekasihku ini.
“Tiga hari lagi JiYeon Ulang tahun.. aku ingin membuat kue untuknya.” Kata Yoori lagi. Ahh yeoja ini.. kalau tak ada dia mungkin aku tak akan pernah ingat hari ulang tahun adikku sendiri.
“Tidak Usah!” ini sudah ke empat kalinya aku melarang Yoori selama 4 tahun kita berpacaran, dan Yoori selalu mengingat ulang tahun JiYeon dan selalu ingin memberi kejutan, tapi aku tidak suka hal itu.
“Wae?? Alasan yang sama? Bukankah JiYeon sudah berubah? Dia gadis yang manis. Dia selalu tersenyum padaku. Apa aku tidak boleh bersikap baik padanya? Aku mohon jangan egois..” Yoori berusaha membujukku. Tapi aku benar-benar tidak ingin JiYeon mendapatkan itu.
“Oppa.. aku tahu.. kau sebenarnya orang baik.. kenapa tidak menjadi seorang yang baik juga pada JiYeon.. berhenti menyalahkannya.. ini sudah berlangsung sangat lama.. bukankah Appa dan Eomma begitu menyayangi JiYeon.. apa kau membiarkan mereka melihat hal ini dari langit? Bertahun-tahun kau sering memukulnya. Bertahun-tahun kau memakinya. Dia selalu memberikan kue dan kado ulang tahun padamu saat kau ulang tahun. Tapi kau selalu melukai hatinya. Aku tahu bagaimana perasaanmu.. tapi cobalah untuk memahami JiYeon juga… dia hanya punya kau sekarang.” Kata-kata Yoori membuat dadaku sesak. Andaikan aku bisa pasti aku akan lakukan apa yang Yoori katakan. Tapi semua itu hancur, semua niat baikku hancur saat aku mengingat kejadian masa kecil itu.
“Aku akan coba.. ini sulit..” Jawabku pelan dan menunduk.
“Aku tahu kau akan bisa.. kau JunHyungku yang baik hati.” Yoori memelukku. Hanya dia yang begitu baik dan menerima aku apa adanya.

***

*JiYeon POV
                Hari ini hari ulang tahunku, tapi percayalah.. yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun padaku bukan Daehyun lagi seperti biasanya. Tapi Jung ilhoon. Dia selalu mendekatiku sekarang, tapi ini menyenangkan.. bukan karena aku menyukainya, tapi aku merasa terlindungi dan dia selalu berusaha membuatku tersenyum. Apa dia menyukaiku?? Entalah.. dia tak pernah mengatakannya padaku. Aku hanya berharap itu ilhoon yang sesungguhnya, aku tidak mau kalau semua yang ia lakukan itu hanya pura-pura.
                Pagi ini aku mendapat 17 cupcake yang sangat cute dari sahabat terbaikku Jung Daehyun. Dia memberiku cupcake sebanyak 17, karena hari ini ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun. Ah bahagianya mempunyai sahabat seperti Daehyun. Dia sangat baik dan dia satu-satunya orang yang mau berteman denganku setelah aku jatuh miskin. Eh.. aku melupakan ilhoon.. bukankah dia temanku juga sekarang? Haha..
                Aku berjalan menuju kelas dengan usiaku yang 17 tahun. Aku berharap di usiaku ini aku bisa lebih bahagia dan semoga oppa bisa menyayangiku. Masih dengan berdo’a………
“Hey!” ilhoon mengagetkanku.
“Kau ini!” Daehyun menjitak kepala ilhoon.
“Omo! Kau menjitak kepala berhargaku????!”
“Sudahlah.. jangan berdebat lagi..” aku berusaha melerai mereka yang mungkin akan perang mulut lagi setelah ini.
“JiYeon-ah…kau 17 tahun hari ini?” Tanya ilhoon padaku.
“Kau harus memanggilnya Noona!” kata Daehyun.
“JiYeon saja tidak keberatan…” jawab ilhoon.
“Ne, aku tujuh belas tahun hari ini.. kau tahu darimana?” Tanyaku.
“Haha.. kau semakin tua. Kau harus rajin tersenyum agar terlihat lebih muda. Dan.. Itu tidak penting aku tahu darimana.. tapi aku ingin memberimu sesuatu sekarang..” kata ilhoon lalu memberiku sebuah kue tar.. terdapat tulisan di atas kue itu tapi belum sempat aku membacanya kue itu melayang ke wajahku. Aku shock.. benar-benar shock.
“Itu ulah mantan kekasih ilhoon. Aku melihatnya.. dia mendorong ilhoon.” Kata Daehyun. Aku sangat sedih dan malu karena banyak murid lain yang melihat kejadian itu. Aku menangis seraya meninggalkan ilhoon. Ilhoon berusaha mengejarku.
“JiYeon-ah…  mianhaeyo… jeongmal mianhaeyo…” ilhoon meraih tanganku.
“Sebaiknya kau tidak usah mendekatiku lagi.. mantan kekasihmu itu sudah mengganggu hidupku.. ini hari ulangtahunku.. hari pertama aku berusia 17 tahun, dan aku harus mendapatkan ini. Kalau kau terus berada di dekatku, apalagi yang akan dia lakukan??”
“JiYeon ini bukan salahku. Jangan menangis.. aku minta maaf.. aku akan menggantinya dengan yang baru yang jauh lebih baik.. aku berjanji..” ilhoon berusaha menghapus bekas kue di wajahku.
“Tidak usah.” Kataku singkat dan menghempaskan tangan ilhoon.
“Menjauhlah! Kau urus saja mantan kekasihmu itu.” Daehyun menghalangi ilhoon untuk mengejarku. Aku segera pergi ke toilet untuk membersihkan wajahku. Aku melihat diriku di cermin. Sangat menyedihkan karena harus menangis di hari ulang tahunku.
“Appa.. Eomma..aku merindukanmu..” aku menutup wajahku dengan kedua tanganku seraya menangis.
“Hey pabo! Jangan harap kau bisa mendekati Ilhoon Oppa!” suara Yeoja itu. Dia ada disampingku sekarang. Ya, dia Hayi. Kesialan apalagi ini…????

~Continue

Like Comment Please~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar