Rabu, 06 Maret 2013

I Love You Noona! Part 2.




Tittle : I Love You Noona! Part 2.
Author : Mutiara Dini / Yura Kwon / araraa
Genre : Love
Cast : BTOB’s Ilhoon, T-ARA’s JiYeon, BEAST’s JunHyung, B.A.P’s Daehyun, Lee Hi(Lee Hayi).
Other Cast: Exo’s Kai, Cha Yoori.
Disclaimer : Semua Cast punya emaknya, dan FF ini asli buatan aku. NO Bash! NO Plagiat!
Note : Maaf aku nggak bisa buat FF yang terlalu banyak bahasa Koreanya. Dan typo betebaran. :D

-          Happy Reading -

*JiYeon POV
“Ilhoon Oppa itu hanya milikku. Kalau kau masih terus mendekatinya. Kau akan berurusan denganku. Kau mengerti.” Hayi menatap tajam kearahku.
“Bisakah kau lebih sopan??! Lagipula siapa yang mendekati Jung Ilhoon. Dia yang mendekatiku sejauh ini.” Aku berusaha membela diri. Tapi akibatnya Hayi mendorongku ke tembok. Aku mendorongnya juga setelah itu. Tapi dia memang lebih kuat dariku walau tubuhnya lebih kecil. Dia menunjuk mukaku. Dan mengancamku dengan berbagai macam kata kasarnya.
‘Brakk!’ pintu toilet terbuka.
*ilhoon POV
                Aku merasa sangat tidak nyaman dengan perlakuan Hayi pada JiYeon. Baru saja aku melihat Hayi mengikuti JiYeon lagi. Yeoja itu benar-benar membuatku kesal. Aku takut terjadi apa-apa pada JiYeon. Aku berjalan mencari JiYeon bersama temanku ‘JongIn’
“Ilhoon-ah! Ini kamar mandi yeoja.. ayo kembali.. kau tak akan masuk ke dalam kan?” JongIn berusaha menarik-narik tanganku.
“Tapi JiYeon dan Hayi ada di dalam.. bagaimana bisa aku diam saja.. mereka meributkan aku..” kataku.
“Kau ini percaya diri sekali… tahu darimana mereka sedang meributkan kau??! Sudahlah… kalau teman-teman melihat ini.. mereka akan menertawakan kita..” JongIn masih berusaha mengajakku untuk menjauh dari Toilet Yeoja ini. Tapi aku tidak peduli. Aku akan tetap masuk.
‘Brakk!’ aku membuka pintu toiletnya keras. Dan ternyata benar, aku melihat Hayi sedang berbuat kasar pada JiYeon.
“Hentikan!” kataku tegas.
“Oppa?? Kau?? Di toilet Yeoja??” Hayi masih tak menyangka aku akan masuk. Terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.
“Lee Hayi. Aku sangat membencimu! Aku kira kau yeoja manis tapi ternyata kau sangat liar. Sampai seperti itukah dirimu hanya karena ingin bersamaku lagi? Aku memang namja paling tampan di sekolah ini. (?) tapi jangan karena itu kau menyakiti yeoja yang aku dekati. Terima kenyataan saja kalau namja tampan bernama jung ilhoon ini sudah tidak menginginkanmu. Jangan ganggu hidupku lagi. Jangan ganggu apapun yang berhubungan denganku. Kau dengar!” aku membentak Hayi. Dia menangis. Tapi aku tidak peduli lagi. Tangisan itu menipu.
“Kaja Chagiya!” aku menarik tangan JiYeon. Bersyukur karena dia tidak menghempaskan tanganku lagi seperti biasanya.
“Sudah selesai?” Tanya JongIn dengan muka bodohnya itu saat aku keluar dari toilet.
“Kaja! Kau ternyata menungguku. Bodoh sekali kau ini.” Kataku pada JongIn. Aku memang selalu bertingkah sesuka hati pada JongIn. Dia lebih tua dariku hanya beberapa bulan. Ah biar saja! Sekeras apapun aku menjauhi JongIn dia masih setia menganggapku sebagai sahabatnya. Aku memang selalu dianggap istimewa oleh semua orang. :D

*Author POV
                Saat pulang sekolah, Ilhoon akan mengajak JiYeon untuk pergi Jalan-Jalan. Untuk mengganti kesalahan yang ia lakukan tadi pagi masalah kue tar. Daehyun sempat melarang JiYeon.
“JiYeon-ah.. kau akan berurusan dengan Oppamu lagi kalau kau pulang terlambat.” Daehyun memegang pundak sahabatnya itu khawatir.
“Ah ne.. mianhae ilhoon-ah aku tidak bisa..” JiYeon menolak ajakan ilhoon.
“Ayolah… ini hari ulang tahunmu..” Ilhoon masih membujuk.
“Kau akan membuat JiYeon dimarahi kakaknya lagi.” Kata Daehyun.
“Memangnya seseram apa kakaknya itu? Biar aku yang bertanggung jawab nanti. Apa JiYeon tidak boleh bersenang-senang??” Ilhoon masih memaksa.
“Bagaimana JiYeon?” Tanya Daehyun lagi belum yakin. JiYeon menatap ilhoon.. dalam hatinya dia ingin sekali pergi jalan-jalan karena ini hari ulang tahunnya. Dia tidak ingin hanya berdiam diri di rumah. Daehyun ada urusan keluarga setelah ini. Jadi hanya ilhoon.. JiYeon menjadi sangat bingung. Disisi lain bayang-bayang JunHyung membuat JiYeon ketakutan. Ilhoon melihat JiYeon menggigit-gigit bibir bawahnya, ilhoon menyadari kalau JiYeon masih bingung dan tak tahu harus memutuskan ikut dengannya atau pulang. Ilhoon kini berpindah ke hadapan JiYeon. Ilhoon menggenggam tangan JiYeon, ini membuat jantung JiYeon berdebar.
“Noona-ya.. tidak usah takut.. aku akan membelamu kalau kakakmu memarahimu nanti. Aku akan mengantarmu pulang. Aku hanya ingin hari ulang tahunmu ini jadi menyenangkan. Ayo tersenyum dan katakan ‘Ya’. Aku akan buat kau bahagia hari ini.” Ilhoon mendekatkan wajahnya dan tersenyum didepan wajah JiYeon. Ilhoon membelai pipi JiYeon lembut.
“Ehhh.. sudah-sudah! Kalian ini belum menjadi sepasang kekasih.. membuatku kesal saja! Jangan terlalu dekat dengan JiYeon!” Daehyun menjauhkan tubuh ilhoon dari tubuh JiYeon.
“Bilang saja kau iri!” kata ilhoon ketus.
“Daehyun-ah.. apa tidak apa-apa??” JiYeon masih belum yakin.
“Kalau kau ingin jalan-jalan dan ingin menikmati hari ulang tahunmu.. ya pergi saja bersama ilhoon. Walau sebenarnya aku kurang suka.. aku kurang percaya dengan namja ini! Tapi… aku sendiri tidak bisa menemanimu.. kasihan selama ini kau hanya menghabiskan hari ulang tahunmu di rumah..” Daehyun menatap mata sahabatnya yang terlihat memang sangat ingin pergi bersama ilhoon.
“Dan kau! Namja yang terlalu percaya diri! Kau harus pastikan ucapanmu! Kau yang bertanggung jawab kalau sampai JiYeon kenapa-kenapa! Kalau kau menyakiti JiYeon! Kau akan berurusan denganku. Dan jangan sekali-kali bertingkah laku seperti kau sudah menjadi kekasih JiYeon. Kau hanya sebatas teman, jadi jangan berlebihan! Ingat!” kata Daehyun, tapi tanpa berkata iya atau tidak.. ilhoon sudah menggandeng tangan JiYeon dan membukakan pintu mobilnya untuk JiYeon. Daehyun terlihat kesal dan marah-marah sendiri. Setelah marah-marah dia terlihat sedih dan menatap mobil ilhoon yang mulai menjauh.
“Kenapa hatiku jadi seperti ini.. kenapa harus sedih.. kenapa ingin mengejar mereka..” Daehyun memegangi dadanya.
“Ini pertama kalinya aku tidak bersama JiYeon seharian penuh saat hari ulang tahunnya. Semoga ilhoon tidak melakukan hal yang tidak-tidak dengan JiYeon.. aigoo aigoo.. aku menjadi sangat cemas karena hal ini.. “ lanjut Daehyun sambil berjalan pulang.
***
                Sedangkan di rumah, JunHyung mondar-mandir di ruang tamu karena adik perempuannya itu belum juga pulang sekolah. Yoori ada disitu juga menunggu JiYeon. Hari sudah mulai gelap.
“Kemana saja anak itu?? Tidak biasanya..” kata JunHyung.
“Kau mencemaskannya? Kau takut dia sedang ada masalah?” Tanya Yoori. Seketika JunHyung berhenti dan menatap kekasihnya itu.
“Aku yakin dia baik-baik saja. Dia hanya sedang membangkang! Dia sepertinya sudah sangat rindu aku pukuli lagi.” JunHyung mengelak.
“Sudahlah Oppa.. jangan berpura-pura.. aku tahu sesungguhnya kau juga sangat mengkhawatirkannya. Bagaimana kalau JiYeon benar-benar ada masalah. Siapa yang dia mintai bantuan? Sahabatnya yang bernama Daehyun itu? Namja itu berkaca mata dan apa yang bisa ia lakukan? Kau sama sekali tak ingin mencarinya? Kau tak takut dia jadi korban tindak kejahatan? Apa Oppa lupa kalau JiYeon itu seorang Yeoja? Yeoja yang sangat lemah bahkan bila dibandingkan denganku.” Mendengar kata-kata Yoori, JunHyung menjambak rambutnya sendiri. JunHyung menjatuhkan tubuhnya ke kursi dengan keras. Yoori mendekati JunHyung. Kini Yoori duduk di hadapan JunHyung.
“Oppa tatap mataku. Jangan menunduk, ayo tatap mataku.” Kata Yoori, dan akhirnya JunHyung mau menatap Yoori, dan Yoori bisa melihat JunHyung menangis walau hanya mengeluarkan sedikit airmatanya. Yoori seketika memeluk JunHyung.
“Oppa.. aku tahu kau bingung dengan dirimu sendiri.. disisi lain dari dirimu sangat ingin untuk tetap tenang dan tak perlu memikirkan JiYeon. Tapi disisi lain dirimu juga tidak mau kalau samai JiYeon terluka. Tenangkan dirimu Oppa.. aku harap kau bisa menempatkan dirimu sekarang menjadi seorang kakak laki-laki yang baik untuk JiYeon. Siapa lagi yang ia punya kalau bukan kau..” kata Yoori mencoba membujuk JunHyung.
“Aku harap dia baik-baik saja.. tapi kau masih bisa menunjukkan kepedulianmu hanya sekedar mencarinya sekarang. Itu akan lebih baik daripada kau berdiam diri di rumah seperti ini sementara dongsaengmu tak ada kabar.” Lanjut Yoori.
“Kaja Oppa pakai jaketmu.” Yoori mengambilkan jaket JunHyung. Akhirnya JunHyung mau dan akan pergi mencari JiYeon. JunHyung mengecup pelan bibir Yoori sebelum ia berangkat.
***
*Ilhoon POV
                Sekarang aku dan JiYeon pergi ke sebuah taman hiburan. Kita berfoto bersama, membeli ice cream, bermain, dan banyak lagi. JiYeon terlihat sangat senang, akupun ikut bahagia melihat senyumnya. Kita sudah seperti sepasang kekasih. Aku semakin menyukainya.
                Aku dan JiYeon duduk di sebuah kursi taman, di belakang kita ada sebuah pohon yang dihiasi oleh lampu-lampu kecil yang sangat indah. JiYeon memegang boneka panda yang tadi aku dapatkan karena berhasil memainkan sebuah game.
“Panda itu terlihat sepertimu..” kataku seraya tertawa kecil.
“Hah?”
“Matamu terlihat sama seperti mata panda. Pasti kau kurang tidur..” Jawabku. Nafasku seperti mengeluarkan uap. Ya, cuacanya sangat dingin. Walau aku dan JiYeon sudah memakai pakaian tebal tapi masih saja dingin, apalagi ini sudah malam.
“Masukan tanganmu ke saku jaketku.” Kataku agar tangannya bisa lebih hangat. Tapi dia duduk terlalu jauh dariku. Dia tetap diam mungkin malu. Jadi aku putuskan untuk mendekatinya dan memasukkan tangannya ke dalam saku jaketku.
“Ilhoon-ah.. kenapa melakukan semua ini kepadaku?” Tanya JiYeon.
“Melakukan apa? Memasukkan tanganmu ke sakuku. Memberikan boneka pandaku untukmu?” Aku berpura-pura tidak tahu apa yang JiYeon katakan.
“Kenapa mengajakku jalan-jalan.. kenapa kau berusaha membuat hari ulang tahunku menjadi lebih menyenangkan? Apa kau kasihan padaku? Apa kau ingin membayar rasa sakit di kakiku dulu?” Tanya JiYeon lagi.
“Karena aku menyukaimu Noona..” aku masih tak melihat wajahnya, aku menatap langit. Salju masih turun.
“Kenapa kau menyukaiku?” Tanya JiYeon lagi. Kali ini aku menatapnya.
“Molla.. semua berjalan dengan sendirinya.. aku tahu kau memang tidak fashionable.. sangat kampungan.. dan jarang sekali tersenyum.. tapi bukan semua itu yang aku lihat dari dirimu. Ini tulus..” aku tersenyum pada JiYeon. JiYeon juga tersenyum kecil menatapku.
“Biarkan aku jadi seseorang yang akan melindungimu Noona..” kataku lagi.. aku mencium tangan JiYeon.
“Tapi aku belum bisa mempunyai perasaan yang sama denganmu..”
“Aku tidak peduli.. aku tidak menyuruhmu untuk menyukaiku dengan cepat. Tapi aku yakin aku akan membuat kau akan menyukaiku juga.” Kataku lalu mencium keningnya. Namun…. Tiba-tiba seseorang menarik bajuku kemudian memukul pipiku keras. Aku akan memukulnya juga. Tapi JiYeon menarikku.
“Ilhoon jangan…” suara JiYeon membuatku menurunkan tanganku.
“Kau mengenalnya?” Tanyaku.
“Ayo pulang!” kata laki-laki itu menarik tangan JiYeon dengan kasar. Tentu saja aku tidak bisa membiarkan JiYeon di perlakukan seperti itu.
“Heh! Nugu??! Apa kau kekasihnya?! Jangan menarik tangannya seperti itu.” Kataku keras.
“Ilhoon pulang saja sekarang..” JiYeon menatapku sedih.
“Ayo pulang bersamaku saja! Aku sudah berjanji akan mengantarmu pulang.. aku akan menjelaskan pada kakakmu nanti di rumah..” aku menarik tangan JiYeon untuk masuk ke mobilku.
“Aku JunHyung. Kakak Park JiYeon!”
‘Jenggg Jenggg………………’
“Mwo??” aku terkejut bukan main. Apa aku tidak salah dengar?? Jadi dia kakak JiYeon. Omo!
“Ah JunHyung Hyung.. mianhaeyo aku tidak mengenali siapa kau barusan..” Aku membungkukkan tubuhku 90°. Semoga aku terlihat sopan dimatanya. Tapi.. aku tadi sudah bertingkah laku seperti jagoan saja.. aduh.. aku harap JiYeon tidak dimarahi kakaknya setelah ini. Babo ilhoon-ah..
“Hyung.. jangan memarahi JiYeon ne.. aku yang mengajaknya untuk merayakan ulang tahun bersamaku. Aku ingin menghubungimu. Tapi JiYeon bilang kau tidak memiliki ponsel. Jadi aku tadi berniat untuk memberitahumu sepulangnya.” Kataku mencoba berbicara sangat manis. Tapi namja ini benar-benar dingin, tanpa menjawab kata-kataku sedikitpun.
“Ilhoon jeongmal gomawo untuk hari ini. Aku pulang dulu.. kau hati-hati dijalan..annyeong!” JiYeon segera duduk di sepeda kakaknya itu. Aigoo sepeda apa itu. Kenapa jelek sekali. Aku tak percaya sepeda itu masih bisa dikendarai dengan baik. Aku harap JiYeon baik-baik saja sampai rumah. Kasihan dia.. aku melambaikan tanganku. Dia tersenyum dan mulai menjauh berlalu dengan kakaknya yang memang sangat seram itu.
***
                Besoknya aku tidak bisa bertemu JiYeon seharian. Karena jadwal pelajaran kita berbenturan. Aku sedih sekali dan menjadi tidak konsen belajar. Hayi menggangguku terus selama di kelas. Ini membuatku semakin stress.
                Melihat jam dinding yang terus berdetak, kenapa tumben sekali sekolah terasa sangat lama. Guru yang sangat membosankan. JongIn yang juga membosankan.. ditambah lagi Hayi yang duduk di belakangku terus saja mencari perhatian. Kalau dia namja sudah aku bentak daritadi.
                Setelah menunggu sangat lama, akhirnya jam pelajaran selesai dan tentunya aku bisa pulang. Aku segera berlari ke kelas JiYeon tapi kelasnya sudah sepi. Menyebalkan. Aku mendekat ke tempat JiYeon duduk. Aku melihat dia meninggalkan bukunya. Aha! Ini bisa jadi alasan untuk aku datang ke rumahnya setelah ini. Tanpa basa-basi lagi. Aku mengajak JongIn untuk pergi ke rumah JiYeon. Aku tahu dimana rumahnya. Aku pernah mengikutinya beberapa hari yang lalu. :D
                Tapi, Saat aku akan masuk ke mobilku, Hayi memelukku dari belakang. Aigoo.. kenapa lagi gadis gila ini. Aku berusaha melepas pelukannya, tapi dia memelukku dengan erat bahkan rasanya sampai sesak.
“Hayi-ya! Kau akan membunuhku? Lepaskan sekarang. Kau ini kecil tapi kuat sekali. Uhukk!” kataku masih mencoba melepaskan pelukan Hayi.
“Aku merindukanmu Oppa! Benar-benar merindukanmu.” Kata Hayi dengan nada manjanya.
“Ilhoon-ah! Kaja!” JongIn memanggilku dari dalam mobil.
“Kau tak lihat aku sedang disandera?? Bantu aku pabo!” kataku kesal, si bodoh ini menaruh matanya dimana sebenarnya. Huh!
“Ah Lee Hayi lagi rupanya.” Kata JongIn santai lalu keluar dari mobilku.
“Hayi, lepaskan ilhoon. Dia sedang terburu-buru.. Appanya menyuruhnya untuk segera pulang. Kalau kau menghalanginya, kau akan aku adukan pada Tuan Jung. Dan kalau Tuan Jung tahu kau sudah sangat menyulitkan putranya. Kerjasama antara ayahmu dan ayah ilhoon akan berhenti. Ayahmu bisa bangkrut. Dan kau jatuh miskin. Menderita. Tidak bisa operasi plastik. Tidak bisa ke salon. Dan tidak bisa belanja pakaian mahal. Aigoo.. aigoo.. aku tidak bisa membayangkan hal itu.” Kata JongIn menjelaskan pada Hayi. Ah! Tumben dia pintar.. kalau begini kan dia sahabatku.. aku tersenyum licik bersama JongIn. Dan benar saja, Hayi langsung melepaskan tangannya dari tubuhku. Huahh… aku bisa bernafas lega. Hayii… Hayi.. kau ini sangat takut miskin. Bagaimana bisa aku mencintai yeoja sepertimu dulu.. aku menggelengkan kepalaku pelan seraya menatap Hayi.
“Oppa.. kau benar-benar sudah melupakanku..?”
“Aku masih ingat namamu Lee Hayi.” Jawabku singkat masih dengan merapikan seragamku.
“Bukan itu.. apa kau benar-benar sudah tidak mempunyai perasaan terhadapku?” Tanyanya lagi.
“Ye! Benar sekali…….. jadi berhenti mendekatiku lagi.” Kataku singkat.
“Apa semua ini karena gadis miskin itu?”
“Berhenti menghinanya!”
“Oppa.. kau jahat..”
“Ah! Sulit bicara denganmu. Kau sudah membuatku malas. Sifatmu itu memuakkan.”
“Apa aku kurang cantik? Apa aku harus operasi plastik agar kau mencintaiku lagi?” katanya membuatku terkejut.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku Hayi? Apa sampai seperti inikah pesonaku hingga membuatmu begitu mencintaiku?? Apa aku setampan itukah? Kau ingin aku memelukmu? Kau ingin aku menciummu? Huahh.. kau bisa lakukan itu dengan namja lain Hayi.. tidak bisa denganku lagi.” Aku menatapnya. Tiba-tiba dia bergerak cepat mendekatiku dan mencium bibirku. Tentu saja aku segera melepaskan ciuman singkat itu. Astaga.. yeoja ini menyeramkan sekali. Dia sungguh agresif.
“O’ow..” JongIn menatapku dan Hayi dengan tatapan aneh.
“Hayi! Kau ini apa-apaan??! Aigoo Bibirku.. aku sudah membersihkannya agar nanti bisa mencium JiYeon dengan baik. Dan kau menodai bibir sexyku lagi….” Aku mengusap bibirku dengan sapu tangan.
“Aku rela memberikan apapun yang kau mau.. walaupun kau meminta aku untuk tid …” kata Hayi membuatku berdebar. Aku memotong kata-katanya dengan cepat sebelum aku mendengar yang bukan-bukan.
“Eh eh! Sudah sudah tidak usah diteruskan.. aku bukan laki-laki yang seperti itu. Aku tidak akan menjadikan kau gadis jalang yang bisa ditiduri sesuka hati olehku yang bukan suamimu.. jadi sebaiknya kau jaga diri baik-baik.. kau pulang dan tidurlah yang manis di rumahmu sendiri ok.. bye! Appaku sudah menunggu dirumah.” Aku dan JongIn segera masuk ke dalam mobilku dan melaju kencang meninggalkan Hayi. Gadis itu benar-benar berubah menjadi sangat agresif. Mengerikan.
***
                Kini aku ada di depan rumah JiYeon. Rumah yang sangat kecil, bahkan lebih kecil dari kamar tidur pembantuku dirumah.
“Ini rumah JiYeon Noona? Kau yakin? Kau yakin ilhoon? Ini sangat menyedihkan.” Kata JongIn.
“Aku pernah melihatnya masuk ke dalam rumah ini.” Jawabku setengah hati.
“Yasudah panggil saja.” kata JongIn.
“Oppanya sangat menyeramkan. Aku harus mempersiapkan diri dulu.”
“Baiklah tarik nafas…” kata JongIn, aku menarik nafasku dalam dan membuangnya melalui mulutku. Aku bersiap memanggil JiYeon, karena disini tak ada bel atau alat bantu apapun. JiYeon tak punya ponsel, dan memang tak ada cara lain selain berteriak memanggilnya.
“J…..”
“Ilhoon-ah!!! Sedang apa kau disini??” suara yeoja yang aku sangat sangat sangat mengenalnya. Perlahan aku berbalik, dan…
“Noona-ya! Kau mengikutiku??”
“Tidak.”
“Lalu????”
“Aku akan menemui kekasihku.” Jawabnya santai.
“Jadi…. Selama ini……” Aku mulai khawatir.
“Ye! Jangan melihat kondisi rumahnya. Kekasihku itu sangat baik.”
“Dan Kau… apa yang kau lakukan disini??” Lanjutnya.
“Naega..”
“Kau seharusnya sudah ada di rumah sekarang.” Dia memukul lenganku. Ah, sial sekali harus bertemu kakak sepupuku disini. Dia anak dari adik eomma. ‘Cha Yoori’, dia sudah seperti kakak kandungku sendiri. Dia tinggal di rumahku sejak kecil. Orangtuanya ada di Amerika, jadi mereka menitipkan Yoori noona pada eomma.
“Aku sedang…” kata-kataku terhenti saat aku melihat JiYeon dan JunHyung Hyung keluar.
“Yoori-ya kau sudah lama disini?” Tanya JunHyung pada Yoori Noona. Aku masih tak percaya mereka ternyata berpacaran.
“Aku sedikit mengobrol dengan adikku ini aku sendiri belum tahu kenapa dia juga bisa ada disini.” Jawab Yoori noona.
“Annyeonghaseyo..” aku membungkuk.
“Kau??!” JunHyung Hyung menatapku tajam. Dan..



~Continue

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar