Rabu, 22 Mei 2013

Fan Fiction ~ Nepyeoni (on your side) Part 5.


Title: Ne Pyeoni-ya (Nepyeoni) – on your side. Part 5. (Lanjutan FF ~ Just For You)
Author: Mutiara Dini (Kwon Yura)
Genre: Romance
Cast :T-ARA’s JiYeon, B.A.P’s Daehyun, Infinite’s Woohyun, SNSD’s Taeyeon.
Disclaimer: FF ini asli punya saya.. No Plagiat.
Note : mianhae kalau ada typo :’( aku masih belajar buat FF~^^


-HappyReading-


*JiYeon POV
‘Ponselku berdering’ . aku ragu mengangkat telpon ini atau tidak, aku masih malas berbicara jika telpon ini dari Woohyun Oppa. Tapi tidak mungkin darinya, ini bukan nomor ponselnya. Ah! Tidak peduli, aku angkat saja dulu.
“Yeoboseyo..”
“Kau dimana?? Apa kau baik-baik saja?? Aku mendadak teringat kau, aku takut terjadi apa-apa denganmu..” namja ini berbicara sangat cepat di dalam telpon.
“Daehyun Oppa?” Tanyaku.
“Ne, apa kau baik-baik saja??” Tanyanya lagi.
“Berikan padaku!” Dongwoo merebut ponselku dan berbicara dengan Daehyun Oppa.
“Jung Daehyun ini aku Dongwoo.”
“Mwo?? Apa yang kau lakukan bersama JiYeon?”
“Jangan banyak bertanya. Kalau kau mengkhawatirkan JiYeon, datang sekarang juga kesini, kita berada di Gangnam-Gu, tidak terlalu jauh dari rumah Woohyun, aku dan JiYeon menunggu di sebuah halte. Cepatlah! Udara sangat dingin.” Kata Dongwoo segera menutup telponnya, lalu mengembalikan ponselku. Udara memang dingin, aku menggunakan mini dress, jika aku tetap berada di luar seperti ini, aku bisa pingsan. Cepatlah datang Daehyun Oppa.. Jaebal.. Huff.. mulut dan hidungku mengeluarkan asap saat aku bernafas karena sangat dingin.
“Brrr.. apa akan turun salju?” Dongwoo menatap langit, ia menggosok-gosokkan telapak tangannya.
“Mungkin..” akujuga menatap langit.
“Pakai ini..”Dongwoo memakaikan blazernya padaku.
“Gomawoyo…”

---

                Beberapa saat kemudian aku melihat mobil berwarna hitam itu berhenti, itu mobil Daehyun Oppa. Oppa terlihat tergesa-gesa turun dari mobilnya. Dia juga terlihat membawa jaket tebal di tangannya.
“JiYeon-ah..Mianhae kalau aku lama..”
“Ani Oppa.. gomawo kau sudah datang dan mengkhawatirkanku.” Jawabku, Daehyun Oppa melepaskan blazer Dongwoo yang aku kenakan. Menaruhnya asal di atas kursi halte lalu memakaikanku jaket tebal yang ia bawa.
“mwoya! Ne~ gwenchanayo Dongwoo-ya…” Dongwoo mengambil blazernya yang di letakkan asal oleh Daehyun Oppa.
“Mianhaeyo Dongwoo-ya.. kau gunakan saja blazermu.. aku tahu kau juga kedinginan.” Kataku menepuk lengan Dongwoo.
“Ja! Masuk ke mobil sekarang.” Daehyun Oppa menarik tanganku.
“Dongwoo?” Tanyaku.
“Kau mau naik mobilku? Bukankah kau membenciku?” Tanya Daehyun Oppa pada Dongwoo. Dongwoo mengerutkan dahinya.
“Untuk malam ini lupakan hal itu. Aku kedinginan. Ayo antarkan aku pulang.” Dongwoo Oppa segera masuk lebih dulu ke dalam mobil Daehyun Oppa. Daehyun Oppa hanya diam, dia sering tidak menanggapi Dongwoo akhir-akhir ini. padahal aku tahu dulu dia sering sekali beradu mulut dengan Dongwoo. Daehyun Oppa benar-benar sudah berubah.

---

*Author POV
                Daehyun mengantar Dongwoo pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Setelah itu dia mengajak JiYeon keliling Seoul. Didalam perjalanan.
“Kau pulang dari pesta? Kenapa tidak memberitahuku?” Tanya Daehyun masih dengan mengemudikan mobilnya.
“Ne.. adik Woohyun Oppa berulang tahun tadi.”
“Ne? lalu kemana Woohyun? Kenapa tidak mengantarmu pulang? Keterlaluan.”
“Huhu..Oppaaaa…. Apa aku boleh menangis?”
“M.. m.. mwo? Apa terjadi sesuatu? Siapa yang menyakiti nae yeoja? Menangislah kalau itu membuatmu lebih lega..” Daehyun berusaha menjangkau kepala JiYeon untuk membelainya.
“Aku melihat Woohyun oppa berciuman dengan yeoja di dalam kamarnya..” JiYeon mencurahkan kesedihannya.
“Besok aku akan memberi pelajaran pada Woohyun. Kau tenang saja. Jangan menangis.. bukankah kau masih punya aku? Aku tak akan menyakitimu lagi JiYeon.. aku berjanji..” Daehyun menenangkan JiYeon lalu menepikan mobilnya.
“Ayo senyum… senyum senyum senyum..”
“Oppa gomawoyo..”JiYeon tersenyum.
“Ne..cheonmaneyo..” Daehyun mencium kening JiYeon.
“Apa kau ingin pulang sekarang?”
“Aku takut Woohyun Oppa menemuiku.. aku masih tidak ingin bertemu dengannya.”
“Nde.. lalu kau ingin kita kemana sekarang? Katakan saja.. aku akan menurutimu..”
“Entahlah..” JiYeon bingung.
“Pakai sabuk pengamanmu, kita ke Busan sekarang.” Daehyun mulai menggerakkan kunci mobilnya.
“Mworago? Ini sudah malam Oppa..” kata JiYeon. Daehyun hanya tersenyum, lalu memasangkan sabuk pengaman JiYeon, karena JiYeon tidak segera memakai sabuk pengamannya sendiri. Dan tanpa banyak bicara ia segera melajukan mobilnya menuju Busan. Daehyun yakin pasti JiYeon akan merasa lebih baik jika berada di Busan.

---

                Setelah acara ulang tahun Yura berakhir, Woohyun segera pergi ke apartemennya dan JiYeon. Woohyun tidak melihat JiYeon berada di apartemen, dia sangat cemas. Ponsel JiYeon tidak dapat dihubungi. Woohyun menelpon Dongwoo juga tidak di angkat.

                Woohyun sangat khawatir terjadi apa-apa pada JiYeon. Woohyun segera mencari JiYeon. Menyusuri jalanan kota Seoul hingga malam. Dan dia tetap tidak menemukan JiYeon. Woohyun memberanikan diri datang ke apartemen Daehyun. Woohyun mengetahui alamatnya dari Minji. Tapi Nihil, Tak ada jawaban dari dalam apartemen Daehyun. Security apartemen mengatakan, Daehyun sudah keluar sejak tadi dan belum kembali. Woohyun menanyakan pada Security itu apa Daehyun pergi dengan seorang gadis. Tapi Security itu mengatakan tidak. Woohyun memutuskan untuk menunggu JiYeon di apartemen, udara sangat dingin, salju baru saja turun.

---

--Di rumah KeluargaJung—

                Mereka sampai di rumah Daehyun di Busan sekitar pukul 2 malam, Ny.Jung membukakan pintu masih dengan wajahyang sangat mengantuk.
“Aigoo.. Daehyun? JiYeon? Mengapa datang selarut ini? ayo cepat masuk.. udara sangat dingin..”Ny. Jung menuntun JiYeon ke ruang keluarga.

---

“Eonni? Oppa? Aku kira siapa yang datang selarut ini.. ternyata kalian..” Wooram mengucek matanya.
“Wooramie..ambilkan selimut untuk Oppa dan Eonnimu sekarang..”
“Ne eomma..”
“Sebentar.. eomma buatkan kalian teh hangat.” Ny.Jung sangat sibuk menyambut JiYeon dan Daehyun. JiYeon benar-benar tersentuh.
“Eomma.. aku akan membuatnya sendiri.. aku merepotkanmu.. duduklah..” JiYeon menggenggam tangan Ny.Jung. sementara Daehyun sudah tergeletak di atas sofa. Daehyun kedinginan dan sangat lelah. Daehyun ada jadwal latihan musical tadi, dia belum istirahat dan langsung menjemput JiYeon lalu pergi ke Busan, pantas saja sekarang dia sangat kelelahan. Bahkandia juga belum makan.
“Aniya~~~ kau diamlah disini.. tanganmu sangat dingin.” Kata Ny.Jung.
“Eommag amsahamnida..”
“Ye.. cheonmaneyo…^^ itu Wooram.. pakailah selimut itu.” Jawab Ny.Jung lalu menunjuk Wooram yang mulai memasuki ruang keluarga.
“Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa tidak di tunda besok pagi saja kalian ke Busan.. udara sangat dingin eonni-ya..” Wooram memberikan dua selimut pada JiYeon. JiYeon segera menyelimuti Daehyun yang sudah memejamkan matanya.. mungkin sudah tertidur. Lalu JiYeon menyelimuti dirinya sendiri dan duduk di samping Daehyun yang tertidur.
“Hmmm.. memang terjadi sesuatu, tapi aku tak bisa menceritakannya padamu Wooramie.. mianhae..”
“Ne.. gwenchana eonni-ya..” Wooram tersenyum dan mengerti. Lalu Wooram menatap Oppanya.
“Dia pasti sangat lelah, tadi dia sedang berlatih musical saat aku menghubunginya. Dia pasti belum istirahat.” Lanjut Wooram. JiYeon menatap Daehyun.
“Mianhaeyo Oppa..”kata JiYeon lirih.
“Untuk apa meminta maaf?” kata Daehyun yang ternyata mendengar ucapan JiYeon. Daehyun melingkarkan tangannya pada Pinggang JiYeon yang duduk di sampingnya.
“Aku kira kau sudah tidur…”
“Yak Wooram.. kau malah ketiduran disini..” Ny. Jung membangunkan Wooram setelah menaruh teh hangat yang baru saja ia buat di atas meja. Wooram segera kembali ke kamarnya.
“Daehyunie.. kau terlihat sangat lelah.. tidurlah di kamar.. tapi minum teh hangat ini dulu..”Ny.Jung mendekati putranya. Memegang dahi putranya, dia khawatir putranya demam. Ny. Jung begitu perhatian. JiYeon tersenyum dan bahagia bisa mengenal Ny.Jung. Daehyun tak menjawab. Tangannya masih melingkar di pinggang JiYeon.
“Oppa.. minum ini dulu.. eomma sudah membuatkannya untuk kita.” Kata JiYeon memegang lengan Daehyun. Daehyun segera membuka matanya dan berusaha duduk.
“Gomawo eomma..” Daehyun segera meminum tehnya.
“Baiklah.. kalau sudah selesai kalian segera istirahat. Eomma ke kamar dulu ne..” kata Ny.Jung, tapi setelah tiga langkah, Ny.Jung menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Ah ne, kalian tidak membawa pakaian ganti?” Tanya Ny. Jung. JiYeon menggelengkan kepalanya.
“Pakai saja pakaian Daehyun.. Daehyun ambilkan pakaian ganti untuk JiYeonie..” Ny.Jung tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya.
“Ne eomma………….” Jawab Daehyun lemas.
“Kau ingin ganti baju chagi? Pergilah ke kamar lebih dulu, pakailah pakaian manapun yang kau mau. Aku akan menyusul nanti saat kau sudah selesai.”
“Ne Oppa..gomawo..” JiYeon membungkuk. Daehyun mengangguk dan kembali meminum sisa tehnya.

~*~*~*~*~

--Di sekolah—

*Woohyun POV
                Sampai saat inipun JiYeon belumjuga kembali, kemana gadis itu sebenarnya, aku menunggunya semalaman. Aku memandangi jam dinding di kelasku. Sebentar lagi pelajaran di mulai.

                Beberapa menit kemudian akumelihat Dongwoo memasuki kelas seorang diri. Aku segera menghampirinya dan menanyakan JiYeon.
“Dongwoo, dimana JiYeon?”
“Aku tidak tahu.” Jawabnya singkat, dia mungkin masih marah padaku.
“Dia tidak pulang ke apartemen semalam. Aku sudah mencarinya kemana-mana.. aku khawatir terjadi sesuatu padanya.” Aku kembali berusaha menanyakan JiYeon pada Dongwoo.

---

*Author POV
‘Brakk’ DongWoo menendang meja di dekatnya. Kelas menjadi hening. Minji segera berdiri dan perlahan menghampiri Woohyun dan Dongwoo.
“Aku benci melihat seorang namja yang sudah menyakiti hati yeojanya, lalu sekarang berpura-pura khawatir. Aku kira kau namja baik-baik. Kalau seperti ini, bukankah Daehyun lebih baik darimu! Tak tahu diri! Bisa-bisanya kau berbuat seperti itu pada yeoja yang merawatmu dengan sungguh-sungguh saat kau sakit!” bentak Dongwoo.
“Oppa.. apa yang terjadi..? apa JiYeon belum juga pulang?” Minji bertanya pada Woohyun. Woohyun menggelengkan kepalanya.
“Dongwoo Oppa.. kendalikan emosimu.. aku tidak tahu apa yang terjadi.. tapi jangan buat keributan disini. Aku yakin JiYeon baik-baik saja.” Kini Minji berusaha menenangkan mantan kekasihnya itu. Woohyun hanya diam, dia sadar kalau dia memang salah.

~*~*~*~*~

                Pagi ini, JiYeon bangun awal, dia membantu Ny. Jung memasak. Setelah masakan selesai,JiYeon membuatkan bubur untuk Daehyun. JiYeon mengantarkannya buburnya ke kamar dan juga segelas susu. JiYeon masih menggunakan kemeja berwarna putih yang terlihat sedikit kebesaran.
“Oppa..”JiYeon mengoyak pelan tubuh Daehyun.
“Ish Oppa.. bangun..” Daehyun masih juga memeluk gulingnya.
“Jung Daehyun.” JiYeon terus mencoba membangunkan Daehyun.
“Aku tak akan bangun kalau kau memanggilku seperti itu.” Terdengar suara Daehyun lirih. JiYeon memukul kepala Daehyun seketika.
“Appa sering memukul kepalaku.. ini tidak sakit..” Daehyun kini menutup wajahnya dengan bantal.
“Oppa… ayolah.. bangun.. aku harus memanggilmu apa?”
“Terus saja menebak..”
“Ah ne.. yeobo-ya…”
“Hehe.. ne yeobo-ya…” Daehyun segera duduk dan tersenyum.
“Ish! Kau ini.”
“Apa kau sudah menjadi kekasihku lagi?” Tanya Daehyun menggoda JiYeon.
“Entahlah… aku tidak ingin membicarakan itu Oppa..”
“Ne.. Ne.. Ne.. aku tak akan menanyakan itu.. yang penting kau bersamaku sekarang..” kata Daehyun seraya menerima segelas susu yang dibawakan JiYeon. dia segera meminum susu itu, menghabiskannya sekaligus.
“Oppa.. ini bubur untukmu sarapan, makanlah yang banyak..”
“Whoaa.. aku melihat bubur ini lagi.. jinjja.. aku sangat merindukan bubur ini.. dulu kau membuatkannya untukku setiap hari.”
“Hehe.. ne..” JiYeon senang bisa membuat bubur itulagi untuk Daehyun. JiYeon terus memandang Daehyun yang dengan lahap menghabiskan bubur buatannya.
“Mmm.. Masittda..” Daehyun menaruh mangkuk bubur dimeja kecil di samping tempat tidurnya. Daehyun segera memeluk JiYeon. mendekapnya dari belakang.
“Saranghaeyo..” Daehyun sangat tulus. Kepalanya ia tumpukan di pundak JiYeon. JiYeon tak berusaha melepaskan pelukan Daehyun. Dia merasa nyaman. Setidaknya, Daehyunlah yang membuatnya tak terlalu memikirkan kejadian semalam.
“Oppa..”
“Hmmm..”
“Kita akan tertinggal pelajaran di sekolah..”
“Kita bisa menghubungi Dongwoo atau Minji. Semua akan baik-baik saja. Percayalah..”
“Mmm.. ne..”
“Chagi-ya.. katakan jujur padaku sekarang.. apa kau masih mencintaiku?” Tanya Daehyun. Masih memeluk JiYeon, dan juga masih menumpukan kepalanya di atas pundak JiYeon.
“Ne..” jawab JiYeon sedikit malu. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Hehe.. kenapa menutupi wajahmu?” Daehyun malah mempererat pelukannya karena senang dan gemas melihat tingkah JiYeon.
“Huhu.. Oppa.. Jeongmal..” JiYeon masih menuntupi wajahnya.
“Huhu.. Jeongmal..” Daehyun menirukan JiYeon.
“Kyeopta..” Lanjut Daehyun lalu mencium pundak JiYeon.
‘Pintu kamar Daehyun terbuka’
“Ayo turun.. kita makan bersama..” Kata Ny.Jung.
“Eh.. eomma..” JiYeon segera melepaskan pelukan Daehyun karena malu. Tapi Daehyun menarik JiYeon untuk kembali berada dalam pelukannya.
“Eomma akan lebih senang kita seperti ini.. ya kan eomma?” Tanya Daehyun.
“Eoh? Ne.. eomma senang kalau kalian bahagia.”Ny.Jung tersenyum. JiYeon menggaruk kepalanya karena malu.
“Baiklah..” Daehyun mencium kepala JiYeon lalu melepaskan pelukannya. Daehyun menyuruh JiYeon untuk turun lebih dulu, karena dia ingin ke kamar mandi. JiYeon benar-benar bahagia pagi ini. JiYeon mendapat pelukan hangat itu lagi dari Daehyun yang dulu sering ia dapatkan saat ia masih berpacaran dengan Daehyun, tapi kali ini JiYeon merasa pelukan Daehyun lebih nyaman, mungkin karena kini Daehyun melakukannya dengan sepenuh hati.

~*~*~*~*~

--Sore Hari—
--Di Rumah keluarga Nam—

‘Dingg Dongg..’ bel gerbang rumah keluarga Nam berbunyi. Security membukakan gerbangnya, dan membiarkan dua yeoja itu masuk.
“Menekan bel lagi… ini menyebalkan.. terlalu banyak bel disini..” gumam Yoori.
“Jangan banyak bicara.” Kata Ahra yang sangat kesal karena harus datang bersamaan dengan Yoori, ini kebetulan. Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
“Eonni?” Yura yang membukakan pintunya, Yura mengenal Ahra, karena dulu Ahra sering datang ke rumah Woohyun saat mereka masih berpacaran.
“Annyeonghaseyo… Yoori imnida…” Yoori membungkuk.
“Hmm.. ada Woohyun?” Tanya Ahra santai.
“Entahlah.. aku belum melihatnya, coba kau lihat di kamarnya saja.” Jawab Yura. Ahra segera berjalan menuju kamar Woohyun, Ahra sudah sangat hafal denah rumah Woohyun yang sangat luas itu. Yoori mengikuti Ahra.

---

“Woohyun-ssi.. ak…” kata Ahra seraya membuka pintu.Tapi terpotong karena melihat Woohyun sedang bersama Taeyeon.
“Apa yang kalian lakukan?” Yoori juga melihatTaeyeon dan Woohyun. Terlihat mereka sedang berpelukan.. uhh.. di atas ranjang.
“Oppa?” Yura yang juga ada disitupun tertegun menatap Oppanya yang masih pada posisinya.
“Mm.. Yura-ya.. ini tidak seperti yang kau pikirkan.. aku tak sengaja jatuh bersama Taeyeon noona barusan.. aku tidak melakukan apapun..” Woohyun mulai berdiri menjauh dari tubuh Taeyeon.
“Oppa.. kau membuat hatiku sakit.. kau benar-benar sudah melupakan perjanjian kita dulu…” Yoori memegangi dadanya.
“Kenapa kalian berdua berada di kamar?” Ahra memandangi Taeyeon yang hanya menggunakan tanktop berwarna abu-abu dan juga celana pendek berbahan jeans, Taeyeon terlihat terlalu sexy untuk berada di kamar seorang namja yang bukan kekasihnya. Dan parahnya Woohyun juga hanya menggunakan kaos dalam tanpa lengan berwarna putih dan celana panjang seragam sekolahnya.
“Aku pulang sekolah.. aku ingin ganti baju.. tapi aku tak tahu bagaimana Noona tiba-tiba masuk, dia ingin mengambil sesuatu miliknya yang tertinggal saat ulang tahun Yura.. lalu..” Woohyun berusaha menjelaskan. Namun tatapan Ahra, Yoori, dan Yura seakan tak percaya dengan semua yang di katakan Woohyun.
“Awalnya aku memang ingin mengambil sesuatu..” kata Taeyeon.
“Oppa.. kau akan menyakiti  JiYeon eonni kalau sampai ia mengetahuinya..”Yura masih tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. Woohyun dan Taeyeon terlihat seperti akan melakukan hubungan orang dewasa. (?)
“Lain kali, kunci pintu kamarmu..” Lanjut Yura lalu segera meninggalkan kamar Woohyun.
“Yura-ya! Kau salah paham..” teriak Woohyun ingin mengejar Yura. Tapi Taeyeon lagi-lagi meraih tangan Woohyun, menghalanginya untuk mengejar Yura.
“Oppa..” Yoori menatap sedih ke arah namja yang ia sukai itu.
“Kau bahkan tak pernah melakukan itu denganku. Hehe..kau sangat beruntung eonni.” Ahra menatap tajam Woohyun dan Taeyeon sebentar lalu segera pergi, ia benar-benar kecewa karena mengira mantan kekasihnya itu ternyata sudah berbuat yang terlalu jauh dengan yeoja lain.
“Oppa.. aku membawanya.. surat perjanjian kita..apa kau tak mengingat ini..?” Yoori mengeluarkan selembar kertas yang sudah sangat lecek dan beberapa bagian yang sobek. Woohyun mendekati Yoori lalu membaca surat itu. Ya, dia ingat.. itu memang miliknya.
“Yoori-ya.. Mianhae.. aku masih kecil saat itu,mungkin aku terlalu serius dan tidak memikirkan apa yang terjadi nanti saat aku besar. Ini bukan sebuah perjanjian resmi yang aku pikirkan hingga sekarang. Aku harap kau tidak perlu terlalu serius akan hal ini. Aku tak mungkin bisa menuruti perjanjian konyol ini..” kata Woohyun yang tentu saja membuat Yoori sedih.
“Oppa kau jahat..”
“Ne.. aku memang jahat.. aku tak pantas untukmu..kau tak lihat apa yang aku lakukan dengan yeoja itu barusan? Nappeun namja sepertiku tidak cocok untuk yeoja baik hati sepertimu Yoori-ya..” Woohyun terpaksa mengatakan itu agar Yoori bisa melupakannya. Taeyeon berjalan mendekatinya.
“Jangan menaruh harapan lagi pada kekasihku.. dia milikku..” Taeyeon menempel pada lengan Woohyun.
“Aku mencarimu.. aku menunggu saat dimana aku dan kau di pertemukan kembali.. tapi kenyataannya tidak seperti yang aku bayangkan jika aku bertemu denganmu.. Ya, ini salahku.. kenapa aku baru sadar ini hanya perjanjian konyol. Maafkan aku Oppa.. semoga kau bahagia dengannya.” Yoori menghapus air matanya, membungkuk lalu segera meninggalkan Woohyun dan Taeyeon.Woohyun merasa bersalah. Dia memukul tembok kamarnya hingga tangannya sedikit terluka. Woohyun kesal karena dia harus menyakiti hati orang-orang yang menyayanginya.
“Oppa.. tanganmu berdarah..” Taeyeon segera mencari plaster luka di laci-laci meja Woohyun.
“Kau lampiaskan saja kekesalanmu padaku. Aku yang membuat semua menjadi seperti ini. Aku hanya takut kehilanganmu. Aku hanya ingin kau menjadi milikku Oppa..” Kata Taeyeon seraya menutupi luka kecil Woohyun dengan plaster luka.
“Ini salahku yang juga memiliki perasaan padamu. Ini salahku yang tidak bisa marah padamu.. ini salahku yang tak bisa menyuruhmu keluar dari kamarku.. ini salahku yang selalu berusaha ingin menuruti apa yang kau inginkan. Ini salahku yang tidak bisa mengontrol perasaanku. Ini semua salahku.” Woohyun mengeluarkan setetes air matanya.
“Oppa uljima..” Taeyeon menghapus airmata Woohyun.Woohyun seketika memeluk Taeyeon.
“Noona.. seberapa besar usahaku untuk melupakanmu..aku tetap tidak bisa melupakanmu.. aku menyukaimu.. aku tak ingin kau bersamanamja lain.. aku ingin selalu menjagamu.. aku mencintaimu Noona..”
“Woohyun-ssi..” Taeyeon sangat bahagia dengan apa yang ia dengar barusan.
“Lalu Park JiYeon?” Lanjut Taeyeon. Woohyunmemejamkan matanya saat mendengar nama JiYeon.
“Entahlah.. aku masih belum bisa memilih antara kalian berdua.. JiYeon sangat baik padaku. Kita rasanya belum genap satu tahun berpacaran.. tapi sudah seperti bertahun-tahun menjalin sebuah hubungan. Akan sulit untukku melupakan JiYeon. aku melewati banyak hari-hari istimewa bersamanya.”Jawab Woohyun masih dengan memeluk Taeyeon.

~*~*~*~*~

--Di tepi pantai—Sore Hari--
--Di Busan—

 “Kau masih ingat tempat ini Chagi-ya?” Tanya Daehyun.
“Ne.. aku masih sangat mengingatnya..” jawab JiYeon tersenyum.
“Ciuman pertama kita.. ahh aku inginmengulanginya..” kata Daehyun terang-terangan membuat JiYeon terkejut.
“Huh??”
“Aku namja pertama yang menciummu.. aku tak akan melupakan hal itu.. itu sangat special..” Daehyun masih membayangkan kejadian hari itu saat dimana dia dan JiYeon melakukan ciuman pertama di suasana sunset yang begitu romantis. Hanya saja saat itu Daehyun tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Daehyun ingin mengulanginya kini, saat dia sudah benar-benar mencintai JiYeon.
“Aku tak akan melupakan saat itu..” JiYeon tersenyum, tangannya masih bergandengan erat dengan tangan Daehyun. Berjalan menyusuri pantai. Deburan ombak membasahi kaki mereka berdua.
“Saranghaeyo..” ucap Daehyun.
“Nado sarangaheyo Oppa..” jawab JiYeon. ini pertama kalinya setelah hubungan mereka berakhir. Daehyun terlihat sangat bahagia mendengar kata-kata JiYeon barusan.
“Mworago? Aku tidak mendengarnya.. katakan sekalilagi dengan keras.”
“Saranghaeyo Jung Daehyun!!!!!!!!!!” JiYeon berteriak. Daehyun tersenyum bahagia. Daehyun menggendong JiYeon dan membawanya sedikit masuk ke arah pantai. Mereka mejatuhkan diri bersamaan. Tubuh mereka basah sekarang. Mereka duduk.. air laut merendam tubuh mereka hingga dada. Daehyun menatap dalam mata JiYeon.. Jantung JiYeon berdebar begitu juga jantung Daehyun. Matahari mulai tenggelam. Ini pemandangan yang sangat indah.. suasana menjadi begitu romantis. JiYeon memejamkan matanya.

               Daehyunmulai mencium lembut kening JiYeon. lalu mengatakan, “Aku sangat tulusmenyayangimu, demi Tuhan..” . ciumannya lalu turun ke mata kanan JiYeon.. “Takakan aku biarkan kau menangis lagi nae JiYeon..” , ciumannya kini berpindah kemata kiri JiYeon.. “Aku akan menjagamu, selalu berada di sisimusetiap waktu.” Lalu bibir Daehyun bergerak perlahan pada hidung JiYeon. “aku berjanji tak akan mengecewakanmu atau menyakiti hatimu lagi chagi-ya..” Dan yang terakhir.. perlahan Daehyun sedikit memiringkan kepalanya, berusaha menjangkau bibir JiYeon. Kedua telapak tangan Daehyun memegangi pipi dan rahang JiYeon.Dan….




~TBC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar