Senin, 08 April 2013

Fan Fiction ~ Just For You Part 5. (END)


Tittle : Just For You. Part 5. (END)
Author : Mutiara Dini / Kwon Yura.
Cast : JiYeon T-ARA , Woohyun Infinite, Minzy2NE1, Daehyun B.A.P
Other Cast: temuin sendiri ^^
Disclaimer : FF ini asli punya saya, Castpunya Tuhan, No Bash, No Plagiat.

-Happy Reading-

*Author POV
                Yeojaitu.. Nam Yura. Dia datang bersama Baro. Woohyun menatap Baro sinis. Baro juga menatap Woohyun sebentar lalu berdiri dan melihat-lihat foto yang ada di dinding.
“Kekasihmu?” Tanya Baro menunjuk foto JiYeon.
“Ne.” Jawab Woohyun singkat.
“Oppa.. katakan padaku apa yang terjadi pada kakimu?” Tanya Yura.
“Aku kecelakaan.. jangan pedulikan aku..bukankah kau dan Noona bilang aku hanya anak adopsi.. aku anak adopsi yang tak pantas tinggal bersama kalian.”
“Adopsi??” Baro seketika menoleh pada Yura danWoohyun.
“Oppa Mianhaeyo… aku memang salah.. aku sekarang mengerti bagaimana pentingnya kau di rumah… kau tahu.. Eomma menangis setiap hari memikirkan kau..”
“Eomma..” tatapan Woohyun kosong.
“Aku benar-benar merindukan saat dimana kau mengantarku sekolah.. saat kau membantuku membuat kerajinan sekolah.. saat kau selalu mengalah jika aku marah.. kau kakak yang sangat baik tapi aku kelewatan karena mengikuti Eonni.. aku minta maaf Oppa.. aku mohon pulanglah ke rumah..”
“Tapi aku merasa lebih nyaman berada disini..aku tidak ingin pulang..” Woohyun menunduk.
“Oppa..” Yura memegang lengan Woohyun.
“Woohyun-ssi.. bukan bermaksud ikut campur urusanmu… tapi apa kau tak kasihan pada Yura… dia mencarimu kesana kemari..Ny.Nam selalu menangis.. Pulanglah dan bersekolah kembali.. aku berjanji tak akan mengganggumu lagi. Aku akan mencoba berbicara pada Yongguk Hyung dan Zico.”
“Aku lumpuh.. aku akan menyusahkan mereka..”
“Jangan bicara seperti itu Oppa…”
“Lebih baik kalian pulang dan jangan kesinil agi. Aku akan kembali jika kakiku ini sudah sembuh.. katakan pada Eomma aku baik-baik saja. Katakan pada Eomma aku hanya ingin punya waktu sendiri.”Woohyun meninggalkan Yura dan Baro ke kamarnya. Woohyun memikirkan eommanya,tapi dia tak bisa pulang dalam keadaan seperti itu. Woohyun mencoba berjalan tanpa penyangga tapi sangat sulit.
~*~*~*~*~
                Lima bulan berlalu, JiYeon semakin menyayangi Daehyun. Daehyun juga semakin menunjukkan sifat baiknya. Woohyun tetap bersabar.. mencoba melupakan perasaannya, tapi dia tak bisa melakukan itu. JiYeon bersamanya setiap hari. Tidur di ranjang yang sama.. makan bersama.. bercanda.., mana mungkin Woohyun bisa melupakan perasaannya dengan cepat.
                Hampir setiap hari juga Woohyun bertemu Baro. Baro pindah ke apartment yang sama dengan JiYeon. Jadi mereka sering berpapasan, Baro berusaha mengajak Woohyun berbicara, walau Woohyun sering mengabaikan Baro. Baro sebenarnya namja yang baik, berbeda dengan dua temannya ‘Yongguk dan Zico’ yang memang benar-benar hobby membully teman-teman lain yang terlihat lemah.
~*~*~*~*~
                Suatu hari, Daehyun mendapati Minji menangis. Daehyun segera menghampiri Minji dan mencoba menenangkannya.
“Minji-ya.. uljima.. siapa yang membuatmu menangis?” Tanya Daehyun.
“Dongwoo Oppa..”
“Apa yang dia lakukan??!”
“Dia berselingkuh..” Minji menutupi wajahnya dan masih menangis. Daehyun sebenarnya ragu-ragu akan memeluknya. Tapi dia tidak bisa membiarkan Minji menangis tanpa melakukan apapun. Daehyun memeluk Minji. Menenangkannya, menghapus airmatanya. Daehyun ingin sekali menghajar Dongwoo.
“Andai kau memilihku saat itu.. Dongwoo selalu berusaha merebut apa yang aku sukai. Dia pasti tak bersungguh-sungguh denganmu Minji.. Mianhae.. ini karena aku..”
“Oppa..” Minji memeluk Daehyun, Minji merasa nyaman karena Daehyun berhasil menenangkannya.
~*~*~*~*~
“Namjaga saranghal ttaeen.. kkok hangsang .. gyeote meomul myeonseo.. neul haejugo sipeunge cham manha..
Sarange ppajil ttaen.. nae sarmui.. modeungeol da jugoseo.. dan hana geu mamman barae..
Sarange ppajil ttaen..” Woohyun bernyanyi (Infinite – Man in Love). JiYeonmendorong kursi rodanya.
“Aku suka lagu itu Oppa..”
“Hehe.. lagu untukmu..” kata Woohyun dan JiYeon tersenyum.
---
“Aku masih mencintaimu Minji...” Suara seorang namja.
Seketika JiYeon menghentikan langkahnya saat mendengar suara namja yang sangat ia kenal. Woohyun juga mendengarnya dan segera memegang tangan JiYeon. JiYeon perlahan menoleh pada sumber suara yangtak jauh dari tempatnya berdiri.
“JiYeon abaikan suara itu, ayo kita lanjutkan kesana...”  Woohyun berusaha membujuk JiYeon agar tidak melihat Daehyun dan Minji. Woohyun tak ingin JiYeon sakithati. Namun JiYeon malah berjalan mendekati Daehyun dan Minji, JiYeon sampai meninggalkan Woohyun sendiri.
---
“Oppa..” JiYeon mulai mengeluarkan airmatanya.Daehyun sangat terkejut dan segera melepas pelukannya.
“Chagi-ya?” Daehyun menjadi salah tingkah.
“Minji-ya..” bibir JiYeon bergetar. Tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin.
“JiYeon-ah... kita... kita tidak...” Minji juga menjadi salah tingkah.
“Chagi.. mianhae.. ini tidak seperti yang kau bayangkan..” Daehyun mendekati JiYeon, lalu memeluknya. Tapi JiYeon segera mendorong Daehyun menjauh darinya.
“Oppa.. aku mendengarnya.. mendengar apa yang sudah kau katakan barusan pada Minji.. aku tidak menyangka Oppa seperti itu..dan.. kau mengatakan itu pada sahabatku.. Oppa hatiku benar-benar..” JiYeon masih menangis. Meletakkan telapak tangannya pada dadanya. Dada JiYeon terasa sesak.
“JiYeon Mianhaeyo..” Minji juga mendekati sahabatnya itu. Ingin meraih tangan JiYeon. Tapi JiYeon menghempaskannya.
“Aku benci kalian!” JiYeon berlari. Daehyun duduk dan memukul kepalanya sendiri. Minji meminta maaf pada Daehyun. Woohyun berusaha mengikuti JiYeon, dia berusaha sendiri menggerakkan sendiri kursi rodanya, JiYeon melupakannya karena mungkin pikirannya sedang kacau.
“JiYeon!!!!! Berhenti!!!” teriak Woohyun, saat dia melihat ada Mobil yang melaju kencang. Tapi JiYeon tidak mendengarnya. Dan.. ‘Miracle’ .. Woohyun berlari untuk segera menarik JiYeon. Tapi mobil itu sudah terlalu dekat hingga Woohyun memutusan untuk hanya memeluknya,menempatkan dirinya yang lebih dekat dengan mobil. Dan syukurlah mobil itu bisa berhenti sekitar 25 cm dari kaki Woohyun. Woohyun segera bernafas lega dan mencium kepala JiYeon dan tetap mendekapnya. Daehyun dan Minji melihat kejadian itu dari sisi jalan.
“Oppa.. kakimu..” JiYeon segera membalik badannya dan melihat kaki Woohyun.
“J.. J.. JiYeon.. kakiku.. kakiku... apa aku bermimpi? JiYeon aku berdiri, dan aku berlari tadi...” Woohyun gugup saat melihat kakinya sendiri. Dia belum berani menggerakkan kakinya. Woohyun mengeluarkan satu tetes airmatanya karena bahagia akan keajaiban ini. JiYeon segera memeluk Woohyun. Semua orang yang ada di sekitar Woohyun dan JiYeon malah memperhatikan mereka berdua.
“Oppa .. kau sembuh...” JiYeon terharu, untuk beberapa saat JiYeon melupakan sakit hatinya pada Daehyun karena terlalu bahagia akan kesembuhan Woohyun.
“JiYeon.. ini benar terjadi? Apa ini benar-benar terjadi?” Woohyun masih belum percaya. JiYeon mundur tiga langkah.
“Oppa kemari...” JiYeon merentangkan tangannya, dan perlahan Woohyun menggerakkan kakinya, dia merasakannya, diamampu mengontrol kaki kanannya lagi. Dia benar-benar sudah sembuh. Woohyun segera memeluk JiYeon. Setelah itu, pandangan Woohyun segera beralih menatap Daehyun.Woohyun menghampiri Daehyun dan memberi satu pukulan keras di pipi Daehyun.
“Jangan pernah dekati JiYeon lagi!” Woohyun menarik kerah baju Daehyun lalu melepaskannya dengan kasar.
“Dia nae yeoja!” teriak Daehyun, membuat Woohyun kembali berbalik.
“Dia kekasihmu? lalu Minji juga kekasihmu??? Yang benar saja! Hah!” Woohyun membentak Daehyun. Woohyun berubah menjadi sangat berani karena JiYeon. JiYeon mendekati Woohyun dan Daehyun.
“Daehyun-ssi . hubungan kita berakhir. Dan kau...” JiYeon menatap Minji.
“JiYeon-ah.. Mianhae..” Minji menatap sedih sahabatnya.
“Ah.. aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat padamu... lakukan saja apa yang kau mau!” kata JiYeon. Daehyun bersimpuh di hadapan JiYeon.
“Jeongmal Mianhaeyo.. aku tidak ingin berpisah denganmu Chagi-ya..” kata Daehyun, JiYeon kembali mengeluarkan airmatanya.
“Bangunlah Oppa.. jangan seperti itu.. aku menyayangimu.. tapi aku tidak bisa terus menyayangi namja yang tidak sepenuhnya menyayangiku. Mianhaeyo oppa.. aku tidak bisa bertahan denganmu..” JiYeon menggandeng tangan Woohyun, Melipat kursi roda Woohyun, dan segera pergi menjauh dari Daehyun yang lemas dan tetap bersimpuh.
“JiYeon-ssi...” Daehyun sangat menyesal.
~*~*~*~*~
-- Di balkon apartment--
*Woohyun POV
                Malam ini.. aku benar-benar merasa bahagia. Aku berdiri disini tanpa Penyangga. Aku berdiri disini dengan JiYeonku.. dia bukan milik Daehyun lagi. Dia mungkin masih sedih sekarang. Aku ingin sekali ikut sedih, tapi aku tidak bisa, yang aku rasakan sekarang hanya bahagia.
“Hmmm..” JiYeon memejamkan matanya dan menghirup udara malam.
“Aku akan melupakannya..” Lanjutnya lalu menatap kerlap-kerlip lampu-lampu kota dan perumahan yang sudah tersaji dihadapan kita.
“Apa kau baik-baik saja? Apa hatimu terasa sangat sakit?” Tanyaku.
“Sangat sakit.. perih.. tapi kau sedikit mengobatinya.. aku senang kakimu sembuh Oppa.. ini keajaiban..” JiYeon tersenyum.
“Ini semua karena kau.. aku sembuh untukmuJiYeon.. Just For You..” Kini aku memeluknya dari belakang. Malam ini sangat dingin. JiYeon memegang tanganku yang mendekapnya.
~*~*~*~*~
--Beberapa hari kemudian--
                Hari ini aku akan pergi ke jalan-jalan bersama JiYeon. Aku sangat bersemangat karena kali ini aku bisa berjalan normal. Aku bisa menjaga JiYeon. Saat di depan apartment aku bertemu Baro dan Zico. Ah sial! Jaebal.. jangan melihatku..
“Hey Woohyun!” Zico menepuk pundakku. Huh..dia melihatku. JiYeon menatapku penuh tanya.
“Kemana saja kau??! Haha..” Tanya Zico.
“Sudah abaikan saja dia.. kaja!” kata Baro. Akutahu dia berusaha menjauhkan Zico dariku.
“Aku kira kau sudah mati!” kata Zico kasar.
“Kau ini bicara apa?? Kenapa kau kasar sekali padanya??!” JiYeon mendorong bahu Zico. Aduhh.. kenapa JiYeon melakukan itu. :’(
“Memangnya kenapa??! Apa tidak boleh?? Dia ini bawahanku di sekolah. Dia sudah kabur dari majikannya! Kau tahu!” Zico membentak JiYeon.
“Jangan membentaknya! Aku bukan bawahanmu! Dan jangan mengganggu hidupku lagi!” Aku menatap tajam Zico. Zico mengerutkan dahinya. Dia sangat meremehkanku.
“Ye! Kau sudah berani sekarang. Lihat saja! Kauakan habis di sekolah!” Zico menunjukkan senyum evilnya. Aku segera menarik JiYeon menjauh dari Baro dan Zico.
                Aku dan JiYeon pergi ke sebuah rumah makan ramyeon. Rumah makan kecil, tapi JiYeon mengatakan padaku kalau ramyeon disini sangat lezat. Berbeda dari yang lainnya.Aku dan JiYeon memilih meja makan yang terdapat di ujung. JiYeon sering kerumah makan ini bersama Minji sebelumnya.
“Aku tak menyangka persahabatan kita akan berakhir hanya karena seorang namja..” JiYeon menyandarkan kepalanya di dinding. Aku mengikutinya agar mata kami bisa sejajar.
“JiYeonku sangat baik hati.. aku yakin kau akan memaafkannya suatu hari nanti.. sekarang ada aku.. Jangan bersedih lagi. Ayo kita makan ramyeonnya..” aku mulai mencoba Ramyeon di hadapanku. Memang terlihat sangat lezat.
“Bagaimana Oppa?”
“Mmm..” aku masih mencoba merasakannya.
“Ini enak.. tapi aku lebih suka ramyeon buatanmu..” kataku sungguh-sungguh.
“Aku akan sering membuatkannya untukmu..”
“Tapi JiYeon.. rencananya aku akan pulang ke rumahku besok..”
“Jinjjayo?” JiYeon seketika meletakkan sumpitnya.
“Waktu kau ke rumah sakit saat itu.. adik perempuanku datang ke apartment, mungkin dia tahu apartmentmu dari Baro. Baro adalah satu diantara 2 namja tadi yang bertemu kita di depan apartment. dia bercerita soal eomma yang menangis setiap hari karenaku.. aku berjanji padanya untuk pulang ke rumah saat aku sudah sembuh..”
“Ah... ne.. baiklah.. walau aku akan sangat merindukanmu..” JiYeon menunduk.
“Aku akan sering mengunjungi apartment.. aku juga pasti akan sangat merindukanmu..”
“Pasti akan sangat berbeda..” JiYeon terlihat sedih akan hal ini. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan eomma terus memikirkanku.
“Saranghaeyo..” ucapku, membuatnya menoleh cepat, tatapannya seolah menuntutku untuk mengulangi kata-kataku.
“Saranghaeyo JiYeon-ssi..” aku mengulangi kata-kataku. JiYeon tak bergeming. Aku tersenyum dan segera beranjak lalu menggandengnya untuk pergi melanjutkan jalan-jalan kita lagi.
                Kita pergi ke Namsan Tower, memasang gembok cinta kita. Aku menyatakan perasaanku lagi di atas Namsan Tower. Aku tahu ini terlalu cepat. Terlalu cepat karena hanya berjarak beberapa hari saja setelah JiYeon mengakhiri hubungannya dengan Daehyun. Tapi aku tak bisa menunggu lagi. Aku sudah menahan perasaan ini sekian lama. Aku tak peduli dia akan menjawab iya atau tidak bahkan kalau diam sajasekalipun. Lagipula apa bedanya? Dia hanya milikku sekarang. ^^
“Oppa kenapa memasang gembok cinta?” Tanyanya dengan ekspresi wajah sangat menggemaskan.
“Untuk cinta kita..” kataku sesuka hati.
“Kita?”
“Ne..” aku menggenggam tangannya.
“Aku mencintaimu Park JiYeon..”
“Ng? Aku..”
“Tidak perlu menjawab, karena aku tidak peduli jawabanmu, aku sudah menganggapnya iya.”
“Bagaimana bisa seperti itu?” JiYeon menarik tanganku yang baru saja selesai mengkaitkan gembok kita berdua. Aku mendekatkanwajahku pada wajahnya.
“Karena kau yang membuatku seperti itu. Kaja kita pulang... gembok sudah terpasang..^^” Aku menggandengnya lagi dan segera menujuapartment.
~*~*~*~*~
--Apartment Daehyun--
*Author POV
                Minji berada di apartment Daehyun, tepatnya di kamar Daehyun. Minji meminta maaf pada Daehyun, Daehyun seperti menangis semalaman, matanya sembab.. jelas saja... diamulai menyayangi JiYeon, tapi kenyataannya kini hubungan mereka sudah berakhir.Daehyun menatap fotonya bersama JiYeon di layar ponselnya. Dia benar-benar merasa kehilangan.
“Oppa maafkan aku..” Minji memegang pundak Daehyun.
“Biasanya.. saat pagi hari aku bangun tidur,aku melihat ponselku dan aku pasti sudah melihat pesan dari JiYeon. Biasanya..di hari libur dia datang dan membawakanku makanan buatannya, Biasanya.. saat hari libur juga, dia datang kesini tanpa bilang padaku, saat aku bangun tidur .. semua sudah rapi.. saat aku bangun dia sudah ada di sampingku. Tapi sekarang tidak lagi...”
“Aku menyesal melewatkannya.. saat dia pergi..aku baru tahu betapa baiknya JiYeon selama ini.. aku mulai menyayanginya akhir-akhir ini. Benar-benar menyayanginya..” Lanjut Daehyun masih menatap layar ponselnya.
“Hey Chagi.. katakan kalau ini mimpi.. ayohubungi aku sekarang..” Daehyun berbicara dengan foto JiYeon di layar ponselnya. Minji diam.. dia membiarkan Daehyun mencurahkan isi hatinya.
“Aku tidak bisa menghubunginya lagi, bahkan aku tak punya keberanian untuk menemuinya.. aku yang salah.. aku yang salah karena aku juga masih memiliki perasaan padamu.. aku yang salah karena aku pasti benar-benar membuatnya hancur..”
“Oppa... Ini semua gara-gara aku..” Minji benar-benar menyesal.
“Sudahlah Minji-ya.. aku tidak ingin mendengarkau menyalahkan dirimu.. aku satu-satunya orang yang pantas disalahkan dalam kejadian ini.” Daehyun menangis.
“Uljima..” Minji memeluk Daehyun.
~*~*~*~*~
                Keesokan harinya, Woohyun dengan perasaan yang campur aduk memberanikan diri untuk pulang ke rumahnya. Woohyun pulang dengan memakai seragam sekolahnya. Tiga kali menekan Bel, dan gerbang itu belum juga terbuka. Woohyun mengintip di pos security rumahnya, tapi sepertinya security di rumah Woohyun sedang tidak ada.Woohyun menekan lagi Bel rumahnya dan Hyosung yang berjalan pelan lalu membuka pintu gerbang rumahnya.
“Nam Woohyun??” Hyosung terkejut, Woohyun segera membungkuk memberi salam.
“Untuk apa kau pulang?” Hyosung menatap sinis Woohyun tanpa mempersilahkannya masuk lebih dulu.
“Yang jelas bukan untuk mencarimu Noona..permisi.. aku mencari eomma..” Woohyun sedikit menabrak lengan Hyosung.
“Ige Mwoya?” Hyosung mengelus lengannya.
---
“Oppa??!” Yura segera berlari dan memeluk Woohyun.
“Akhirnya kau kembali.. kakimu.. kakimu sudah sembuh?” Tanya Yura.
“Ne.. aku sudah sembuh..” Woohyun membetulkan poni adiknya itu.
“Eomma-ya!!! Oppa kembali...” Yura berteriak memanggil Eommanya. Beberapa saat kemudian Ny.Nam turun dari tangga dan segera berlari memeluk Woohyun. Ny.Nam menangis, mencium pipi anaknya itu.
“Maafkan eomma Woohyun..” Ny.Nam memperhatikan tubuh anaknya, memastikan apakah dia baik-baik saja.
“Aku yang meminta maaf eomma.. aku sudah membuat kau khawatir..”
“Woohyun?” Terdengar suara Tn.Nam. Seketika Woohyun menghampiri Appanya dan bersimpuh meminta maaf pada Appanya karena dia terlalu kekanak-kanakan menanggapi masalah hidupnya. Walau emosi, tapi akhirnyaTn.Nam memaafkan Woohyun dan segera memeluk anak laki-laki satu-satunya itu.
                Merekaberkumpul bersama, Hyosung memang sifatnya belum berubah, tapi Woohyun tidakmempedulikan Noonanya. Woohyun menceritakan semua kejadian yang di alaminya,Woohyun menceritakan dimana dia tinggal, Ny.Nam terharu dan menangis mengetahuinasib Woohyun. Ny.Nam dan Tn.Nam mengatakan juga menegaskan mulai saat itutidak ada yang boleh menganggap Woohyun orang lain dalam keluarga Nam.  Woohyun adalah bagian dari keluarga itu.Woohyun bahagia mendengarnya.
~*~*~*~*~
                Dua hari berlalu, saat Woohyun tak lagi tinggal di apartment JiYeon, JiYeon merasa benar-benar ada yang berbeda, walaupun Woohyun masih tetap menghubunginya.JiYeon selalu tidur dengan memeluk foto Woohyun. JiYeon merindukan Woohyun.
---          
                Pagi itu, Woohyun berniat memberi kejutan pada JiYeon. Woohyun datang ke apartmentJiYeon. Woohyun masuk ke kamar dan melihat JiYeon yang masih tidur dengan memeluk fotonya. Woohyun tersenyum, dia mengerti kalau JiYeon pasti sangatmerindukannya. JiYeon tidur tidak pada posisi biasanya, kepalanya kini ada disisi kanan ranjang, sepertinya JiYeon ketiduran semalam.
                Woohyun membuka tirai kamar JiYeon pelan, lalu dia mendekati JiYeon, berada di atas kepala JiYeon. Memandangi sejenak wajah yeoja yang sedang tertidur pulas itu. Woohyun mendaratkan pelan bibirnya di atas bibir JiYeon. Woohyun membangunkan JiYeon dengan ciumannya. Jiyeon sempat terkejut tapi Woohyun menenangkannya.
“Ini aku..” ucap Woohyun pelan. Nafasnya masih terasa jelas berada di atas bibir JiYeon. JiYeon kembali memejamkan matanya,Woohyun kembali menyentuh bibir JiYeon dengan bibirnya, kali ini Woohyun mulai melumatnya, JiYeon menanggapi ciuman Woohyun. JiYeon merasakan bahwa ciumanWoohyun berbeda dengan ciuman Daehyun. Woohyun melakukannya dengan lembut,seperti menggunakan cinta yang sangat tulus di setiap lumatannya. Woohyun sangat tulus menyayangi JiYeon. JiYeon menatap Woohyun yang mulai mengakhiri ciumannya dengan satu kecupan di  kening JiYeon.
“Oppa aku bahagia kau kembali kesini.” Kata JiYeon lirih.
“Kau merindukanku?” Tanya Woohyun menggoda JiYeon.
“Tentu saja.. apa Oppa tidak merindukanku?”
“Kemarilah..” Woohyun kini berada di posisi tidur seperti biasanya. JiYeon berada di samping Woohyun sekarang.
“Aku tidak tidur semalaman karenamemikirkanmu..”
“Ne?”
“Ne.. aku benar-benar merindukanmu..merindukan kamar ini.. merindukan masakanmu.. semuanya tentangmu..” Woohyunmemandang sudut-sudut ruangan yang dulunya selalu ia tempati itu.
“Kita tidur bersama di kamar ini untuk waktu yang cukup lama.. kita menonton bersama di kamar ini.. kita juga bercerita dikamar ini.. di balkon itu juga.. ahh.. aku benar-benar merindukannya..walau hanya 2 hari saja aku meninggalkannya.”
“Apa kau akan tinggal disini lagi Oppa? Atau kau akan tetap tinggal di rumahmu?” Tanya JiYeon sedih.
“Molla.. sekarang biarkan aku tidur disini..aku benar-benar mengantuk.. jangan lepaskan pelukanku kalau aku belum bangun.”Woohyun tidur dengan memeluk JiYeon. JiYeon bisa merasakan detak jantungWoohyun. JiYeon tersenyum membiarkan namjanya itu terlelap.
Tidak ada kata berpacaran pada Woohyundan JiYeon. Tapi mereka sudah menganggap kalau mereka saling memiliki satu samalain sekarang. JiYeon milik Woohyun dan Woohyun milik JiYeon.
~*~*~*~*~
--Di Sekolah Woohyun—
                Hari ini Woohyun kembali bersekolah, tapi mungkin ini terakhir kalinya Woohyun menginjakkan kaki di sekolahnya itu. Karena Woohyun sudah ketinggalan pelajaransangat jauh, Woohyun harus mengulang.
                Saat itu, Woohyun ingin pergi ke kelasnya untuk yang terakhir kali, Woohyun ingin meminta maaf pada teman-temannya karena sebelumnya tidak bisa menjadi temanyang baik dan menyenangkan. Woohyun tidak pernah bergaul dengan teman-temannya dulu.
                Ketikadi lobby, Woohyun menghentikan langkahnya karena tepat di hadapannya kiniadalah Jung Ahra, mantan kekasihnya.
“Permisi..” Woohyun ingin melewati Ahra. Tapi Ahramenghalang-halangi langkah Woohyun.
“Kau kemana saja selama ini?” Tanya Ahra.
“Apa penting kau mengetahuinya?”
“Kau benar-benar sudah melupakanku Oppa?”
“Ya, aku sudah melupakanmu, dan aku tidakingin bertemu kau lagi.” Jawab Woohyun sangat dingin.
“Oppa..”
“Mana Minhyukmu? Cari saja dia.. bukankah dia lebih baik daripada aku?”
“Aku sudah tidak dengan Minhyuk lagi..” jawab Ahra masih berdiri di hadapan Woohyun.
“Kalau tidak dengannya lagi, bukankah kau masih punya yang lain.. HimChan? Sungyeol? L.Joe? Sooman.. ? ah! Sudahlah aku tidakpunya banyak waktu.. minggir!” Woohyun terpaksa mendorong lengan Ahra. Woohyunbenar-benar muak dengan Ahra yang selalu meminta kembali padanya, tapi setelah itu ia kembali menyakiti Woohyun. Woohyun tak akan tertipu lagi untuk kali ini.
~*~*~*~*~
--Keesokan harinya—
--Di sekolah JiYeon—
                Pelajaran belum di mulai, kini JiYeon tidak lagi sebangku dengan Minji. Kini JiYeon justru sebangku dengan Dongwoo. Dongwoo sangat baik pada JiYeon. JiYeon juga menceritakan hubungannya kini dengan Woohyun pada Dongwoo. Dongwoo sangat mendukung hubungan JiYeon dan Woohyun.
---
                Seorang namja dengan pakaian seragam baru sudah memparkir mobilnya, saat namja itukeluar dari mobil semua memperhatikannya, dia sepertinya murid baru. Namja itu berjalan tenang melewati koridor-koridor sekolah menuju ruang kepala sekolah.
                Beberapamenit kemudian setelah bel berbunyi, murid baru itu masuk ke kelas JiYeon bersama dengan kepala sekolah. Semua terpesona dengan ketampanannya, kecuali.. JiYeondan Minji yang terkejut melihat namja itu. Benar saja mereka terkejut, Ya.. karena namja itu ‘Nam Woohyun’.
                Woohyun terpaksa harus mengulang dan kini ia satu tingkat yang sama dengan JiYeon.Woohyun memilih pindah sekolah ke sekolah JiYeon agar bisa bertemu JiYeon setiap hari. Walau Tn.Nam kurang setuju pada awalnya, karena sekolah Woohyun sebelumnya jauh lebih berkualitas dari sekolah JiYeon. Tapi Woohyun berusahamembujuk Appanya, hingga akhirnya dia kini dengan bangga menggunakan seragam yang sama dengan JiYeon.
“Ada apa denganmu JiYeon-ah?” Tanya Dongwoo yang aneh melihat ekspresi JiYeon. Sedangkan Woohyun masih memperkenalkan dirinya di depan.
“Dia Woohyun.. nae namja..” Jawab JiYeon.
“Jeongmalyo?” Dongwoo kurang percaya.
“Ne, untuk apa aku berbohong..” Jawab JiYeon masih sangat gugup. Woohyun menghampiri JiYeon setelah selesai memperkenalkan diri.
“Aku yang pindah di belakang. Duduklah disini bersama JiYeon..” kata Dongwoo sangat peka.
“Annyeonghaseyo yeobo-ya...” Woohyun menyapaJiYeon. JiYeon sangat gugup dan hanya tersenyum.

-END-

----- Namjaga saranghal ttaeen !

--Jeongmalgamsahamnida buat yang udah baca nih epep sampai akhir~
comment please!! =)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar