Rabu, 22 Mei 2013

Fan Fiction ~ My Precious Love , Part 4.



Tittle : My Precious LOVE. Part 4.
Author : Mutiara Dini / Kwon Yura.
Genre : Romance.
Cast : Banyak. ^_^v

Note : Mianhae kalau gaje :D aku masih belajar buat FF… hhe~ semoga suka… ^^
Disclaimer : No Plagiat . FF ini asli hasil imajinasi saya..! ^^




--Happy Reading—






*Author POV
Terdengar suara pintu terbuka, Baro dan Chunji baru saja datang. “Kita Pul…” kata-kata Baro terhenti saat melihat Naeun dan Kangjun yang sedang berpelukan di atas sofa ruang keluarganya. Chunji menjatuhkan kantong plastik berisi barang belanjaan yang ia pegang. Lalu Baro menatap Chunji yang terlihat lemas. Baro mengambil kantong plastik yang dijatuhkan Chunji, Baro memberi isyarat pada Chunji untuk mengikutinya ke dapur. Chunji berusaha tetap tenang walau sebenarnya hatinya seperti tersambar petir.
“Kita bicarakan nanti. Oppamu sudah datang..” Kangjun melepaskan pelukan Naeun dengan lembut. Kangjun segera berdiri dan menyusul dua sahabatnya ke dapur. Naeun masih terdiam di sofa ruang keluarga. Naeun benar-benar ingin Kangjun kembali menyukainya.

------

--at 07.00 pm—

*Yoori POV
                Malam ini, aku dan Chihoon Oppa akan pergi kencan ke sebuah taman bermain. Sebenarnya aku benar-benar malas pergi dengan namja itu. Kalau di suruh memilih.. aku akan lebih senang jika aku di apartemen.. memperhatikan layar laptopku dan menunggu tweet Taejun Oppa yang selalu hadir di malam hari. Atau aku juga akan lebih merasa bahagia jika aku menghabiskan waktuku menemani Daehyun bermain Game Online, aku sangat suka melihat ekspresi Daehyun saat kalah dari seseorang yang sangat hebat yang selalu menggunakan nama ‘evilgame’ itu. Sahabatku Daehyun menggunakan nama ‘cheesecake’ saat bermain game online. (-___-) , nama yang sangat konyol, pantas saja dia tidak pernah beruntung.

                Aku menggunakan sweater berwarna putih dan rok berwarna hitam, sepatu flat berwarna hitam, dan juga membawa tas kecil yang hanya berisi ponsel, kunci apartemen, dan beberapa lembar uang yang jumlahnya tidak banyak. Hufff… semua yang menempel di tubuhku sekarang adalah pemberian Daehyun, kecuali kunci apartemen saja, Daehyun memang tak pernah melupakanku, dia namja yang gila belanja dan selalu membelikan untukku juga, hingga aku tak pernah membeli sendiri barang-barang untukku hidup di Seoul. Daehyun memang sangat baik padaku.

---

                Aku menunggu Chihoon di depan gedung apartemenku sekitar 15 menit dan dia datang dengan motor besar warna merahnya. Dia tampan.. senyumnya selalu terlihat tulus.. tapi entahlah… aku tak pernah bisa mencintai kekasihku ini.
“Mianhae membuatmu menunggu lama..” Ucapnya selalu dengan senyum. Memberikan helm untukku.
“Gwenchana, aku hanya menunggu 15 menit.” Jawabku lalu meraih helm dari tangannya dan segera naik ke atas motor besarnya itu. Aku hanya memegang sedikit pinggangnya. Ayolah Cha Yoori.. peluk dia.. bukankah dia kekasihmu? Huhh… aku benar-benar tidak bisa melakukan itu. Tapi Chihoon juga hanya diam. Dia tak menyuruhku untuk memeluknya.

---

*Chihoon POV*
                Aku dan Yoori akhirnya tiba di sebuah taman bermain. Dia tak mengajakku berbicara selama perjalanan tadi. Aku tahu.. dia masih berusaha menyesuaikan keadaan, dia mungkin belum merasa nyaman akan status hubungan kita yang sepertinya hanya aku yang menginginkannya.
Aku menggenggam tangannya. “Kau mau main itu?” Tanyaku.
“Terserah..” Jawabnya. Hufff… aku menghela nafasku.. kau memang harus lebih berjuang mendapatkan hatinya.
Aku menggandengnya menuju sebuah permainan mengambil boneka, aku sangat jago memainkan ini. hanya dalam sekali main, aku berhasil mendapatkan boneka teddy bear berwarna biru untuknya, Yoori hanya tersenyum setengah hati menerima boneka itu.
“Namanya Lolly.” Kataku.
“Mm? Lolly? Kyeopta..” Yoori memandangi boneka itu sejenak.
“Kau bisa memeluknya jika merindukanku.” Kataku mungkin terlalu percaya diri. Ah.. biar saja.. aku kan namjanya.
“Eoh?” Dia menatapku heran. “Ne.. gomawo..” lanjutnya.
Aku menelan ludahku. Hanya itu jawabannya?? Lalu aku terdiam.
Kali ini dia menatapku, “Chihoon-ssi .. mianhae kalau aku membosankan..”
“Membosankan? Tidak.. kau tidak membosankan chagi-ya..” Jawabku seraya menunjukkan senyum terbaikku, aku tidak ingin dia merasa menjadi yeoja membosankan. “Cha! Kita kesana.. masih banyak permainan lain yang harus kita coba..” Lanjutku kemudian menarik tangannya agar mengikutiku.
---
“Kau Senang?” Tanyaku.
Dia tak menjawab dan masih menikmati ice cream di tangannya. Aku menatapnya..
“Kau mau?” Yoori mengarahkan ice creamnya tepat di depan mulutku. Aku sempat terkejut. Ahh.. akhirnya aku melihat senyum lepasnya.. bukan senyum setengah hati yang selalu dia berikan untukku. Aku benar-benar bahagia.. dengan senang hati aku menikmati ice cream yang diberikan Yoori untukku.
“Gomawo..” Ucapku.
“Ne…”
“Yoori-ya.. aku tahu sebenarnya kau tak menyukaiku..” Kataku lirih.
“Eoh?”
“Maafkan aku .. mungkin kau menerimaku menjadi kekasihmu hanya karena terlalu bosan mendengarku menyatakan perasaanku padamu..” kataku menunduk. “Aku tak peduli seandainya kau mencintai namja lain. Aku sudah cukup bahagia bisa ada disampingmu.. aku akan menjagamu Cha Yoori.., aku benar-benar menyayangimu..” Lanjutku, tapi aku tak berani menatap matanya, aku hanya menunduk menunggunya merespon kata-kataku.

-------

--2 days later—

*Daehyun POV
                Aku sudah mempersiapkan segalanya. Wahhh aku sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi JiYeon saat aku menyatakan perasaanku nanti. Aku sudah ke salon ternama menata rambutku yang pastinya tidak kalah keren dari actor Lee Min Ho, aku juga sudah membeli pakaian dan apapun yang menempel di tubuhku serba limited edition. JiYeon akan sangat bangga bisa berjalan sejajar dengan Tuan Muda Jung Daehyun yang mempunyai pesona luar biasa ini. haha… , mungkin aku terlalu berlebihan. :D

                Aku memilih mengajaknya pergi bersamaku di sore hari, karena menurut Yoori.. sore hari adalah waktu yang paling romantis dimana langit akan berubah warna menjadi jingga. -__- .  padahal aku mengharapkan langit berubah warna menjadi pink. Tapi yasudahlah… jingga sudah cukup baik daripada abu-abu. (?)

                Dan… tempat luar biasa yang sudah aku siapkan bersama Yoori seharian ini untuk JiYeon adalah… ‘Gondola’ . *Dueng! .. tempat itu memang sangat biasa.. bahkan aku menghitung… aku pergi bersama Cha Yoori ke namsan tower dan naik di gondola-gondola bodoh itu sejak kecil sudah sekitar 57 kali. Huhh.. tidak apa-apa.. setidaknya tempat ini tempat terdekat dari rumahku dimana Baro tidak bisa mengganggu kita. Aku tersenyum.

                Aku menunggunya di halte, bukan karena aku tidak gentleman, tapi karena JiYeon melarangku menjemputnya di rumahnya, tentu saja karena ada Park TaeJun. -___-
“Aduhh lama sekali yeoja itu…” Ucapku seraya mengetuk-ngetuk pelan kemudi mobilku dengan jari tengahku. Melihat ke sekitar halte, dan aku belum melihat JiYeon.
“Aahh jinjjaro.. kalau dia tidak segera datang.. langit jingganya akan meninggalkanku. Kalau langit sudah gelap rencanaku akan gagal. Ayolah jiyeon… jangan lamban….” Kataku cemas. Aku memutuskan keluar saja dari mobil agar pikiranku tak semakin kacau jika tetap berada di dalam mobil.

Mondar-mandir dengan cemas di halte, semua orang yang sedang menunggu bus itu memandangiku dengan tatapan tidak biasa. Mereka benar-benar kampungan. Apa mereka tidak pernah melihat namja tampan sepertiku?? Huh..

Sebuah bus menghalangi pandanganku, sial.. bus ini berhenti tepat di depanku. Orang-orang yang tadi menunggu bus itu segera menuju bus dan menabrakku. Astaga.. aku berusaha menyelamatkan diriku agar tidak semakin bersentuhan dengan mereka.
“Hey kau! Cepatlah masuk..” teriak seorang namja dari dalam bus itu.
“Mwoya???! Kau mengira aku akan naik bus jelek ini? yang benar saja… aku Jung Daehyun… Appaku melarangku naik bus!!! Sebaiknya kau cepat pindahkan bus ini dari hadapanku. Baunya saja sudah membuatku mual!” umpatku pada namja paruh baya itu.
“Huuuuuu!!!!!!” teriak semua orang dari dalam bus. Tapi aku tak mempedulikan mereka. Aku anggap saja itu suara Kangjun. Tidak penting.
---
“Oppa..” terdengar suara yeoja. Ya.. akhirnya dia datang. Aku segera menoleh dan benar yeoja itu JiYeon, aku segera menarik tangannya untuk masuk ke dalam mobilku. Tidak ada waktu lagi untuk basa-basi. Langitnya sudah hampir jingga.

---

“JiYeon, kau sangat cantik..” aku memandanginya yang menggunakan mini dress berwarna hitam itu, dia seperti akan datang ke acara makan malam..hehe.. mianhae jiyeon-ah… mungkin kau kecewa padaku karena malah mengajakmu naik gondola.. aku berjanji setelah ini aku akan mengajakmu  pergi makan malam.
“Gamsahamnida..” jawabnya tersenyum. “Umm.. Oppa.. kau lihat itu.. ada yang menulis sesuatu di dinding gondola ini.. aku jadi teringat Goo Junpyo dan Geum Jandi. Wahh romantis sekali..” Lanjut JiYeon menunjuk sebuah tulisan kecil di salah satu sisi dinding gondola ini.
Aku memperhatikan kembali tulisan itu dengan sungguh-sungguh. Dan.. What??? Apa aku tidak salah lihat.. -Jung Kangjun <3 Jung Soojung- -forever in love-. Itu pasti Kangjun bodoh itu yang menulisnya. Huh.. mempermalukan keluarga Jung saja
“Kalau kau mau aku bisa menulis yang lebih besar daripada itu… bahkan aku bisa menulis nama kita berdua di kaca ini .. yang besar.. agar semua orang melihatnya.” Ucapku menunjuk kaca di sebelahku.
“Haha.. tidak perlu oppa.. nanti bisa-bisa kita di tangkap petugas keamanan karena merusak fasilitas umum. Kau ini lucu sekali..” JiYeon malah menertawaiku.
“Hehe.. iya.. lagipula tidak perlu seperti itu juga.. karena namamu sudah ada dihatiku.” Aku tersenyum. Sudah tidak perlu terlalu banyak bicara lagi. Lokasinya sudah beberapa menit lagi akan terlihat.
Aku menggenggam kedua telapak tangan JiYeon. Mengelus pelan jemarinya. “Jiyeon-ah.. sebenarnya ada hal serius yang ingin aku bicarakan denganmu..”
“Ne…”
“Aku menyukaimu sudah dalam waktu yang cukup lama.. bahkan sebelum namja pabo itu menyukaimu..”
“?”
“Aku mencintaimu Park JiYeon.. aku ingin kau menjadi kekasihku..” Ucapku tanpa terlalu banyak basa-basi.. lagi-lagi karena langit jingganya akan segera hilang.
“Mmm..” JiYeon terlihat bingung.
“Lihatlah ke bawah sekarang..” pintaku.. yakk ini sangat tepat waktu. Sesuai yang aku rencanakan.
JiYeon mulai menengok ke bawah dan… senyumnya mulai mengembang. “Oppa.. kau yang membuat itu semua? Daebakk.. itu bagus sekali Oppa.. aku benar-benar tersentuh..” Ucapnya. Matanya terlihat berkaca-kaca.
“Ne.. aku yang membuatnya untukmu..” Jawabku. Aku membuat sebuah tulisan
-Daehyun <3 JiYeon- di taman bunga yang sudah aku modifikasi agar membentuk namaku dan nama Jiyeon. Tentu aku sudah membayar mahal untuk ini.
JiYeon memelukku. “Jeongmal Gomawo Oppa.. aku tak menyangka kau menyiapkan surprise ini untukku..”
Aku membalas pelukannya. “Ne.. apapun akan aku lakukan untukmu..” Jawabku. “Jadi?” Lanjutku masih dengan mendekapnya.
“Ne Oppa..”
“Mworago? Katakan sekali lagi…” kini aku memegang pundaknya dan menatap matanya yang masih berkaca-kaca.
“Ne Oppa.. aku mau menjadi kekasihmu..” Jawab JiYeon, pipinya memerah.
Aku benar-benar bahagia.. aku ingin meloncat-loncat tapi sayangnya sekarang kita sedang berada di atas gondola. :’(
“Gomawo.. yeobo-ya..” Aku mengedipkan mataku padanya. Ahh jinjja.. aku tak menyangka sekarang JiYeon adalah kekasihku.
“Aduhh.. gondola ini lamban sekali.. aku sudah tidak sabar mengajak yeojaku makan malam..” Kataku seraya melihat keluar gondola.. langit masih jingga dan ini memang benar-benar terkesan sangat romantis. Gomawo Cha Yoori, semua ini karena idemu. Haha.. aku akan memberi kado ucapan terima kasih untuknya nanti.
“Kau akan mengajakku makan malam?” Tanya JiYeon dengan wajah gembira.
“Ne… kau boleh pesan apapun yang kau mau.. aku juga sudah sangat lapar..” Jawabku.
JiYeon memelukku, aku mencium kepalanya dan mengelus lengannya. Sekarang benar-benar ada 4 orang penting di hidupku. Appa.. Eomma.. Yoori.. dan… JiYeon. Aku berharap ini bukan mimpi.
“Ja.. kita keluar sekarang chagi-ya..” Aku melepaskan pelukan JiYeon dan segera berdiri, karena gondola ini sudah sampai.

Saat sudah keluar dari gondola, aku merasa ada hal lain yang harus aku lakukan di dalam gondola itu. “Tunggu disini JiYeon.. ada sesuatu yang tertinggal.” Ucapku lalu masuk lagi ke dalam gondola itu. Aku membuka tas punggungku dan mengambil sebuah spidol permanent. Aku mencoret-coret tulisan yang Kangjun buat. Hahaha… apa-apaan…..sangat tidak kreatif meniru adegan di sebuah drama. Aku menjulurkan lidahku lalu segera keluar dari gondola itu dan pergi bersama JiYeon ke sebuah Restaurant terbaik di Seoul.

------

*Author POV
                Di tempat lain, tepatnya di rumah Baro. Naeun, Baro, dan Chunji menonton TV bersama. Hari ini ada pertandingan sepak bola antara Barcelona dan Bayern Munchen. Chunji dan Baro sangat suka menonton pertandingan sepak bola apalagi club yang bertanding itu Barcelona. Naeun hanya terpaksa ikut menonton.
                Selain karena sepak bola, Chunji juga sangat malas berdiam di rumahnya. Kyuhyun selalu meminjam notebooknya untuk bermain game online. Orangtuanya juga menguasai TV dengan menonton tayangan orang tua. Chunji sangat bosan, hingga ia sering menghabiskan waktu di rumah Baro.
---
“Ne chagi-ya.. nanti aku telpon lagi ya.. sebentar lagi pertandingannya di mulai… hehe.. saranghae…” kata Chunji dalam telpon kemudian segera menutup telponnya. Dia menelpon Hyeri sebelum menonton pertandingan sepak bola.
“Chunji-ya, hubungi Kangjun, katakan pertandingannya akan segera mulai. Suruh dia kesini sekarang.” Kata Baro sesaat setelah Chunji menutup telponnya dengan Hyeri.
“Ah malas. Kau saja.” Jawab Chunji. Dia masih kesal dengan kejadian dua hari yang lalu.
“Pinjam ponselmu.” Kata Baro lalu merampas ponsel Chunji.
“Yaaa’ kau ini! Jangan lama-lama, nanti pulsaku habis.” Protes Chunji. Baro segera menelpon Kangjun dan menyuruhnya untuk datang. Naeun mendengar hal itu, dia senang karena Kangjun akan ke rumahnya.

--15 menit kemudian—

                Kangjun akhirnya datang, bersyukur pertandingan belum terlalu lama dimulai. Ia menggunakan celana jeans, kaos V-Neck berwarna merah, dan modern blazer berwarna hitam. Tapi…….. ternyata Kangjun tidak sendiri. Dia datang bersama.. ‘Krystal’.
“Annyeonghaseyo..” Krystal membungkuk dan memberi salam dengan ramah.
“Annyeonghaseyo…” Baro dan Chunji juga membungkuk menanggapi salam Krystal. Naeun hanya diam, dia benar-benar tidak menyukai ini. Bagaimana bisa Kangjun dengan santai membawa Krystal ke rumah Naeun. Tidak ada pilihan lain, saat itu Kangjun sebenarnya sudah hendak pergi makan malam dengan Krystal. Tapi Kangjun lupa akan pertandingan club kesukaanya ‘Barcelona’ , jadi dia terpaksa membatalkan acara makan malamnya, dan mengajak Krystal untuk ikut dengannya ke rumah Baro. Kangjun tak mungkin meninggalkan Krystal.
“Naeun.. tolong buatkan minuman untuk Kangjun dan Krystal..” pinta Baro pada adiknya.
“Kenapa tidak buat sendiri saja?!” Jawab Naeun ketus.
“Mmm.. biar aku saja yang membuatnya..” kata Kangjun menawarkan diri. Dia sadar bagaimana perasaan Naeun sekarang.
Kangjun berjalan ke arah dapur Baro, Naeun mengikuti Kangjun. Baro melihatnya tapi ia hanya diam.
“Oppa.. kau benar-benar tak mempedulikan perasaanku.” Ucap Naeun.
Kangjun mulai menata 2 gelas, dan mengambil tempat gula yang ada di dalam shelving cabinet di atasnya. “Aku terpaksa membawanya kesini, aku tak mungkin meninggalkannya atau mengantarnya pulang.. kita baru saja akan pergi kencan tadi tapi Oppamu menelponku soal Barcelona.” Jawab Kangjun.
“Kalau ada dia… bagaimana aku bisa mengobrol denganmu.. padahal aku sangat merindukanmu Oppa..”
Kangjun menatap Naeun. “Bersikaplah seperti biasa.. aku takut Krystal akan curiga.. aku tidak ingin menyakiti perasaannya.” Ucap Kangjun tegas.
Naeun mengambil pisau yang terletak tak jauh dengannya. “Oppa, lebih baik aku mati. Daripada harus melihatmu mengabaikanku dan lebih memilih yeoja itu.”
Kangjun segera menghempaskan pisau yang ada di tangan Naeun. Baro, Chunji , dan Krystal sempat mendengar suara pisau yang terjatuh di dapur, tapi Baro berusaha membuat Krystal tidak berpikir yang macam-macam. Dia mengatakan kalau Kangjun memang sangat berisik kalau berada di dapur.
Kangjun menutup mulut Naeun dengan telapak tangan kanannya. “Ssstt.. pelankan suaramu Naeun-ssi..”
Naeun melepaskan tangan Kangjun dari mulutnya, ia kembali menangis. Kangjun memeluk Naeun, bagaimanapun juga dia memang masih menyukai Naeun. Kangjun tak bisa membiarkan Naeun menangis terlebih itu karenanya. “Sudahlah.. jangan menangis.. maafkan aku Naeun-ssi.. kau lihat matamu itu.. matamu bengkak.. berapa kali kau menangis? Apa itu karena aku?”
“Oppa aku menyesal.. aku takut kehilanganmu.. aku baru sadar aku mencintaimu.. tapi sekarang semua sudah terlambat.. aku ingin mati saja..” Naeun masih terisak. Beruntunglah suara isakan Naeun tak terdengar hingga ruang keluarga.
“Jangan berkata seperti itu.. aku tidak mau kau pergi..” Kangjun merasa dadanya sesak.. dia tidak ingin Naeun pergi. “Aku harus berbuat apa?” Tanya Kangjun.
“Aku ingin kau menjadi kekasihku juga Oppa..”
‘Degg’.. ‘Degg’..’Degg’…
“Mwo?” Kangjun terkejut.. dan..







~TBC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar