Rabu, 22 Mei 2013

Fan Fiction ~ My Precious Love , Part 5.



Tittle : My Precious LOVE. Part 5.
Author : Mutiara Dini / Kwon Yura.
Genre : Romance.
Cast : Banyak. ^_^v

Note : Mianhae kalau gaje :D aku masih belajar buat FF… hhe~ semoga suka… ^^
Disclaimer : No Plagiat . FF ini asli hasil imajinasi saya..! ^^




--Happy Reading—




*Author POV
“Aku ingin kau menjadi kekasihku juga Oppa..”
‘Degg’.. ‘Degg’..’Degg’…
“Mwo?” Kangjun terkejut dan segera melepaskan pelukannya. “Kau gila? Bagaimana dengan Krystal?”
“Kalau kau tak bisa menyayangiku juga, jangan pernah datang ke rumah ini lagi. Aku tidak sanggup melihatmu. Kepalaku sudah cukup pusing karena memikirkanmu terus Oppa.”
Kangjun menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya karena benar-benar bingung.
“Hey Kangjun-ah!!! Apa kau baik-baik saja?” terdengar suara Chunji dari ruang keluarga.
“Mm.. Ne!!! aku baik-baik saja.. tadi aku kebingungan mencari gulanya!!! Sebentar lagi selesai.” Jawab Kangjun sedikit berteriak.
“Oppa.. jangan tinggalkan aku..” Naeun memeluk Kangjun.
Kangjun menghela nafasnya dalam-dalam. “Hufff.. Ne..” Jawab Kangjun.
“Kau menjadi kekasihku?” Tanya Naeun senang.
“Ne.. tapi tidak jika di depan Krystal.”
“Huwaa.. gwenchana oppa.. bisa menjadi kekasihmu saja aku sudah senang.. gomawo.. saranghaeyo..” Ucap Naeun masih dengan memeluk erat Kangjun.
“Yasudah, aku harus melanjutkan membuat minuman untuk Krystal..” Kangjun melepaskan pelukan Naeun. Tapi Naeun kembali murung karena Kangjun tidak menjawab kata cintanya. Tapi bersyukurlah Kangjun seorang namja yang peka. Lalu dia sedikit membungkukkan badannya agar wajahnya sejajar dengan wajah Naeun. “Nado Saranghaeyo~~~ jangan menangis lagi..” Kata Kangjun tersenyum seraya menghapus sisa-sisa airmata Naeun. Kemudian ia kembali melanjutkan membuat minuman dan segera membawanya ke ruang keluarga. Naeun memutuskan untuk kembali ke kamarnya saja.

---

Kangjun merangkul Krystal, masih dengan menonton sepak bola di televisi. Walaupun sebenarnya, pikirannya masih sangat kacau.
“Oppa setelah menonton sepak bola ini, kita akan kemana lagi?” Tanya Krystal.
“Kau mau kemana?” Kangjun balik bertanya seraya tersenyum pada yeojanya itu.
“Aku ingin membeli buku. Kau mau mengantarku..?” Tanya Krystal.
Kangjun mengelus rambut Krystal. “Tentu saja.. kau tak perlu bertanya, kau kan yeojaku.. aku akan mengantarmu kemanapun kau mau..” Ucap Kangjun.
“Ahh.. kalian membuatku iri.” Kata Baro yang daritadi malah memandangi Kangjun dan Krystal.
“Haha.. bagaimana dengan JiYeon?” Tanya Kangjun.
“Mmm.. boleh pinjam ponselmu, aku ingin melihat twitternya..” Pinta Baro.
Kangjun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan segera memberikannya pada Baro. Tapi.. Baro melihat pesan masuk dan ia tak sengaja membuka pesan itu. Baro menelan ludahnya karena terkejut dengan apa yang ia lihat. –Oppa aku mencintaimu, gomawo sudah mau menjadi kekasihku.- pesan itu dari... Naeun. Baro memutuskan untuk menanyakannya nanti pada Kangjun. Dia segera meneruskan tujuan awalnya meminjam ponsel Kangjun yaitu untuk melihat twitter JiYeon. Dan..
“Ige Mwoya???!” teriak Baro sangat terkejut. Benar-benar terkejut.
Chunji melempar kacang ke kepala Baro karena ia ada di depan Baro saat Baro berteriak. Chunji juga menjadi terkejut. “Jeongmal!! Kau membuatku terkejut Baro-ya!!!” bentak Chunji. "Untung saja aku tidak tersedak kacang.!" lanjut Chunji mengelus dadanya.
“Wae Geuraeyo?” Tanya Kangjun. Lalu mengambil ponselnya dari tangan Baro. Kangjun segera melihat pada layar touch screen i-phone miliknya.
Terlihat tweet JiYeon . –memulai dari saat ini. Me and Daehyun in relationship, i love him.-
“Huuhh jinjja.. aku tak percaya ini..” Kangjun saja menjadi lemas.
Baro seketika menyandarkan tubuhnya pada kursi. Dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan itu.
“Heh.. apa yang terjadi?” Tanya Chunji.
“JiYeon dan Daehyun… sudah berpacaran.” Jawab Kangjun masih lemas tak percaya, dia menatap iba pada Baro.
“Mmm.. bukannya Daehyun itu kembaranmu Oppa? Kenapa kau tidak bahagia dia memiliki kekasih?” Tanya Krystal yang bingung akan ekspresi Kangjun saat melihat tweet itu.
“Baro menyukai JiYeon.. aku lebih suka kalau JiYeon menjadi kekasih Baro.” Jawab Kangjun.
Chunji kini juga duduk di kursi di sebelah Baro. Chunji memegang bahu sahabatnya itu. “Bersabarlah.. aku akan mendo’akan agar mereka tak akan bertahan lama.” (?)
“Entahlah.. pikiranku kacau sekarang.” Jawab Baro lalu beranjak dan terlihat menuju kamarnya, Chunji ingin mengikuti Baro, tapi Kangjun melarangnya.
“Biarkan dia sendiri dulu.” Kata Kangjun.
“Huahh.. kasihan sekali Baro..” Ucap Chunji lirih.

------

--1 Minggu Kemudian—

                Di sekolah, saat jam istirahat.. Taejun , Jiho, Yoori, Chihoon, dan Hyeju berkumpul di kantin. Ahra dan Suzy juga ikut berkumpul di dekat Taejun. Jiho sangat serius memainkan game online di notebooknya.
“Kau bermain game online?” Tanya Yoori pada Jiho.
“Ye, aku sedang berusaha mengalahkan evilgame. Sial orang itu hebat sekali. Dia sangat terkenal di dunia game online, dia yang terbaik di Korea Selatan. Aku sudah menunggu 3 bulan hanya untuk bisa melawannya. Banyak yang mengantri untuk bisa bertanding dengan evilgame.” Jawab Jiho.
“Sahabatku selalu bermain dengan evilgame tiap malam tanpa harus menunggu lama.” Ucap Yoori mengingat Daehyun yang memang sering menghabiskan malamnya dengan bertanding game online dengan seseorang yang menggunakan nama ‘evilgame’ itu. ya.. walaupun Daehyun selalu kalah. :D
“Jinjjayo? Sahabatmu menggunakan nama apa?” Tanya Jiho masih tanpa melepas pandangannya dari layar notebooknya.
“Cheesecake.” Jawab Yoori. Semua menoleh ke arah Yoori seketika.
“Hahahahaha…” Jiho tertawa lepas.
“Nama yang benar-benar konyol.” Ucap Taejun datar, matanya masih terarah pada layar ponselnya, entah apa yang ia lakukan. mungkin mengirim pesan untuk Hyeri.
“Aku tak percaya ada seseorang yang menggunakan nama itu untuk bermain game online.” Giliran Ahra yang berkomentar soal nama yang dipakai Daehyun itu. Ahra dan Suzy masih menempel pada Taejun. Taejun tidak menolak, dia hanya diam tanpa menanggapi. Taejun terlihat seperti seorang raja yang sedang di temani selir-selirnya.
“Aku tahu dia, dia juga sangat rajin bermain game online. Pantas saja evilgame selalu menanggapinya. Karena cheesecake bodoh itu selalu bertaruh menggunakan uang. Haha.. rupanya dia sahabatmu.” Jiho berkata dengan nada sangat menghina. “Apa dia yeoja? Dia bermain sangat buruk tapi tetap memaksakan diri.” Lanjut Jiho.
“Dia namja.. benarkah dia bertaruh menggunakan uang?” Tanya Yoori, Jiho mengangguk.
“Ahh anak itu..” gumam Yoori.
“Apa dia namja yang selalu kau ceritakan? Namja bernama Jung Daehyun itu?” Tanya Chihoon.
“Ne.. itu dia..”
“Mwo? Jung Daehyun? Apa dia bersekolah di School of performing Arts?” Tanya Taejun tiba-tiba.
“Nde.. kau mengenalnya Taejun-ah?” Tanya Yoori. Yoori senang Taejun mau bertanya padanya.
“Jadi namja menyebalkan itu sahabatmu??! Huahh! Jangan pernah ajak dia jika berkumpul dengan kita!” Umpat Taejun yang masih kesal dengan Daehyun. Taejun belum tahu kalau adiknya dan Daehyun sudah berpacaran. Apa jadinya jika Taejun sampai tahu. T___T

------

                Hari ini hari pertama Baro masuk sekolah setelah selama satu minggu Baro membolos karena malas melihat JiYeon dan Daehyun yang sudah berpacaran. Dia mau masuk sekolah hari ini pun karena Naeun yang memohon.

                Baro berjalan santai di koridor sekolahnya. Dia berusaha bersikap cool tanpa memikirkan JiYeon lagi. Tinggal beberapa langkah saja dia melewati kelas Naeun dan JiYeon. Baro berharap tak melihat JiYeon saat itu. Tapi..
“Oppa.. kau kemana saja?” Tanya JiYeon yang kebetulan juga ingin keluar kelas.
Baro menghentikan langkahnya. Dia menoleh pada JiYeon yang ada di sisi kiri tubuhnya. “Mianhae, aku tidak mengenalmu.” Ucap Baro sinis. Baro terpaksa berbicara seperti itu. Dia tidak mau semakin sakit hati jika terus mengenal JiYeon. Baro mulai melanjutkan langkahnya meninggalkan JiYeon yang terdiam tak percaya mendengar kata-kata Baro.

---

Kini Baro mulai memasuki ruang kelasnya. Baro duduk paling belakang, di dekat jendela. Baro menjatuhkan asal tasnya di atas meja, lalu segera duduk tanpa senyum sedikitpun. Mukanya benar-benar tanpa ekspresi.
“Haha.. Baro-ya!! Akhirnya kau masuk juga!!” Kata Daehyun. Daehyun duduk di atas meja, (-__-) , letaknya sekitar satu meter di depan Baro. “Apa kau terlalu pengecut karena tak bisa menerima kenyataan kalau aku dan JiYeon sudah berpacaran??” Tanya Daehyun.
“Heh Jung Daehyun!!! Kau ini berisik sekali. Bisa diam tidak??!” teriak seorang namja tinggi yang sedang membaca komik.
“Ne, kau lebih baik keluar saja kalau tetap ingin berisik!” kata namja lain yang juga ada di kelas itu.
“Wae??! Ini mulutku bukan mulutmu. Kalian saja yang keluar kalau kalian tidak suka!! Aku tidak mau diam!” Jawab Daehyun sesuka hatinya. Akhirnya semua murid yang ada di kelas lebih memilih meninggalkan kelas itu karena malas harus berdebat lagi dengan Daehyun.
---
“I am a win..ner… and you are a lo…ser…” Daehyun menghina Baro. Percayalah mukanya sangat menyebalkan. Baro benar-benar muak.
“Sekali lagi kau bicara, aku habisi kau!” Baro sudah tidak tahan melihat tingkah laku Daehyun.
“Kau mau apa??! Lakukan saj…” Jawab Daehyun tapi terpotong karena Baro melemparkan pulpen dan mengenai pipinya.
“Auhh! Pipiku… aigoo.. kau ini benar-benar..” Daehyun memegangi pipinya.
Daehyun mendekati Baro dan mendorong bahu Baro keras. “Terima saja kalau memang JiYeon ternyata lebih menyukaiku!” Umpat Baro.
“Jangan paksa aku untuk berbuat kasar pada namja yang bukan levelku dalam berkelahi! Lebih baik kau jangan pernah berurusan lagi denganku. Aku sudah menerimanya. Aku tidak akan mendekati JiYeon lagi.” Jawab Baro santai.
“geurae! Baguslah kalau begitu. Haha..” Daehyun tertawa senang, lalu meninggalkan kelas.
“Pabo!” kata Baro kesal saat Daehyun mulai keluar dari kelas.

---

                Sepulangnya sekolah, Baro.. Chunji.. dan Kangjun berjalan bersama seperti biasa, tapi kali ini ada Hyeri yang ikut pulang bersama Chunji. Mereka berjalan kaki. Chunji ingin mengenalkan Hyeri pada orangtuanya.
---
“Kangjun-ah.. apa yang terjadi antara kau dan Naeun?” Tanya Baro tiba-tiba. Ini tentu membuat Kangjun terkejut.
“Eoh? apa maksudmu?” Kangjun berpura-pura tak mengerti.
“Jangan seperti orang bodoh. Katakan saja yang sejujurnya.” Jawab Baro.

Baro sebenarnya sudah mengetahui apa yang terjadi antara Kangjun dan Naeun. Bahkan saat dulu Kangjun sempat putus dengan Krystal, Baro sudah tahu kalau adiknya itu sangat menyukai Kangjun, maka dari itu dulu Baro sempat mengatakan kalau Kangjun di perbolehkan menjadi kekasih Naeun, tapi sayangnya saat itu Kangjun sedang berjuang mendapatkan hati Krystal kembali.
Naeun selalu menangis tiap malam memikirkan perasaannya. Baro tak tega melihat adiknya seperti itu, ditambah kondisi fisik Naeun yang lemah dan mudah sakit. Naeun tidak diperbolehkan terlalu banyak berpikir oleh dokter.
Baro sebenarnya tidak suka melihat Kangjun mempermainkan adiknya, bukan karena Kangjun berbohong atau berperilaku tidak baik pada Naeun, Baro sadar adiknyalah yang menginginkan semua ini. Tapi Baro tidak suka karena adiknya harus menerima cinta yang tidak sepenuhnya Kangjun berikan. Kangjun memiliki kekasih, dan adiknya harus menjadi yang kedua. Baro benar-benar sedih mengetahui hal itu. tapi bagaimana lagi.. akan lebih menyedihkan jika Kangjun menolak cinta Naeun. Baro tahu bagaimana sifat adiknya.
“Mmm…” Kangjun bingung.
“Sebenarnya ada apa?” Tanya Chunji yang juga penasaran. Hyeri hanya diam seraya mendengarkan music di i-pod pink miliknya.
“Ne.. aku dan Naeun sudah seminggu ini berpacaran.” Jawab Kangjun menunduk.
“Mwoyo???” teriak Chunji karena terkejut, lalu ia menatap Hyeri, dia lupa kalau Hyeri ada di dekatnya. Bersyukurlah Hyeri sedang mendengarkan music. “Bagaimana hal itu bisa terjadi???” Tanya Chunji lagi dengan mengecilkan volume bicaranya.
“Naeun yang memintaku untuk menjadi kekasihnya.” Jawab Kangjun singkat, sebenarnya ia tak ingin membicarakan hal ini dengan Baro dan Chunji.
“Itu tidak mungkin! Lalu bagaimana dengan Krystal??” Tanya Chunji lagi.
“Memang seperti inilah kenyataannya... dan sejauh ini Krystal belum mengetahuinya.. entahlah.. aku memang bersalah pada Krystal.” Jawab Kangjun lemas.
“Gomawo Kangjun-ah.. setidaknya Naeun tak perlu meminum obatnya tiap malam belakangan ini.” Ucap Baro membuat Kangjun seketika menoleh ke arah Baro dengan tatapan penuh tanya.
“Maafkan Naeun.. aku harap kau juga bisa memperlakukannya dengan baik.” Lanjut Baro.
“Apa kau bercanda Baro-ya! Adikmu itu menjadi yang kedua. Mengapa kau terlihat tidak keberatan?? Yang benar saja….” Protes Chunji.
“Daripada aku harus mendengarnya menangis tiap malam, daripada aku harus melihat adikku meminum obat-obatnya itu tiap hari? Aku tidak bisa membiarkan Naeun terus memendam perasaannya dan mengharapkan Kangjun. Naeun sangat mencintai Kangjun.” Jawab Baro.
“Aku juga mencintai Naeun.” Kata Kangjun santai.
“Aigoo.. aku bisa gila..” Chunji heran mengetahui Kangjun yang bisa mencintai dua yeoja sekaligus. Chunji segera meraih tangan Hyeri dan mengajaknya jalan lebih dulu meninggalkan dua sahabatnya itu.
“Kenapa anak itu?” Tanya Baro menatap Chunji yang berjalan cepat meninggalkannya.

---

--at 16.30 pm—

                Taejun dan Yoori masih ada di kelas mereka, mereka sedang menjalankan tugas piket mereka yang kebetulan bersamaan. Chihoon ingin membantu Yoori tapi Yoori melarangnya, Chihoon memutuskan untuk menunggu di parkiran.
---
*Taejun POV
                Aku paling tidak suka hari kamis, karena hari kamis adalah hari dimana aku harus piket, bukan karena aku malas menyapu atau me-lap kaca, tapi karena aku harus piket bersama Cha Yoori. Huff…

                Aku mengacak-acak rambutku. Aku berusaha membuat diriku terlihat buruk jika di dekatnya. Aku tahu dia menyukaiku. Tapi aku tak ingin menanggapinya, dia kekasih Chihoon. Aku tidak ingin hubungan mereka berakhir hanya karena aku.

                Aku tak pernah mau mengajaknya berbicara, aku benar-benar tidak ingin memberi harapan padanya. Tapi sepertinya yeoja ini sangat keras kepala. Bagaimana mungkin Chihoon bisa menyukai Yoori. -_-

                Baru saja.. aku mendengarnya menyuruh Chihoon untuk keluar. Aigoo.. pasti itu dia lakukan agar bisa berdua denganku. Aku tidak bisa membiarkan ini berlangsung lebih lama lagi.
---
“Yoori-ya..” Sapaku.
Matanya berbinar seketika. “Ne..”
“Aku tahu kau menyukaiku, tapi maaf.. aku tidak bisa menyukaimu.” Kataku tanpa banyak basa-basi, aku tidak suka terlalu banyak bicara.
“Taejun-ah..” Yoori mulai berkaca-kaca. Huufff.. maafkan aku Yoori.
“Jangan menyakiti Chihoon hanya karena kau menyukaiku. Kau hanya akan membuang-buang waktumu. Aku tak akan pernah bisa menyukaimu sampai kapanpun.” Ucapku lalu menaruh lap kaca yang aku pegang daritadi pada tempatnya, memakai tas MCM warna hitam milikku lalu segera meninggalkan kelas untuk pulang.

---

*Chihoon POV
“Taejun-ah? Mana yeojaku? Apa dia masih piket?” Tanyaku pada Taejun yang berjalan menuju mobilnya.
“Dia masih di kelas, hampiri saja dia.” Jawab Taejun. Aku segera menghampiri Yoori ke kelas.

---

Aku memasuki kelas dan menemukan Yoori yang menunduk. Apa yang terjadi?
“Chagi-ya..” Aku mendekatinya. Terdengar isakan pelan, dia menangis.
“Gwenchanayo?” Tanyaku. tapi dia tak menjawab.
Aku memeluknya yang masih menunduk. Tapi dia menghempaskan tanganku yang memeluknya.
“Pergi!” bentaknya. Aku salah apa? :(
“Ada apa sebenarnya? Siapa yang membuatmu menangis? Katakan padaku sekarang.”
“Aku bilang pergi..!!” bentaknya sekali lagi.
“Mana mungkin aku pergi sementara kekasihku sedang menangis disini!”
“Kalau begitu berhenti menjadi kekasihku! Hubungan kita berakhir!” Ucapnya seakan menamparku. Aku  lemas, menyandarkan tubuhku ke dinding lalu perlahan terduduk di lantai. kenapa dia menagatakan hal itu padaku. :'(
“Katakan kalau kau bercanda!!!” ini pertama kalinya aku membentaknya.
“Aku tidak bercanda. Aku tidak menyukaimu! Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini! Aku merasa seperti membohongi perasaanku sendiri!”
“Aku bilang aku tidak peduli.. aku tidak peduli kalau kau selingkuh sekalipun. Aku hanya ingin hubungan kita tidak berakhir. Aku ingin bisa menjagamu selamanya Cha Yoori.” Ucapku, airmataku mulai menetes. Aku merasa benar-benar hancur kali ini.
Yoori mulai beranjak, sepertinya dia ingin segera pergi dari hadapanku. Aku berdiri dan meraih tangannya. Aku memeluknya. “Aku mohon jangan pergi dariku Chagi-ya..” kataku sekali lagi. Tapi sepertinya aku memang tak berarti untuknya, dia benar-benar tak mengharapkanku. Yoori melepaskan pelukanku dan berlari meninggalkanku. Aku terduduk bersimpuh di lantai melihatnya yang mulai menjauh.

---

--at 17.30 pm—

*Author POV
“Sudahlah.... berhenti menangis.. kau terlihat semakin jelek saat menangis.” Daehyun berusaha menenangkan Yoori. Lalu memberikan bubble tea yang baru saja ia beli pada Yoori. Mereka duduk di sebuah kursi taman panjang.
“Jangan pedulikan namja bernama Taejun itu!!!” Kata Daehyun yang juga ikut kesal. Tapi setelah itu Daehyun terdiam sejenak. “Jamkkaman.. siapa nama namja itu? Taejun?” Daehyun seperti berusaha mengkait-kaitkan sesuatu. “Apa dia Park TaeJun? Kakak Park JiYeon?”
“Ne.. dia orangnya..” Jawab Yoori.
“Ish jeongmal... Jadi rupanya namja itu yang kau sukai??! Bagaimana bisa kau menyukai namja itu??” Daehyun sampai berdiri karena kesal ternyata namja yang Yoori sukai itu TaeJun.
Daehyun mondar-mandir di depan Yoori. “Kau menolak Jaehyo, Jaejoong, Chansung, dan Chihoon hanya karena namja itu??! Ahh Jinjjaro!” Lanjut Daehyun.
“Memangnya kenapa???” Yoori menjadi semakin pusing karena tingkah Daehyun.
“Dia itu sangat menyebalkan, bahkan aku tidak bisa menghampiri JiYeon ke rumahnya karena dia tidak menyukaiku.”
“Kenapa harus kau kaitkan dengan masalahmu??”
“Yaa.. , pokoknya aku tidak suka! Aku sebagai sahabat terbaikmu. Tidak setuju dan tidak merestuinya sampai kapanpun!” Ujar Daehyun.
Yoori kembali menangis.
“Yaaa’ Yoori-ya.. uljima..kenapa menangis lagi? ih kau ini..” kata Daehyun, lalu ia  kembali duduk d sebelah Yoori. Daehyun membuka tasnya.. dan mengeluarkan sesuatu.
“Uljima.. aku punya sesuatu untukmu..” Daehyun menunjukkan pada Yoori kotak dengan pembungku warna ungu ditangannya.
“Mwoya?” Tanya Yoori. lalu menerima kotak yang besarnya kurang lebih 20 x 35 cm itu. cukup besar.
“babo-ya.. sudah jelas-jelas itu kado.”
“Ne! tapi untuk apa?”
“Karena kau sudah membantuku agar bisa menjadi kekasih Jiyeon.” Daehyun tersenyum. "Idemu waktu itu sangat brilliant." Daehyun mengedipkan matanya.
Yoori mulai membuka pembungkusnya. Dan ternyata kadonya adalah sebuah…..




TBC~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar