Senin, 08 April 2013

Fan Fiction ~ Just For You Part 2.



Tittle : Just For You. Part 2
Author : Mutiara Dini / Kwon Yura.
Cast : JiYeon T-ARA , Woohyun Infinite, Minzy 2NE1, Daehyun B.A.P
Other Cast: temuin sendiri ^^
Disclaimer : FF ini asli punya saya, Cast punya Tuhan, No Bash, No Plagiat.

-Happy Reading-

*Jiyeon POV
                Sekitar 20 menit aku dan Daehyun menunggu Minji sadar. Dokter mengatakan kalau ternyata Minji terpeleset hingga kepalanya terbentur. Aku harap dia baik-baik saja.Daehyun terlihat cemas. Dia begitu khawatir seperti menganggap Minji itu kekasihnya.Aku benar-benar sedih melihat hal ini. aku menyukaimu Jung Daehyun.
“JiYeon..” terdengar suara lirih Minji yang baru saja terbangun. Dia masih memegangi kepalanya.
“Minji-ya, kau masih pusing?” Dengan cepat Daehyun menanyakan keadaan Minji.
“Pabo.. bagaimana kau sampai terpeleset?” kataku seraya memukul pelan kaki Minji.
“Kenapa kau memukulnya?” kata Daehyun dengan tatapan seramnya membuatku terkejut.
“ng.. ng.. aku biasa memukul Minji.. lagi pula itu pelan..”jawabku seraya memegangi leherku.
“Dia sedang sakit. Jangan jadikan itu kebiasaan.” Daehyun kembali membela Minji.
“Daehyun Oppa.. aku dan JiYeon biasa saling memukul.. akuyang lebih sering memukulnya. Lagipula aku tidak merasa sakit. Aku hanya tidak sengaja terpeleset. Aku bukan sedang sakit parah. Kau berlebihan.” Kata Minji membelaku. Aku benar-benar kesal, apa aku sudah salah menyukai namja?Sepertinya dia tidak menyukaiku sama sekali.
“Minji-ya.. mianhaeyo… mm.. sudah ada yang menjagamu.. aku yakin kau akan cepat sembuh. Kau yeoja kuat ^^. Annyeong!” aku membungkuk lalu segera melangkah pergi.
“Ah jinjja! Pabo-ya! Harusnya jangan seperti itu di depan JiYeon! Huh!” dari balik pintu yang belum tertutup sempurna aku mendengar suara Minji memarahi Daehyun, Minji berusaha mendekatkan aku dan Daehyun, tapi itu justru membuat Daehyun menyukai Minji. Ingin bunuh diri saja rasanya.
~*~*~*~*~
                Berkeliling di kota Seoul untuk mencari lowongan kerja Paruh Waktu. Sungguh melelahkan. Dan aku tidak membawa uang lebih untuk membeli minum. Semangat Park JiYeon. Kau tidak boleh menyerah. Ulang tahun Woohyun seminggu lagi, kau harus bisa membelikannya Kursi Roda.
“Woohyun-ssi.. andaikan aku datang lebih cepat saat itu,mungkin kakimu akan baik-baik saja.” Gumamku masih sambil berjalan melewati trotoar. Aku menatap jalan raya di hadapanku. Masih teringat jelas setahun yang lalu Woohyun mengalami kecelakaan di jalan ini.
*Flash Back On*
                Saat itu aku sedang melewati trotoar seperti biasa dari sekolah sebelum menuju subway. Aku melihat seorang namja dengan seragam sekolah ternama di Korea berdiri di pinggir jalan dengan wajah yang sangat muram. Ya, dia woohyun.
                Aku berdiri sekitar 3 meter dari tempat Woohyun berdiri. Aku tetap berjalan biasa,namun mengejutkan karena Woohyun tiba-tiba berlari ke tengah jalan saat sebuah mobil sedang melaju kencang, seketika aku berlari dan menarik Woohyun. Namun aku hanya berhasil menariknya sedikit, dia terjatuh dan kakinya terlindas oleh mobil yang melaju kencang.
                Aku bingung bukan main, banyak orang mengerumuni kita, aku tidak melihat darah,tapi Woohyun tidak sadarkan diri, aku sangat cemas dengan kakinya. Aku segera meminta bantuan untuk membawanya ke rumah sakit.
                Sesampainya di rumah sakit, dokter sudah menanganinya, dan kenyataan menyedihkan saat aku harus mendengar bahwa kaki kanan Woohyun lumpuh. Aku bukan saudaranya, aku bukan temannya.. aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi entah mengapa aku ingin sekali menolongnya. Percayalah.. aku menghabiskan tabunganku hanya untuk biaya pengobatan Woohyun.
                Aku menyuruhnya untuk tinggal bersamaku di apartment kecil. Aku tahu mungkin ini salah. Aku seperti menyembunyikan Woohyun dari keluarganya. Tapi apalagi yang bisa aku lakukan. Saat 1 bulan tinggal bersamaku saja dia sudah tiga kalimencoba bunuh diri. Dia sedang dalam depresi berat. Awalnya dia kesal padaku karena tak membiarkan dia mati saja saat itu. Tapi lama-kelamaan dia mulai mau bicara denganku. Aku mencoba mengajaknya bercerita dan dia menceritakan semua masalahnya. Dia menangis menceritakan masalah dalam keluarganya, masalah dalam sekolahnya, dan masalah dengan yeojanya yang saat itu hubungan mereka baru saja berakhir.
                Aku mencoba mengerti, karena memang masalahnya sangat rumit, dia memohon padaku agar tetap membiarkannya tinggal bersamaku, dia tidak ingin kembali ke masa lalunya, dia ingin memulai hidup barunya, dia hanya ingin tahu kalau yang ia punya sekarang hanya aku. Aku benar-benar tersentuh dengan kata-katanya saat itu. Dan aku seketika berjanji untuk terus menjaga dan merawatnya, aku menganggapnya seperti kakakku sendiri, dan aku yakin lumpuhnya akan sembuh suatu saat.
*Flashback Off*
~*~*~*~*~
                Setelah berjalan lama, akhirnya aku menemukan lowongan kerja paruh waktu di sebuah toko accessories. Tanpa basa-basi aku segera masuk dan melamar pekerjaan di tempat itu,dan aku beruntung karena langsung di terima saat itu juga.
~*~*~*~*~
                Aku bekerja hingga larut, Woohyun tertidur di kursi, Televisi masih menyala. Aku mengambil selimut dan menyelimutinya. Aku mematikan televisi dan akan menujukamar untuk tidur, aku sangat lelah. Namun.. Woohyun meraih tanganku.
“Woohyun-ssi.. kau belum tidur?” Tanyaku terkejut.
“Aku menunggumu..” Jawabnya seraya mulai bangun dan duduk.
“Apa kau belum makan?”
“Aku tidak lapar..” Jawabnya tersenyum.
“kau sangat lelah..? duduklah disini..” Lanjutnya. Akupun menurutinya dan duduk di hadapannya dengan membelakanginya. Aku tahu dia akan memijat bahuku. Dia sering melakukan itu saat aku terlihat lelah. Dia sangat pandai dalam memijat.
“Kenapa baru pulang?” Tanyanya.
“Sekolah menambah jam belajar, dan setiap hari aku harus pulang hingga jam segini.” Jawabku lalu menghela nafas panjang. Maafkan akuWoohyun oppa. Aku harus berbohong padamu.
“Jinjjayo? Sekolahmu menyebalkan sekali..” kata Woohyun oppa masih dengan memijatku.
“Ne, sangat menyebalkan..”
“JiYeon-ssi Gomawo..” kata sedikit berbisik padaku.
“Mwoyo?”
“Gomawo… kau sangat baik padaku.”
“Ne, aku sudah menganggapmu seperti kakak kandungku sendiri..^^”
“ne? kakak? Mm.. ne..” jawabnya, lalu aku berbalik dan berdiri di hadapannya.
“Bolehkah aku memeluk kakakku?” Tanyaku dan tanpa mendengardia berkata iya atau tidak, aku segera memeluknya. Aku sangat bersyukur bisatinggal bersama Woohyun oppa. Aku selalu bisa melepaskan semua penatku jikasudah mengobrol dengannya. Saat aku lelah seharian. Aku hanya membutuhkan senyumnya dan semua akan hilang.

*Woohyun POV
                Aigoo, JiYeon memelukku. Ini pertama kalinya JiYeon memelukku. Aku sangat bahagia walau ini hanya beberapa detik saja. ingin sekali aku berdiri dan memeluknya dengan nyaman, JiYeon harus membungkuk untuk memelukku.
“Gomawo Woohyun-ssi.. aku bahagia mengenalmu.” Dia tersenyum untukku.
“Seharusnya akulah yang berterima kasih padamu JiYeon.. akumasih bisa hidup karena kau.” Aku menggenggam tangannya.
“Kau harus tetap sehat untukku.. aku yakin kau pasti sembuh.Kalau kau sembuh, aku akan sangat beruntung karena kau bisa menjagaku..”kata-kata JiYeon membuatku tahu kalau dia sangat ingin aku sembuh, dia mengharapkan agar aku bisa menjaganya, kata-kata ini akan selalu aku ingat. Ini motivasiku untuk berjuang sembuh dari lumpuh ini. Dokter bilang, Tulangku baik-baik saja.. hanya ada syaraf yang bermasalah hingga aku tidak bisamenggunakan kakiku dengan baik. Aku pasti bisa sembuh. Kau bisa sembuh Nam Woohyun!.
“Ne, JiYeon-ah.. aku akan sembuh untukmu.. aku akan berusaha..” Jawabku seraya mengelus rambutnya.
“Sebaiknya kita tidur sekarang, ini sudah larut malam..” dia mengajakku untuk tidur. Ya, kita tidur di ranjang yang sama. Tapi aku bukan nappeun namja yang mempunyai niat kurang ajar pada JiYeon. Kami tidur seperti biasa. JiYeon di sebelah kiri dan aku di sebelah kanan.
“Tidurlah yang nyenyak..” ucapku seraya memejamkan mata.
~*~*~*~*~
--Seminggu kemudian—
*Author POV
                Akhirnya hari-hari yang di tunggu JiYeon tiba, ‘Ulang Tahun’ Woohyun. JiYeon sudah sangat bekerja keras untuk mempersiapkan semuanya. Sejak malam harinya saat Woohyun Tidur, dia membuat sendiri kue ulang tahun dan makanan-makanan lainnya.
“Saengil chukha hamnida.. Saengil chukha hamnida..Saranghaneun Woohyunie.. Saengil Chukha hamnida…..” JiYeon bernyanyi lagu ulang tahun saat Woohyun baru membuka matanya di pagi hari. Woohyun terkejut sekaligus bahagia. dia segera duduk dan JiYeon duduk berhadapan dengan Woohyun di atas ranjang.
“Jeongmal Gomawo JiYeon-ah.. aku tidak menyangka kau mengingat hari ulang tahunku.” Woohyun terlihat sangat bahagia.
“Cheonmaneyo Woohyun-ssi… aku mana mungkin melupakannya. Ayo make a wish kemudian tiup lilinnya.”
“Ne..” Woohyun memejamkan matanya, dia berdo’a agar bisa sembuh dan bisa menjadi laki-laki yang pantas untuk menjadi kekasih JiYeon.Kemudian Woohyun meniup lilinnnya.
“Selesai..” Woohyun tersenyum.
“Kau membeli atau membuat sendiri kue ini?” Tanya Woohyun.
“Aku membuatnya..”
“Jinjjayo? Kapan kau membuatnya?”
“Tadi malam saat kau tidur…”
“Ahh.. jinjja… kau sampai tidak tidur… gomawo JiYeon-ah..aku akan menghabiskan kue ini.. JiYeon jjang!” Woohyun mengambil kue itu dari tangan JiYeon. Woohyun tersentuh dengan apa yang di lakukan JiYeon. Woohyunjuga segera memakan satu potong kue yang baru saja ia potong sendiri.
“Mm.. kau suka?”
“Aku akan sangat suka apapun yang kau buat.. kue ataumasakan apapun.. semuanya terbaik.” Jawab Woohyun dengan kue di mulutnya yang belum ia telan semuanya.
“Aku senang mendengarnya…” kata JiYeon.
“Woohyun-ssi..”
“Hmmm..”
“Karena ini hari ulang tahunmu.. kau ingin aku memberimu kado apa?” Tanya JiYeon, dia sudah menebak-nebak, pasti Woohyun akan meminta Kursi Roda.
“Mwoya? Aku tidak ingin apa-apa..”
“Ayolah katakan saja…” bujuk JiYeon, akhirnya Woohyun menatap JiYeon.
“Mmm.. aku ingin… kau… memanggilku Oppa setiap hari.”
“Ng? itu saja?” JiYeon heran.
“Ne..” Woohyun tersenyum.
“Baiklah.. aku akan memanggilmu Oppa.. saengil chukhayo Oppa!”
“Gamsahamnida~~~~~^^” Woohyun gemas dan mencubit pipiJiYeon.
“Oppa.. aku punya sesuatu untukmu.. anggap saja ini kado untukmu…”
“Aigoo.. apa lagi?”
“Sudah jangan banyak bicara.. ini penyanggamu dan ikut ke Ruang tamu sekarang.. kaja Oppa!” JiYeon berjalan lebih dulu. Dan Woohyun mengikutinya.
--Di Ruang Tamu—
“Ta-dah!” JiYeon menunjukkan kursi rodanya.
“Kursi Roda? Untukku?”
“Ne.. agar aku bisa pergi ke taman denganmu.. agar aku bisa mengajakmu menonton musical suatu saat.. aku pikir akan sangat lelah jika kau harus menggunakan penyangga itu untuk pergi jalan-jalan… aku tahu kau bosan..jadi aku membelikan ini untukmu..” JiYeon tersenyum. Woohyun segera memeluk JiYeon dengan satu tangannya. Dia terharu karena tidak menyangka JiYeonmemikirkannya sampai seperti ini.
“Aku benar-benar tersentuh dengan semua perlakuanmu padaku JiYeon. Aku benar-benar berterimakasih.” Kata Woohyun masih dengan memelukJiYeon.
“Aku ingin membuatmu selalu tersenyum Oppa… Senyummu yang terbaik.. senyummu yang membuat semua lelahku hilang seketika.”
“Hmmm…”
“Oppa..”
“Ne..” Woohyun melepaskan pelukannya.
“Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan sore ini. kita pergi ke sungai Cheonggyecheon, aku akan mendorongmu di atas kursi roda menyusuri tepi sungai itu, hanya sekedar menghirup udara segar. Kau tahu tempat itu kan?Aku sudah membayangkannya sejak lama.. kau mau Oppa..?” Ajak JiYeon.
“Apapun yang membuatmu bahagia.” Jawab Woohyun. ^^
~*~*~*~*~
                Ditempat lain, Daehyun dan Minji sedang makan siang bersama. Minji ingin menanyakan soal kelangsungan hubungan Daehyun dan JiYeon.
“Daehyun Oppa.. cobalah lebih agresif.. JiYeon bukan type yeoja yang mau mendekati lebih dulu..” kata Minji.
“Bagaimana bisa aku memulai lebih dulu sementara aku tidak menyukainya.” Jawab Daehyun.
“Oppa… jaebal.. JiYeon sangat menyukaimu..”
“ne?”
“Ne… bagaimana bisa kau menyukainya kalau kau tidak mau mencoba untuk mendekatinya..”
“Kenapa kau ingin sekali aku menjadi kekasih JiYeon?Kau seperti memaksaku.” Tanya Daehyun menatap tajam Minji.
“Mmm.. aku hanya ingin ada seseorang yang bisa membuatnya berhenti memikirkan Woohyun.”
“Woohyun?”
“Namja yang tinggal serumah dengan JiYeon.”
“Mwoya?? Tinggal serumah? Apa mereka sudah pernahh…”kata-kata Daehyun terpotong.
“Hey nappeun namja! JiYeon bukan orang yang seperti itu.”
“Apa mereka berpacaran?”
“Mana mungkin JiYeon berpacaran sementara dia menyukaimu…”
“Huahhh…” Daehyun terlihat keberatan.
“Jaebal Oppa…”
“Apa kau tidak tahu kalau aku sedang menyukai yeoja lain!” kata Daehyun membuat Minji terkejut.
“Huh? Jinjja? Nuguya?”
“Yeoja berambut pendek..”
“Kenapa berbelit-belit? Siapa Oppa? Minhee? Hyunri?Kwangmi? Amber? Nugu?”
“Amber??” Daehyun menatap Minji penuh Tanya.
“Lalu Siapa?” Minji benar-benar penasaran, siapa sebenarnya gadis itu, dia ingin sekali membuang gadis itu, agar rencananya menyatukan JiYeon-Daehyun berhasil.
“Gong Minji.” Jawab Daehyun santai seraya meminum juice di depannya.
“M.. m..mwoyo?”
“Min to the Ji..”
“hah! Jeongmal!!!!! Oppa wae…? ” Minji menutupwajahnya. Dia tak percaya apa yang Daehyun katakan. TT___TT
“Wae???? Apa tidak boleh?” Daehyun malah tertawa melihat ekspresi Minji.
~*~*~*~*~
--Sore hari di Sungai Cheonggyecheon—
                JiYeonmengajak Woohyun untuk menghirup udara segar sore itu. Kebetulan sungai Cheonggyecheonlokasinya tidak terlalu jauh dari apartment JiYeon. JiYeon menggunakan pakaian simplenya, begitu juga Woohyun.
“Oppa kau senang?” Tanya JiYeon.
“Tentu saja, karena aku bersamamu.. tapi aku sedih karena kau terlihat lelah mendorong kursi roda ini.”
“Oppa… aku tidak apa-apa.. aku yeoja kuat.. aku akan kembali segar saat melihat senyummu..”
“hehe.. gomawo..”
                Saat JiYeon dan Woohyun masih menikmati udara segar, Minji dan Daehyun melihat mereka berdua.
“whoa itu JiYeon..” Minji memutar tubuh Daehyun untuk berbalik agar JiYeon tidak melihat mereka.
“Oppa kau lihat namja yang bersama JiYeon kan..? dia Nam Woohyun.. namja yang tinggal bersama JiYeon..yang tadi aku ceritakan..”Lanjut Minji.
“Apa dia sedang sakit?”
“Ne.. kaki kanannya lumpuh..”
“Ah.. kasian sekali dia..” Daehyun menghela nafas.
“Oppa dekati JiYeon sekarang.”
“Aku Tidak mau!”
“Please…” Minji menunjukkan puppy eyes-nya.
“Ye!” Daehyun terpaksa menuruti kata Minji dan dengan bekal acting yang baik.. Daehyun segera mendekati JiYeon dan Woohyun.
“Ehemm..” Daehyun mencoba membuat JiYeon menoleh kearahnya. Dan saat JiYeon menoleh pada Daehyun. JiYeon segera membungkuk.
“Oppa?”
“Kau dengan siapa?” Tanya Daehyun menatap Woohyun.
“Mmm.. ini Woohyun Oppa..”
“Bukankah kau pernah mengatakan kau menyukaiku.. lalukenapa pergi bersama namja lain?” Tanya Daehyun yang tentu saja membuat dada Woohyun seakan tersambar petir. Woohyun menunduk.
“Dia....” JiYeon menatap Woohyun.

~TBC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar