Rabu, 22 Mei 2013

Fan Fiction ~ My Precious Love , Part 2.



Tittle : My Precious LOVE. Part 2.
Author : Mutiara Dini / Kwon Yura.
Genre : Romance.
Cast : Banyak. ^_^v

Note : Mianhae kalau gaje :D aku masih belajar buat FF… hhe~ semoga suka… ^^
Disclaimer : No Plagiat . FF ini asli hasil imajinasi saya..! ^^



--Happy Reading—




“Ye… aku Jung Daehyun.” Jawab Daehyun santai. Ya, namja itu Jung Daehyun. Saudara kembar Jung Kangjun. Saat itu Daehyun yang sedang menemani Appanya, tidak sengaja melihat JiYeon yang berdiri sendiri di depan gedung, tentu saja Daehyun lebih memilih menemani JiYeon dan membiarkan Appanya lebih dulu masuk ke gedung mewah itu. Appa Daehyun sedang menghadiri pertemuan antar pemilik saham di gedung yang sama dimana Tn. Park JunYeon (Appa Taejun-JiYeon) bekerja.
“Kau Jung Daehyun! Aku peringatkan padamu Jung Daehyun! jangan mendekati JiYeon lagi!!!!!” bentak Taejun.
“JiYeonie, apa dia benar kakakmu?” Tanya Daehyun karena masih tak percaya, dan JiYeon mengangguk. Seketika Daehyun berusaha menghilangkan wajah sombongnya, lalu segera menunjukkan senyum ramahnya pada Taejun. “Hyung-ah… mianhaeyo.. aku benar-benar tidak tahu kalau kau…”
“Ter…lam..bat! Ja JiYeon! kita pulang sekarang.” Potong Taejun lalu menarik pergelangan tangan yeodongsaengnya.
Daehyun mengacak-acak rambutnya sendiri karena kesal. “Babo! Huh!” Umpat Daehyun seraya menatap punggung JiYeon dan Taejun yang mulai menjauh. Kemudian Daehyun terdiam, dia sepertinya pernah melihat Taejun.. tapi dia lupa dimana. Daehyun berpikir sebentar, tapi karena pikirannya sedang kacau dia memutuskan untuk tidak peduli dimana dia pernah melihat Taejun. Daehyun segera masuk ke dalam gedung untuk menemani Appanya, Tn.Jung ingin mengenalkan dunia bisnis pada anak kesayangannya itu. Tn.Jung juga lebih dekat dengan Daehyun daripada dengan Kangjun.

------

*Baro POV


  Siang ini, aku dan JiYeon makan siang bersama di kantin. Huuff..  aku meminjam uang pada Kangjun hanya untuk ini, untuk makan siangnya dan juga untuk… sebuah kado kecil, aku membungkusnya dengan kotak kecil berwarna merah jambu. Aku harap Jiyeon menyukainya. Dan aku juga sangat berharap namja sialan itu tidak muncul.
“Kau suka?” Tanyaku cemas lalu menggigit bibir bawahku sesaat setelah Jiyeon membuka kotak kecil pemberianku itu.
“Yeppeuda…” Jawabnya lalu segera memasang jepit rambut kecil dengan hiasan ‘love’ di atasnya. Jepit rambut itu memang sangat biasa, tapi syukurlah dia tersenyum saat melihatnya, itu cukup membuat hatiku bahagia.
Aku tersenyum, “Sesuatu yang murah akan terlihat mahal jika kau yang menggunakannya.” Ucapku menatap kagum yeoja dihadapanku ini. “Yeppeo..” lanjutku.
“Gomawo Oppa..” dia tersenyum, lalu berjalan ke arahku. Mengeluarkan ponsel warna putih miliknya lalu mengambil satu foto denganku. Dia memperlihatkan jepit rambut dariku di foto itu.
“Ehemm!” Suara seorang namja yang setiap hari merusak mood-ku. Sial!
“Apa aku boleh duduk?” Lanjutnya. Dia bertanya tapi tanpa menunggu aku menjawab, dia langsung saja duduk disamping kursi JiYeon dan menaruh berbagai macam makanan yang sudah ia pesan di meja. Aku memandangi sebentar makanan-makanan yang ia pesan, percayalah.. itu berlebihan kalau hanya untuk makan siang, aku menelan ludahku. JiYeon segera kembali ke kursinya.
“Apa kau tidak bisa sehari saja tidak muncul dihadapan kita?” Tanyaku sinis tanpa menatapnya.
“Aku lapar.” Jawabnya juga tak kalah sinis. Jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaanku.
“Makanlah yang banyak oppa..” Ucap JiYeon menunjukkan senyumnya pada namja sialan ini. Aku benar-benar muak. Nafsu makanku hilang. Tak ada yang ingin aku lakukan selain memperhatikan mereka berdua sekarang.
“Mmm… Daehyun Oppa…” Lanjut JiYeon, dia sepertinya ingin menanyakan sesuatu pada Daehyun.
“Hmmm…” Jawab Daehyun, mulutnya masih penuh makanan.
“Kau tak merasa terganggu dengan ucapan Taejun Oppa?” Tanya JiYeon pada Daehyun. Taejun? Taejun siapa? Ucapan apa?
“Tidak. Aku tidak peduli. Lagipula dia tidak melihat kita. Haha.. aku sudah biasa di musuhi namja.” Jawab Daehyun. Huahh.. aku semakin bingung dengan yang mereka bicarakan. Daehyun memang tak punya teman. Semua namja memang membencinya. Pantas saja, dia memang super menyebalkan.
“Oppa kau lihat..” JiYeon menunjukkan jepit rambut pemberianku. Haha..
“Yeppeo.” Jawab Daehyun tersenyum. Hahaha… dia belum tahu kalau jepit rambut itu aku yang membelinya untuk JiYeon.
“Baro Oppa yang membelikannya untukku.” Ucap JiYeon, aku bisa melihat dari ekspresi JiYeon kalau dia memang benar-benar suka dengan jepit rambut itu.
‘Uhukk’ Daehyun tersedak. JiYeon memberikan air putih seketika.
“Mworago? Jepit rambut itu dari dia??! Tidak jadi yeppeo! Kau terlihat sangat buruk dengan jepit rambut itu. Pasti murah. Aku akan membelikan yang lebih bagus!” kata Daehyun setelah tahu jepit rambut itu dariku. Huahh… menyebalkan. Tapi aku tidak peduli, aku sudah mendengar dia memuji sebelumnya. Aku tetap diam.
“Eoh? Tapi menurutku… ini bagus.” Jawab JiYeon.
“Kau sangat cantik. Tak usah mendengar ucapannya.” Ucapku tersenyum.
Daehyun melempar sumpitnya padaku. Aku kesal dan ingin membalasnya, tapi..
“Hajima~~~” Ucap JiYeon seraya mengarahkan tangan kanannya di depan dada Daehyun seperti melindungi namja sial itu. Aku memutuskan untuk pergi saja karena kesal. Tapi aku mendengar langkah kakinya, sepertinya JiYeon mengikutiku. Ditambah suara Daehyun yang memanggil nama JiYeon. :’)

---

*Author POV


  Suatu Hari saat hari libur, Chunji mengajak Hyeri untuk pergi ke Ski Resort. Chunji berusaha tak memikirkan masalah twitter, apalagi menanyakannya pada Hyeri. Chunji memikirkan apa yang dikatakan Naeun malam itu.
Chunji sangat bersemangat dan mempersiapkan segalanya. Tapi, saat Chunji pergi ke Toilet. Jiho dan Chihoon menarik Chunji dan menguncinya di dalam toilet. Jiho juga memberi sedikit obat bius agar Chunji pingsan. Jiho sudah mempersiapkan semua ini, karena kemarin ia mendengar Chunji membicarakan soal kencannya bersama Hyeri di Ski Resort.

  Jiho adalah teman sekelas Chunji di sekolah. Sedangkan Chihoon,Hyeri,Yoori, dan Taejun berada di kelas yang bersebelahan dengan kelas Jiho dan Chunji. Chihoon sebenarnya tidak ingin memusuhi Chunji, sebenarnya Chihoon bukanlah nappeun namja seperti yang diketahui oleh semua orang di sekolah, Chihoon berperilaku kurang baik pasti atas suruhan TaeJun. Chihoon hanya merasa tidak enak harus menolak suruhan Taejun, Taejun sudah sangat berjasa untuk hidupnya selama ini. :’(

---

Di luar, Hyeri sudah menunggu Chunji, sedikit kecewa karena Chunji tak segera kembali dari Toilet. Udara sangat dingin di Ski Resort. Hyeri menggosok-gosokkan telapak tangannya yang sudah menggunakan sarung tangan berwarna biru muda itu.
“Hyeri-ya, annyeong!” sapa seorang namja tiba-tiba.
“Oppa? Kau kesini juga rupanya..” Hyeri terkejut.
“Aku hanya menuruti hatiku untuk pergi kesini hari ini, dan benar aku melihatmu.” Ucap namja itu berbohong. Dia Park Taejun.
“Jinjjayo?” Hyeri tidak percaya dengan kata-kata Taejun. “Mmm.. kau melihat Chunji Oppa?” Tanya Hyeri, dia masih memperhatikan sekelilingnya, berharap Chunji cepat muncul.
“Aku melihatnya keluar. Mungkin dia akan pulang. Apa dia tidak memberitahumu?” Lagi-lagi Taejun mengarang cerita.
“Mwo??”
“Hubungi saja ponselnya..”
“Tidak aktif.” Jawab Hyeri seraya mencoba menghubungi kembali ponsel Chunji, namun tetap saja jawaban yang sama, ponsel Chunji sedang tidak aktif. Dan… ini ulah Jiho. Jiho yang sengaja mematikan ponsel Chunji.
 “Cha. Kalau begitu , Lebih baik kau berkencan saja denganku.” Lanjut Taejun seenaknya, dan segera menarik tangan Hyeri. Hyeri sempat menolak, tapi akhirnya Hyeri terpaksa menikmati kencannya bersama Taejun. Hyeri kecewa pada Chunji yang meninggalkannya sendiri.

---

“Hyeri-ya… aku sudah melihatnya..”  Ucap Taejun tersenyum.
“Melihat apa?” Tanya Hyeri bingung.
“Twitter...”
Hyeri menggaruk-garuk kepala belakangnya karena masih bingung. “Twitter? Ada apa? Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu.”
“Ahh.. tidak perlu malu.. aku senang kau mau mem-follow twitterku.” Taejun tersenyum. Hyeri sempat terpesona untuk beberapa detik melihat senyuman Taejun.
“Ng? Follow?” Hyeri berpikir sejenak. “Ahh.. Oppa-ya. ishh.. jinjja.” Gumam Hyeri sangat pelan, teringat Lee Hyukjae, Oppanya yang sangat jahil itu. Hyukjae adalah kakak kandung Hyeri yang sering masuk kamar Hyeri seenaknya lalu membuat kacau akun pribadi Hyeri yang ada di notebook atau ponselnya. -__-))
“Huh?” Taejun ikut bingung dengan respon Hyeri.
“Eh? Itu..? iya aku mem-follow twittermu Oppa..” Jawab Hyeri tersenyum.
“Aku tahu kau mulai menyukaiku. Aku tahu hubunganmu dan Chunji tak akan lama.”
“?” Hyeri menatap bingung namja disampingnya yang kira-kira lebih tinggi 15 cm dari tinggi badannya itu. “Kenapa berbicara seperti itu? Aku pasti akan bertahan dengan Chunji Oppa..”
“Apa kau benar-benar tak menyukaiku??” Tanya Taejun. “Kenapa lebih memilih Chunji? Apa aku kurang sempurna untukmu?” Lanjutnya.
“Chunji Oppa lebih tulus. Sedangkan kau hanya terlihat menyukaiku karena tidak mau kalah oleh Chunji Oppa. Aku tak melihat ketulusanmu. Aku pikir kau tidak benar-benar menyukaiku.” Jawab Hyeri. “Lagipula.. yeoja-yeoja di sekolah selalu mendekatimu. Mereka lebih cantik. Jadi aku tak percaya kalau kau benar-benar menyukai yeoja sepertiku.” Lanjut Hyeri lalu mempoutkan bibirnya.
TaeJun tersenyum gemas pada Hyeri, Taejun membetulkan topi rajut yang Hyeri kenakan. “Aku rasa aku mulai menyukaimu.”
“Geotjimal.”
“Kau lihat mataku, apa aku terlihat sedang berbohong?” Taejun membungkuk agar yeoja mungil di hadapannya itu bisa lebih jelas melihat matanya. Tapi Hyeri tak bergeming.
“Kau tak perlu takut pada Bomi? Suzy? Ahra? Atau yang lain.. jika aku serius pada seorang yeoja. Aku akan melindungi yeoja itu dari siapapun yang akan mengganggunya. Aku terakhir menjalin hubungan dengan yeoja tiga tahun yang lalu. Dan aku belum pernah berpacaran lagi sampai sekarang.” Ujar Taejun. Dia tidak berbohong akan hal itu.
“Aku tidak percaya.” Jawab Hyeri singkat.
“Apa kau pernah melihatku mendekati yeoja lain di sekolah itu? Aku duduk di depanmu. Kita berolah raga bersama. Ke laboratorium bersama. Mustahil kalau kau tak memperhatikan namja tampan sepertiku. Ayo katakan.. yeoja mana yang pernah aku dekati?”
“Mmm…” Hyeri tak bisa menjawab.
“Hanya kau bukan? Memang awalnya aku mendekatimu karena Chunji. Aku memang tidak bisa membiarkan Chunji bahagia. jadi aku tidak ingin membiarkan dia tersenyum bahagia karenamu.”
“Mwo?” Hyeri terkejut mendengar kata-kata Taejun.
“Tapi karena terlalu lama aku mendekatimu. Aku merasa ada yang berbeda. Aku ingin menghubungimu tiap malam. Aku ingin berusaha menjagamu. Hatiku benar-benar sakit saat kau bersama Chunji. Sepertinya kau sudah mengerti apa yang aku rasakan padamu. Apa ini cinta?”
“Lalu untuk apa kau membenci Chunji Oppa? Dan mengapa kau belum juga memiliki kekasih?” Tanya Hyeri yang masih juga belum mengerti.
“Aku akan jelaskan di mobil. Disini sangat dingin. Sebaiknya kita pulang. Untuk apa berkencan di tempat seperti ini? si miskin itu apa tidak bisa membawamu ke tempat yang lebih bagus??” Ucap Taejun seraya melihat ke sekeliling, dia takut Chunji akan keluar sebelum dia menceritakan semuanya pada Hyeri.
“Mwo? Oppa… bahkan aku belum melakukan apa-apa disini.. menurutku tempat ini juga bagus.” kata Hyeri kesal, karena dia belum sempat menikmati liburannya di Ski Resort. Dia mengomel tapi tetap mengikuti langkah Taejun.

---

--Di dalam mobil Taejun—

“Oppa.. ayo ceritakan sekarang.. katakan hal masuk akal soal kau dan Chunji Oppa.” Desak Hyeri yang sudah sangat penasaran.
“Ehemm.. sebenarnya aku sangat malas menceritakan ini padamu.”
“Waeyo?”
“Chunji sendiri juga tak mengerti bagaimana aku bisa membencinya..”
“Lalu? Apa alasanmu tidak masuk akal untuk membencinya? Kau ini benar-ben…”
“Aku membenci Chunji karena dialah yang membuat Kyuri meninggal.” Potong Taejun.
“Kyuri?”
“Nae yeoja..” wajah Taejun berubah menjadi sangat serius. Aura kesedihan terpancar dari raut wajahnya yang tampan. “Ah tidak, dia mantan kekasihku.”
“Oppa mianhae.. kau baik-baik saja? apa kau masih mau melanjutkan ceritamu?”
“Ne.. gwenchanayo…” Taejun tersenyum. “Aku sudah berusaha melupakannya. Dia meninggalkanku dengan cara yang tidak baik. Sebelum dia meninggal, dia lebih dulu menyakitiku.” Lanjut Taejun, lalu menepikan mobilnya ke bahu jalan. Suasana sore hari dengan langit yang berwarna jingga terlihat jelas saat itu walau dari dalam mobil.
“eoh?”
“Kyuri dan Chunji….. mereka… mmm.. tidak.. aku rasa hanya Kyuri yang menyukai Chunji. Tapi tetap saja.. aku tidak akan bisa memaafkan Chunji karena hal ini. Chunji yang mengalihkan perasaan Kyuri dariku. Bahkan Kyuri rela mati demi Chunji. Aku tidak tahu bagaimana bisa seperti itu. Aku tidak pernah tahu bagaimana hubungan mereka sebelumnya. Aku benar-benar merasa hancur setelah kepergian Kyuri. Aku tak bisa melakukan apa-apa sampai dia harus pergi. Aku hanya berjanji untuk tidak membiarkan Chunji bahagia.” kata Taejun seraya mengingat-ingat kejadian masa lalu yang membuatnya terpukul. Hyeri menggenggam tangan Taejun, dia tahu bagaimana perasaan Taejun.
“Apa Chunji Oppa benar-benar tidak mengetahuinya?” Tanya Hyeri.
“Aku rasa tidak. Dia juga tidak tahu kalau aku dan Kyuri pernah berpacaran. Belum saatnya untuk dia mengetahui semuanya.”
“Apa yang harus aku lakukan..” Ucap Hyeri lemas.
Taejun membetulkan poni Hyeri, “Kau menyukaiku Lee Hyeri?” Tanya Taejun. Hyeri hanya diam menatap Taejun, seperti sedang memastikan perasaannya. Taejun tersenyum setelah menatap dalam manik mata Hyeri, dia tau kalau Hyeri mulai menyukainya.
Dengan cepat Taejun memberikan kecupan singkat di bibir Hyeri. Ini cukup membuat Hyeri membeku beberapa saat, pipinya memerah, jantungnya berdebar dan dia tak tahu harus mengatakan apalagi.
“Aku akan menunggumu sampai kau bisa menyukaiku.” Ucap Taejun yakin.

------

  Keesokan harinya di sekolah, Chunji meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada Hyeri, untunglah Hyeri percaya pada Chunji. Tapi kini pikiran Hyeri menjadi bercabang, dia juga memikirkan Taejun, Taejun terlihat lebih santai dari biasanya, bahkan Taejun membiarkan Hyeri bersama Chunji.

  Hyeri berpapasan dengan Taejun di koridor sekolah beberapa kali, Taejun menunjukkan senyum terbaiknya pada Hyeri, Hyeri benar-benar berdebar menerima senyuman itu.

  Hyeri menyentuh bibirnya saat mengingat Taejun. Dia masih bisa merasakan bibir Taejun yang dingin menyentuh bibirnya kemarin di dalam mobil. Hyeri merasa sangat beruntung mendapatkan kecupan itu. Sebagian besar dari banyak  yeoja di sekolah selalu membicarakan soal bagaimana rasanya berciuman dengan Taejun, Hyeri sering mendengarnya. Dan sekarang dia sudah tahu bagaimana ciuman Taejun. Walau hanya singkat, tapi dia masih bisa merasakannya hingga keesokan harinya. Hyeri tidak bisa melupakannya.

  Saat di dalam kelas, Hyeri menjadi sangat canggung pada Taejun. Taejun sangat cool seperti biasanya. Pelajaran kosong, dan Taejun hanya mendengarkan musik menggunakan head phone berwarna hitam miliknya.

  Bomi yang juga sekelas dengan Taejun dan Hyeri, terus saja mendekati Taejun, tapi Taejun benar-benar tak mempedulikan Bomi. Murid namja sudah sangat berisik dengan tingkah konyol mereka di kelas. Hanya ada tiga murid yang hanya diam, Taejun… Hyeri.. dan Yoori.

  Yoori duduk di sebelah kanan Taejun, hanya sekitar 70 cm dari Taejun. Yoori terus memperhatikan Taejun. Dia ingin sekali mengenal Taejun, mengobrol dengan Taejun, atau bahkan hanya menyapa saja. Tapi sangat sulit, Taejun menoleh ke arahnya saja tidak pernah. Yoori menyukai Taejun sejak lama. Taejun namja yang sangat cuek dan dingin di sekolah.

---

*Hyeri POV
  Dia belum menyapaku sama sekali hari ini. ahh.. Hyeri-ya.. menagapa kau memikirkan namja kurus di depanmu ini. apa karena ciuman kemarin? Babo…, aku memukul kepalaku sendiri, aku sudah memiliki Chunji Oppa. Ciuman kemarin pasti bukan sesuatu hal yang special bagi Taejun Oppa. Huff.. ada apa denganmu Hyeri? Bersikaplah yang wajar.

---

‘Degg..’Jantungku seperti berhenti berdetak setelah namja kurus itu berbalik dan menghadapkan kursinya ke mejaku. Kedua telapak tangannya memegang rahangnya sendiri lalu menumpukan sikunya di meja. Aigoo.. dia menatapku. Otteohkae…..????
“W..Wae?” Tanyaku gugup.
“Kau memperhatikanku daritadi?” Tanyanya seraya tersenyum. Senyumnya benar-benar seperti menyusup ke dalam hatiku. Aku terpesona. Huhu… semoga dia tidak membuatku semakin seperti orang bodoh.
“Kenapa tidak mengajakku berbicara? Kau terlihat sangat canggung padaku.” Ucapnya. “Apa karena aku menciummu kemarin?” Lanjutnya, aigoo… dia mengingatnya. Aku kira dia sudah lupa.
“Ng…” Aku benar-benar seperti sulit berbicara. Chunji Oppa tolong aku, aku mohon….
“Saranghaeyo..” Ucapnya seraya menunjukkan kedipan matanya padaku. aku benar-benar gugup karenanya.
“Oppa… apa yang kau lakukan dengan yeoja ini?!” kata Bomi yang kemudian seenaknya memeluk Taejun Oppa dari belakang. Melingkarkan tangannya di atas bahu Taejun. Huh… menyebalkan sekali yeoja itu.
Taejun Oppa menyingkirkan tangan Bomi. aku tahu dia menjaga perasaanku.
“Aku tidak suka kau terus menggodaku seperti ini. aku benar-benar risih.” Ucap Taejun Oppa, Bomi terlihat kecewa lalu menatapku tajam.
“Wae???” kataku tak terima dengan tatapan menyebalkan itu.
“Kau yeoja tak tahu diri! Sudah memiliki Chunji, tapi masih tetap mendekati Taejun Oppa! Dasar murahan!” umpatnya padaku dengan nada tinggi. Seisi kelas seketika menoleh ke arahku.
Taejun Oppa berdiri , “Jaga mulutmu Bomi-ya!” dia membelaku. “Aku yang mendekatinya! Bukan dia yang mendekatiku! Jangan pernah berteriak pada yeoja yang aku sayangi atau aku akan berbuat kasar padamu!!!!” Lanjutnya, huwaaa…. Aku benar-benar merasa special. Taejun oppa membelaku sampai seperti itu. Semua yeoja di kelas menatapku iri.

---

*Yoori POV
“Aku yang mendekatinya! Bukan dia yang mendekatiku! Jangan pernah berteriak pada yeoja yang aku sayangi atau aku akan berbuat kasar padamu!!!!” Taejun berkata seperti itu pada Bomi. astaga.. dia sampai berteriak seperti itu. dan itu dia lakukan demi….. Hyeri. Huuuuhhh…

  Hatiku benar-benar sakit. Taejun-ah.. apa kau tak melihatku sama sekali. Mengapa harus Hyeri? Bahkan yeoja itu sudah memiliki kekasih.

  Tadi, aku melihatnya berbalik menatap Hyeri, menunjukkan wink-nya, tersenyum, mendengarnya mengatakan ‘saranghaeyo’ untuk Hyeri, dan barusan aku mendengar ia membela Hyeri sampai seperti itu. Apa istimewanya Lee Hyeri? Sampai kapan aku terus seperti ini.. memendam perasaanku pada Taejun Oppa. Aku terlalu takut menghadapi namja dingin sepertinya.

  Aku melihat Bomi menangis, apa aku akan mendapat teriakan kasar itu juga kalau aku mendekatinya. Aku tidak mau seperti itu. Aku tidak mungkin bertindak sangat jauh seperti yang Bomi lakukan. Aku hanya ingin bisa berbicara banyak denganmu Taejun-ah… aku ingin kau tahu bagaimana perasaanku padamu.

---

*Author POV
  Taejun menarik tangan Hyeri dan mengajaknya keluar kelas, dia tidak mau Hyeri semakin disakiti oleh yeoja-yeoja yang menyukainya.
“Oppa.. kenapa kau melakukan itu pada Bomi? kau kasar sekali..” kata Hyeri, dia juga berusaha mengikuti langkah cepat Taejun, yang tak tahu akan mengajak Hyeri kemana.
“Aku tidak akan membiarkanmu di perlakukan seperti itu olehnya.”  Jawab Taejun tanpa senyum, wajahnya sangat serius.

---

  Mereka melewati kelas Chunji, Hyeri tidak sadar akan hal ini. Chunji melihat Hyeri dan Taejun, tentu dia tidak bisa tinggal diam. Chunji segera keluar kelas, Jiho juga mengikuti Chunji.

Chunji mengejar Taejun dan Hyeri. Lalu…




~TBC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar