Rabu, 22 Mei 2013

Fan Fiction ~ Nepyeoni (on your side) Part 2.



Title: Ne Pyeoni-ya (Nepyeoni) – on your side. Part 2. (Lanjutan FF ~ Just For You)
Author: Mutiara Dini (Kwon Yura)
Genre: Romance
Cast: T-ARA’s JiYeon, B.A.P’s Daehyun, Infinite’s Woohyun, SNSD’s Taeyeon.
Disclaimer: FF ini asli punya saya.. No Plagiat.
Note: mianhae kalau ada typo :’( aku masih belajar buat FF~^^

-HappyReading-


*Daehyun POV
“Mianhae…kalau kau tidak bisa, tidak usah kau paksakan, aku akan mengatakan pada eomma kalau kau sedang sibuk dan tak bisa ke Busan.” Aku tersenyum, walau aku tahu pasti eomma akan kecewa karena ini. Walaupun aku sangat ingin JiYeon mau pergi keBusan bersamaku.
“Aku akan ke Busan bersamamu akhir pekan ini.” JiYeon tersenyum. Akhirnya senyuman itu… dia kembali tersenyum untukku. Aku benar-benar bahagia melihat senyumnya.
“Jinjjayo?”
“Ne… demi Ny.Jung..”Jawab Jiyeon lalu meninggalkanku. Ah..aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya.

~*~*~*~*~

*Woohyun POV
                Akumembantunya mengemas pakaian, JiYeon akan pergi ke Busan besok, dan.. bersama Jung Daehyun. Huh! Ingin sekali melarangnya, tapi JiYeon bilang ini demi Ny.Jung, ahhh tetap saja aku tidak tenang, andai di rumahku tidak ada acara keluarga, aku pasti akan membuntutinya ke Busan agar bisa mengawasinya dengan Daehyun. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan acara keluarga besok atau Appa akan marah besar. Huahhh.. mengapa harus di hari yang bersamaan dengan rencana JiYeon ke Busan. Ini meyebalkan.
“Kau akan lama di Busan?” Tanyaku.
“Molla.. libur sekolah hanya 5 hari, jadi mungkin hanya 3 hari.” Jawabnya masih dengan merapikan pakaian.
“Aku takut perasaanmu pada Daehyun akan kembali seperti dulu lagi..” aku menunduk.
“Oppa…” JiYeon tiba-tiba memelukku dari belakang.
“Aku menyayangimu.. bukankah kita akan menikah?”Tanyanya. Aku menggenggam tangannya yang sedang melingkar di depan perutku.
“Aku juga menyayangimu.. ne.. kita akan menikah..lagipula kita sudah seperti pasangan suami istri sekarang. Hehe… baiklah jangan kecewakan aku dan cepat kembali.”

~*~*~*~*~

--Besoknya— Malam hari--
--Di rumah keluarga Jung—

*Author POV
                JiYeon dan Daehyun sampai di Busan malam hari, mereka disambut hangat oleh Ny.Jung dan yang lain, Ny.Jung segera memeluk JiYeon, mempersilahkan JiYeon untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Daehyun hanya tersenyum melihat ini.
                Mereka berbincang banyak di ruang keluarga, hanya Ny.Jung, Daehyun dan JiYeon. Keluarga Daehyun yang lain sudah pergi ke kamarnya masing-masing untuk tidur. JiYeon merasa sangat tersentuh dengan perlakuan Ny.Jung, Ny.Jung sudah menganggap JiYeon seperti anaknya sendiri. Bahkan Ny.Jung menyuruh JiYeon untuk memanggilnya ‘eomma’.
“JiYeonie.. gomawo karena sudah mengubah Daehyun menjadi anak yang baik..” kata Ny.Jung seraya menggenggam tangan JiYeon.
“eoh?” JiYeon terlihat tidak mengerti. Daehyun hanya menunduk.
“Dulu… Daehyun selalu membantah eomma.. dia suka sekali berbohong dan mengecewakan eomma. Tapi akhir-akhir ini dia benar-benar berubah, dan eomma rasa ini karena dia bersamamu..”
“Aku bahkan tidak mengetahui akan hal ini eomma.. aku ikut senang kalau Oppa berubah menjadi lebih baik.” Jawab JiYeon ragu.
“Eomma mohon.. jangan pernah pergi dari Daehyun kami..jangan tinggalkan dia, dia sangat menyayangimu, bahkan beberapa waktu lalu saatDaehyun tidur disini, tiap malam dia selalu mengigau namamu. Bukankah berarti yang dipikirannya hanya kau..”
“Jinjjayo?” JiYeon benar-benar terkejut mendengar halitu. JiYeon menatap Daehyun.
“Mwoyaaaa? Eomma sudah hentikan.” Daehyun sendiri tidak menyadari kalau dia sering mengigau nama JiYeon saat dia tidur. Daehyun benar-benar malu.
“Baiklah.. ini sudah malam.. kalian tidur saja ne..”kata Ny.Jung.
“JiYeon tidur di kamar mana eomma?” Tanya Daehyun.
“Tentu saja tidur bersamamu.” Jawab Ny.Jung santai.
“Mwo??” Daehyun dan JiYeon terkejut.
“Kita belum menikah eomma.” Lanjut Daehyun.
“Tidak ada kamar kosong lagi…” jawab Ny.Jung.
“Yasudah aku tidur di sofa saja.” Daehyun menjatuhkan badannya di sofa.
“Jung Daehyun… lagipula kalian akan menikah tak lama lagi kalau pendidikan kalian sudah selesai. Sudahlah.. tak perlu sungkan pada Appa dan eomma.. Tidurlah berdua.. apa kau tega membiarkan JiYeon tidur sendiri? Pergilah ke kamar sekarang… ppalliwa…” Ny.Jung mendorong Daehyun dan JiYeon agar segera pergi ke kamar.
“Eomma..” Daehyun merengek, dia sangat tidak enak pada JiYeon. JiYeon hanya diam dan tak tahu harus berkata apa.
“Ppalli Ppalli!” Ny.Jung tetap menyuruh Daehyun dan JiYeon, hingga akhirnya mau tak mau JiYeon dan Daehyun kini berada di dalam kamar yang sama. Dulu JiYeon sering berada di apartemen Daehyun saat mereka masih berpacaran, tapi tidak untuk tidur di ranjang yang sama. JiYeon hanya datang untuk sekedar bertemu dan membersihkan kamar Daehyun yang berantakan.
“Mianhae..” Untuk yang kesekian kalinya Daehyun meminta maaf pada JiYeon. Mereka berdua kini duduk bersama di tepi ranjang. Mereka sudah mengenakan pakaian tidur masing-masing.
“Wae?”
“Karena harus tidur bersamaku malam ini..”
“Gwenchanayo…”
“Tidurlah.. kau pasti mengantuk.. besok eomma akan mengajak kita ke pulau jeju, pasti akan sangat melelahkan.” Daehyun segera naik ke ranjang dan memejamkan matanya. JiYeon mengikuti Daehyun dan berbaring disamping Daehyun. Ini sangat canggung. Sekitar 30 menit mereka berbaring di atas ranjang yang sama dengan jarak satu sama lain sekitar 55 cm. JiYeon membelakangi Daehyun. Daehyun menatap yeoja di sebelahnya itu, dia tidak bisa tidur karena banyak hal yang sebenarnya ingin ia katakan pada JiYeon.
                Perlahan Daehyun mendekat pada JiYeon. JiYeon juga belum bisa tidur saat itu, JiYeon terkejut karena tiba-tiba Daehyun memeluk JiYeon. Terdengar isakan pelan, Ya..Daehyun menangis. JiYeon tak bergeming.
“JiYeon-ah.. aku ingin kau kembali padaku..jaebal..”Daehyun memeluk JiYeon yang membelakanginya. JiYeon tak menjawab, tapi detak jantung JiYeon mulai tak terkontrol.
“Kau mungkin tak akan pernah tahu bagaimana rasa menyesalnya aku saat kau meninggalkanku, aku menyesal.. aku sangat menyesal sudah melukai hatimu. Aku mencintaimu JiYeon.. benar-benar mencintaimu..”Lanjut Daehyun, airmatanya terus mengalir. Daehyun tak bisa lagi menahannya.
“Aku tahu ini sudah terlambat.. aku tahu kau pasti sangat menyayangi namja itu. Hatiku sakit saat aku membayangkan kau tidur bersamanya tiap malam. Saat kau menghabiskan hari-harimu dengannya tiap waktu. Kau pasti sangat bahagia. Sementara aku selalu memikirkanmu.. apa yang bisa aku lakukan?” JiYeon mulai meneteskan air matanya. Dia tak pernah menyangka akan hal ini.
“Perasaanku pada Minji hanya sesaat, tapi tidak untukmu.. aku berusaha melupakanmu tapi aku tidak bisa, jika aku tidak memikirkan eomma, mungkin aku lebih memilih untuk bunuh diri. Aku benar-benar tidak bisa terus seperti ini. Aku mencintaimu, tapi aku harus selalu melihat kau bersama orang lain. Kembali padaku chagi-ya.. aku merindukanmu.. jangan membenciku seperti ini..” Daehyun tetap memeluk JiYeon, dia tak peduli kalaupun JiYeon tidak mendengarkan kata-katanya. JiYeon tak menjawab, tapi JiYeon membiarkan Daehyun memeluknya saat itu.

---

                Pagiharinya, Ny.Jung berniat membangunkan Daehyun dan JiYeon, tapi urung beliaulakukan, Ny.Jung tersenyum melihat Daehyun yang masih tertidur memeluk JiYeon.Ny.Jung menutup kembali pintu kamar Daehyun dan membiarkan mereka berdua tetap tertidur pulas.

---

                JiYeon mulai membuka matanya, dia tak menyangka Daehyun masih memeluknya, JiYeon berbalik dan melihat Daehyun masih tertidur pulas dengan mata sembabnya, dia yakin Daehyun pasti menangis semalaman. JiYeon perlahan melepaskan pelukan Daehyun. Daehyun terbangun, meregangkan badannya dan segera meraih tangan JiYeon saat JiYeon akan turun dari ranjang.
“Kau sangat membenciku?” Tanya Daehyun.
“Tidak.” Jawab JiYeon singkat. Lalu akan segera beranjak menuju kamar mandi, tapi Daehyun menarik JiYeon. Daehyun mencium kasarbibir JiYeon, melumatnya sekali tanpa balasan dari JiYeon. Tapi…
“O’oww.. Mianhae.. aku tidak tahu..” Wooram tak sengaja melihat kakaknya berciuman dengan JiYeon. Wooram segera menutup pintu kamar Daehyun lagi. JiYeon yang sudah lepas dari ciuman Daehyun segera mendorong Daehyun.
“Apa yang kau lakukan??!” JiYeon mengusap bibirnya.
“Mencium yeojaku..” Jawab Daehyun.
“Aku bukan yeojamu.”
“Ssst.. Pelankan suaramu…” Daehyun meletakkan teulunjuk diujung bibirnya.
“Aku tidak peduli. Kau yeojaku selamanya.. aku menganggapmu sebagai yeojaku selamanya. Aku mohon JiYeon jangan seperti ini..aku minta maaf… apa lagi yang harus aku lakukan agar kau kembali padaku??!”Lanjut Daehyun yang kini memegang pundak JiYeon.
“Oppa.. aku milik Nam Woohyun.. kau dan aku akan melukai perasaannya kalau kau terus seperti ini.. dan aku tidak ingin itu terjadi… aku memang masih tidak bisa melupakan apa yang pernah terjadi pada kita. Tapi rasa sayangku pada Woohyun Oppa jauh lebih besar.. dia yang ada disampingku selama ini.. dia yang menyayangiku dengan tulus selama ini.. akutak akan mungkin bisa meninggalkannya hanya untuk kembali padamu.. aku mohon kau mengerti  Oppa..” jawab JiYeon kemudian segera berlalu ke kamar mandi, meninggalkan Daehyun yang masih diam ,menunduk, ia merasa sangat sedih mendengar jawaban JiYeon.

~*~*~*~*~

--Di Pulau Jeju—

“Hana.. Dul.. Set…” Wooram mengambil gambar Daehyun dan JiYeon menggunakan ponsel Daehyun.
“Eonni yeppeuda…” seru Wooram sesaat setelah selesai mengambil gambar. Foto JiYeon dan Daehyun yang selalu terlihat serasi.
“Gomawoyo..” JiYeon tersenyum.
“Eonni kalian berdua sangat serasi.. aku membayangkan bagaimana nanti anak kalian, pasti sangat cute.” Wooram masih memperhatikan foto Daehyun dan JiYeon. JiYeon hanya tersenyum.
“Berikan ponselku!” Daehyun meraih ponselnya.
“Ins…tagram..” Daehyun mulai bermain dengan layar ponselnya, Daehyun berniat mengunggah foto itu ke akun instagram miliknya.
“Hajima.. Nanti dia melihat foto itu..” kata JiYeon membuat jari Daehyun berhenti bergerak di atas layar ponselnya itu.
“eoh?” Wooram menoleh seketika.
“Nuguya? Kau kan kekasih Oppa.. harusnya kau senang,kalau Oppa mengunggah foto kalian..” Lanjut Wooram menatap JiYeon.
“Ng..?” JiYeon menjadi salah tingkah.
“Ah lupakan! Aku akan mengunggahnya nanti. Wooramie..kau temani saja eomma dan Appa.. biarkan aku dan JiYeon berdua.” Daehyun segera memasukkan ponselnya, tidak ingin adiknya yang cerewet itu membuat JiYeon tidak nyaman.
“Aneh..” Wooram menggaruk-garuk kepalanya.
“Baiklah.. selamat bersenang-senang..” Wooram membungkuk lalu segera menjauh dari Daehyun dan JiYeon.
“Kaja! Kita kesitu JiYeon..” Daehyun menggandeng tangan JiYeon. Mengajak JiYeon untuk ke hamparan bunga berwarna kuning. Pemandangan di sekitar mereka sangat indah. Udara juga sangat sejuk saat itu.Angin menghempas tubuh mereka.
“JiYeon-ah…” Daehyun memperbaiki poni JiYeon yang terkena hembusan angin. Lalu memberinya setangkai bunga berwarna kuning yang ia ambil dari sekelilingnya.
“Kau bahkan lebih cantik dari Ga Eul..” kata Daehyun.‘dueng!’ Daehyun berkhayal akan ‘Boys Before Flower’.
“Mworago? Dan kau Yi Jeong? Geuraeyo?” JiYeon memukul dahi Daehyun dengan bunga yang ada di tangannya.
“Aniyo.. aku Jung Daehyun.. kau Park JiYeon..”
“?”
“Daehyun…” Daehyun membentuk tangan kanannya seperti belahan hati.
“JiYeon..” Daehyun kini menyatukan tanagn kiri dan tangan kanannya membentuk hati.
“Love” Daehyun mengedipkan matanya. JiYeon mengerutkan dahinya lalu memisahkan hati yang di bantuk oleh tangan Daehyun.
“JiYeon… Woohyun.. forever in love..” kini giliran JiYeon yang membentuk tangannya. Daehyun menghembuskan nafas kesal.
“JiYeon.. katakan sekarang apa saja yang bisa membuat kita kembali.. ayo katakan.. aku akan turuti..”
“Tidak ada yang harus kau turuti..”
“Huff…. Sampai kapan kita seperti ini?”
“Kau bilang ini hanya pura-pura bukan?”
“Tapi kalau eomma menginginkan kita menikah, apa yang akan kau lakukan?”
“Mmm..”
“Apa kau akan dengan egois mengatakan pada eomma bahwa semua ini pura-pura?”
“Kenapa beban kini ada padaku? Kenapa aku yang harusmenanggungnya? Kau yang memulai.. dan sekarang aku yang ada di posisi sulit…kau membuatku tertekan dengan kebohongan ini..” JiYeon menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Daehyun segera memeluk JiYeon.
“Maafkan aku.. ini memang salahku.. andai saja aku tak mengatakan kata-kata itu pada Minji saat itu.. pasti semua akan baik-baik saja..”
“Jujur.. Saat itu aku memang hanya berpura-pura berpacaran denganmu..” Lanjut Daehyun membuat JiYeon menatap Daehyun seketika.
“Dengarkan aku dulu…” Daehyun kembali meletakkan kepala yeoja yang ia sayangi itu menempel dengan dada bidangnya.
“Aku memang menyukai Minji saat itu.. Minji memaksaku untuk menyukaimu.. Minji juga yang memaksaku untuk menjadi kekasihmu.. Aku sebenarnya tak ingin berusaha mendekatimu.. aku tahu kau terlalu baik untukku..aku tahu kau terlalu polos dan mana mungkin aku bisa menyukai gadis polos sepertimu. Tapi.. kenyataannya berbeda.. perasaanku pada Minji perlahan berubah.. aku lebih sering memikirkanmu.. kau yeoja pertama yang membuatku mengerti rasa sayang yang sesungguhnya.. Aku mencoba menganggapmu seperti layaknya yeojaku yang sesungguhnya.. aku mencoba mencintaimu.. aku mencoba untuk melakukan yang terbaik untukmu…”
“Tapi .. aku mendengarnya.. kau mengatakan kalau kau masih mencintai Minji..” kata JiYeon.
“Perasaan itu memang masih tersisa.. tapi rasa cinta dan sayangku padamu jauh lebih besar.. kau tak akan pernah mengerti.. kau benar-benar membenciku.. kau tak mau mendengarkan penjelasanku.. kau mengabaikan telepon dan pesan dariku. Andai kau tahu saat itu aku benar-benar hancur.. andaikan aku namja seperti Woohyun.. mungkin aku sudah bunuh diri. Aku berusaha menguatkan diriku seorang diri. Aku kehilangan yeojaku dan secepat itu pula aku mendengar kau dan Woohyun berpacaran..”
“Oppa Mianhaeyo..” JiYeon menangis dan memeluk erat Daehyun.
“Kalau saja saat itu aku masih menjadi Jung Daehyun yang jahat.. aku tak akan mungkin membiarkan Woohyun seenaknya merebutmu.. tapi kau selalu menceritakan padaku bagaimana Nam woohyun, aku tak mungkin menghabisi seseorang yang sudah sepenuh hati di jaga olehmu. Aku tak ingin membuat apa yang lakukan padanya berakhir sia-sia.”
“Oppa..” JiYeon merasa bersalah.
“JiYeon.. harusnya saat itu kau mengerti.. kalau aku bisa mengatakannya padamu saat itu.. kalau saja aku tidak memikirkan nasib Woohyun, aku juga tidak ingin kau tinggal bersamanya.. aku sudah sangat sabar melihat yeojaku tidur bersama namja lain, melihat yeojaku tinggal serumah dengan namja lain. Tapi kau dengan mudahnya mengakhiri hubungan kita hanya karena aku yang kau lihat sedang menenangkan Minji yang sedang bersedih karena baru saja di permainkan oleh Dongwoo. Ini tidak adil untukku..”
“Oppa maafkan aku…” JiYeon merasa sangat egois selama ini. Daehyun mendekap JiYeon, Daehyun merasa sedikit lega telah mengungkapkan ini pada JiYeon. Semua yang tertahan di hatinya sedikit berkurang. Daehyun mengerti sekarang.. JiYeon masih mencintainya. JiYeon tidak benar-benar melupakan perasaannya. Benar saja, Daehyun adalah cinta pertama JiYeon. Daehyun namja pertama yang JiYeon sukai. JiYeon tak akan dengan mudah melupakan perasaannya sekalipun ia sangat mencintai Woohyun.

~*~*~*~*~

--Di Super Market—Seoul—

“Wae?? Ahh jinjja.. kenapa aku benar-benar cemas..? apa yang JiYeon lakukan disana?” Woohyun meremas pegangan trolly di hadapannya. Dia teringat JiYeon.
“Eotteohke..????” Woohyun mulai benar-benar tidak nyaman dengan perasaannya. Dia mengeluarkan ponselnya.
“JiYeon melarangku untuk menghubunginya.. huahhh..mwoya.. aku kekasihnya.. ish!” Woohyun memukul-mukul layar ponselnya.
“Woohyun Oppa??” Sapa seorang yeoja.
“Ahra-ssi? Apa yang kau lakukan disini?” Woohyun menjadi salah tingkah.
“Hehe.. tentu saja aku belanja.. tempat ini tidak terlihat seperti sebuah Club bukan?” Jawab Ahra.
“Ah.. Ne.. pabo Woohyun-ah..”  Woohyun menggaruk-garuk kepala belakangnya yang sebenarnya tidak gatal, Woohyun menjadi sedikit canggung.
“Aku melihatmu memukul layar ponselmu.. wae?”
“ah? Ige.. hanya sedikit hang.. sekarang sudah membaik..”
“Apa aku mengganggumu?” Tanya Ahra yang melihat Woohyun sangat canggung padanya.
“Aniya.. apa kabarmu?”
“Baik.. kau sendiri apa kabar? Sepertinya kau sudah tidak marah padaku..”
“Mmm.. aku sudah melupakannya.. aku baik-baik saja..kau dan HimChan? Sungyeol? Minhyuk” Tanya Woohyun seraya kembali memilih-milih apel di sebelahnya.
“Ishh.. aku terdengar seperti seorang Play girl.. aku sudah berpisah dengan mereka semua.. memang tak ada yang lebih baik darimu.”Jawab Ahra yang juga memilih-milih apel untuknya sendiri. Ahra berbohong, dia masih menjalin hubungan dengan HimChan. Tapi Ahra memang selalu seperti ini,dengan siapapun dia berpacaran, dia akan tetap menyukai Woohyun. Woohyun dan Ahra pernah berpacaran selama 2 tahun, 9 kali putus, dan 8 kali Woohyun memaafkan Ahra lalu kembali berpacaran. Hingga yang terakhir kalinya dia tak ingin kembali bersama Ahra.
“Huh?” Woohyun menatap Ahra seketika. Ahra hanya tersenyum.

---

*Woohyun POV
                Aku melanjutkan memilih-milih apel, ini benar-benar canggung, kenapa gadis ini tidak menjauh juga.. aku mana mungkin mengusirnya untuk menjauh dariku. Huh.
“Oppa.. aigoo.. lama sekali kita tidak bertemu..!!” Terdengar suara yeoja lagi. Aku segera menoleh dan.. aku berusaha mengingatnya,nugu? Aku benar-benar lupa.
“Mmm..”
“Kau melupakanku?” Tanya gadis itu, dia terlihat sedih, tapi bagaimana lagi..
“Nuguya??” Ahra mendorong pelan bahu gadis itu. Ahh..aku tahu benar bagaimana sifat Ahra. Aku menarik tangan Ahra agar dia tidak mengasari gadis ini. Memposisikan dia di belakangku tanpa berkata apapun.
“Oppa.. aku Yoori..”
“Yoo… Ri?” aku berusaha mengingatnya.
“Incheon..” gadis ini seperti memberiku clue. Aku mulai mengingat sesuatu.
“Kau sudah mengingatnya?” Tanyanya dengan mata berbinar. Aku memang sudah mengingatnya.. huhu.. Wae??? Kenapa dia harus muncul.
“Ne, aku ingat..” kataku malas-malasan. Yoori memelukku, argghh gadis ini tidak mengerti kalau ini tempat umum. Huh!
“Ige Mwoya??” Ahra segera menarik Yoori. Oh Tuhan… aku ingin kabur sekarang juga. Yoori adalah Yeoja yang bertemu denganku di bandara saat aku masih sekolah dasar. Ya, dulu kita menjalin sebuah hubungan yang lebih dari sekedar berteman. Aku tidak yakin apa hubungan itu bisa dibilang berpacaran. Tapi.. aku melakukan ciuman pertamaku dengannya. Bahkan kita pernah berjanji untuk menikah jika kita sudah dewasa. Ahh… ini memalukan harus bertemu dengannya lagi.
“Ahra-ya.. ini Cha Yoori ..” aku mencoba mendinginkan suasana. Aku melihat raut wajah Ahra, ada apa dengannya? Apa dia benar-benar masih menyukaiku?

---

“Woohyun-ssi..” suara siapa lagi ini?? Aku mengusap dahiku, aku mulai stress. Aku berbalik badan dengan cepat dan berharap agar semua ini cepat selesai.
“Noona????!!” Aku benar-benar terkejut dan hampir terjatuh saat melihat yeoja yang menyapaku barusan. Ini bukan Hyosung Noona. Dia…

~TBC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar