Rabu, 22 Mei 2013

Fan Fiction ~ Nepyeoni (on your side) Part 4.


Title: Ne Pyeoni-ya (Nepyeoni) – on your side. Part 4. (Lanjutan FF ~ Just For You)
Author: Mutiara Dini (Kwon Yura)
Genre: Romance
Cast: T-ARA’s JiYeon, B.A.P’s Daehyun, Infinite’s Woohyun, SNSD’s Taeyeon.
Disclaimer: FF ini asli punya saya.. No Plagiat.
Note: mianhae kalau ada typo :’( aku masih belajar buat FF~^^


-HappyReading-


*Author POV
“JiYeon-ah..” Sapa seorang namja yang sudah berdiri disisi meja makan JiYeon. Seketika JiYeon, Woohyun, dan Dongwoo menoleh pada namja itu, ‘Jung Daehyun’.
“Ikut aku sekarang..”Daehyun meraih tangan kanan JiYeon.
“Tetap disini.”Woohyun memegang tangan kiri JiYeon. JiYeon melihat tangan Woohyun, lalu ia kembali menatap Daehyun.
“Memangnya ada apa?”Tanya JiYeon.
“Aku ingin bicara denganmu.” Jawab Daehyun santai.
“Heh! Jung Daehyun! Apa kau tidak lihat kita sedang makan? Sebenarnya kau ini kenapa?? Selalu mendekati JiYeon. Apa kau tak sadar hubungan kalian sudah berakhir?” teriak Dongwoo membuat seisi kantin menoleh ke arah Daehyun. Minji segera menghampiri Daehyun.
“Oppa.. sudahlah.. ayo kita pergi.. jangan ganggu mereka.. mereka sedang makan.” Minji berusaha menarik Tangan kanan Daehyun. JiYeon melihatnya, ingin sekali JiYeon menjauhkan tangan Minji dari tangan Daehyun. Tapi itu tak mungkin ia lakukan. JiYeon menghela nafasnya.
“Oppa.. Mianhaeyo..aku sedang makan.” JiYeon melepaskan tangan Daehyun dari tangannya lalu segera melanjutkan makannya tanpa menoleh ke arah Daehyun lagi. DongWoo tersenyum sangat menghina pada Daehyun.
“Kenapa masih disini??”Tanya Dongwoo. Daehyun menatap tajam Dongwoo lalu segera pergi bersama Minji meninggalkan meja makan JiYeon.

---

                Minji dan Daehyun pergi ke kelas Minji, Daehyun duduk di sebelah Minji seraya menunduk. Minji berusaha mengajak Daehyun berbicara.
“Oppa .. aku tahu bagaimana perasaanmu..”
“Hmmm..”
“Apa yang bisa aku lakukan?”
“Aku bisa melakukannya sendiri. Gomawo sudah peduli padaku. Kau tak perlu masuk dalam masalahku.”
“Tapi aku masih merasa semua ini salahku. Aku yang membuat hubungan kalian berakhir..”
“Minji-ya..” Daehyun kini menatap Minji.
“Sudah berapa kali aku bilang padamu, hanya aku yang pantas di salahkan untuk masalahku dan JiYeon..kau tak perlu menyalahkan dirimu.. masalahmu dan JiYeon juga belum membaik..aku tak ingin semakin menyulitkan hidupmu dengan urusanku..”
“Lagipula sebenarnya hubunganku dan JiYeon juga sudah membaik..” lanjut Daehyun, membuat mata Minji berbinar seketika.
“Jeongmalyo?”
“Nde, hanya saja aku masih bingung, bagaimana caranya membuat JiYeon kembali padaku. Aku benar-benar stress memikirkan ini..”
“Itu sulit Oppa..Woohyun Oppa dan JiYeon tinggal bersama.. dan mereka saling mencintai.”
“Aku tahu.. tapi aku rasa JiYeon juga masih mencintaiku.”
“Huufft, ini rumit..tapi aku yakin.. kalau kau dan JiYeon pasti akan bersama lagi..”
“Bagaimana bisa kau yakin seperti itu?” Tanya Daehyun heran.
“Mmm.. aku melihat orangtua Woohyun beberapa hari yang lalu di sekolah ini. Dari cara mereka melihat JiYeon, sepertinya mereka kurang menyukai JiYeon. Kasihan JiYeon..pantas saja seperti itu.. keluarga Woohyun sangat terpandang, pasti kau juga mengetahuinya kan? Sedangkan JiYeon hanya gadis biasa..”
“Geuraeyo?”
“Ne.. aku yakin lama kelamaan JiYeon akan lebih merasa nyaman denganmu.. bukankah keluargamu sangat baik padanya..”
“Percayalah.. JiYeon pasti akan bersamamu..” Lanjut Minji tersenyum.
“Gomawo Minji-ya..”Daehyun juga tersenyum. Kini Minji sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

~*~*~*~*~

                Besoknya saat malam hari, JiYeon datang ke rumah Woohyun bersama Woohyun dan Dongwoo. Tamu di pesta itu sangat banyak. Pesta di adakan di halaman belakang rumah Woohyun yang sangat luas. JiYeon mengenakan mini dress berwarna hitam, Woohyun yang membelinya untuk JiYeon.
“Oppa.. kau sebut ini pesta kecil? Ini pesta besar.. aku saja sampai tak bisa menghitung banyaknya tamu undangan yang hadir.”
“Hehe.. ini tidak terlalu besar andaikan kau tahu pesta ulang tahun Hyosung Noona saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas.”
“Pasti ini menghabiskan uang yang cukup banyak..” JiYeon masih memandangi sekelilingnya.
“Apa adikmu tidak memiliki kekasih?” Tanya Dongwoo iseng.
“Kenapa memangnya?”
“Kau bisa mengenalkannya padaku.” Kata Dongwoo. -___-
“Kau lihat dia…” Woohyun menunjuk seorang namja.
“Siapa dia?”
“Baro. Dia kekasih adikku.” Jawab Woohyun. JiYeon terkejut.
“Hah? kau serius? Baro temanmu yang tinggal di lantai 8?” Tanya JiYeon.
“Apa aku belum menceritakannya padamu? Ne.. Baro dn Yura sudah berpacaran. Aku juga tidak tahu sejak kapan. Tapi sebulan yang lalu aku memergoki mereka berkencan. Jangan sampai eomma atau appa tahu soal ini. mereka tak akan merestui Yura dan Baro.” Jawab Woohyun.
“Ah sial.” Dongwoo memandang Baro yang sedang duduk sekitar 4 meter dari tempat Dongwoo berdiri.

---

*Woohyun POV
                Aku membiarkan Dongwoo sendiri membaur dengan tamu undangan yang lain. Aku mengajak JiYeon menemui Yura, Appa, Eomma, dan Hyosung. Jiyeon terlihat sangat gugup, aku berusaha membuatnya agar lebih tenang.
“Annyeonghaseyo..”JiYeon membungkuk.
“Eonni kau datang..aku senang sekali..” Yura memeluk JiYeon. aku melihat ke arah Noona. Aku harap dia menahan kata-kata pedasnya sekarang. Eomma dan Appa tak berkata apapun. Hufft..mereka terlalu dingin pada JiYeon.
“Kau tak membawa apapun untuk Yura?” Tanya Noona pada JiYeon, membuatku melotot ke arahnya.
“Ng..” JiYeon terlihat bingung, ahh.. pabo Woohyun-ah.. kenapa tak membelikan sesuatu untuk Yura.
“Kita tadi sekolah, tidak ada waktu untuk membeli kado. Aku dan JiYeon akan membelikannya besok.” Kataku berusaha membela JiYeon agar tak semakin di sudutkan oleh Noonaku ini.
“Duduklah..” Eomma mempersilahkan JiYeon duduk walau ekspresi wajahnya sangat datar. Kita kini berada di meja makan yang sama. Meja makan bundar. Yura meninggalkan kami, aku melihatnya berjalan ke arah Baro.
“Jangan gugup chagi-ya.. saranghaeyo..” aku berbisik pada JiYeon. JiYeon mengangguk dan tersenyum.
“Annyeonghaseyo..”terdengar suara yeoja, ahh aku mengenalnya. Aigoo.. dia diundang ke acara ini juga?? Bagaimana ini??
“Ahh Taeyeonie..duduklah di samping Woohyun.” Eomma tersenyum, dan mempersilahkan Taeyeon Noona duduk di kursi kosong tepat di sampingku. Perilaku eomma yang berbeda ini tentu membuat JiYeon mungkin sedikit kecewa, aku melihat JiYeon menunduk. Appa dan yang lain pun menyambut hangat kedatangan Taeyeon Noona. Taeyeon Noona mengenakan mini dress berwarna merah. Dia sangat cantik malam ini. Bagaimana kalau Dongwoo melihatnya?? Aigoo.. semoga Dongwoo tak memperhatikan Taeyeon Noona.
“Hi.. kau JiYeon?” Taeyeon noona menyapa JiYeon dan mengajak JiYeon berkenalan. Aku berada diantara mereka, ini membuatku seperti sulit bernafas. Aku menjadi bingung harus berbuat apa sekarang.
“Ne, JiYeon imnida..”
“Taeyeon imnida..”
“Dia lebih tua darimu..” kataku memberitahu JiYeon agar memanggil Taeyeon Noona dengan ‘eonni’.
“Ahh.. ne.. senang bertemu denganmu eonni..” JiYeon sangat ramah, andai kau tahu kalau yeoja ini sudah mengambil seperempat hati namjamu. :’(
“Ne.. kau sangat cantik.”
“Gomawo..”
“Kau lebih cantik daripada dia..” kata Hyosung Noona sesuka hatinya. Aku menggenggam tangan JiYeon.
“Jangan pedulikan dia.. dia hanya tidak pernah menyukai apa yang berhubungan denganku..” bisikku pada JiYeon.
“Woohyun-ssi, aku membawa namyeonie..” kata Taeyeon Noona tiba-tiba saat aku masih berbicara dengan JiYeon.
“Oh ya? Dimana dia?”
“Namyeonie?” JiYeon terlihat bingung.
“Seekor kucing milik kita.. kau mau lihat chagi?” Tanyaku.
“Kaja Woohyunie..”Taeyeon noona meraih tanganku. Tapi aku tak bergerak mengikutinya, ada JiYeon disini.. dia pasti akan berpikir yang macam-macam antara aku dan Taeyeon noona.
“Aku masih menemani kekasihku.” Aku menolaknya.
“Mmm.. padahal namyeonie ingin bertemu appanya..”
“Noona.. jaebal..”kataku lirih. Taeyeon noona bisa membuat aku dan JiYeon bertengkar kalau terus seperti ini.
“Woohyun-ah.. temani Taeyeon..” kata Appa tiba-tiba.
“Tapi Appa..aku..”
“Biarkan JiYeon disini.. eomma ingin mengobrol.. kau temani saja Taeyeon..” kini eomma yang juga membela Taeyeon noona.
“Ne, temani saja Taeyeon. Kau tidak keberatan kan?” Tanya Hyosung Noona pada JiYeon.
“N.. ne..” jawab JiYeon, aku tahu dia sebenarnya sangat keberatan.
“Gwenchanayo?” Tanyaku.
“Ne.. gwenchana oppa..”jawabnya berusaha tersenyum. Mianhae chagi-ya.

---

“Woohyunie..” Taeyeon noona memeluk lenganku. Kini kita ada di ruang tengah di dalam rumahku, kita akan menuju teras. Taeyeon noona meletakkan namyeonie di teras rumahku.
“Hmmm..”
“Kau marah?”
“Aniya..”
“Lalu.. kenapa kau tak tersenyum?” Tanyanya, lalu aku menunjukkan senyumku.
“Maafkan aku, aku cemburu melihatmu dengan yeoja itu..” Taeyeon noona mengeluarkan suara manjanya.
“Noona.. dia yeojaku…kau tidak boleh cemburu dengannya, yang sekarang seharusnya cemburu itu dia..aku yang mengajaknya kesini. Aku merasa bersalah.”
“Woohyun-ssi..bolehkah aku memanggilmu Oppa?”
“Hah?”
“Apa tidak boleh?”
“Aku senang kau memanggilku Oppa..” aku tersenyum.
“Saranghaeyo Oppa..”kata Taeyeon Noona, omo.. jantungku berdebar.
“Gamsahamnida..”jawabku. Ahh jinjja… mungkin pipiku memerah sekarang.

---

*Author POV
                JiYeon sangat gugup, antara gugup,cemas, dan cemburu. 30 menit berlalu.. Woohyun belum juga kembali ke meja makan. Yura masih bersama Baro.. tak ada yang mengajak JiYeon berbicara kini,Tn.Nam dan Hyosung membaur dengan tamu undangan yang lain. Kini tinggal Ny.Nam dan JiYeon.

                Tangan JiYeon mengeluarkan keringat dingin. Dia benar-benar tak mengerti apa yang harus ia lakukan sekarang. JiYeon mulai kesal pada Woohyun. Dia ingin sekali pulang. Tapi bagaimana.. bahkan JiYeon lupa dimana pintu untuk keluar. Terlalu banyak pintu di rumah Woohyun, Dongwoo terlihat memiliki teman baru, dia sangat asyik mengobrol.

“JiYeon-ah .. gomawo sudah merawat Woohyun saat dia sakit.. tapi aku kecewa padamu karena tidak memberitahu kami.”  Kata Ny.Nam yang akhirnya mengajak JiYeon berbicara.
“Mmm.. aku ingin memberitahumu.. tapi Woohyun Oppa melarangku.”
“Aku menangis setiap hari karena mengkhawatirkannya. Aku merasa anakku telah hilang. Dan ternyata kau yang menyembunyikannya..”
“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya, Oppa bilang dia hanya butuh waktu untuk istirahat danmelupakan semuanya.”
“Termasuk melupakanku? Dan kau meng-iyakannya?”
“Ng...”
“Apa orangtuamu tahu soal ini?”
“Soal kalian tinggal bersama..” Lanjut Ny.Nam.
“Tidak…”
“Pantas saja.. huff…”Ny.Nam menghela nafasnya.
“Aku mohon.. suruh Woohyun kembali ke rumah.” Lanjut Ny.Nam menatap tegas ke arah JiYeon.
“Ne.. aku akan menyuruhnya kembali kesini..” JiYeon menunduk. Ny.Nam segera beranjak dan meninggalkan JiYeon sendiri. JiYeon benar-benar merasa di acuhkan. JiYeon mengecek ponselnya. Dan Woohyun belum juga membalas pesan dari JiYeon. JiYeon menelpon juga tidak di angkat. Ini bukan karena Woohyun sengaja mengabaikan JiYeon. tapi ponsel Woohyun ternyata tertinggal di dalam mobil.

---

“Oppa kepalaku pusing…”Taeyeon memegangi kepalanya. Dia tidak sedang berakting, kepalanya memang tiba-tiba pusing saat mereka sedang bermain dengan namyeonie.
“Apa kau belum makan?”Tanya Woohyun cemas memegang bahu Taeyeon. Taeyeon tak menjawab dan tetap memegangi kepalanya.
“Yasudah.. aku antar kau ke kamarku, istirahatlah disana..” Woohyun menuntun Taeyeon untuk istirahat di kamarnya. Woohyun juga sudah tidak sabar ingin segera menemui JiYeon.

---

“DongWoo-ya.. apa kau tidak ingin pulang?” Tanya JiYeon. JiYeon menghampiri Dongwoo yang sedang asyik berkenalan dengan seorang yeoja.
“Kenapa buru-buru? Yura masih akan memotong kuenya sebentar lagi..”
“Tapi aku ingin pulang.. aku tidak enak badan..”
“Jinjjayo? Kalau begitu kenapa tidak mengatakannya pada Woohyun. Kemana namjamu itu?”
“Aku tidak tahu.. dia pergi..tapi tidak kembali lagi padaku..” JiYeon memandang sekelilingnya, tapi Woohyun tak terlihat di antara tamu undangan yang lain.
“Ahh.. yasudah, ayokita cari Woohyun..”
“Maaf.. aku harus pulang..” Dongwoo berpamitan dengan teman barunya. Dan segera mengajak JiYeon untuk mencari Woohyun.

---

--Di Kamar Woohyun—

                Woohyun mengambilkan air putih. Membantu Taeyeon merebahkan badannya. Taeyeon memiliki penyakit anemia atau kurang darah. Dia akan mendadak pusing saat kelelahan.
“Oppa jangan pergi..”
“Aku harus menemui JiYeon, kasihan dia..”
“Apa kau tak kasihan padaku?” Taeyeon kini berusaha duduk.
“Noona.. jangan membuatku bingung..” aku menatapnya yang terlihat lemah. Tapi aku tak mungkin terus berada disini. Bagaimana JiYeon?
“Mianh…” aku ingin tetap meninggalkan kamarku, tapi kata-kataku terpotong saat Taeyeon Noona tiba-tiba menciumku. Aku membeku beberapa detik karena terkejut. Aku masih tak percaya apa terjadi sekarang. Taeyeon Noona menciumku. Aku merasakan bibirnya mengecup bibirku beberapa kali. Kau kenapa Nam Woohyun? Kenapa hanya diam? Menjauh sekarang.. Apa yang terjadi padaku..? aku seperti tak berdaya.

---

“Jeongmal! Rumah macam apa ini?? Dimana jalan keluarnya.. kita seperti sedang berpetualang di sebuah labirin.” Dongwoo kesal karena tak cepat menemukan pintu keluar. Ataupun bertemu dengan Woohyun.
“Ne.. menyebalkan..dan mengapa tidak ada orang..”
“Bagaimana caranya Woohyun melewati pintu-pintu ini dengan lancar? Rumah ini seperti istana, Dirumahku hanya ada 6 pintu. Aku tidak terbiasa seperti ini. aku bisa gila!” Dongwoo mengacak-acak rambutnya.
“Tenangkan dirimu Dongwoo-ya.. aku juga bingung..” JiYeon masih mengamati ruangan demi ruangan yang ia lewati.
“Kita coba lewat pintu itu.” Dongwoo menarik tangan JiYeon, mulai membuka pintu besar di hadapannya. Dan…
“Omo!” seru Dongwoo tak percaya apa yang sudah ia lihat. Dongwoo segera menutup mata JiYeon. TapiJiYeon melepaskan tangan Dongwoo. Ya, mereka berdua melihat Woohyun dan Taeyeon berciuman. Woohyun segera berbalik dan melihat JiYeon dan Dongwoo yang sangat terkejut.
“Oppa…” bibir JiYeon bergetar. Airmata sudah siap mengalir dari dalam matanya.
“Woohyun-ssi ternyata kau mengenal yeoja itu..” Dongwoo juga terlihat lemas saat melihat yeoja yang berciuman dengan Woohyun ternyata Taeyeon. Yeoja yang ia sukai.
“JiYeon-ah…” Woohyun segera berjalan ke arah JiYeon. kini mereka berhadapan.
“Aku tak menyangka kau seperti itu.” Dongwoo memandang kecewa pada Woohyun. Sedangkan JiYeon berkata dalam hati,“JiYeon.. jangan menangis… jaebal jangan egois.. ini memang sakit.. tapi bukankah kau juga melakukannya dengan Jung Daehyun saat di Busan. Kuatkan hatimu JiYeon… tapi Oppa terlihat sangat menikmatinya.. hatiku benar-benar sakit.”
“Aku menunggumu dari tadi Oppa..” kata JiYeon mencoba menahan air matanya.
“Chagi-ya Mianhae..”Woohyun berlutut di depan JiYeon. Taeyeon heran melihat Woohyun sampai rela berlutut pada JiYeon. JiYeon mulai menangis.
“Oppa.. aku baik-baik saja.. berdirilah… tak perlu meminta maaf.. beritahu saja dimana pintu keluar. Aku akan pulang sendiri.” JiYeon menghapus airmatanya yang terus mengalir.
“Mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendiri. Chagi-ya maafkan aku.. aku mohon jangan membenciku..” Woohyun masih berlutut.
“Aigoo aigoo…!! apa yang kau lakukan Nam Woohyun??!” kata Hyosung saat lewat di depan kamar Woohyun yang memang bersebelahan dengan kamarnya. Hyosung menghampiri Woohyun yang sedang berlutut.
“Heh kau! Apa yang kau lakukan pada Woohyun hingga ia harus berlutut seperti ini?” bentak Hyosung pada JiYeon. tumben sekali Hyosung peduli pada Woohyun.
“Berdiri! Kau ini Nam Woohyun! kau tak pantas berlutut di hadapan gadis miskin rendahan sepertinya!”Hyosung membantu Woohyun berdiri. JiYeon menangis.
“Noona hentikan! Aku yang salah!”
“Diam kau!! Dia membuat kau merendahkan dirimu. Ini tidak bisa dibiarkan.”
“Kau jangan pernah datang ke rumah ini lagi.” Lanjut Hyosung dengan mendorong JiYeon.
“Noona!!!!! Hetikan!!!” Woohyun membentak Hyosung. Semua menjadi hening.
“katakan saja dimana pintu keluarnya dan kita akan segera keluar dari rumah ini..” Dongwoo merangkul JiYeon yang terlihat sangat lemah sekarang. Dongwoo menatap tajam Woohyun.
“Ja! Ikut aku.” Hyosung akan menunjukkan pintu keluarnya. Woohyun sangat sedih dan menyesal. Taeyeon memeluknya dari belakang.
“Jangan tinggalkan aku..”
“Noona..uh kau..!” Woohyun kesal, tapi dia tidak bisa memarahi Taeyeon.

---

                JiYeon dan Dongwoo berjalan menyusuri trotoar untuk menuju halte. Dongwoo terlihat sangat berantakan. JiYeon masih melamun teringat apa yang ia lihat barusan.
“Ini terulang lagi.. kenapa ini harus terulang lagi…?” kata JiYeon lirih.
“Bersabarlah JiYeon..aku tahu ini menyakitkan.. bahkan mungkin lebih menyakitkan dari saat kau melihat Daehyun dan Minji dulu.. kau tenang saja. Aku akan menghajar Woohyun besok di sekolah.”
“Jangan lakukan itu..aku tidak ingin dia terluka..”
“Kau masih saja memikirkannya.. hatimu sebenarnya terbuat dari apa JiYeon-ah???” Dongwoo kesal. JiYeon tak ingin Woohyun terluka, JiYeon tak menjawab dan kembali diam, masih dengan berjalan bersama Dongwoo.

‘Ponsel JiYeon berdering’



TBC~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar